Trisha mengusap air matanya dengan kasar. Ditatapnya dengan rasa benci saudari tiri yang sudah ia anggap, seperti saudari kandung. “Kau tidak akan pernah bisa merebut Gabriel dariku! Ia dan aku saling mencintai, dirinya tidak akan mudah tergoda olehmu.”
Suara tawa terdengar nyaring dari bibir Dena, setelah ketawanya reda ia berkata, “Aku akan membuat Gabe menjadi milikku bagaimanapun caranya! Kita lihat saja nanti.”
Sambil mengibaskan rambut Dena melenggang keluar dari ruang kunjung tahanan. Meninggalkan Trisha yang hanya bisa memandangi punggungnya.
Dengan gerakan lesu Trisha bangkit dari kursi yang didudukinya. Dengan langkah gontai ia berjalan kembali menuju ruang sel tahanannya.
Duduk di pinggir ranjang besi yang sempit dengan alas kasur yang tipis, Trisha hanya bisa menatap kejauhan dengan tatapan kosong.
‘Aku harus keluar dari sini! Aku tidak bersalah sama sekali, tetapi mengapa ayah membiarkan mereka membawaku? Apakah Gabe sudah mendengar berita ini dan akan membantuku keluar dari penjara ini?’ batin Trisha.
“Hei, tidurlah! Kamu berisik sekali membuatku tidak bisa tidur,” bentak wanita teman satu sel Trisha.
Trisha mendongak ke ranjang bertingkat yang ada di atasnya. Namun, ia tidak dapat melihat wajah wanita yang berada di atas ranjang tersebut. “Maaf, kupikir aku hanya sendirian saja di sini.”
Dibaringkannya badan di atas kasur yang membuat sakit punggungnya. Karena dirinya belum terbiasa dengan segala kesederhanaan dari tempat tidur tersebut. Matanya yang sulit terpejam membuat ia bergerak-gerak gelisah. Namun, suara kasar wanita teman satu selnya membuat ia terdiam.
Lama kelamaan ia berhasil juga memejamkan mata, tetapi suara nyaring membangunkan ia dari tidurnya.
“Bangun kalian semua! Cepat keluar untuk berolah raga!” bentak petugas sipir penjara.
Trisha membuka mata dengan berat, ia masih mengantuk. Akan tetapi, dirinya tidak bisa menolak perintah bernada tegas yang diberikan. Diturunkannya kaki menjejak lantai, kemudian berjalan keluar dari sel tahanan tempat ia dikurung untuk sementara waktu.
Begitu berada di luar Trisha menghirup udara segar dalam-dalam. Dilayangkannya pandangan ke arah jauh. Di mana kebebasan terasa begitu berharga, sementara ia sekarang harus terkurung tembok tinggi.
‘Berapa lama aku harus berada di tempat ini? Bagaimana bisa pesan itu terkirim dari ponselku? Siapa sebenarnya pria itu? Ah, Gabe! Kau pasti akan datang untuk membebaskanku dari tempat ini, bukan?’ batin Trisha.
Hanya satu jam waktu yang diberikan kepada mereka untuk masuk kembali ke ruang tahanan. Namun, mereka tidak langsung masuk ke sel tahanan, melainkan antri untuk mendapatkan jatah sarapan.
“Hei! Jangan melamun. Kalau kau tidak mau sarapan jangan menghalangi jalan,” bentak seorang tahanan kepada Trisha.
Trisha menoleh tidak suka kepada wanita itu. Ia tidak merasa melakukan kesalahan apa pun hanya wanita itu saja yang tidak sabaran.
Sebelum keduanya terlibat dalam pertengkaran lebih jauh, petugas keamanan yang berada di belakang mereka langsung melerai.
“Kalian berdua! Teruskan barisan dan jangan bertengkar,” seru penjaga penjara.
Selang beberapa menit Trisha membawa wadah besi berisi sarapannya. Matanya berputar ke sekeliling mencari kursi yang kosong. Setelah menemukan ia duduk di sana dan langsung menyantap sarapannya. Ia tidak menyapa wanita yang duduk di dekatnya.
‘Aku tidak perlu mengenal mereka semua, karena aku pasti akan keluar hari ini juga,’ batin Trisha.
Selesai sarapan Trisha kembali ke sel tempat ia ditahan. Dirinya duduk dengan gelisah, karena tidak ada yang datang menjenguknya.
“Hei, kamu yang bernama Trisha. Ada yang datang untuk menjengukmu!” seru sipir penjara.
Bergegas Trisha bangkit dari duduknya berjalan menuju pintu keluar dari sel tahanannya. Sesampai di ruang kunjung ia melihat yang datang adalah Gabriel. Senyum bahagia langsung mengembang di wajah Trisha.
“Gabe! Akhirnya kau datang menjengukku. Kau harus membantuku keluar dari tempat ini, karena aku sama sekali tidak bersalah,” seru Trisha.
Ia mengerutkan kening menatap Gabe dengan bingung, karena pria yang telah dua tahun menjadi tunangannya itu menolak untuk membalas pelukannya.
Dengan kasar Gabe mendorong Trisha menjauh darinya. Mata pria itu menatap dingin wajah Trisha. “Aku tau selama ini kau dan Dena tidak pernah akur. Namun, aku sama sekali tidak menduga, jika kau akan sedemikian tega menyakiti kakak tirimu itu!”
Trisha membuka mulut tidak percaya mendengar tunangannya sendiri, tidak percaya kepadanya. Dengan suara lirih Trisha berkata, “Mengapa kau tidak percaya kepadaku? Aku tidak mengenal lelaki itu dan aku juga tidak merasa mengirimkan pesan perintah untuk memperkosa Dena.”
Suasana di ruangan itu menjadi hening tidak ada yang membuka suara. Dalam pikirannya, Trisha merasa sendirian, karena tidak ada yang mau percaya kepadanya.
“Aku memutuskan untuk mengakhiri pertunangan kita. Wanita sepertimu tidak pantas menjadi pendampingku yang merupakan seorang CEO. Kuharap kau bisa menerima keputusanku dengan besar hati.” Gabe melepas cincin pertunangan di jari manisnya untuk ia serahkan kembali kepada Trisha.
Trisha terpaku di tempatnya berdiri dengan air mata yang jatuh membasahi wajahnya. Ia terlalu terkejut untuk bisa membuka suara. Ia telah kehilangan tidak hanya ayahnya saja, tetapi juga pria yang ia cintai.
Trisha jatuh terduduk di lantai, ia merasa sendirian. Diusapnya air mata yang menetes dengan kasar mendongak menatap Gabe.
“Ba-baiklah! Aku tidak bisa memaksamu untuk terus bersamaku, bukan? Ternyata kau sama sekali tidak mengenalku dengan baik. Bolehkah aku meminta satu permohonan kepadamu?” tanya Trisha.
Rahang Gabe mengetat, ia memandangi wajah Trisha yang pucat. Jujur dalam hatinya ia merasa marah, bercampur kecewa. Karena wanita yang ia cintai bisa melakukan kejahatan yang menurutnya tidak dapat ditolerir.
“Katakan saja apa maumu!” tegas Gabe.
Trisha menelan ludah dengan sukar, ia menguatkan diri untuk mengeluarkan isi hatinya. “Maukah kau menyewakan pengacara untukku? A-aku tau kau marah dan sekarang ini benci kepadaku. Namun, setidaknya kau memiliki rasa kasian kepada mantan tunanganmu ini.”
Gabe memejamkan mata dengan kedua tangan ia masukan saku celana. Ditariknya nafas dalam-dalam, lalu ia hembuskan dengan kasar.
Dibukanya mata melayangkan tatapan tak terbaca kepada Trisha. Dapat dilihatnya tatapan mata wanita itu memohon kepadanya.
“Mengapa kau berfikir aku akan sudi membantumu? Aku datang ke sini hanya untuk memutuskan hubungan kita saja,” ucap Gabe.
Trisha menelan ludah dengan sukar, nadi di tenggorokannya berdenyut dengan cepat. “Aku tau dibalik kemarahan dan rasa kecewamu, kau masih mencintaiku. Kumohon kepadamu untuk yang terakhir kali membantuku. Aku akan berutang budi kepadamu, kalau kau bersedia membantuku.”
Suara teriakan nyaring terlontar dari bibir Gabe. Membuat penjaga penjara datang dan menegur Gabe. Ia memperingatkan kepada Gabe untuk tidak berisik, kalau tidak ingin diusir keluar.
Sesaat setelah penjaga penjara itu pergi meninggalkan hanya mereka berdua saja. Gabe memusatkan perhatiannya kembali kepada Trisha. “Aku tidak akan membantumu. Kurasa kau pantas berada di sini selama beberapa waktu untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu.”