Aku berjalan melewati toko bu Elly. Amid salah satu karyawan Bu Elly mengejarku. "Aku mendengar dari Nio." Amid mengamati wajah yang pucat. "Apa mereka melakukan sesuatu padamu Kinar?"
"Tidak Amid. Tinggalkan aku sendiri." Aku mendorongnya lemah, energiku sudah sudah benar-benar terkuras.
Setengah berlari aku naik ke lantai tiga. Aku tidak mempedulikan orang-orang yang bertanya tentang kejadian kemarin. Aku sudah lelah menjawab semua pertanyaan yang pada dasarnya mereka tidak ingin tahu jawabanku.
Aku mendengar namaku di panggil-panggil, tapi aku terus berlari menyusuri tangga. Akhirnya aku pulang ke rusun tempat paling nyaman untukku. Aku mengunci pintu, menyilangkan sapu di depan pintuku agar benar-benar terkunci.
Aku ingin istirahat.
Lalu aku berbalik dan melihat betapa berantakannya kamarku yang sudah di obrak-abrik. Semuanya tidak dalam posisi seharusnya. Kasurku dibalik dan tidak kembali dirapikan, semuanya tertinggal seperti ini selama dua hari aku di kantor polisi.
Pakaian Adam.
Jadi dengan nama apa aku harus memanggilnya Purba atau Adam?
"AAAAA" yang kutahu detik itu kepalaku mau pecah alhasil aku menjerit keras-keras ingin mengeluarkan semua himpitan di dalam kepala dan hatiku.
Pakaian Adam berjatuhan di lantai, menyembul keluar dari dalam lemari dan sialnya ketika rumah berantakan seperti ini dialah orang yang paling aku butuhkan, ketika aku dalam keadaan seterpuruk ini pelukannya lah yang aku rindukan.
Aku merosot turun bersandar pada pintu dan menangis pilu. Kenapa sih Dam, kamu sejahat itu? Kenapa kamu harus jadi orang paling jahat, kenapa kita bertemu dan di antara semua sasaran dari rencanamu kamu malah berpacaran dan berlindung padaku. Tahukah kah kamu, yang ku miliki cuma kamu...
"Ehe...he...heh..." tangisku
Apa setidak berhak itu aku bahagia? Ketika aku berkenalan dengannya lalu dia masuk dalam hidupku, kuputuskan untuk jatuh cinta, karena kupikir aku juga berhak atas rasa itu. Bukan melulu kerja dan membiayai ibuku sampai tidak punya waktu libur. Ternyata ini juga salah.
Aku masih menangis
Makin pilu ketika kutemukan diriku mengenang betapa hangat dan menyenangkannya sosok Adam. Dia lucu tapi kaku, tapi membosankan tapi juga penyayang tapi juga memperhatikan ku. Hal-hal kecil saja, seperti sepatu kerjaku yang talinya lepas, dia akan berjongkok untuk mengikatnya. Dia menguncir rambutku apabila aku sedang sibuk beraktifitas, dia menyelimutiku setiap malam dan mendekapku ketika tidur.
Laki-laki itukah yang membunuh Adiwilaga, orang kaya baik itu? Aku merasa hampir-hampir tidak mungkin. Tidak berkorelasi dengan keseharian Adam yang kukenal.
Letnan Pasukan Elit, penembak jitu...
***
Aku terbangun di tengah ruangan, tertidur di lantai, aku memeluk lututku seperti kucing. Langit sudah berubah menjadi gelap. Semua ruangan gelap. Lampu tidak dinyalakan.
Entah kenapa aku berharap ada bayang-bayang menyusup dari balkon seperti di film-film, bayang-bayang yang kuharap adalah Adam.
Hati kecil ku teriak ingin dia kembali, paling tidak jika memang kita tidak bisa berakhir bahagia, dia bisa menjelaskan semuanya. Tapi yang terdengar di tengah kesunyian itu hanya keran air dari sink yang menetes sedikit demi sedikit.
Sambil berdiri aku memperhatikan keran itu dengan perasaan gondok ingin saja aku hancurkan benda sial itu. "Aku sudah bilang padanya untuk memperbaiki benda ini, kenapa dia pergi tanpa memperbaikinya. Kalau begini aku harus menyuruh Efendi memperbaiki keranku. Aku harus mengeluarkan seratus ribu untuk pekerjaan seremeh ini. ADAM..," teriakku dalam keheningan malam.
Aku memutar keran itu hingga benar-benar rapat. Tapi percuma. Benda itu masih saja meneteskan air. "Dasar Keran Gila!"
Aku berjalan ke arah lampu, terangnya lampu rumahku menunjukkan betapa hancurnya kediamanku yang biasanya begitu rapih.
Aku menghela nafas. Gak ada waktu buat menangis. Hidupku memang pahit, tidak adil, dan menderita. Aku harus hadapi. Aku menegakkan punggungku.
"Jangan sedih, jangan patah semangat, jangat patah hati, hidup-hidup-hidup!" kataku pada diriku sendiri. Meski aku telah menyemangati diri sendiri, air mata masih saja lepas dari pelupuk mataku. Aku cepat-cepat menghapusnya. Tahu bahwa diriku lebih kuat daripada ini.
Aku merapikan barang-barang yang dikeluarkan para polisi itu dari lemari. Dokumen medis ibuku, kurapikan dalam satu map, foto-foto yang berantakkan di cabut dari albumnya, kumasukkan kembali ke album. Aku melepas pakaianku satu persatu. Menguatkan hatiku ketika menarik satu hoodie milik Adam, hoodie itu masih menyisakan bau tubuhnya.
"Bolehkan merayakannya?" Aku menarik hoodie itu dan ku kenakan di tubuh kecilku. Alahasil hoodie itu kebesaran di sana. "Yang dulu menggunakan baju ini adalah seorang letnan." Aku terkekeh. "Aku pikir dia laki-laki yang tidak memiliki kehidupan."
Aku menggeleng. Aku mulai kelelahan. Aku berusaha sebisa mungkin merapikan rumah seperti cara Adam merapikan rumah, dia menyusun semua sesuai warna, menempatkan semua benda pada posisi yang seharusnya.
Tidak sesempurna hasil kerja Adam. Tapi cukup membuatku puas.
***
Aku terjaga hampir semalaman, masih berpikir Adam akan pulang. Tapi tidak ada siapapun kecuali Janet yang mengetuk pintuku ketika hampir pagi. Aku membukanya. Dia menyeruak ke dalam pelukanku. Matanya sembab. "Aku memikirkanmu." Dia mengusap pipiku. "Apa mereka menyakitimu?"
Aku menggeleng. "Adam yang menyakitiku."
Dia melihat keluar melihat ke sepanjang koridor yang sepi. Janet menarikku masuk ke dalam. "Ayo bicara di dalam." Dia menutup pintu rumahku. "Ceritakan semua padaku."
Aku mengedikkan bahu. "Kamu punya tv kan dirumah. Tonton saja berita Adiwilaga."
Dia menarikku duduk di meja makan. "Ceritakan. Apa yang terjadi!"
"Adam," gumamku, aku tertunduk meyakinkan diriku bahawa aku siap untuk berbagi cerita dengan sahabatku. "Dia seorang pembunuh bayaran. Mereka menyebutnya eksekutor."
"Si pemalas kepala batu itu?" Janet terkekeh dingin.
Aku menggeleng "Dia bukan si pemalas kepala batu Janet. Dia seorang Letnan Satuan Khusus. Penembak Jitu. Dia disegani, ketika bersamaku dia berpura-pura jadi orang lain untuk menjauhkan diri dari kasus pembunuhan Adiwilaga. Dia buronan kelas kakap. Mereka menyangka aku menyembunyikan keberadaan Adam. Lalu setelah dua hari aku di introgasi, mereka tidak menemukan keterkaitan ku dengan pembunuhan ini. Aku dibebaskan. Aku berjanji aku akan memberitahu mereka kalau Adam menghubungiku."
"Tai anjing."
Aku terkekeh kelam, mendengar umpatannya. Aku melihat ke perut buncitnya. Aku harap dia tidak berkata-kata kasar di hadapan anaknya kelak.
"Dia akan menghubungimu! Aku yakin."
"Bagaimana... kalau tidak ? perannya menjadi Adam sudah berakhir di tempat ini. Dan aku tidak peduli lagi dia menghubungiku atau tidak." Sorot mataku tajam. "Aku tidak ada hubungannya dengan semua ini. Aku mau melanjutkan hidup normalku, aku ingin berangkat kerja pulang dan bayar obatnya mama. Aku…," suaraku memarau.
Janet mendekap ku, perut buncitnya sungguh mengganggu. Kapan sih bayi ini lahir?
"Aku akan melindungimu."
"Omong kosong."
Dia tertawa, Terkadang aku hanya butuh pelukan saja. Biasanya hal itu dilakukan Adam. Aku kembali menangis pilu "Aku mencintainya," gumamku.
Janet menguatkan pelukannya.
"Dia menjadikanku alat pelariannya." aku mendorong Janet pelan "Apa ini adil Janet?" Aku sudah kembali menangis.
"Aku masih tidak percaya kalau perlakukannya selama ini adalah kebohongan. Laki-laki baik, laki-laki lembut, tidak pernah berkata kasar, selalu memperhatikan ku. itu semuanya akting. Dia memanipulasi aku." Pandanganku seakan menerawang menembus dimensi lain. "Dia memainkan peran untuk jadi kekasihku, agar bisa berlindung dari kejaran polisi"
"Dia memainkan perannya dengan baik."
Aku menyepakati hal itu. Memang dia menjalankan perannya sebagai kekasih yang baik.
"Dia sedang menanamkan sesuatu di kepalamu. Dia ingin menunjukkan citra yang baik dari sudut pandangmu. Dia ingin kamu membelanya di mata hukum. Ini semua skenarionya, ini adalah bagian dari menghapus jejak pembunuhan Adi Wilaga."
Dengan kata lain dia memperalatku!
"Jangan biarkan semua ini terjadi sesuai rencananya. Ingatkan dirimu bahwa dia adalah pembunuh, tidak ada tempat yang lebih baik dari neraka untuk orang seperti dirinya. Meski kamu mencintainya sekalipun, itu salah! Buat tameng dirimu, apabila dia mendekatimu dengan segala cara. Yakinkan dirimu bahwa itu adalah bagian dari skenarionya. Lupakan dia Kinar!"
Aku tidak mampu menahan tangis. Janet kembali memelukku, kali ini lebih erat lagi.