“Amer dan yang lain akan ke selatan, membereskan urusan Vermont.” Nama Vermouth pernah naik ke atas meja makan kami. Dari sanalah aku penasaran dengan alkohol bernama Vermouth ini. Dia berdiri membelakangiku, kakinya memasang kuda-kuda, tangannya terulur mengarah ke sasaran tembak. DOR.DOR.DOR. Tiga tembakan itu mengenai lingkaran merah terdalam di sasaran tembak. Aku berjengit , memejamkan mata, rasa takut membuat perutku melilit, aku jadi ingin muntah, tapi aku pantang untuk kabur. Lagian mau ke mana? Aku sendiri tidak tahu sekarang berada dimana. Dia merasakan kehadiranku. Pria itu menoleh, senyumnya tipis, diputarnya entah apa di bagian badan senjata dan disarungkan pistol tersebut ke dalam sabuk yang terikat di dadanya. “Kinar,” panggilnya dengan suara berat. Kakiku terpa

