Dua hari yang berlalu, tak ada tergur sapa antara aku dan Indar. Dia terlihat merasa bersalah, tapi aku terlihat sangat marah dan belum bisa menerima kenyataan. Aku sebatas bekerja lalu pulang setelahnya. Di waktu senggang, siang itu aku menghubungi salah seorang temanku yang berkutat di bidang ITE.
“Dris, apa kabar?” tanyaku berbasa basi.
“Siapa ya?”
“Naya Dris,” jawabku.
“Tumben Na, ada apa?”
“Mau minta tolong,” aku pun lalu menjelaskan awal masalahku hingga tersebarnya tangkapan layar narasi menyedihkan itu di dunia maya.
“Kalau ngelacak bisa sih Na, tapi kalau ngehapus kayaknya ga bisa selain akunnya dihack,” jawab Andris, teman SMA itu.
“Ya udah lacakin aja dulu Dris, nanti aku yang hubungin pemilik akunnya,” kataku.
“Oke, kasih waktu 3 hari bisa Na?”
“Lama Dris, keburu ga kekontrol,” jawabku.
“Gini deh…,” Andris lalu menerangkan langkah mudah padaku agar aku juga bisa melacak postingan-postingan tentangku sampai dia bisa merilis daftar akunnya.
Aku mendengarkannya dengan seluruh fokus yang kumiliki. Sesekali kucatat langkah yang harus kulakukan. Andris lalu memintaku bersabar dan rendah hati ketika bernegosiasi. Aku menuruti ucapannya dan mulai menggunakan search engine untuk mencari setiap postingan yang membahas tentang hidupku.
Baru beberapa keyword aku masukkan aku sudah menemukan ribuan postingan yang berisi tangkapan layar komentar antara Indar dengan beberapa pemirsaku. Aku menyandarkan punggungku di kursi dengan cukup keras. Terlalu banyak untuk kuselesaikan sendiri.
“Halo,” kali ini Andris yang menghubungiku lebih dulu.
“Iya Dris,” jawabku.
“Untuk memudahkan mereka menuruti keinginanmu, coba hubungi dulu pelaku hukum, biar kamu tahu pasal-pasal yang bisa kamu gunakan untuk mengancam mereka. Kamu harus tahu, mereka tidak akan semudah itu menghapus postingan yang sedang trending untuk menjaga pengunjung laman mereka.”
“Iya Dris, makasih udah diingetin.”
Aku mendekat ke arah meja dan menelungkupkan wajahku ke meja kerjaku. Kenapa harus sepanjang ini buntut dari ketidaksengajaan. Perlahan tulang pipiku mengeras, sedangkan mataku terasa panas, tanpa bisa kutahan akupun menangis. Air mata menetes tanpa isak karena aku menahannya. Aku tak ingin Papa dan Mama mendengar keluhanku.
Di tangkapan layar itu tak ada penyebutan nama Yogi, tapi tebak-menebak siapa saja laki-laki yang pernah dekat denganku akhirnya cukup menganggu. Terlebih beberapa orang yang kenal dekat denganku dan akhirnya membaca kisah ini seolah ikut memperkeruh suasana. Membela disalahkan, tak membela tentu terasa menyakitkan saat aku membaca komentar di beberapa laman akun itu.
Rasanya begitu lelah, terlebih saat beberapa mulai menghubungi secara pribadi mempertanyakan kebenaran beberapa tangkapan layar yang beredar apakah benar-benar berasal dari live di akun youtube-ku. Juga mempertanyakan siapakah yang sedang dibicarakan di tangkapan layar tersebut. Satu dua kali aku menanggapi, mencoba memperbaiki keadaan tapi yang ada justru memperpanjang masalah, mereka terus mengulik, mencari tahu dari awal kejadian sampai akhir lalu tak memberi penyelesaian apapun, hanya sekedar memintaku bersabar setelah tahu permasalahan yang kuhadapi hampir tak menemukan penyelesaian.
“Sabar ya Na,” begitu kata Susi yang menghubungiku.
“Menurutmu orang kantor tahu?” tanyaku.
“Kalau teman laki-laki banyak yang ga peduli sih sekalipun tahu, tapi sebenarnya tadi siang, di kantin mulai menghampiri kami untuk bertanya kepada Indar, tentangmu,” jawab Susi menunjukkan penyesalan yang mendalam.
“Indar… aku tak ingin mendengar namanya Sus,” kataku kesal.
“Dia sendiri ga mengira kalau pembelaannya akan berakhir seperti ini Na,” Susi berusaha menghiburku.
“Dia belum tahu dunia vlogger Sus, kami saling mengikuti dan mengambil keseruan dari akun lain untuk kami ulas, terkadang sensasi dibuat kebenaran, sehingga ketika meledak viral tidak ada yang tersakiti, anggaplah beberapa mengira kasus awal seperti itu, kami ketika sudah tersebar dan semakin banyak klarifikasi, semakin terlihat kalau ini adalah kejadian yang sebenarnya bukan sekedar gurauan,” aku menatap ke langit-langit kamarku untuk menahan keluarnya air mata saat Susi mendengarkan penjelasanku.
“Indar pengen minta maaf denganmu Na,” kata Susi pelan.
“Maaf saja ga cukup Sus, aku mau dia juga memperbaiki keadaan,” jawabku lalu menutup panggilan itu.
Semalaman aku masih menghubungi beberapa pemilik akun untuk meminta penghapusan postingan mereka. Aku berusaha menghubungi dengan melakukan panggilan, agar menghindari terjadinya tangkapan layar untuk kesekian kalinya.
“Kak, boleh minta tolong postingan tentang saya dihapus?” tanyaku saat salah satu pemilik akun bersedia kuhubungi.
“Postingan yang mana kak?”
“Tanggal 5 Oktober kak, yang berupa kumpulan tangkapan layar,” jawabku.
“Kenapa harus saya hapus kak? Ini dengan siapa?”
“Saya Aya, pemilik channel Kan_aya_ayu, yang melakukan live tersebut lalu terjadi penangkapan layar pada kolom komentar di live saya,” terangku.
“Lalu?”
“Cerita itu menyebar tanpa seijin saya, pun live itu sudah saya hapus dari channel saya, tentu saja itu kemungkinan menyangkut kehidupan orang lain, misalkan terjadi kasus di kemudian hari, orang yang tersangkut itu tidak terima, maka bisa jadi anda yang dilaporkan atas pencemaran nama baik atau tindakan tidak menyenangkan?”
“Tapi dipostingan saya tidak menyebut siapapun, pun di tangkapan layar juga tidak menyebut siapapun,” bela pengelola sebuah akun di i********:.
“Tapi silahkan anda lihat di kolom komentar yang sudah mulai menyeret nama-nama orang yang pernah dekat dengan saya,” kataku lagi.
“Tetap saja tidak ada pembenaran dan tidak bisa dipersalahkan, tag bebas dan tidak melanggar ketentuan i********:,” jawabnya.
“Tolong dihapus, atau akun anda saya laporkan atas dasar penyebaran percakapan tanpa ijin,” ancamku.
“Kakak ga bisa begitu donk.”
Kami terus berdebat tarik ulur. Perempuan yang terlihat lebih muda daripadaku ini semakin lama terdesak dengan ancamanku tentang undang-undang ITE yang sejenak kupelajari di internet sebelum menghubunginya.
“Baik, saya hapus postingan saya.”
Aku berterimakasih saat akhirnya dia bersedia menghapusnya. Aku lalu menjelajah ke akun-akun lain dan melakukan perjuangan yang kurang lebih sama dengan sebelumnya.
“Saya minta biaya penghapusan berita,” aku tercengang saat aku berbicara dengan salah satu pengelola halaman f*******: untuk memintanya menghapus postingan tentang tangkapan layar itu.
“Percakapan kita saya rekam lo ya, anda termasuk sedang melakukan pemerasan kepada saya ini,” kataku berbohong.
Dan banyak lagi penawaran lain yang terus terjadi sepanjang malam. Beberapa yang kubungi bahkan sudah membalas pesanku. Aku melihat ke arah jam dinding, ternyata memang sudah pukul satu dini hari. Tapi aku tidak berhenti, selama masih ada yang aktif, aku berusaha menghentikan postingan yang menyebar, baik yang ramai kolom komentarnya maupun yang sepi karena masih akun ternakan baru.
Sembari menunggu balasan dari beberapa akun yang kuhubungi, aku menyandarkan kepalaku pada sisi atas tempat tidur dan memejamkan mataku yang mulai lelah. Tanpa sadar aku tertidur.
“Na! Naya, bangun nak,” terdengar panggilan Mama mengetuk pintu kamar.
“Mataku masih begitu berat untuk membuka. Tapi mendengar panggilan Mama yang tidak berhenti. Aku memaksa tubuhku untuk bangun dan membuka pintu kamar.
“Iya Ma, aku sudah bangun,” kataku dengan tersenyum.
“Ya Allah, kamu sakit Nak, kok pucat?”
Mama meletakkan punggung tangannya di dahiku.
“Ga demam tapi,” jawab Mama.
“Na ga sakit kok,” jawbaku.
“Ya sudah, langsung siap-siap, udah siang, Mama sama Papa mau berangkat kerja,” aku lalu mengangguk.
Aku kembali ke depan laptopku, melihat mulai ada balasan lagi. Tak menyia-nyiakan kesempatan, aku segera membelas pesan mereka dan kembali mulai menghubungi. Tak peduli kepalaku mulai terasa berat karena kurang tidur.
Teriakan pamitan Mama yang juga berpesan untuk sarapan sebelum aku berangkat ke kantor kuabaikan. Aku terus berkutat dengan permohonan penghapusan postingan-postingan itu. Aku memilih tidak keluar dari kamar. Tidak pergi ke kantor. Bahkan tidak makan. Mengunci diri dalam kamar.
Tanpa menyadari waktu yang berlalu, tahu-tahu deru mobil papa mulai memasuki pelataran rumah. Melihat motorku masih di tempatnya sama seperti tadi pagi, Papa mengetuk pintu kamar.
“Na,tadi ga ngantor?”
“Ga Pa,” jawabku.
“Sakit?”
“Iya,” jawabku tanpa membuka pintu.
“Udah minum obat?” tanya Papa.
“He.em,” aku menjawab tanpa menghentikan jari-jariku yang terus mengetik pesan di laptop.
Terdengar perbincangan Mama dan Papa saat Mamajuga sudah pulang dari kerja. Papa meminta Mama melihat keadaanku yang memang belum keluar lagi dari kamar.
“Naya sama sekali ga keluar kamar lo, aku ga yakin dia udah makan,” lamat-lamat terdengar Papa bersuara.
“Iya Pa, ini makanan Mama ga kesentuh dari tadi pagi, bentar Mama lihat dulu Pa,” taklama terdengar ketukan di pintu.
“Na, buka pintunya Nak,” panggil Mama.
Aku sedang menelpon sehingga mengabaikan permintaan Mama.
“Nak, buka pintunya sebentar, kamu udah makan?” ketuk Mama lagi.
“Sebentar Ma, masih telponan,” jawabku.
Setelah berhasil meyakinkan satu pemilik akun f*******: untuk menghapus postingannya, aku mematikan telpon. Aku memutar kunci dan begitu aku membukanya, Mama sudah berdiri di depan pintu menungguku.
“Sudah makan?”
“Belum,” jawabku.
“Mau makan sama apa?” tanya Mama.
“Ga usah, Naya ga nafsu makan,” jawabku lagi.
“Kalau ga mau makan, minum obatnya gimana?”
Aku terdiam. Aku asal saja menjawab pertanyaan Papa bahwa aku sakit. Meskipun sebenarnya aku tidak sakit, aku hanya sibuk mengendalikan masalahku.
“Mama ambilin sayur sama nasi makan di dalam ya?” tawar Mama.
Aku mengangguk. Cara tercepat membuat Mama tak lagi mengusik adalah mengiyakan keinginannya. Setelah mama berbalik, aku kembali menutup pintu tanpa menguncinya. Sehingga Mama masuk ke kamar, tanpa aku harus beranjak membukakan pintu lagi.
“Katanya sakit, kenapa ga istirahat dulu? Kerjaannya dilanjut besok,” nasihat Mama.
“Ga bisa Ma, harus selesai secepat mungkin,” jawabku.
“Kerjaan kantor?” selidik Mama.
Aku melihat padanya dan mengangguk. Mama menghampiri setelah meletakkan piring di nakas samping tempat tidurku. Melihat tak ada air ataupun bekas obat di nakas, Mama kembali bertanya.
“Katanya udah minum obat, obat apa?”
“Belum,” jawabku singkat.
“Kamu ada masalah apa?” Mama mendekat mengusap pundakku halus.
Rasanya sudah tidak kuat menahan, tapi masih enggan bercerita. Aku memeluk pinggang Mama dan menangis seperti anak kecil yang kelelahan.
“Kenapa Nay?”
“Naya capek Ma,” jawabku.
“Makanya istirahat dulu, makan, trus tidur, kerjaan besok dihandle lagi,” saran Mama yang tidak mengetahui masalah sebenarnya.
Mama kembali mengambil piring di nakas, lalu dibawanya mendekat padaku. Mama menyuapkan sesendok nasi padaku. Dengan sedikit tersedu aku membuka mulutku. Lapar yang sudah datang dari tadi tetapi tertahan, membuatku rasanya tak bisa menelan nasi itu. Tapi melihat Mama yang menunggui di sisiku sambil berdiri, aku pun memaksa nasi itu masuk ke perutku.
Sesendok, dua sendok nasi yang sudah disiram kuah sayur bening itu mulai membuatku mual. Aku mencoba menghentikan Mama untuk menyuapiku lagi.
“Ma, sudah, mual,” kataku.
“Dipaksa Na, itu karena seharian kamu ga makan,” kata Mama sambil memintaku membuka mulut lagi.
Baru saja aku akan membuka mulutku, mualitu tak tertahan. Tiba-tiba hawa dingin seperti sedang mengelilingiku dan apa yang baru saja tertelan menolak untuk tercerna. Aku berlari ke kamar mandi. Berjongkok di depan pintu dan segera memuntahkan semua yang baru saja kutelan. Mama mengejarku. Di kamar mandi, Papa sudah memijat tengkukku dan Mama membawa segelas air. Setelahnya keduanya memaksaku meletakkan handphone dan laptop yang sedari tadi ada di tanganku. Keduanya memintaku untuk tidur dulu. Beberapa lembar roti dan s**u diletakkan Mama di nakas.
“Dicemilin Na, jangan ga makan sama sekali,” kata Mama sebelum menutup pintu.