Ayah Trisha mengangguk, Ia meraih jemari Dena ke dalam genggaman hangatnya. “Benar! Dan ayah sudah menyewa pengacara terbaik untuk membuat Trisha mendapatkan balasan dari perbuatannya!”
Dena mengusap air matanya dengan lengan gaun yang ia pakai. Hidungnya menjadi merah, karena terlalu sering ia pencet.
“Aku akan melahirkan anak dari seorang penjahat dan tanpa suami. Orang-orang pasti akan menghinaku. Aku tidak mau keluar rumah dan betemu dengan orang-orang!” teriak Dena, sambil melempar selimut, serta bantal yang ada di dekatnya.
Tiba-tiba saja dari arah pintu terdengar suara bernada bariton menimpali, “Aku akan menikahimu!”
“Gabe!” seru mereka semua yang ada di kamar tersebut.
“Kau tunangan Trisha! Bagaimana mungkin aku tega merebutmu darinya!” lirih Dena.
Dalam hati Dena merasa senang, karena ia berhasil membuat Gabe memperhatikan dirinya. Meskipun ia harus menyakiti hati Trisha yang baik ia tidak peduli, asalkan dirinya bisa memilliki Gabriel Brighton. Seorang CEO dari perusahaan periklanan yang begitu sukses di usia mudanya.
Gabe berjalan mendekat dengan langkahnya yang gagah, ia berhenti tepat di samping ranjang di mana Dena sedang berbaring, Melalui isyarat mata ia meminta kepada orang tua Dena untuk meninggalkan mereka berdua saja.
“Baiklah! Kami akan keluar, sepertinya kalian berdua memerlukan waktu untuk berbicara. Dena, apa pun yang terjadi kepadamu ayah dan ibumu akan terus mendukungmu. Kami tidak akan meninggalkanmu bersedih sendirian,” ucap ayah tiri Dena.
Setelah Gabe dan Dena hanya tinggal berdua saja di kamar tersebut. Gabe duduk di pinggir ranjang Dena. “Aku sudah memutuskan pertunanganku dengan Trisha. Kau tidak perlu khawatir akan hal itu. Aku akan segera menikahimu begitu persidangan nanti selesai.”
“A-apakah menurutmu Trisha bisa menerima pernikahan kita? Dan apakah ia akan berada di penjara untuk waktu yang lama? Aku ingin ia membayar mahal dengan membusuk di penjara atas apa yang telah ia lakukan kepadaku,” ungkap Dena.
Gabe mengetatkan rahangnya, ia melayangkan tatapan tajam kepada Dena. Gabe menarik nafas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan kasar. “Kau harus tau aku masih mencintai Trisha. Aku menikahimu hanya demi anak yang sedang kau kandung dan agar kau tidak merasa malu!”
Dena menundukkan kepala, ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Ia ingin mengguncang badan Gabe dengan kasar, tetapi ia mengetahui kalau ia melakukan hal itu hanya akan membuat marah Gabe saja. Dan hal itu bisa berakibat buruk pada rencana yang telah disusunnya.
“Kurasa aku harus menerimanya, bukan? Aku yakin suatu hari nanti kau pasti bisa melupakan Trisha dan jatuh cinta kepadaku. Aku berjanji akan membuatmu mencintaiku dan tidak ada wanita lain dalam hatimu,” tegas Dena.
Gabe menyunggingkan senyum sinis di sudut bibir. “Aku tidak memikirkan cinta. Aku meminta kepadamu sebagai balasan diriku bersedia menikah denganmu. Kau harus membatalkan tuntutanmu kepada Trisha.”
Sontak saja Dena menjadi terkejut. Didorongnya dengan kasar d**a bidang Gabe, tetapi ia tidak berhasil melakukannya. Pria itu terlalu kokoh untuknya, ia tidak berhasil mendorong Gabriel menjauh darinya.
“Bagaimana bisa kau memintaku seperti itu? Kau sangat menyakiti hatiku, Gabe!” seru Dena dengan raut wajah kecewa.
Gabe diam sebentar melihat ke arah luar, melalui kaca jendela kamar Dena. Ia seperti berada di tempat yang lain. Melupakan keberadaan Dena di sampingnya. Sampai suara wanita itu menyadarkan dirinya dari lamunan.
“Kalau aku bersedia melakukannya, maukah kau berjanji untuk tidak pernah bertemu atau berbicara dengan Trisha di belakangku?” tanya Dena.
Gabe menatap wajah Dena dengan lekat dapat dilihatnya rasa cemas dan takut. “Aku berjanji kepadamu akan menjauhi Trisha selama kau membatalkan tuntutan juga tidak mengganggunya lagi.”
Dena mendengus kasar walaupun seharusnya ia merasa senang mendengar penuturan Gabe. Akan tetapi, kalimat Gabe juga terkesan menyudutkan dirinya.
“Keputusan ada di tanganmu! Kau menolak, maka aku pun tidak akan menikahimu,” tandas Gabe.
Dena membelalakkan mata menatap tidak percaya kepada Gabe. “Kau begitu mencintai Trisha sampai kau mau melakukan hal ini demi dirinya.”
Gabe bangkit dari duduknya berdiri berhadapan dengan Dena. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celana. “Aku hanya merasa tidak dapat mempercayai Trisha akan melakukan hal sejahat itu kepadamu. Hanya saja aku tidak dapat membuktikan halnya. Ini satu-satunya cara yang bisa kulakukan, agar Trisha tidak berada lama dipenjara.”
Dena tertegun di tempatnya berdiri. Ia sama sekali tidak dapat menduga, jika Gabe bisa menebak dengan tepat apa yang sebenarnya terjadi. Namun, tentu saja ia tidak akan mengatakan hal tersebut.
“Kau menyakiti hatiku dengan dugaanmu yang tentu saja tidak akan pernah terbukti. Baiklah, aku bersedia menerima tawaran darimu. Aku akan membatalkan tuntutanku kepada Trisha dengan syarat kau pun menepati janjimu.” Dena mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan Gabe.
Gabe diam memandangi tangan Dena selama beberapa saat yang singkat. Disambutnya uluran tangan dari Dena. Dijabatnya tangan wanita itu dengan erat. “Kita sudah mencapai kesepakatan.”
Setelah mengatakan hal itu Gabe berlalu pergi keluar dari kamar Dena. Begitu keluar kamar itu ia langsung bertatapan muka dengan ayah Trisha. Dipandanginya pria itu dengan ekspresi dingin dan tajam.
“Mengapa Anda mengabaikan Trisha begitu saja? Bukankah ia adalah putri kandungmu? Tidakkah kau sangat mengenalnya, hingga Anda tidak dengan mudahnya percaya Trisha melakukan kejahatan, seperti itu!” sindir Gabe.
Ibu Dena yang berdiri tepat di samping suaminya menjadi berang mendengar apa yang dikatakan oleh Gabe. Wajahnya menjadi merah dan nafasnya tersengal karena emosi.
“Kau berkata seolah-olah percaya bukan Trishalah pelaku yang membayar pria itu! Kau merendahkan putriku dan itu sama sekali tidak bisa diterima. Trisha bersalah dan ia pantas berada di penjara!” berang ibu Dena.
Ayah Trisha terlihat terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Gabe. Sebagai seorang ayah ia menyimpan dalam hati kesedihan dan rasa lukanya. Karena putri kandung satu-satunya dengan berat hati ia kirim ke penjara.
Ia juga dengan sengaja tidak pernah sekalipun datang mengunjungi Trisha. Ia terpaksa melakukannya, karena tidak tega melihat putrinya itu berada di penjara. Namun, ia juga tidak tega melihat putrinya itu berada di sana.
Ia juga bukannya tidak ingin menolong Trisha, hanya saja dirinya tidak mau membuat putri tirinya terlukai perasaannya kalau sampai ia membantu Trisha dengan menyewakan pengacara untuk putrinya itu.
Ayah Trisha membersihkan tenggorokannya. “Aku tidak memerlukan nasihat darimu! Kalau kau begitu percaya Trisha tidak bersalah, mengapa kau justru akan meninggalkannya dan memilih untuk menikahi Dena?”
Gabe terdiam, ia memandangi wajah ibu Dena yang tersenyum puas. Dan wajah ayah Trisha yang terlihat letih. Pria itu, sepertinya tertekan dengan situasi yang terjadi di keluarganya.
“Aku memiliki alasanku sendiri dan Dena mengetahui alasanku! Aku hanya akan memberitahukan kepada kalian, kalau aku tidaklah sepenuhnya percaya Trisha bersalah. Dan aku tidak akan berhenti untuk mencari bukti kebenaran itu!” tandas Gabe, kemudian berlalu pergi dari tempat tersebut.