Bab 3 Sedih Sendiri

1060 Words
Gabe berjalan dengan gagah mendekati Trisha. Dengan kasar ditariknya wanita itu, hingga mereka berdiri berhadapan. Tangan Gabe mencekau kasar dagu Trisha. “Aku mencintaimu sepenuh hatiku, tetapi aku menjadi begitu sakit mengetahui wanita yang kucintai ternyata seorang penjahat.” Trisha menarik kemeja Gabe, ia berlutut di hadapan pria itu dengan wajah berlinang air mata. “Kumohon, Gabe! Aku tidak mau berada di tempat ini. Aku akan melakukan apa saja yang kau minta, asalkan kau membantuku keluar dari sini.” Gabe melepas cekalan tangan Trisha pada kemejanya. Dengan wajah dingin, ia berkata, “Aku akan mempertimbangkannya. Bersikaplah baik selama kau berada di tempat ini, agar kau tidak mendapatkan masalah.” Dengan langkahnya yang gagah Gabe berjalan menuju pintu keluar. Namun, sebelum ia benar-benar keluar didengarnya suara Trisha. “Aku mencintaimu, Gabe! Akan tetapi, aku juga membencimu. Karena sikapmu yang meragukan kejujuranku. Pergilah! Aku sudah tidak mengharapkan bantuanmu lagi,” lirih Trisha. Mendengarnya Gabe membalikkan badan. Tatapan matanya bertemu dengan mata Trisha, yang terlihat hampa. Bahunya terkulai dengan wajah sembab, serta pucat. Ada rasa kasian di hati Gabe, karena ia masih mencintai Trisha. Namun, ia terlalu marah dengan apa yang sudah dilakukan kekasihnya itu. Selama ia menjalin kasih dengan Trisha, dirinya memang mengetahui bagaimana hubungan Trisha dengan saudara tirinya tidaklah baik. Tidak ingin berlama-lama melihat wajah kesedihan Trisha, Gabe membalikkan badannya dengan langkah cepat ia berjalan pergi dari hadapan Trisha tanpa menoleh ke belakang lagi. Di tempatnya berdiri, Trisha memandangi punggung Gabe sampai pria itu tidak terlihat lagi. Ia baru sadar dari terpaku nya, setelah suara petugas sipir penjara menyadarkannya. “Nona! Kau harus segera kembali ke ruangan mu!” Dengan langkah gontai Trisha berjalan kembali menuju ruangan di mana dirinya berada. Sesampai di ruangan itu ia melihat rekan satu kamarnya duduk di pinggir ranjang. “Kenapa wajahmu terlihat murung begitu? Sudahlah terima saja, kalau kau harus berada di sini nanti lama kelamaan kau akan menjadi terbiasa. Sama seperti diriku yang pada awalnya tidak bisa menerima kenyataan. Namun, kini aku sudah berdamai dengan takdir,” ucap teman satu sel Trisha. “Kau tidak akan bisa mengerti! Aku sama sekali tidak bersalah diriku dijebak oleh saudari tiriku yang jahat. Ia yang membuatku berada di sini. Dan yang lebih menyakitkan tunanganku percaya dengan apa yang terjadi.” Trisha duduk di pinggir ranjang yang keras. Ia menangkup wajah dengan kedua tangannya. Dalam hati ia mencoba mengingat siapa yang bisa membantunya. Ayahnya, ia tidak dapat mengharapkan bantuan darinya sama seperti Gabe. Digelengkanya kepala untuk mencoba mengusir bayangan buruk di kepalanya. Tiba-tiba saja sebuah nama melintas di kepalanya. Dijentikkannya jari dengan suara keras. ‘Ah! Aku melupakan Lewis. Ia pasti akan bersedia membantuku. Aku harus bisa menghubunginya, tetapi bagaimana caranya?’ gumam Trisha. Ternyata gumaman Trisha didengar oleh teman satu selnya. “Kau mau menghubungi seseorang? Kau bisa minta tolong kepada penjaga kita dia akan memberikan kesempatan kepadamu untuk menelepon,” Trisha mengalihkan tatapan kepada teman satu selnya yang telah duduk di sampingnya. “Terima kasih, aku akan segera meminta tolong kepada penjaga kita.” Beberapa menit kemudian Trisha sudah duduk bersama dengan sahabatnya Lewis. Keduanya duduk di ruang kunjung. “Astaga, Trish! Aku tidak mengira kalau kau benar-benar berada di tempat ini. Tadinya aku mengira, kalau itu hanyalah lelucon saja,” ucap Lewis. Trisha menarik nafas dalam-dalam. “Seandainya saja ini hanyalah lelucon aku akan sangat senang. Bisakah kau mencarikanku seorang pengacara terbaik? Yang bisa membuatku keluar dari tempat ini.” Lewis meraih jemari Trisha ke dalam genggamannya. “Tentu saja aku akan membantumu. Aku tidak akan membiarkan sahabatku berada di tempat ini. Karena aku tau kau bukanlah seorang penjahat.” *** Sudah tiga bulan Trisha berada dalam penjara, sementara jadwal persidangannya dijadwalkan akan segera berlangsung.. Selama berada dalam penjara, ia hanya satu kali saja mendapat kunjungan dari ayahnya. Sementara Gabe, pria itu menghilang. Tidak pernah datang untuk melihat keadaannya. “Apakah kau siap? Sebentar lagi persidanganmu akan dimulai dan aku sebagai pengacaramu yakin, kalau kau akan bebas. Pria yang dituduh melakukan pelecehan kepada Dena menghilang tanpa jejak. Anehnya kamera pengaman di rumah kalian juga rusak. Bukti yang memberatkanmu hanyalah rekaman pesan, serta kesaksian dari saudari tirimu,” terang pengacara Trisha. Tangan Trisha diraih ke dalam genggaman hangat pengacaranya. Pria tampan dengan usia yang sudah tidak muda lagi. Pria itu terlihat begitu peduli kepada kliennya. “A-apakah keluargaku mengetahui, kalau hari ini aku akan menjalani sidang?” gagap Trisha. Ia sadar itu adalah pertanyaan bodoh, karena tentu saja mereka mengetahuinya. Karena Dena dijadwalkan akan bersaksi di persidangan melawan dirinya. “Iya, mereka mengetahuinya. Dari informasi yang kudapatkan ayahmu menyewa pengacara yang terkenal untuk membela saudari tirimu itu,” sahut pengacara Dena. Dada Trisha bagaikan di tusuk duri mendengarnya. Ayahnya begitu peduli kepada Dena, sementara ia yang merupakan anak kandungnya sendiri. Tidak sekalipun ayahnya datang untuk menjenguk dirinya selama tiga bulan ia berada di ruang tahanan. Tanpa terasa air matanya jatuh menetes membasahi wajah. Ia mengusap dengan kasar air matanya itu. “A-apakah kamu pernah bertemu dengan ayahku? Apakah ia pernah menanyakan tentang keadaanku?” Pengacara itu menatap wajah sendu Trisha, ia merasa kasian kepada wanita muda yang berdiri di hadapannya ini. “Maaf, kalau hal ini mengecewakanmu. Namun, aku harus jujur mengatakan ayahmu tidak sekalipun menanyakan kabar dirimu.” Pengacara itu menepuk pelan pundak Trisha. Bahu Trisha terkulai lemas. Ia memejamkan mata dalam hati dirinya bertekad tidak akan menangis. Pada saat berada di ruang sidang nanti di mana ia harus berhadapan dengan Dena, serta ayahnya. Ia harus bisa membuktikan dirinya tidak bersalah dan membuat mereka yang tidak percaya menjadi menyesal. *** Di tempat lain beberapa jam sebelum persidangan dimulai. “Sayang kenapa wajahmu menjadi begitu pucat? Dan kamu juga ibu lihat di saat sarapan sering mual-mual. Kamu tidak sedang hamil, bukan?” tanya ibu Dena menatap wajah pucat putrinya dengan mimik khawatir. Membuka matanya yang terpejam, ia menatap ibu, juga ayah tirinya yang berdiri di samping ranjang dengan tatapan khawatir. Air matanya jatuh menetes dengan derasnya membasahi pipi. “A-aku hamil anak dari pria jahat yang telah memperkosaku,” isak Dena. Terdengar suara geraman dari bibir ayah Trisha. Kedua tangannya terkepal erat dengan mata yang menyala marah. “Ayah tau kamu pasti tidak akan bisa memaafkan perbuatan Trisha. Dan ayah sendiri juga tidak bisa menerima apa yang telah dilakukannya kepadamu.” “Ayah hari ini persidangan akan dimulai dan aku takut melihat Trisha. Ia pasti marah dan menyalahkanku, karena sudah membuatnya berada di penjara,” lirih Dena.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD