“Ikuti keinginannya, ikuti permainannya” Kalimat itu terngiang lagi ketika Brandy menarik pinggangku lebih dekat dengannya. Punggungku membentur perutnya. Tidak sulit mengikuti permainan Brandy, aku hanya perlu mengesampingkan perasaanku, mengingat bahwa semua ini untuk mama, satu-satunya yang kumiliki. Tangan Brandy melingkar di perutku, ku tarik tangan itu agar memelukku lebih dalam, lalu ku genggam pergelangannya yang seperti kayu. Kurasakan kecupan singkat di pundakku. Pikiranku memaksa bahwa perasaan tenang bersama Brandy adalah sebuah kejanggalan tapi hatiku berteriak bukan, ketika kepalaku bertanya, “Kenapa bukan?” Hatiku tidak mengerti, dia masih belum menemukan jawaban. Aku biarkan hati dan pikiranku berdebat, untuk sesaat aku ingin menikmati ketenangan ini, tidur dalam dekapann

