KETAKUTAN KECIL

1073 Words
Aku bersiap untuk kembali bekerja pagi itu. Hidup tetap harus dijalani tidak peduli aku baru pulang di-introgasi. Orang-orang Wmart tidak peduli dengan masalahku, yang mereka pedulikan adalah bagaimana cara memeras tenaga pekerjanya seoptimal mungkin. Uang tetap harus dicari. Mereka tidak datang sendiri padamu. Seragam Wmartku sudah dicucikan Adam, sudah disetrika dan dilipat dengan lipatan yang sempurna. Masih saja nyeri perasaanku melihat bekas-bekas keberadaannya di flat ini. Aku mengenakannya, menyanggul rambutku ala pekerja Wmart. Aku mengambil totebag yang sering kugunakan. Memakai sepatu convers hitam yang warnanya kini sudah menjadi abu kebiruan. Sudah hampir empat tahun aku menggunakan sepatu yang sama. Tidak terhitung lagi berapa kali kujahit dan kutempel sepatu ini. Sebelum aku menutup pintu flatku, aku tetap berdoa dia kembali. Aku bergegas meninggalkan flat. Tetangga-tetanggaku yang kepo bertanya tentang Adam. aku tanggapi saja dengan anggukan ringan. Aku tidak siap untuk membuka sebuah obrolan mengenai traumaku di ruang introgasi dua hari lalu. Aku ingin meninggalkannya di situ. Hari ini aku hanya ingin bekerja. Meski gajiku tidak akan penuh bulan ini karena dua hari libur. Sudah kubilang sebelumnya, aku tidak punya hari libur. ya, sebenarnya aku adalah salah satu manusia yang masih terjajah di negri yang kata orang sudah merdeka ini. Aku menuruni dua anak tangga sekaligus, aku melomapat-lompat tanpa rasa ngeri kakiku akan patah, aku sudah menuruni tangga yang sama selama hidupku. Aku tidak mungkin jatuh. Aku hafal kramiknya pecah di anak tanggan nomor 33. Aku melewati toko bu Elly Nio setengah mengejarku "Kinar ! Kinar !" teriaknya menghentikan langkahku "Tunggu dulu" "Aku hampir telat Nio" aku harap dia mengerti, ketika aku menunjukkan mimik yang tidak enak dilihat. "Motornya Adam" Aku hampir lupa benda itu dia tinggalkan di gedung ini. Apa Hannah akan menudingku menutupi kebenaran kalau aku lupa memberitahunya tentang motor itu ? "Sudah diambil yang punya, katanya motor itu motor curian" "Ah ?" Nio melipat tangannya didada "Ternyata pacarmu penjahat ya. Bisa-bisanya sih Kinar ! Dimana otak mu" "Jangan sok paling berotak" aku mendorong pundaknya "Kamu saja masih bekerja di Toko klontong. Kalo punya otak kamu tidak akan tinggal di sini" "Iya juga sih. Ya udahlah kerja aja. Dan..." dia kembali menghentikan langkahku "Si b******k itu punya hutang 300rb. Bu Elly berbaik hati untuk melunasi hutangnya karena kasihan padamu. Itu aja.." Nio tersenyum "Selamat bekerja kawan" Aku mengangguk "Nanti aku akan ke flatanya bu Elly untuk berterimakasi" "Nah sebaiknya begitu" Motor itu juga curian, selama ini sudah berapa orang yang dibohonginya. sudah berdosa pada siapa saja kau wahai Adam ? Aku menggelengkan kepala memutuskan tidak peduli. Stasiun dua puluh menit dari RUSUN kami. Kakiku berjalan memelan ketika melihat dua laki-laki bertubuh besar berdiri memandangiku ketika mau menyebrang ke stasiun. Mereka tidak menoleh, terus saja melihatku. Mereka menyembunyikan sesuatu di balik jaket hitam mereka. Apa itu senjata ? Aku mendekatkan diri pada keramaian orang yang menunggu lampu merah. Menghimpit diriku di anatara kerumunan untuk menghidari mereka. Ketika aku sudah menyebrangi jalan dan berbalik melihat, dua laki-laki itu sudah tidak ada di sana. Nafasku berderu ketakutan. Apa yang mereka inginkan dariku ? Aku berjalan mengejar langkah orang-orang yang akan berangkat kerja. Aku berusaha mengikuti mereka. Sampai salah satu permepuan menoleh dengan tatapan terganggu kuikuti "Maaf ada orang yang mengikutiku" kataku cepat "Oh" jawabnya "Apa kamu baik-baik saja" kata perempuan itu melihat kegelisahanku "Iya-iya" kataku masih mengikutinya Dia membiarkan ku bergabung dengan grubnya. Aku mengeluarkan hoody milik Adam, untuk menutupi baju seragam Wmart yang fameliar. Aku berpisah dengan grup pekerja pabrik dan mengikuti jalur keretaku. Aku mendengar langkah kaki berlari kecil di belakangku. Aku bergegas ikut berlari. Aku tidak mau menolah. Bisa-bisa aku dibunuh di tengah keramaian. Aku belum mau mati. Aku memejamkan mata ketika satu tangan menyentuh bahuku "Jangan" gumamku "Hai Kinar ini aku Gus" Akupun membuka mata, menoleh melihat Gus yang begitu jangkuk berdiri di sampingku. Aku menghela nafas lega. Hampir saja aku memeluk lelaki itu. "Kamu baik-baik saja" Aku menggeleng "Seseorang mengikutiku, mereka bawa pistol" Gus memegang tanganku "Ayo kutemani sampai Wmart" Aku masih menoleh kebelakang memastikan dua laki-laki bertubuh besar tadi tidak mengikutiku. Ternyata tidak ada yang mengikutiku, keramaian gerbong kereta sama seperti biasanya dan semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang melihat ke arahku. Aku menghela nafas. Mungkin aku cuma parno sendiri. Aku menarik tanganku dari genggaman Gus ketika kami sudah menaiki Kereta. Dia laki-laki berdasi dan terlihat gagah dengan jas setelan kerjanya. Aku mendengar tentang kesukseannya, dari para teteangga. Tapi yang aneh kenapa dia memilik kembali ke lingkungan orang miskin. Rusun Asri, tidak cocok didiami oleh orang yang terbilang sukses. "Kamu bekerja di mana ?" "Aku IT di salah satu Bank" "Pantas pake dasi, gajinya banyak ya ?" Pandanganku masih ke kiri ke kanan. Melihat orang-orang yang sepagi itu berangkat dengan arah yang sama denganku. Di pemberhentian pertama masuk seorang perempuan berwajah seperti penyihir cantik di novel-novel fantasi yang pernah k****a. Berambut hitam gelap, beranting di lipatan hidungnya. berlipstik merah. Perempuan itu menoleh ke sana kemari. Pakainnya seperti gaun malam dan menggunakan luaran terurai sampai betisnya. Kelopak matanya di taburi warna hitam, mempertegas matanya yang dalam. Dia melihatku sekilas lalu duduk tidak jauh dariku. Matanya mengarah padaku. Demi Tuhan aku tidak lagi mendengarkan apa yang Gus katakan padaku. Perempuan itu lantas tersenyum kecut padaku. Dia memalingkan wajah. Lalu aku melihat Gus. Mataku melotot. Aku menoleh ke bagian kereta sebelah kanan. Dua laki-laki berkemeja putih melihatku. Aku menahan nafas. Aku ketakutan dan mau teriak. Lalu ketika laki-laki itu turun di stasiun berikutnya aku bisa menghirup nafas lega. "Kamu kenapa ?" "Tidak" "Apa ada yang mengikutimu ?" Aku tersenyum ketika perempuan misterius itu, turun di stasiun berikutnya "Kurasa aku cuma parno saja karena introgasi kemarin.." aku menggeleng-geleng sambil tersenyum kecut. "Darimana kamu mengenal laki-laki b******k seperti itu, Kinar ?" Aku mengangkat bahu "Kami bertemu dan jatuh cinta Gus" "Kenapa tidak kamu tanyakan identitasnya ?" "Dia memberitahuku, tapi dia berbohong. Dia bilang dia sedang kabur dari perjodohan yang dipaksa orang tuanya. Dia bawa motor dan sedikit pakaian" satu di antaranya masih aku kenakan. "Tidak masuk akal" "Kata orang tidak perlu mencari pembenaran ketika jatuh cinta, dan ternyata itu tidak bekerja di hidupku" Akhirnya aku sampai ke pemberhentianku. Aku bangun "Minggu depan aku gajian. akan ku traktir kamu minum kopi" aku bangun dari dudukku "Terimakasih banyak Gus" Aku memeluknya sekilas "Mari kita ngobrol soal masa kecil, atau apa-apa yang terlewat selama kamu meninggalkan rusun. Aku sangat senang mendengar kisah cinta dan sejenisnya" Lalu bergegas, bergabung dengan kerumunan orang yang mendekati pintu kereta. Aku melambai pada Gus. Dia hanya melihatku dengan wajah datar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD