“Kita hanya punya waku empat hari sebelum pintu labirin Daedalus terbuka. Kita tidak akan bisa sampai sana tepat waktu” ucap Felycia khawatir
“Kita akan berangkat nanti malam. Aku tahu bagaimana cara kita bisa sampai sana besok” ucap Fiona
“Bagaimana?” tanya Aiden
“Kamu akan tahu nanti malam” jawab Fiona membuat mereka bertanya-tanya
Mereka masuk ke Café Foy. Cafe Foy berada di dekat Cambridge Univercity.
“Oh, aku sangat kelaparan sekarang. Kita belum makan sama sekali” ucap Aiden sambil membaca menu di papan dengan minat.
“Kita harus cepat karena kita harus mencari tempat sepi dan jarang di lalui orang” ucap Fiona
“Kenapa?” tanya Felycia
“You will know”
Untuk makanan mereka memesan Cooked Beef Brisket Chilli with Guac, Rice, Tortillas and Sausage Rolls. Untuk minuman yang di pesan ada Lemonade, Sparkling Water, Apple Juice dan Americano. Mereka menyelesaikan acara makan mereka dengan cepat.
Krystal dan Felycia dengan serentak menaruh tubuhnya di sandaran tempat duduk sambil mengelus perut mereka yang kekenyangan. “Bisa beri waktu untuk mencerna semua makanan yang baru saja masuk ke perutku?” pinta Felycia
“Baiklah. Lagipula perutku juga sangat kekenyangan” balas Fiona
Mereka mulai melanjutkan perjalanan saat merasa makanan sudah tercena dengan baik. Mereka mulai mencari tempat sepi di sekitar sana lalu menunggu hingga malam tiba.
***
“Fio, ini sudah malam. Apa yang akan kau lakukan?” ingat Aiden
Fiona menepuk tangannya tiga kali hingga munculnya mobil jaman dulu yang kondisinya bisa dikatakan cukup buruk. Mereka bertiga menoleh kearah Fiona dengan wajah ragu.
“Kau memanggil mereka?” tanya Krystal dengan tidak percaya
“Iya. Memang kita ada pilihan lain agar cepat sampai di Yunani?” tanya Fiona balik
“Tidak” jawab mereka serempak
Mereka mulai masuk kedalam mobil. Mereka tidak percaya harus menaiki mobil yang dikendarai oleh tiga penyihir yang dijuluki Graeae. Graeae adalah tiga penyihir yang berbagi satu mata. Mereka bernama Denyo, Enyo dan Demfredo. Mereka adalah pengemudi terburuk karena mereka hanya memiliki satu mata dan mereka suka berkelahi karena hal tidak penting.
“Kalian akan pergi kemana?” tanya Deino
“Yunani”
“Yunani? Perjalanan yang lumayan jauh dan pastinya siapkan drahma yang cukup” jawab mereka saling bersahut.
“Perjalanan gila dimulai” ucap Fiona pada mereka bertiga. Mereka menghela nafas malas
Saat Deino mulai menjalankan mobilnya mereka mulai merapalkan doa agar mereka selamat saat tiba di Yunani. Di dalam mobil mereka terombang-ambing. Bahkan kepala Fiona dan Felycia beberapa kali terantuk. Ini memang bukan pertama kali bagi mereka tapi tetap saja mereka terkejut.
“Kau tidak akan sampai tepat waktu nanti, akan ada yang menghalangi perjalanan kalian untuk kembali ke camp Halfblood yang berada di London” ucap Demfredo tiba-tiba
“Ah, benar sekali” timpal Deino
“Apa maksud kalian?” tanya Fiona dengan sedikit membentak
Mereka tiba-tiba berbisik dan melepaskan kemudi. Mereka mulai panik kecuali Fiona yang masih ingin tahu jawaban dari Graeae
“Wow… Wow… Lakukan sesuatu dengan handle nya” ucap Aiden heboh
“Katakan kepadaku atau kalian akan aku ledakkan dengan petirku” ancam Fiona tidak peduli dengan mobil yang berjalan tanpa ada pengemudi.
Mereka bertiga panik dan mulai berbisik lagi, sedangkan Aiden, Felycia dan Krystal semakin berteriak heboh karena mobil sudah berputar kearah yang tidak mereka ketahui. “Baiklah, akan aku katakan. Perundingan terakhir membawa bantuan tetapi ada yang harus di bayar” ucap Deino lalu kembali mengambil alih kemudi
“What do you mean?” tanya Fiona tidak mengerti
“You will know and you will succeed” jawab Deino misterius
‘Jangan lagi hal yang membuatku pusing’ Fiona membatin
“Aku mual” ucap Aiden
“Bertahanlah satyr. Jangan menjadi lemah” ucap Enyo sambil menoleh kearah Aiden
“Auw! Kepalaku!” protes Felycia saat kepalanya kembali terantuk dengan Fiona
“Kepalaku pusing, Fio” adu Krystal
“Diamlah” ucap Fiona tegas
***
Di Sivermoon pack banyak sekali hal yang berubah setelah sang Luna pergi. Anggota pack mengutuk tindakan sang Alpha yang bagi mereka sangat keterlaluan. Selingkuh di depan mate yang sudah di tentukan oleh Moon Goddess bukanlah hal yang benar. Bahkan mereka muak melihat tingkah semena-mena Rachel yang seakan dialah sang Luna yang sebenarnya.
“Dimana Beval dan Chester, Kai?” tanya Sean. Sudah sekitar satu minggu dia tidak melihat Gamma dan Deltanya.
“Mereka pergi untuk mencari sesuatu, Alpha” jawab Kai
“Mencari apa?” tanya Sean lagi
“Aku juga tidak tahu pasti. Tetapi itu perintah langsung dari Luna Fiona” jawab Kai dengan senyum terpaksa. Kai tidak bisa bicara yang sejujurnya pada Sean. Dia sudah tidak bisa bersikap seperti biasanya pada Alpha yang juga teman baiknya.
“Fiona? Gadis licik itu! Kemana perginya?” Sean tiba-tiba marah ketika nama Fiona disebut. Dia juga tidak tahu kenapa saat nama matenya disebut selalu membuatnya marah.
“Apa maksud anda Alpha? Luna bukan gadis licik! Seharusnya yang anda bilang sebagai gadis licik adalah wanita asing yang anda bawa kemari hingga membuat kami kehilangan sosok Luna yang selalu mengayomi kami!” bentak Kai
Kai sudah tidak bisa menahan emosinya. Selama ini dia selalu mendengar Sean berbicara hal buruk tentang Fiona.
“Kau berani membentakku hanya karena gadis itu? Aku Alphamu Kai!” bentak Sean balik
“Iya! Anda memang Alpha kami tapi sekarang kami tidak mengenal Alpha kami lagi. Jika saja bukan karena Luna menyuruh saya tetap di samping anda, saya lebih memilih mengikutinya” setelah berbicara seperti itu Kai segera pergi dari hadapan Sean
“Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa semua yang ingin aku ucapkan berbanding terbalik. Bahkan sekarang Allard tidak mau berbicara denganku lagi. Tapi Fiona memang gadis licik” gumam Sean
Sean melangkahkan kakinya kedalam kamar dengan pikiran yang kalut. Dia merasa ada yang salah tapi tidak ada yang salah. Dia bingung. Saat membuka pintu Sean langsung ditubruk oleh pelukan Rachel
“Sean, kau kemana saja? Sudah aku katakan bukan, jika kau harus selalu bersamaku” rajuk Rachel
“Aku tidak bisa selalu bersamamu Rachel. Aku seorang Alpha yang memiliki tanggung jawab terhadap packku. Meskipun begitu bukan berarti aku melupakan dirimu” jelas Sean dengan lembut
“Tapi tetap saja waktumu harus lebih banyak denganku” kekeh Rachel
Allard yang berada di dalam diri Sean mulai marah dan muak. Allard memaksa mengambil alih tubuh Sean. Sean yang merasa Allard sedang memaksa keluar mencoba menahan sekuat mungkin tapi Sean gagal. Sean terlempar kedalam lalu pingsan dan Allard mengambil alih tubuhnya.
“Lepaskan aku, b***h!” teriak Allard sambil melepaskan pelukan Rachel dengan kasar. Hingga membuat Rachel terjatuh
“Apa yang kau lakukan Sean? Kau gila mendorongku seperti ini?” teriak Rachel balik
“Hahaha... Sean? Kau pikir aku Sean?” ucap Allard dengan senyum mengejek “Ini pertama kalinya kita berbicara, bukan? karena selama ini aku selalu menggagalkan rencana mu untuk melakukan penyatuan dengan Sean dan menyakiti mateku” ucap Allard dingin
“Ka-kau.. Serigalanya Sean?” tanya Rachel takut. Karena dari yang dia dengar serigala milik Sean adalah serigala yang sama kuatnya dengan serigala pertama Werewolf yang diciptakan Moon Goddess.
“Iya. Apa kau terkejut, b***h?” tanya Allard yang ada di tubuh Sean remeh
“A-apa yang kau inginkan?” tanya Rachel terbata
Allard berjongkok menyamakan tingginya dengan Rachel yang sedang duduk di lantai. “Membunuhmu tentu saja. Kau sengaja mengunciku agar aku tidak berubah menjadi serigala dan membunuhmu, bukan?”
“Kau tidak bisa membunuhku” ucap Rachel berteriak. Dia mencoba menutupi rasa takutnya
“Nanti, sekarang belum saatnya untuk membunuhmu dan bukan aku yang akan melakukannya. Tapi tidak lama lagi. Ingat itu baik-baik”
Allard langsung pergi keluar kamar itu, dia muak berada di tempat yang sama dengan penyihir gila itu. Allard masuk kedalam ruang kerjanya lalu duduk di kursi kebesarannya. Allard menyandarkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya dimana kau sekarang mate? Batin Allard
‘Kai, kemari’ perintah Allard melalui mindlink
Kai yang berada di sebelah ruangannya segera pergi keluar dan menghampiti sang Alpha. “Ada apa, Alpha?” tanya Kai malas
“Apa yang terjadi pada Sean belakangan ini? Aku sengaja tidak ingin melihat apa yang dia lakukan belakangan ini karena membuatku muak” tanya Allard langsung tanpa memperdulikan nada Kai tadi. Allard paham jika Kai pasti jengkel dengan Hewolf nya.
“Alpha Allard?” tanya Kai memastikan. Allard hanya mengangguk
“Tidak ada yang spesial, Alpha. Seperti yang sudah-sudah” jawab Kai
Allard menghela napas lelah “Kai, katakan padaku. Sampai kapan aku harus kehilangan mateku karena kebodohan Sean? Aku sudah memperingatinya untuk meninggalkan penyihir gila itu di hutan. Karena aku merasa ada yang tidak beres dengannya”
“Tunggu sebentar lagi, Alpha. Luna sudah menemukan caranya tapi karena Luna harus melakukan sesuatu yang sepertinya cukup rumit, Luna tidak bisa pergi mencarinya. Jadi Luna memberitahu saya dan sekarang Gamma dan Delta kita sedang mencarinya Alpha” jawab Kai
“Luna tahu?” tanya Allard terkejut
“Iya Alpha. Luna sudah merasa curiga dari awal tapi Luna masih tidak bisa melakukan sesuatu karena tugasnya menjadi Luna cukup banyak hingga Reese mengetahui siapa Rachel dan memberitahu Luna. Luna mendatangiku dan memberitahu apa yang harus aku lakukan” jelas Kai
“Lalu kau tahu kemana Lunaku pergi?” tanya Allard
“Saya tidak tahu Alpha. Luna pergi dengan menunggangi Arion sang kuda abadi” jawab Kai
“Arion?” tanya Allard tidak percaya
“Ya Alpha”
“Bagaimana Fiona bisa menunggangi kuda itu? Sedangkan kuda itu tidak bertuan dan tidak akan pernah memiliki tuan?” bingung Allard
“Arion adalah salah satu anak Dewa Poseidon dan Dewi Demeter”
“Jadi, karena itu Fiona bisa menunggangi Arion? Karena Arion adalah saudara satu ayah dengannya”
“Iya Alpha. Bahkan saat melihat kuda itu aku terkagum” jawab Kai
“Jadi kita hanya bisa menunggu Beval dan Chester untuk melepaskan ku dari sihir gadis gila itu?” tanya Allard kembali ke topik awal
“Iya Alpha”
***
“Bisakah kita tidak menaiki mobil yang di kendarai Graeae?” tanya Aiden
“Aiden, kita sudah keluar dari mobil itu empat jam yang lalu dan kau sudah mengatakan hal itu 20 kali” ingat Fiona
“Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin muntah lagi” jawab Aiden dengan muka memelas
Fiona menggelengkan kepala tidak percaya. Mereka harus ke Temple of Olympian Zeus di Athena. Karena pintu labirin akan terbuka disana.
“Ehm… Fio, kau tahu apa yang penyihir gila itu katakan?” tanya Felycia
“Aku tidak tahu. Banyak hal yang harus kita lewati sekarang dan tidak ada jawaban yang bisa aku katakan benar. Aku hanya berharap itu bukan suatu yang sulit” jawab Fiona
“Kemana kita akan pergi sekarang?”
“Temple of Olympian Zeus”
“Aku berharap tidak bertemu Dewa manapun disana” jawab Felycia dengan raut muka malas
“Kau pikir hanya dirimu saja? Kita juga” mendengar sindiran Krystal, Felycia hanya terkekeh
To Be Continued