MENJADI PENGANGGURAN

1018 Words
Aku melihat pantulan diriku yang menyedihkan di cermin, di toilet stasiun. Aku berjanji tidak akan pernah menyanggul rambutku seperti ini lagi. Aku menarik rambutku melepaskan jaring ikat dan membiarkannya terurai. Aku menghela nafas, menghalau sakit hati di d**a ini. Apa karena aku miskin, tidak memiliki apapun, tinggal ditempat kumuh, maka manusia seenaknya memperlakukanku ? Seandainya aku Puspa, seandainya aku adalah anaknya Adi Wilaga, apa mereka akan memberhentikan ku sepihak seperti ini ? Ah, tentu aku tidak akan bekerja di Wmart, aku kan yang punya sahamnya. Aku menangis. Aku sudah jadi gila Sialan, b******k, tai anjing kamu Adam, kamu merusak hidupku yang baik-baik saja. Sekarang kemana aku harus mencari kerja. Ibuku bagaimana ? Siapa yang membiyai rumah sakitnya kalau bukan aku. Meski sebenci itu pada Adam, aku kembali membungkus diriku dalam hoodie birunya. Kemana aku harus mencari dia ? Aku menelpon Janet "Halo sayangku" panggil sahabatku itu "Aku dipecat" ujarku dengan suara parau "Mereka tidak memberiku pesangon, padahal aku sudah bekerja di tempat itu 16rb jam" isakku dalam suara yang pilu Lalu tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka. Aku tercekat sesaat. Mataku melotot peruampan penyihir yang tadi kulihat di kereta pagi tadi masuk ke dalam kamar mandi metro. Aku menahan nafas ketika matanya menatapku. "Hallo Kinar ?" aku mendengar Janet memanggilku dari dalam telpon tapi aku tidak punya keberanian untuk menjawabnya Perempuan itu terkekeh aneh, lipstiknya yang merah mempertontotnkan deretan gigi putihnya ketika tertawa. Dia menyeramkan. Dia menertawaiku, apa aku terlihat lucu ? Tapi aku tidak punya keberanian untuk bertanya, syukur saja wanita itu langsung masuk ke bilik kamar mandi. Cepat-cepat aku pergi dari sana. "Janet kau masih disana ?" "Iya, kenapa, ada apa ?" Aku tidak bisa mengelabuinya bahwa aku terdengar ketakutan "Oh Janet" aku menghela nafas lega ketika aku keluar dari kamar mandi. Perempuan itu seperti iblis. Aku hampir tidak pernah melihat perempuan semenakutkan itu. "Kau kenapa ? Katakan jangan buat air ketubanku pecah karena mencemaskanmu" "Aku... ketakutan" "Kenapa ?" "Hanya ketakutan, aku..." aku sulit mengatakannya "Aku ketakutan tidak bisa membiayai ibuku" Dan ketakutan pada setiap mata yang menatapku curiga. Apa selama ini mereka menyiarkan tampangku di televisi ? untuk reting ? sementara hidupku terkoyak dan kebebasanku terenggut. Hidup tidak pernah adil bagi si miskin, begitulah aturan di dunia ini. Kenapa yang dikasihini hanya Adi Wilaga dan keluarganya, mereka telah bergelimang harta sementara aku sebatang kara dan menyokong hidup ibu yang tengah sakit. "Sudah jangan dipikirkan, kita cari jalan keluarnya nanti. Aku akan membantu mu mendapatkan pekerjaan. Aku bisa tanya-tanya sedikit pada Gus, mungkin kawan lama kita itu bisa membantu" "Jangan. Aku tidak mau dia mengasihaniku, dia selalu..." Buk ! Aku menabrak seseorang. Laki-lai bertubuh besar mengenakan setelan jas yang rapi. Pria itu menatapku mata runcingnya terlihat seperti tukang jagal. Dia menahan sesuatu di balik jasnya. Di sabuknya. Dari bentuk benda itu terlihat seperti pistol. Aku memekik. Menjauh darinya "Jaga jalan mu nona" suaranya se kelam neraka Aku tidak berkata-kata. Entah kenapa aku merasa asing dengan manusia-manusia di stasiun ini, mereka tidak terlihat seperti pekerja yang biasanya memenuhi tempat ini. Beberapa orang menatapku curiga, beberapa lainnya terlihat mencurigakan. Mungkin aku sudah harus sekamar dengan ibuku di rumah sakit jiwa. Aku mengasihani mentalku yang dirusak di ruang introgasi. "Ku temui kau nanti" aku mematikan sambungan telpon dengan Janet. Kakiku bergerak gelisah menunggu kereta untuk kembali pulang. Aku tidak berhenti menoleh ke kiri dan kanan. Aku satu-satunya orang yang gelisah menunggu sambil berdiri di depan pemberhentian. Sementara yang lainnya terlihat begitu santai duduk di sepanjang stasiun bercanda gurau menikmati keramaian. Akhirnya keretaku datang. Aku masuk sebelum penumpang lain keluar akibatnya beberapa penumpang mengumpatiku p*****r tak beradap. Aku tidak peduli. Aku ingin pulang menjauh dari keramaian, menjauh dari orang-orang yang mungkin bisa menembakku. *** Kami selalu duduk di sana, di bordes lantai lima. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana anak di dalam perut sahabatku nanti, dia pasti keras kepala seperti ibunya. Sudah kubilang untuk mencari tempat bicara yang nyaman untuk kehamilannya, kita tidak perlu harus naik sampai ke lantai lima. Tapi Janet meyakinkan ku yang teraman adalah boredes lantai lima, menurutnya setiap tembok di rusun ini punya telinga. "Julian memaksaku menandatangni surat pengunduran diri, dimana di dalam surat itu aku secara sadar mengajukan tidak menerima uang pesangon akibat keributan yang kutimbulkan" "Tai anjing" umpat Janet, dia tidak peduli pada semua orang yang bilang bahwa tidak baik mengumpat disaat hamil, kata orang itu seperti mengutuk anak di dalam perutmu. Janet hanya menanggapinya dengan. Anakku tidak bodoh seperti kalian "Tabunganku sisa dua juta" akuku "Aku butuh hidup ! Membayar listrik, air hampir lima rartus ribu. Lalu keperluan transportasi. Makan. Darimana aku akan mendapat pinjaman ? Siapa yang menerima gadis yang cuma tamatan SMA sepertiku" "Tahu tidak cara agar perempuan perempuan miskin seperti kita selamat di kehidupan ini ?" tanyanya sambil menyeringai "Menikahi laki-laki kaya" "Seandainya dongeng seperti itu ada. Kamu liat sendiri yang kupacari adalah seorang pembunuh" Kami sama-sama terdiam. Aku merasa bersalah harus menambah beban Janet yang sudah sengsara dengan kehamilan pertama dan suami seorang pemabuk. "Puspa mendatangiku. Dia mengancamku agar menemukan keberadaan Adam" "Puspa anaknya Adi Wilaga?" Aku mengangguk "Katanya dia akan menghancurkan hidupku" Aku terkekeh sinis "Apa yang mau dihancurkan lagi, hidupku sudah hancur duluan" "Kamu tidak mengetahui keberadaannya ? Kamu tidak ingin tahu siapa Adam sebenarnya ?" "Mereka memberithuku dia bernama asli Letnan.." "Bukan itu..." "Orang tuanya, hidupnya sebelum jadi pembunuh. Diamana dia dibesarkan, Apa mereka memberitahumu ?" Aku menggeleng "Cobalah tanyakan pada teman polisi yang tempo hari membawamu pulang" Aku menatap manik di mata kelabu Janet, dia terlihat sangat meyakinkan "Tapi aku tidak mau tahu. Aku hanya ingin dapat pekerjaan dan terus membiayai ibuku. Aku tidak mau dia di Flat ini. Kasian dia !" "Aku mengerti, biar aku yang mencarikanmu pekerjaan" Aku tertawa. Suaminya saja hanya bisa menyegoki diri dengan alkohol "Memangnya kau putri Adi Wilaga yang terbuang ? Dari mana kau punya relasi ?" aku terkekeh "Sok-so'an mau carikan aku kerja.., bagaimana dengan pekerjaan suamimu ?" "Kurang ajar kau ! Aku membaca koran setiap hari. Aku mencari lowongan kerja. Sekarang aku punya dua pengangguran dihidupku yang harus ku-usahakan agar mereka tetap waras" Aku terkekeh kecut, tapi pikiranku melayang. Apa aku harus mencari tahu tentang mu Letnan ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD