MATAHARIKU

1379 Words
Aku terbagun merasa letih dan tidak ingin lagi melanjutkan hidup, tepatnya tidak tahu harus melakukan apa ? Apa aku harus mulai jadi gelandangan saja ? Aku menghela nafas, lalu aku menyadari sesuatu ketika melihat koran yang berserakan dilantai. Tadi malam aku tidur di lantai ! Kenapa aku tiba-tiba berbaring di atas ranjang ? Aku segera berdiri tegak memeriksa setiap pintu, semua terkunci kecuali pintu geser menuju balkon jemuran. Aku terhenyak di depan pintu itu menatap ke luar Rusun yang mengerah ke gedung rusun lainnya. Aku terdiam cukup lama, nafasku terangkat berat. Aku menoleh ke belakang. Keran yang rusak telah diperbaiki ! Adam ! Tidak salah lagi, pembunuh itu di sini semalam. ah..., lututku lemas. Aku menyangga tubuhku, berusaha menguatkan diri. Kinar jangan lemah ! Orang miskin itu harus kuat ! Aku mengangguk. Aku harus menemukan Adam. Tanpa mandi terlebih dulu aku langsung menyambar hoody biru milik Adam, menutupi kaos yang sudah dua hari kugunakan. Hannah ! Benar kata Janet, aku bisa mencari informasi tentang Adam melalui Hannah, aku bisa jadi detektif gadungan. Aku harus bertemu dengan Adam. Dia berhutang menjelaskan semuanya padaku. Bukan begitu ? Mana bisa dia datang kemari, malam-malam ketika aku sedang tidur, memperbaiki keran lalu pergi. Ini tidak adil ! Buatku... Aku menyesali apa yang kulakukan pagi itu, aku tidak berpamitan pada Janet. Aku hanya mengiriminya pesan singkat. Janet, dia datang, dia mengunjungi Flatku, aku harus bertemu dengan Hannah Pagi itu gerimis, aku menembus hujan menutupi kepalaku dengan hoody jaket Adam, aku memutuskan untuk naik bus kota saja, lebih cepat. Di dalam bus kota aku sudah merancang apa-apa yang akan kulakukan, aku akan mneyelidiki laki-laki ini sampai aku tahu silsilahnya dengan baik. Aku benar-benar sudah bertekat. Aku menelpon Hannah, tidak di angkat, tidak apa-apa dia sibuk. Aku bisa langsung ke kantor polisi dimana aku di introgasi lusa lalu. Tapi aku tetap mengirimi Hannah pesan. Hannah, dia mendatangiku ketika aku sedang tudur. Aku ingin bicara denganmu. Aku menuju ke kantormu. Mungkin masih terlalu pagi. Kataku menenangkan diri. Aku sibuk menunduk dan menempelkan kepalaku di kaca jendela bus. Telpon masuk, tidak ada namanya. Aku pikir Hannah. Ku angkat saja... "Hallo" "Hai manusia haram" Aku diam sejenak. Ku ingat kembali suara itu. Oh, dia. Puspa ! "Apalagi maumu perempuan iblis, setelah kau mengeluarkanku dari pekerjaanku" Dia memekik tertawa, lalu tawanya tiba-tiba berhenti "Apa sudah ada perkembangan ? Pencarian pacar pembunuhmu itu ?" "Kenapa kamu terus menekanku ? Kalau memang aku ada hubungannya dengan pembunuh itu, mereka tidak akan membiarkanku bebas !" beberapa penumpang menatapku curiga, karena mendengar kata "pembunuh" "Mereka ? aku tidak percaya mereka, mereka tidak becus menangani kasus papiku" "Harus seperti apa aku menjelaskan padamu..." Dia berdecak, entah dia marah atau senang ! Aku hanya bisa membayangkan lipstik merahnya yang berkilat memamerkan gigi yang dibleaching tidak wajar terpampang dibenakku. "Begini saja supaya kau lebih semangat mencari pacar pembunuhmu itu, bagaimana kalau ku pinjam dulu mamamu, Hayatul Alima" Nyawaku hilang setengah rasanya. No ! Nggak ! Tolong jangan mamaku. "Jangan khawatir aku tidak akan menyakitinya, selama... yah kau tahu, asal kau bisa bekerja sama dengan baik mencarikanku si b*****t itu dan membawanya hidup-hidup ke hadapanku" Dia terkekeh "Aku tidak butuh lagi polisi konyol, detektif gadungan yang hanya minta privilege tapi kerja tidak becus, mencari kacung saja butuh berbulan-bulan" Aku masih termangu "Oke aku tunggu ya, Junk" dia mengikik sebelum mematikan telponnya aku mendengarnya bicara "Papi pasti bangga padaku" Klik Telpon mati Aku masih bengong, tidak mungkin ! Mama... Sadar aku harus pergi ke RS. Jiwa dimana ibuku berada. Aku berdiri menghampiri supir bus kota "Mamaku" pekikku entah pada siapa. Hidupku selama ini untuk mama. Aku bekerja tanpa jeda hanya untuk dia. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya. Aku menghentikan supir bus Kota. "Hai..hai mau apa ?" pekik orang-orang "Pak tolong berhenti pak.." "Gak bisa Neng" kata si sopir "Tolong aku, mamaku dalam bahaya, mamaku di rumah sakit pak" aku sangat memelas, sambil menangis aku memohon mengepit tanganku "Tolong" Akhirnya Bus itu berhenti. Begitu pintu terbuka aku lompat keluar berlari ke arah yang berlawanan. Kali ini aku menuju stasiun kereta. Tunggu aku ma, jangan kemana-mana dulu. *** "Sus" aku terengah-engah begitu sampai rumah sakit jiwa "Sus" aku memegang lengan Sus Mega, seorang suster yang ku kenal berjaga di bangsal tempat mama dirawat. Aku bertemu dengannya di arah menuju apotik. "Kamu kenapa ?" "Mamaku mana ?" Sus Mega terlihat bingung dengan aku yang ngos-ngosan "Kamu dari mana sih ? Abis joging ?" "SUS" teriakku Dia lantas memegangi dadanya, kaget dengan suaraku "Di kamarnya" jawabnya dengan mata membesar. Aku menghela nafas lega "Kau kenapa ?" dia kembali bertanya "Aku mau bertemu mamaku Sus" Sus Mega mengelus punggungku "Ayo kita ketemu, aku baru saja mengganti seprai dan membantunya sedikit olahraga" Mendengar penjelasan suster Mega, aku jadi tenang. Si Puspa hanya menggertaku saja. Tapi itu juga aku sudah mau mati rasanya. Nggak sanggup sih kalau mamaku harus jadi korbannya. Nggak ! Tidak ada seorangpun yang bisa menyentuh mama selama aku masih hidup. Mama adalah matahariku, dia adalah segalanya... Aku melewati sebuah pintu kaca yang di dorong menuju ke bangsal di mana mama dirawat. Para suster sedang bergerombol di depan meja informasi bangsal. Ketika aku dan suster Mega datang mereka terlihat syock. "Kinar" panggil suster Elma berlari menghampiriku "Mamamu melarikan diri" Kakiku lemas. Aku menyangga tubuhku di tembok. Aku terlambat ! "Kinar" suster Elma mencoba menguatkanku "Kinar kau tidak apa-apa ? kita akan menemukannya, dia pasti belum jauh, para penjaga sedang berpencar mencarinya" "Suster Elma benar, setengah jam lalu aku masih bersama Nyonya Alima" Aku sudah tidak sanggup berkata-kata. Semua orang di sini tidak tahu apa yang terjadi. Kujelaskan sekalipun mereka tidak akan bisa membantuku. Lawanku adalah anak orang kaya nomor satu di negara ini. Yang batuknya saja sudah bisa membeli rumah sakit ini. Tanganku gemetar ketika aku mencoba kembali menelpon Puspa. Tidak di angkat ! Aku menelpon Hannah, juga tidak diangkat. "Aaaaaa" Aku memukul tembok frustasi "Tenang Kinar" suster Mega mencoba mengelus lenganku tapi aku menepisnya "Mamaku diculik suster" Suster Mega berusaha menenangkanku "Tidak mungkin sayang, tidak ada penculik yang berani-berani masuk kemari" dia pikir aku bayi bodoh. Suster seandainya kau tahu, aku ini sedang banyak musuh. Aku hanya bisa menggeleng lemah, percuma saja aku jelaskan situasiku saat ini. "Kinar ada telpon" Suster Lina mengangkat ganggang telpon di balik meja informasi. Aku mendekat dan menarik ganggang telpon itu dengan gerakan cepat. Aku menelponnya, dia malah menelponku lewat telpon rumah sakit. Apa mungkin dia masih ada di sini ? Puspa ? "Hallo" "Sayangku, kangen aku tidak ?" tanya suara yang sangat aku kenal dari dalam telpon. Dia bukan Puspa. Dia adalah orang yang menyebabkan semua ini menimpaku. Orang yang menyebabkan hidupku jadi berantakkan. Adam ! Dadaku membuncak, tersengal marah. "Biadap, iblis kau" pekikku terdengar amat tersiksa, air mataku mengalir. Entah sebenarnya aku merindukannya atau membencinya. "Uhhh...sepertinya kau sangat merindukanku. Begini saja, kalau memang kau sangat merindukan ku temui aku di Helipad di gedung rumah sakit ini" Aku melihat ke semua suster yang balas menatapku penuh tanya, mereka pikir telpon itu berkaitan dengan mamaku yang hilang. "Jangan bilang siapa-siapa ya, aku mengawasimu loh" suaranya terkesan ceria dan menyenangkan "Kalau tidak percaya, aku tahu di kantongmu sekarang hanya ada dua ratus ribu, kau hanya bawa dompet dan hp" Dia terdiam beberapa detik "Letakkan semua benda yang kau bawa di sana sebelum menemuiku" diam lagi "Salah satu dari orang-orang yang bersamamu membawa senjata, aku melihatmu Kinar, jangan mencoba membohongiku" Dia diam "Cepat keluarkan telponmu, letakkan di meja itu" Aku tersengal. Sialan, darimana dia tahu ? Aku mengeluarkan Hpku "Dompetmu !, uang di sakumu !" Aku mengikuti maunya "Okey aku tunggu. Ssssst..." desisnya "Ingat jangan bilang-bilang, pertemuan kita ini rahasia" Lalu dia terkekeh dingin. Siapa dia ? Adam tidak pernah bicara padaku seperti cara laki-laki itu bicara. Aku menghembuskan nafas keras ketika sambungan telpon sudah terputus. Sus Mega mendatangiku "Dari siapa ?" tanyanya Aku menggeleng, aku melihat sekaliling koridor itu. Ada 4 orang lainnya yang tidak ku kenali, dua orang sedang bicara di depan ruangan pasien, satu orang petugas kebersihan yang memunggungiku dengan kereta alat kebersihannya, dan satu lagi seorang dokter baru. "Aku titip barangku sebentar" pintaku pada suster Mega Ingin sekali rasanya aku membawa pisau pergi ke lantai paling atas. Tapi aku tidak mau ambil resiko salah satu dari empat orang itu bawa senjata, mereka sedang mengawasiku. Sialan hidup seperi apa yang sebenarnya sadang aku jalani ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD