Adara berlari tunggang langgang di sebuah lorong remang dan sepi, matanya yang memerah dan berurai air mata bergulir ketakutan, menatap nafasnya tersengal, keringat bercucuran, dengan kaki yang sudah terasa lemas, tak bertenaga, hingga ia hampir terjatuh berkali-kali. Rasanya sudah berlalu lama sejak ia berlari tapi ujung yang ia tuju tak juga ia temukan, pintu keluar yang ia cari pun tak pernah ia lihat, setiap jalan yang ia lewati rasanya selalu sama, sekalipun mengambil tikungan yang ia rasa berbeda, tempatnya belari selalu melewati tempat yang sama, ia hanya terus berputar di tempat itu tanpa benar-benar menemukan ujung. Bruk! “Argh ... .” Erangan penuh kesakitan terdengar saat tubuh ringkih itu jatuh, tersandung kakinya sendiri. Bersamaan dengan itu tangisan Adara kembali pec

