Ada yang bilang bahwa rasa takut itu adalah insting dari alam yang mengatakan bahwa hal buruk akan datang. Itulah yang terjadi padaku.
Sebelum aku masuk ke Wmart, dua orang bertubuh besar menghampiriku "Tuan-Tuan ?" kataku berusaha sopan kepada mereka.
Tapi mereka malah menyeretku. Belum sempat aku berteriak. Aku melihat Puspa. Anak pertama Adi Wilaga. Dengan lipstik merah dan gaun berkabungnya. Papinya sudah meninggal empat bulan yang lalu tapi dia dan antek-anteknya masih saja menggunakan pakaian duka.
Aku di bawa ke gudang belakang Wmart. Beberapa karyawan melihat kami. Dua bodyguard Puspa meminta mereka untuk menyingkir memberi ruang bagi aku dan Puspa.
Puspa menarikku dan melemparku ke tumpukan gandum. Tubuhku mematul dan meinumbulkan serbuk gandum yang berterbaran melawan memontum yang kuciptakan. Aku memejamkan mata. Sebelum tubuhku kembali ditarik dan aku membentur tembok
"Katakan dimana dia ?" suaranya sesuram warna gaunnya
"Aku tidak tahu"
PLAK !
dia menamparku, aku tidak menduga orang sekaya dia ringan tangan sekali. Dalam arti paling buruk dijagat raya ini.
Tidak ada yang mencoba menghentikannya. Aku hanya bisa menyentuh pagian nyeri di pipiku. Sementara seragamku sudah dipenuhi gandum.
"AKU TIDAK TAHU APAPUN!" teriakku putus asa
Dia terkejut, karena rupanya aku cukup punya keberanian untuk berteriak padanya. Dan kuberitahu saja, tidak pernah ada rasa takut pada diri si miskin. Mereka yang tidak memiliki apapun jauh lebih berbahaya
"Sudah kukatakan semuanya di kantor polisi. Mereka melepaskanku karena aku tidak berkaitan dengan pembunuhan papimu"
"Uh. Kita liat nanti sejalang apa dirimu. Lidah ular"
"Hei" aku mendorong bahunya
Belum sempat apapun keluar dari mulutku dia justru merenggut rambutku hingga, sanggulan ala Wmart yang susah payah kubuat berantakkan "Kamu tidak tahu rasanya kehilangan orang yang sangat berarti untukmu. Meninggalnya papiku membuat kami kahilangan banyak hal. Dia adalah pondasi keluarga kami, roda yang terus berputar meski tubuhnya menua. Dia laki-laki baik yang tidak seharusnya meninggal dengan jalan tragis seperti ini" Dia mengeratkan tangannya, wajahnya mendekat hanya sejengkalan tangan dariku "Jangan main-main denganku Kinar ! Aku pastikan kamu dan kekasihmu mendapatkan hal yang setimpal. Aku akan membuat nereka untuk kalian berdua"
Lalu sekali lagi dia menamparku dengan hina
"Kuberikan waktu satu minggu temukan Purba atau hidupmu kuhancurkan sampai jadi abu"
dia berjalan mundur. Dia menunjukkan isyarat dengan jarinya. Yang mengatakan, dia mengawasiku.
Bodyguard yang datang bersama Puspa mengikuti majikannya. Berjalan seperti gagak meninggalkan aku yang hanya bisa berdiri lemah.
"Kinar kamu tidak apa ?" Danu karyawan gudang, temanku sejak pertama kali aku bekerja di Wmart mendekatiku "Wajahmu penuh gandum"
Aku mengusap pipiku, memang penuh gandung
"Bajumu juga" tambah Danu. Beberapa karyawan lain hanya bisa melihatku dari kejauhan tidak punya kebaikan di hati mereka untuk sekedar bertanya, apa aku baik-baik saja. Mereka lebih dulu menghakimiku dengan tatapan mereka. Di kepala mereka akulah si Kekasih Sang pembunuh itu.
Aku merapikan rambutku. Danu merapikan gandum-gandum yang jadi beratakkan. Lalu Manger Wmart sudah berdiri di ambang pintu masuk karyawan
"Kinar" Panggil Julian melipat tangannya. Wajahnya selalu angkuh seperti itu, namaun kini dibumbui dengan raut tidak suka karena gudangnya diacak-acak "Ikut aku !"
Aku pasti akan kena masalah, bisa-bisa bulan ini gajiku tidak diturunkan. Aku harus memasang wajah sedih. Meski dia jahat, Julian mudah tergugah hatinya dengan kesedihan.
Aku tertunduk-tunduk mengikutinya ke ruangannya.
"Duduk kamu"
Aku dengan menurut duduk di salah satu kursi di depan mejanya. Sementara mesin printer mencetak sebuah dokumen.
"Julian, maafkan aku ! Kamu boleh memotong gajiku aku tidak akan masalah. Aku sudah tidak masuk dua hari. Dan hari ini aku rela bekerja tanpa dihitung upah dan diberi uang makan. Tidak masalah"
Julian hanya terdiam, matanya menatap dokumen yang sudah di print itu. Setelah kertas itu sepenuhnya di cetak, julian menarik satu kertas, pada kolom tanda tangan Julian membubuhi tanda tangannya , di stempel dengan stempel perusahaan. Resmi sekali.
Lalu dia menengadah melihatku "Aku minta maaf" katanya penuh kesungguhan "Dua hari ini aku harus menjelaskan apa yang menimpamu, pada semua Devisi perusahaan kita. Kebijakan telah mereka ambil, kami semua sepakat untuk memberhentikanmu" Julian mendorong kertas yang adalah surat pengunduran diri, dimana tercantum namaku.
Surat itu memberi kesan bahwa akulah yang memohon pengunduran diri, karena tidak ingin merugikan perusahaan atas pemberitaan yang beredar di media.
Mulutku membuka tidak percaya, ingin sekali ku robek saja surat itu, tapi aku tidak akan bisa mendapat toleransi apapun, selain itu mereka bisa sangat mudah memalsukan tanda tanganku. Intinya percuma saja.
"Sudah kuusahakan sebisa mungkin untuk melindungi hakmu sebagai seorang pekerja. Sekali lagi aku minta maaf. Mereka tidak sepakat denganku. Gajimu bulan ini tidak bisa kami bayarkan. Dan kamu diberhentikan..." Dia mengangguk, seakan sedang meyakinkan dirinya sendiri "Terimakasih lima tahun ini kamu sudah bekerja keras, menjadi patner kami yang baik. Wmart kehilangan satu pegawai teladannya.."
"Julian..." aku menggeleng "Aku butuh pekerjaan ini ! Aku tidak punya hari libur. Aku sudah bekerja 16.000 jam di tempat ini. Berdiri sepanjang hari. Jarang melakukan kesalahan. Karena aku tidak ingin gajiku terpotong. Tidak ada satupun pekerjamu yang seperti aku, Julian !" aku tidak percaya, ini tidak adil "Apa yang diberitakan itu tidak benar. Aku tidak menganal laki-laki itu" lalu akhirnya aku mengemis juga pada pria b******k ini "Tolong aku Julian, aku punya ibu yang sedang sakit. Aku tidak bersekolah. Hanya pekerjaan ini harapanku satu-satunya"
Julian menggeleng. Tangannya mengetuk bagian tanda tangan di surat pengunduran diri "Tanda tangani ! Semoga kita bisa bertemu di kesempatan yang lebih baik" wajahnya yang tenang itu membuatku muak.
Aku mengambil kertas itu, merobeknya dan melemparnya ke wajah Julian "TAI ANJING" teriakku "INGAT KAMU DULU HANYA SEORANG BURUH SAMA SEPERTI KAMI, TAPI KARENA BANTUAN KAMI KASIR YANG BEKERJA BRUTAL KARIRMU LEBIH BAIK. KAMU HARUS TAHU DIRI. KALO BUKAN KARENA PENDIDIKANMU KAMU AKAN SEMISKIN KAMI !"
Aku tersenyum mengerikan seperti joker.
Tangan Julian gemetar di atas meja ditautkan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan ketenangannya.
"Aku akan minta pacarku untuk membunuhmu. Menembakmu di kepala Julian" Aku pun beranjak pergi dari sana dengan sakit hati luar biasa. Aku berjalan ke kasir dimana aku biasanya berjaga pada jam itu.
Kulihat karyawan baru sudah berdiri di sana menggantikanku, menggunakan setelan hitam putih khas para pegawai magang. Apa aku sungguh-sungguh harus meninggalkan tempat ini ? Hatiku begitu berat. Aku menengadah melihat langit-langit yang tinggi dan pencahayaan yang selalu terang tidak peduli siang atau malam, rak-rak tinggi, dan motor pengangakut barang yang hilir mudik.
Aku mengusap air mataku. Akan bagaimana perasaanku ketika aku kembali kemari untuk belanja menjadi seorang kastemer. Padahal aku menghabiskan 16.000 jam di tempat ini. Aku menggeleng menguatkan diri dan melangkah pergi.