Gundah, bingung. Adara tak bisa berpikir lagi. Kepalanya terasa pening, pikirannya terasa buntu mengingat Gabriel terus menerus menolak bantuan Sean. Jika Gabriel tidak ingin menerima tawaran Sean, pada siapa lagi ia harus meminta bantuan? Ia tak memiliki cukup orang yang bisa ia percayai, yang bisa ia mintai pertolongan lagi. Jika sudah seperti ini. Apa yang harus ia lakukan? Sungguh ... perasaannya semakin kalut, takut ketika membayangkan Gabriel pergi darinya. Apalagi ketika menyadari waktu terus bergulir, batas yang diberikan Kakek Tyrone semakin menipis. Ia belum siap untuk kehilangan Gabriel, sebab membayangkannya saja terasa begitu menyakitkan apalagi jika menjadi nyata. Di tengah lamunan panjangnya, benda pipih yang tergeletak di meja berdering, menandakan sebuah panggilan

