kehidupan baruku

1049 Words
aku terbangun ketika guratan sinar matahari menerangi pelupuk wajahku rasa nya sakit sekali kedua pahaku sulit untuk di gerakkan "dimana aku???" aku menelisik sekelilingku nampak berbeda dengan kamar yg kemarin menjadi saksi penderitaan ku ini seperti kamar wanita dengan dekorasi yg lebih feminim "dimana akuu??" apa akuu" darrrrrrrr Sura pintu mengagetkan ku samar terlihat dipandangan ku seorang lelaki gagah dengan balutan jas terlihat sangat tampan namun tatapan nya pias dan raut wajah nya dinginn "heii kau ,enak saja berbaring dengan santai " dia menarik ku dengan sangat kasarr dari tempat tidur kuu.. "maaf Sean akuu dimana...??" "stopp jangan memanggil ku seann" "mulai sekarang panggil aku tuan, apa kau mengerti ,,," aku melihat kebencian di dalam mata Sean. "iaa tuan" jawabku dengan terbatahh. "sekarang ini kamar mu, jgn pernah berharap untuk tinggal sekamar dengan ku." "kau harus membersihkan seluruh rumah ini karna aku tidak mau uang ku kubuang sia-sia untuk membayar pembantu ,dan jangan harap kau bisa hidup dengan enak disini.." "apa kau mendengarku."...dia menggertakkan gigi nya bertanda dia sangat emosi dan tangan nya mengepal dengan kencangg. "i,,iia tuan " jawab ku dengan takut "sekarang cepat bersihkan seluruh rumah ini!" dengan cepat aku menggerakkan badan ku rasa nya berat sekali aku berjalan tertatih takkala badan ku yg sangat sakit dan kedua pahaku bekas sundutan rokok sangat sakit saat digerakkan. Sean melihat gladis menyeret kakinya dengan tertatih tatih. Sean mengingat kejadian kemarin dimana saat gladis jatuh pingsan tak sadarkan diri. flassback.... Sean melihat Gladis yg tersungkur di lantai. "ahhkkkkk sialll,,,," dia mengacak kasar rambut ny yg tak gatal. Sean menekan tombol untuk memanggil bi Asih yg bekerja disana. ''ia tuan, "terdengar suara menyahut dari ujung telefon. "cepat kekamarku dan urus wanita ini". "baik tuan. " sementara Sean menuju kamar mandi untuk menyadarkan diri ny dari minuman yg di teguk ny tadi. setibah nya di kamar Sean, bi Asih melihat Gladis yg tergletak di lantai. "nyonya ,,,nyonya,,," bi Asih merasa iba melihat kondisi gladis yg terletak tanpa busana. Bi Asih menutupi badan Gladis dengan kemeja Sean, karena tubuh Gladis yg mungil kemeja Sean bisa menutupi sampai ke paha. melihat luka bakar yg ada di kaki Gladis membuat hati bi asih terenyuh. Bi Asih mengambil salep luka bakar dan mengoleskan nya. Sean yg keluar dari kamar mandi melihat Bi Asih yg sedang mengolesi saleb di kaki gladis. "bi,,, bawa gadis itu ke kamar sebelah,,," Sean berbicara dengan membelakangi bi Asih dan Gladis. "baik tuan,,,tapi saya tidak kuat tuan mengendong nyonya sendirian." melihat umur bi Asih yg sudah tua. "bibi bisa minta tolong dengan satpam di depan" ucap Sean acuhh. "tapi tuan posisi nyonya saat ini sedang tidak baik." jawab bi Asih sembari membenarkan kaos Sean yang menutupi badan Gladis. Sean sadar Gladis hanya mengenakan kemeja kebesaran nya selain itu Gladis tidak memakai apapun. dengan cepat Sean menggendong badan mungil Gladis dan membawa ny ke kamar sebelah, sementara bi Asih mengikuti di belakang. Sean meletakkan badan mungil Gladis di kasur. "bI urus dia malam ini dan satu lagi bibi bisa mengambil cuti 1 minggu mulai besok." "begitu juga dengan asisten rumah tangga yg lain nya aku ingin memecat semua nya." Sean mengucapkan kata kata tersebut dengan tidak berperasaan.dia tidak tau betapa tergantungan para pekerja disana dengan pekerjaan nya saat ini. "baik tuan.'' ucap bi asih." lalu Sean pergi berlalu. flassback selesai. dart dart suara telpon memecahkan lamunan Sean terlihat nama Rendi asisten pribadinya menelpon" iah Ren???" terdengar suara dari seberang "pak,, 30 menit lagi rapat akan dimulai." "okkk renn saya sedang menuju kesana." "baikk pakk,,,,,,," sementara Gladis dengan telaten membersih kan setiap sudut rumah yg saat ini menjadi tempat tinggal nya. dia sudah terbiasa melakukan kegiatan seperti ini. sambil sesekali Gladis memandangi megah nya rumah itu. "rumah ini sangat besar sekali,tapi tampak sunyi" ucap Gladis sambil sesekali melihat lihat megah nya rumah Sean. tangan nya sangat telaten melap setiap debu yg dapat di lihat nya. setelah beberapa saat dia melakukan aktivitas nya dia memandangi pakaian yg dikenakan nya. "kira-kira siapa yg memakaikan aku baju ini yah !!!!" "tidak mungkin Sean yang melakukan nya." "apa ada orang lain dirumah ini??." Gladis melirik kekanan dan kekiri berharap ada seseorang yg bisa di ajak nya untuk berbincang. Gladis merasa sangat kesepian,mami Yasmin ibu nya Sean langsung berangkat ke Paris dengan alasan cuci darah mami Yasmin hanya ingin memberikan ruang buat Sean dan Gladis agar mereka bisa saling mengenal. Gladis merindukan suasana panti tempat tinggal nya dulu walaupun tampat nya kecil Namum suasana ny begitu hangat dan damai. tak terasa buliran air menetes membasahi pipinya. "aku kangen bunda Dora" ucap Gladis sendu. "apa aku bisa kuat menghadapi semua ini bun,,,,!" "tapi kalau aku kembali ke panti pasti akan membuat bunda sedih." "aku bisa melihat kebahagian bunda saat melihat ku menikah kemarin." "hikkss hikss " Gladis menyeka buliran air yg dengan lantang nya membasahi pipinya. "aku harus kuat,apapun yg terjadi aku harus bertahan." "ini sudah menjadi pilihan ku." "menikah dan mengikat janji cukup sekali saja." "aku percaya tuhan tau lebih baik batas kekuatan dan kesabaran ku." Gladis menyemangati diri nya sendiri agar lebih kuat menghadapi sikap suami nya tersebut. setelah beberapa jam akhir nya selesai juga membereskan rumah mewah suaminya tersebut.. "huffftt akhirnya selesai juga ...." sementara Sean yg berada di kantor tampak tidak fokus. "Rendi,,” "ia pak" sahut Rendi "batalkan semua janji hari ini dan susun ulang daftar rapat." "baik lah pak." Rendi adalah asisten pribadi nya Sean sekaligus sahabat nya. Rendi 1 tahun lebih muda di bandingkan Sean. "maaf pak apa ada sesuatu yg mengganggu pikiran bapak?" Sean mengacak kasar rambut nya yg sudah disisir rapi. "aku sangat membenci wanita itu Ren, kenapa harus dia yg dipilih mami." "maaf pak ,tapi aku merasa dia wanita baik .terlihat dari raut wajah nya yg polos dan lembut." "kenapa kau jadi membela dia ,apa kau ingin mati" ancam sean,,,, "wanita yg ingin menikahi lelaki kaya seperti ku pasti punya tujuan.!" Sean memukul kencang meja kerja nya. "dia pikir menikahi jayadiningrat bisa membuat nya menjadi wanita yg sangat beruntung." "aku akan membuat nya menyesal karna berani masuk dalam keluarga jayadiningrat.!" Sean menggertak meja kerja nya dengan sangat keras. Rendi yang sedari tadi berdiri dihadapan nya terkejut dibuat nya. "aku ingin kau carikan informasi tentang wanita itu." "semuanya!" "baik pak." "tetapi aku sebagai sahabat mu hanya bisa mengingatkan." "beri dia kesempatan." "diam lah Rendi,,,,." "apa kau ingin mati?'' ancam Sean lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD