Setelah melalui proses interogasi yang panjang dan melelahkan, tenagaku sudah habis ketika mereka memutuskan untuk memulangkanku. Mereka memaksa untuk memeriksa keuanganku, dengan senang hati kuberikan. Apa yang bisa diselidiki dari rekening bank yang hanya berisi dua juta rupiah. Satu-satunya transaksi yang terjadi di sana hanyalah kiriman masuk gajiku yang sebesar empat juta rupiah dari Wmart.
Lalu aku kembali dipanggil ke ruang interogasi, mereka memintaku menandatangani berita acara pembebasan. Aku hampir bersujud melihat dokumen itu.
"Jangan senang dulu. Kami tidak akan membiarkan mu leluasa sesuka hati. Kamu akan terus diawasi Kinar," bisik Aryo dengan saura dingin.
Aku menghela nafas, mana kehidupanku yang dulu.
Sudahlah, ini semua lebih baik daripada aku bermalam di sel yang dingin tanpa diberikan selimut dan bertemankan satu laba-laba yang membuat jaring ditempat itu.
"Keluarga Adi Wilaga percaya bahwa kamu tahu dimana Purba bersembunyi."
Aku menggeleng lemah "Kalian bisa membunuhku sekarang dan dijamin kalian tidak mendapatkan apapun. Aku tidak menyembunyikan apapun. Aku mengatakan yang sejujurnya pada kalian. Tadi malam kalian memakaikan lie detector padaku. Lihat sendiri mesin itu pun menunjukkan aku telah berkata jujur." Lelah membuat ku ingin menerabas segalanya. Takut dan tertekan tidak ada artinya lagi. "Aku orang biasa saja. Salahku hanya tidak mengenal laki-laki yang kucintai. Aku bekerja setiap hari tanpa hari libur karena ingin upah lebih untuk biaya rumah sakit ibuku. Aku menanggungnya enam tahun, seorang diri...." Aku tidak bisa lagi menahan air mataku
"Tuhan aku bosan sekali dengan cerita sedih dan air mata." Aryo memutar bola matanya terlihat suntuk. Dia memang selalu bertampang suntuk, orang-orang ini membuat ku merasa tidak berarti. Betapa menyebalkannya mereka...
Aku mengusap mataku, berusaha menahan sisanya yang membuat mataku jadi perih. Aku juga tidak mau menjual kesedihanku berharap mereka berbaik hati padaku. Aku menegakkan badan. Kini aku sudah tidak lagi diborgol karena mereka tidak berhasil menemukan bukti untuk menahanku.
"Bebaskan aku!" Akhirnya kata-kata itu keluar. "Aku akan memberitahu kalian apabila dia mencoba menghubungiku"
Senyum Aryo tidak bisa disembunyikan. Aku tahu dia sangat ingin menangkap Adam hidup-hidup. Salah. Maksudku Purba, ya Letnan Purba Andianda. Aku akan mengingat baik-baik nama itu.
***
Aku tidak berekspektasi di luar, di halaman luar kantor polisi sudah dipenuhi wartawan. Hannah memberitahukan, dia akan membantuku keluar dari sana menggunakan mobil polisi untuk diantar kembali ke rusun.
"Adiwilaga bukan orang jahat, dia adalah bos yang dicintai karyawannya. Orang-orang disekitarnya sangat peduli padanya. Dia bukan orang jahat, karena itu apa yang dilakukan pacarmu tidak adil bagi mereka semua."
Aku melihat deretan wartawan dan beberapa orang diluar pagar kantor polisi, mereka membawa kertas kertas bertuliskan. "KALIAN HARUSNYA MATI DAN MASUK NERAKA."
"PASANGAN KEKASIH KEJI."
Oh,
Aku tidak sanggup membaca tulisan yang lainnya. Aku memalingkan wajah dari jendela. Melihat Hannah, dia memberikanku tatapan sedih.
"Adi Wilaga meninggalkan tiga orang putri yang akan mewarisi kekayaannya. Mereka mencintai papi mereka. Kau tahulah bagaimana anak perempuan dan papanya. Mendengar kau ditangkap mereka menerobos masuk dan ingin ikut mengintrogasi mu."
Cih,
Hannah berdecak, dia mengeluarkan rokoknya menyodorkan untukku. Aku menggeleng.
"Kini mereka di lobi menunggumu." Dia mengedipkan mata. "Kuberitahu saja dengan jujur mereka lebih mengerikan daripada Aryo, sejak tadi mereka berteriak-teraik tidak jelas, sekolah tinggi-tinggi, elit-elit tidak tahu adab. Mereka pikir kantor ini punya bapak mereka juga, apa?” dumel Hannah, sambil menghembuskan asap ke udara. "Teriakan mereka membuatku pusing" Meski setenang apapun sikapnya di luar ruangan interogasi, dia masih saja membuatku takut. "Kusarankan jangan hiraukan kalau mereka berteriak, terus jalan menuju mobil yang akan membawamu pulang."
Aku mengangguk meski begitu aku kembali menoleh ke luar jendela. Apa dunia sedang marah padaku? "Aku tidak melakukan apapun? Bahkan sekarang aku tidak boleh jatuh cinta." Aku menghela nafas berat.
Tok.Tok
Seorang polisi mengetuk pintu "Buk mobilnya siap."
Hannah mengangkat alisnya. Akupun bersiap. Menyongsong kemarahan orang-orangnya Adiwilaga, mereka menyalahkan ku atas apa yang tidak aku lakukan.
Aku berjalan turun ke lantai satu dimana tangga itu langsung terhubung dengan lobi. Mataku sudah meruncing memandangi tiga orang wanita yang menggunakan pakaian hitam. Oh, rupanya mereka masih berkabung meski setelah empat bulan kematian ayah mereka. Dramatis…, plus dibuat-buat.
Tiga wanita itu lantas berdiri ketika melihatku. Satu di antaranya setengah berlari untuk menjambakku "PEREMPUAN HARAM JADAH!" Teriakannya menyakiti telingaku.
Aku menutupi berusaha wajahku. Untungnya aku dibentengi dua polisi yang bertubuh besar. Entah polisi yang mana yang seragamnya ku pegang untuk memastikan aku memiliki tameng.
"KAMU MEMBENUH PAPA KAMI." teriak si rambut pendek sebahu. "KAMU DAN PACARMU AKAN MASUK NERAKA."
"KALIAN IBLIS"
Lalu lirih lirih ku dengar "Papa tidak berhak mati tragis seperti ini. Atas semua kebaikan yang diajarkannya pada kami," isak perempuan yang bertubuh paling kecil. "Manusia jahat mana yang tega melakukannya pada laki-laki penolong seperti papa kami."
"Ayo," bisik seorang polisi, yang sudah menamengiku dari belakang mendorongku agar terus berjalan.
"LIHAT SAJA KAU MENDAPATKAN NERAKAMU DI DUNIA INI, ANAK HARAM JADAH!"
Aku menoleh yang berteriak itu seorang perempaun di awal tigapuluhan dengan kacamata berbingkai hitam, rambut merah yang tersanggul, dengan gayanya dia otomatis terlihat mematikan.
Tanpa kuduga si Rambut pendek melemparku dengan botol, sayangnya lemparannya mengenai polisi yang menamengiku.
"Kalau kalian masih berbuat anarkis, aku dengan senang hati mengurung kalian. Tidak peduli kalian sedang berduka sekalipun." Suara dingin itu berasal dari balik tangga. Tanpa menoleh pun aku tahu siapa yang bicara, Aryo! Aku tidak mendengar cacian perempuan penyihir itu lagi. Karena tahu-tahu aku sudah di depan kantor polisi.
Wartawan mendorong memaksa merusak barikade untuk menyodorkan pertanyaan padaku. Brikade kami tidak bisa bergerak melawan gelompang desakan dari mereka.
"Kinar bagaimana kalian merencanakan pembunuhan?"
"Aku bukan pembunuh," kataku dengan jelas.
Tanpa mendengarkan jawabanku mereka terus saja bertanya. "Apa kamu menyembunyikan pacarmu?"
"Tahukah kau tiga puluh ribu karyawan Adiwilaga masih berkabung atas meninggalnya orang baik itu?"
"30rb orang itu adalah penjilat yang hanya menginginkan uang," gumamku.
Sadar bahwa jawabanku didengar dan dapat menimbulkan satu spekulasi baru. Seorang polisi mendorongku hingga tubuhku menghentak dan membentur polisi di depanku. Aku ditarik masuk ke dalam mobil polisi yang tanpa kusadari supirnya adalah Hannah.
Aku menghela nafas. Aku tahu perempuan ini percaya padaku.
Mobil polisi itu melaju, membunyikan klakson membabi buta untuk para wartawan yang berlarian mengejar tanpa takut tertabrak. Hannah membunyikan klakson sampai menimbulkan hingar. Beberapa dari mereka menjauh sambil menutupi telinga.
Setelah kami berhasil keluar aku masih harus menghadapi shock atas kertas-kertas yang dibawa para karyawan yang menuntut keadilan atas meninggalnya bos mereka yang baik.
"Mereka penjilat, mereka ingin tampil di drama ini."
Hannah tergelak tertawa. "Aku setuju."