PEMBUNUHAN ADIWILAGA

2005 Words
Setelah sampai ke gedung Rusun Asri, terasa sesuatu yang janggal ketika kulihat mobil polisi yang terparkir di depan Flatku. Makin aneh lagi karena warung bu Elly tutup dan tidak ada pengangguran yang nongkrong di depan warung itu. Di lantai dasar rusun ini terasa seperti rusun mati. Setelah menaiki dua lantai barulah aku tahu mereka semua sedang berkumpul di lantai tiga. Lantai Flatku. Ada apa ini? "Tarjo ada apa?" Aku bingung melihat orang berkerumun di Blok Flatku. "Ada polisi," jawab Tarjo sambil lalu, dia sibuk menjinjingkan kaki untuk melihat ke depan yang sudah penuh disesaki orang-orang rusun. "Minggir minggir." Aku menyibak orang-orang yang berkerumun. Roy menoyor kepalaku karena mendorong dan mendahuluinya menyerobot barisan. Aku melotot marah meski begitu aku berlalu saja malas berkelahi dengan si buncit kang gaple. Aku beradu pandang dengan sahabat masa kecilku. Gus! Kapan dia kembali? Perawakannya berubah, dia jadi tinggi dan gagah, dia mengenakan setelan kemeja kotak kotak dengan kacamata membingkai wajah tampannya. Aku tidak bisa memalingkan wajah darinya. Puluhan tahun kami tidak bertemu. Dia menatapku dengan kaku. Aku dengar dia sudah sukses, lalu kenapa dia kembali ke sini? Di sini bukan tempatnya orang-orang sukses. "Awas." Seseorang menyikutku, Aku tidak mau kalah aku tarik kerah bajunya hingga dia terhuyung ke belakang, ketika aku menolah ternyata itu Pak Hadi. Ibaratnya dia itu Ketua RT di Rusun ini. Aku dan Pak Hadi sama-sama kaget. Dia tidak menyangka bocah sepertiku berani menarik kerah bajunya. "Benar-benar kamu ya Kinar!" Aku nyengir dan melewatinya, tidak merasa bersalah sama sekali. Begitu sampai di barisan kerumunan paling depan aku baru sadar mereka semua berkumpul di depan flatku. Mereka semua pasukan khusus yang berpakaian hitam-hitam lengkap dengan pelindung, dan membawa laras panjang ditangan mereka, mereka berdiri tepat di depan pintuku. Pintu Flatku sendiri telah dibobol. Ada dua orang laki-laki dan perempuan sibuk memerintah, mereka mengenakan pakaian lebih sederhana dengan kemaja putih dan celana kain, mereka menyabukkan sebuah pistol. Dua orang itu lantas melihatku. "Kinara Lauti?" Laki-laki bertampang keras dan menakutkan, tersenyum culas begitu melihatku. "Iya, aku..Kinar," jawabku gagu, tegang menatap benda-benda berbau kekerasan yang dia kenakan. "Kenapa kalian membobol rumahku?" Mataku terbelalak melihat flatku yang jadi berantakkan habis di obrak-abrik mereka. "Mau apa kalian semua?" tuntunku. Mataku nyalang ingin menerjang salah satu dari mereka. Tidak peduli mereka bersenjata sekalipun. "Aku Detektif Aryo. Kami ingin meminta keteranganmu." "Keterangan apa?" "Kamu telah menyembunyikan seorang pembunuh di rumahmu." Aku terkekeh. "Pembunuh apa Pak Aryo, aku cuma pekerja Wmart. Aku hanya tinggal dengan kekasihku..." Lalu aku terdiam tidak bisa melanjutkan kalimatku. Mataku menatap lurus pada Detektif Aryo? Adam? "Kamu mengasihi seorang pembunuh Nona Kinar. Untuk itu penting buat kami mengintrogasimu." Seorang polisi berpakaian pelindung menghimpitku ke sisi tembok. Kawanan mereka yang lain membuat barikade menghalangi tetangga-tetanggaku yang sedang menonton. Tanganku diborgol ke belakang. "Tunggu...Tunggu...Aku tidak tahu apa-apa." suara ku pilu, aku menerawang dengan pandangan yang kabur karena air mata, kulihat Bu Dani meminta mereka melepaskanku. "MEREKA SEMUA MENGENAL ADAM. ADAM LAKI LAKI YANG BAIK. DIA BUKAN PEMBUNUH!" teriakku berusaha meronta-ronta melepaskan diri. Inilah kenapa Adam tidak kembali..., sialan Adam ! Dengan kasar kepalaku di benturkan ketembok. Mereka meminta aku diam dengan cara yang kasar. Aku tidak mau berkata-kata lagi, mataku berkaca-kaca akibat perlakuan kasar mereka. "Diam. Ikut kami." desis seorang polisi. Salah satu dari mereka menarikku paksa hingga terseret. Aku ditodong menggunakan laras panjang. Entah untuk berapa lama aku menahan nafas. Melihat moncong pistol itu diarahkan ke pipiku. "PAK POLISI KINAR ANAK BAIK PAK," teriak Bu Dani, seorang tetanggaku. Hatiku miris mendengar bu Dani. Nio penjaga warung bu Elly memegangi jantungnya syok. Matanya berkaca-kaca melihat ku diperlukankan seperti penjahat. "MINGGER" Teriak anggota polisi di belakangku. Aku tidak bisa menoleh karena di pipiku masih mengarah moncong laras panjang. Hanya tinggal di kokang saja keluarlah semua isi kepalaku. Air mataku menetes. Antara takut, dan bingung dengan kondisi ini. Di antara orang-orang itu. Gus melihatku, matanya membesar, bengong dan keliatan bodoh. Lihat Gus, satu dari kita tumbuh jadi manusia sukses dan satu lagi menjadi seorang penjahat. Betapa mirisnya kehidupan di Rusun ini... Janet berlari. "KINAR," teriaknya sambil memegangi perutnya, dia tengah hamil tujuh bulan. "BAPAK JANGAN BAWA KINAR." Dia histeris, dibelakangnya Bimbim suaminya mencoba menahannya. Teriakan Janet justru menimbulkan sodokan di punggungku yang terasa nyeri di kulitku. Aku mencoba berjalan pelan-pelan sambil tertunduk. Tidak mau lagi melihat tetangga-tetanggaku. Janet menerobos orang-orang, tidak peduli pada bayi yang ada di perutnya "Pak Polisi, Dia sebatang kara pak. Ibunya di Rumah sakit Jiwa. Pak...." "Minggir." Senapan mengacung ke kening Janet "Hentikan, aku ikut kalian," kataku dingin pada sang perwira. Dia menarik tanganku kasar dan aku terhuyung, aku segera dapat mempertahankan keseimbanganku. Aku menghela nafas. Air mataku berderai. Aku salah apa hingga diperlakukan begini? *** Detektif Aryo bergabung bersama seorang penulis berita acara sekaligus salah satu detektif yang menjemputku tadi, Nona detektif itu bernama Hannah, aku melihat name tag yang tergantung di lehernya. Aku berada di ruang Interogasi 1. Aku membaca keterangan di atas pintu sebelum masuk ke ruangan ini. Ruang Interogasi 1, terbuat dari lapisan dinding kedap suara dipenuhi kamera di empat sisi ruangan, terdapat kaca tak tembus pandang di mana kutebak ada lima polisi yang sedang melihatku, mengharapkan titik terang dariku. Tapi aku masih menangis, aku kehilangan seluruh energiku. Aku merasa lebih lelah daripada berdiri di belakang meja kasir selama 12 jam. Mentalku terkuras, melihat orang-orang dengan wajah keras penuh intimidasi ini. Aku sudah mengulang hampir seratus kali, berbisik, "Aku tidak tau apa-apa." Tidak ada yang mau mendengarkanku. "Kinara Lauti, umur dua puluh lima tahun, seorang kasir di Wmart. Sudah bekerja selama lima tahun. Anak dari Hiyatul Alima dan Samoser Ali. Sepuluh tahun lalu Samoser Ali meninggal akibat overdosis dan empat tahu setelahnya Hiya dipindahkan ke RS.Mutiara karena mengidap gangguan jiwa." Hiya! Dia tahu nama panggilan kecil mamaku. Kenyataan itu tidak lantas membuatku berhenti menangisi nasibku yang buruk. PRAK ! Detektif Aryo menggebrak meja membuatku beringsut ketakutan sambil memejamkan mata. Aku tersengal seperti anak kucing. "KALO AKU BERIKAN KETERANGAN KAMU KATAKAN BENAR ATAU TIDAK!" "Mana kutahu aturannya seperti itu." Aku takjub pada diriku yang masih bisa bicara. Kepala Hannah meneling, sorot matanya mengancam. Sepertinya dia bernafsu ingin melubangi kepalaku. Aku takut sekali pada mereka. Aku memang hidup di lingkungan orang-orang miskin yang terkadang menghalalkan segala cara untuk dapat uang, tapi aku tidak pernah melihat senjata api seumur hidupku. Tadinya kupikir aku gadis yang bermental baja, tapi aku seciut anak kucing di hadapan orang-orang ini. Apa mereka yang diinterogasi biasanya dipukuli? Bagaimana kalau yang dituduhkan tidak benar? Bagaimana caranya orang yang dalam kondisi diintimidasi seperti ini bisa menemukan jawaban yang benar? Apakah intimidasi dan interogasi bisa mengungkap kebenaran? Dengan adanya rasa takut.., aku sangsi akan hal itu. "JANGAN BERCANDA ANJING," teriak Detektif Aryo mencondongkan tubuhnya, dia berteriak di depan wajahku seakan dia bisa memakanku. Aku memejamkan mata. "Ehe..he..." Aku menahan sesenggukan tangisku. "Iya.Itu.Benar" kataku terbata-bata masih takut menatapnya. Dia mengangguk, lalu menghempaskan tubuhnya malas di kursi. Dia memain-mainkan rokoknya. Di Ruangan seperti ini seharusnya tidak diperbolehkan untuk merokok. Apa semua detektif seanjing Aryo? "Langsung saja dimana kamu menyembunyikannya ?" "Aku tidak tahu." Aku takut-takut berkata. "Aku tidak tahu kenapa kalian membawaku kemari." Hannah mengerling kesal melihat tingkah Aryo, dia memutuskan untuk menjelaskan. "Kamu dibawa kemari atas tuduhan membantu pelarian seorang pembunuh kelas kakap." "Siapa yang kalian bilang pembunuh kelas kakap?" Aku sepertinya bisa berbicara dengan Hannah, mungkin karena kami sama-sama perempuan rasa takutku mengendur. "Mantan Letnan Batalion Lima. Resimen Tembak Jitu Pasukan Elit. Purba Adianda." "Aku tidak mengenalnya." Aku menekan kata per kata, melihat ke mata Hannah, berusaha membuatnya percaya. "Tidak pernah ada manusia bernama Purba di hidupku." Aryo tertawa mengerikan kumisnya turun dan naik di sela-sela isapan rokoknya. Hannah mengeluarkan satu MAP dan menarik keluar satu foto dalam MAP itu. Menunjukkan foto seorang letnan tertawa memeluk teman-temannya yang lain. Mereka terlihat belum siap berfoto ketika foto itu diambil. Hannah mengetuk telunjuknya di satu spot di foto itu "Ini adalah Letnan Purba Adianda," jelasnya. Tawanya adalah tawa yang menghiasi hari hariku. Aku merasa sesak di d**a. Kenyataan ini diluar fantasiku tentang Adam. Dia memang Adam. Mulutku terbuka akibat syok. Aku berusaha terbangun berharap ini mimpi. Pandanganku teralih dari Hannah menuju wajah kesal Aryo. Masih tidak percaya dengan semua ini. "he...heh..." nafasku tercekat-cekat aku kembali menangis "b******k dia cengeng banget." Aryo melempar puntung rokoknya dan menginjak benda itu dilantai. Dia melangkah pergi. "Aku mau panggil Astrid." "Namanya Adam. Aku mengenalnya sebagai Adam." Aryo kembali menoleh melihatku, dia tersenyum. Senyumnya masih saja mengerikan buatku. Dia kembali menarik kursi duduk di sebelah Hannah "Kami bertemu di Wmart, waktu itu dia kekurangan uang 20rb untuk membayar belanjaannya. Lalu kami saling tertarik. Dia berkunjung ke Rusunku. Kami memutuskan tinggal bersama..." Aku menghela nafas meredam emosi bergejolak dalam diriku. "Adam laki-laki yang baik. Dia menyayangiku., dia selalu lembut dan tidak sekalipun mengeraskan suaranya padaku apalagi memukul atau menyakiti secara fisik." Aku menghapus air mata dengan lenganku karena tanganku masih di borgol "Apalagi dia akan membunuh orang, itu tidak masuk akal." "Kamu itu lugu apa pura-pura lugu?" Hannah memotong sergahan marah Aryo. "Apa dia pernah memberitahu identitasnya ? selama tinggal bersamanya apa kamu tidak pernah melihat kartu identitas atau menemukan sesuatu yang mencurigakan? Ceritakan padaku, aku amat senang mendengar kisah cinta" Hannah tersenyum konyol, mungkin ingin membangun situasi yang lebih menyenangkan. "Kehidupan s*x juga bisa diceritakan kalau dirasa perlu." "Tai anjing semua perempuan," umpat Aryo. Hannah melipat tangannya, tersenyum sombong pada partnernya yang lebih tua itu. Aku menelan ludah yang sudah tercampur air lambung akibat kecemasan yang memompa naik. "Hanya sekali dia memberitahu kalau dia sedang kabur dari orang tuanya yang menginginkan dia menikah dengan seorang gadis yang tidak dicintainya..." belum selesai aku menjelaskan Aryo sudah tertawa terbahak-bahak. "Kau dengar itu Hannah? masih saja ada orang bodoh yang kemakan cerita perjodohan? Tai sapi." Hannah tidak merespon apapun, pandangan datar kepadaku. "Perlakuan Adam kepadaku tidak membuatku peduli akan siapa dirinya. Dia sangat manis padaku, dia melindungimu." Wajahnya kini tergambar di benakku. "Aku cuma gadis yang dibuatnya jatuh cinta, apa perasaanku salah?" "Sayang, dia bukan laki-laki baik. Dia pembunuh bayaran. Dia executor kelas kakap. Dia adalah pembunuh Adiwilaga" "Tidak." Aku menolak fakta itu. Tidak mungkin dia orang yang membunuh AdiWilaga. AdiWilaga adalah laki-laki tua kaya raya yang memiliki perusahaan bergerak dibidang FMCG terbesar se-Asia. Laki-laki itu ditemukan mati di ruang kerjanya, aku mengikuti kasus pembunuhannya, sudah empat bulan sejak kematian pria itu dibuka kepablik sebagai kasus pembunuhan. Pembunuhan Adi Wilaga adalah misteri terbesar di negara kami selama tiga bulan terakhir memenuhi semua kanal berita, dan tidak mungkin pembunuh itu bersembunyi di flatku selama ini. "Adiwilaga," bisik Hannah penuh misteri. "Dia menembakkan peluru ke tenggorongkan laki-laki tua itu" Hannah mengeluarkan sebuah gambar yang di ambil dari cctv menunjukkan seorang laki-laki berpakaian waitress berjalan di trotoar jalan perumahan elit "Ini diambil dari kamera mobil yang terparkir di daerah dekat rumah Adiwilaga, dia membawa revolver tua yang pelurunya sendiri sudah sulit didapat dipasaran." Satu gambar di zoom memperlihatkan wajah Adam dengan sangat jelas. "Sekarang katakan dimana dia!" Aryo mengancam. "Aku berani bersumpah aku tidak tahu apapun tentang Adiwilaga. Adam dan aku bertengkar dua hari lalu, dia pergi. HPnya ditemukan di KRL. Benda itu ada di kantongku sekarang" Hannah berdiri untuk mengambil HP Adam yang ada di kantongku. Nafasku masih berderu akibat intimidasi yang mereka lakukan. Hannah memiringkan tubuhku dengan hentakan kasar dia mengambil HP yang ada di kantongku. "Tidak ada kontak siapapun selain aku," kataku menjelaskan. "HAHAHAHA" Aryo tertawa sumbang. Dia terbahak, tapi yang terbaca adalah dia sedang menertawakan dirinya yang dipermainkan Adam. Suara tawanya yang renyah berangsur memudar seiring gelengan kepala Hannah yang tidak menemukan apapun di dalam HP Adam. "Bagaimana kalo kita ancam dia pake perempuan ini." Aryo menelik meminta persetujuan Hannah. Tangannya sudah mengokang pistolnya. "Kita berdiri di atas hukum paling dasar yang dinamakan HAM. Tidak ada siapapun di dunia ini yang berhak mencabut hak hidup orang lain, Raja atau Presiden sekalipun" wajah Hannah dingin, dia mencari-cari barang bukti lain di HP Adam. "Lalu katakan apa yang bisa dilakukan untuk menangkap letnan sampah itu?" Hannah menelik ke arahku, bibirnya terkunci rapat. "Kita sudah dipermainkan berbulan-bulan Hannah, kalau begini terus kasus ini akan dibekukan. Keluarga Adi Wilaga membutuhkan keadilan." Hannah menghela, dahinya berkedut berpikir keras. tatapannya terus saja tertuju padaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD