“Ayah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Gabe, bukan? Ayah dapat melihat betapa hancurnya diriku sekarang ini! Aku sangat terpukul dan terguncang begitu mengetahui diriku mengandung anak dari seorang penjahat.” Dena menghambur kepelukan ibunya, sambil menangis terisak.
Ibu Dena mengusap dengan lembut punggung putrinya. Ia memberikan pelototan kepada suaminya yang hanya diam saja.
Ayah Trisha memejamkan mata, ia merasa energinya terkuras dikarenakan masalah yang menyangkut anak tirinya dan anak kandungnya.
“Maaf, ayah sangat lelah. Dan ayah ingin beristirahat jangan lupa kau juga harus beristirahat. Beberapa jam lagi kau harus datang ke pengadilan untuk bersaksi,” ucap ayah Trisha.
Ia tidak menunggu jawaban dari Dena dan istrinya. Ia berlalu pergi memasuki ruang kerjanya dan langsung mengunci pintu ruangan tersebut. Karena dirinya tidak mau diganggu oleh keduanya. Ia ingin menenangkan diri, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Gabe.
Begitu sudah berada di ruang kerjanya, ayah Trisha duduk di kursi kerjanya. Ia tidak menyalakan lampu, Hanya cahaya dari celah penutup jendela saja yang dibiarkannya masuk. Dibukanya laci meja kerja ia ambil potret Trisha dan dipandanginya dengan tatapan sedih.
‘Sayang, kamu tau betapa ayah menyayangimu. Maafkan ayah yang tidak kuasa untuk membantumu. Ayah tau kamu wanita yang kuat, seperti almarhumah ibumu dan kamu pasti bisa melewati semuanya,’ gumam ayah Trisha.
Dimasukannya kembali pigura berisi foto Trisha tersebut ke laci. Namun, ia tidak beranjak keluar dari ruangan tersebut. Ia ingin sendirian untuk sementara waktu, karena sebentar lagi ia harus ke persidangan di mana dirinya akan melihat Trisha berstatus sebagai tersangka.
***
Keluar dari kediaman mewah orang tua Trisha, ia masuk mobil sport berwarna hitam. Di mana sopir pribdinya dengan sigap menyalakan mesin mobil begitu ia sudah duduk dengan nyaman.
“Kita ke penjara pusat kota!” perintah Gabe kepada sopir pribadinya.
“Baik, Tuan!” sahut sopir pribadi Gabe.
Mobil melaju dengan cepat menuju pusat kota. Dalam waktu dua jam dirinya sudah berada di ruang kunjung.
Gabe mengamati penampilan Trisha yang terlihat kurus dari terakhir ia mengunjunginya. Matanya terlihat sembab, sepertinya ia banyak menangis.
“Wel, tuan Gabe yang terhormat sungguh suatu kejutan Anda bersedia datang mengunjungi saya yang hina,” sindir Trisha.
Gabe memasang wajah dingin dengan tatapan matanya yang lembut. Diraihnya jemari Trisha, tetapi tangannya ditepis dengan kasar oleh wanita itu.
Trisha mengangkat dagunya tinggi-tinggi menantang Gabe. “Apakah kau datang ke sini untuk memastikan diriku menjadi hancur? Kau dan ayahku, serta Dena sekalipun tidak akan pernah membuatku menjadi terpuruk!”
Gabe tertawa kecil, ia senang melihat Trishanya tidak berubah menjadi wanita yang lemah. Dan ia semakin yakin dengan keputusan yang dibuatnya.
“Tentu saja kau tidak akan berubah menjadi lemah. Kau selalu menjadi wanita yang kuat, serta mendiri. Itu yang membuatku terkadang membuatku kecewa. Karena kau terkesan tidak membutuhkan kehadiranku,” ucap Gabe.
Trisha mendengus dengan kasar. Wajahnya terlihat emosi, ia bangkit dengan cepat dari duduknya, sampai-sampai kursi bekas ia duduki jatuh terjungkal, hingga menimbulkan bunyi nyaring.
Sebelum Trisha dapat meninggalkan ruangan tersebut ia merasakan tarikan pada pinggangnya. Hingga ia tidak bisa beranjak pergi dari tempatnya sekarang.
“Sebenarnya apa maumu datang ke sini, setelah beberapa minggu kau mengabaikanku? Aku tau kedatanganmu pasti tidak hanya sekedar untuk menyampaikan basa-basi yang tidak penting,” ucap Trisha datar.
Terdengar suara helaan nafas dari bibir Gabe. Pria itu menarik Trisha ke dalam pelukan hangatnya. Dan sebelum Trisha dapat menyadari apa yang terjadi. Ia merasakan tarikan pada tengkuknya, kemudian bibirnya dicium dengan lembut oleh Gabe.
Trisha mencoba melepaskan ciuman itu, tetapi Gabe justru memperdalam ciuman mereka. Membuat perut Trisha, seperti ada kupu-kupu yang bermain.
Gabe yang memulai ciuman itu secara tiba-tiba. Ia juga yang mengakhirinya. Didorongnya dengan kasar Trisha menjauh darinya, hingga wanita itu terjatuh ke lantai.
Dilihatnya bibir Trisha menjadi bengkak dan sudut bibirnya terluka dan itu semua karena ulah dirinya. “Kau benar aku datang ke sini tidak untuk melakukan omong kosong. Aku datang untuk memberitahukanmu sesuatu yang penting.”
Trisha bangkit dari terduduknya di lantai. Ia mengusap bibirnya yang terasa perih karena ulah Gabe. “Katakan saja dengan cepat, karena aku tidak mau melihatmu lebih lama lagi di sini!”
Gabe membalikkan badan, ia tadi dengan sengaja mengulur-ulur waktu. Karena dirinya merasa berat untuk mengatakan apa yang sekarang ini bermain di hati dan fikirannya.
“Aku ingin kau mengetahuinya langsung dariku. Aku tak lama lagi akan menikah dengan Dena. Kuharap kau baik-baik saja, setelah mendengar berita ini. Aku tidak mau membuatmu merasa sedih. Hanya itu yang ingin kusampaikan. Jagalah dirimu baik-baik.” Gabe berlalu pergi dari hadapan Trisha.
“Mengapa kau begitu pengecut, Gabe! Mengapa kau tidak berani mengatakannya langsung, sambil menatap mataku?” bentak Trisha dengan suara yang terdengar bergetar.
Gabe berhenti berjalan, ia diam sejenak di tempatnya. Bahunya terlihat menjadi tegang dan kedua tangan ia kepalkan di samping badan, Diputarnya badan berjalan kembali mendekati
Ia berhenti tepat di hadapan Trisha begitu rapat, hingga embusan nafas keduanya saling mengenai wajah, Gabe mengulurkan tangan memegang pundak Trisha dengan lembut.
“Aku sangat menyesal harus mengatakan ini. Dirku akan menikah dengan Dena. Dan kami akan segera mempunyai anak.” Tangan Gabe berpindah memegang dagu Trisha, agar tetap menatap matanya.
Jantung Trisha terasa berhenti berdetak, ditelannya ludah dengan sukar, karena mendadak tenggorokannya terasa kering. Kebenaran yang disampaikan Gabe terasa sangat menyakitkan baginya,
Gabe mengumpat dalam hati saat dilhatnya mata Trisha yang mengembun. Dan bibirnya yang terlihat bergetar. Ia ingin merengkuh tubuh kurus Trisha ke dalam pelukannya. Dan mengatakan kepadanya kalau semua akan baik-baik saja. Mereka akan kembali bersama, setelah dirinya bisa membuktikan Trisha sama sekali tidak bersalah.
Dengan kasar Trisha mendorong Gabe menjauh darinya. Ia mengerjapkan mata mencegah air matanya jatuh. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. “Jadi kalian selama ini berselingkuh di belakangku? Betapa bodohnya diriku yang mencintaimu dengan tulus dan percaya sepenuh hati kepadamu.”
Trisha memejamkan mata dengan d**a yang naik turun dengan cepat. Ia berhitung dalam hati mencegah dirinya histeris dan memaki Gabe.
Ditariknya nafas dalam-dalam, lalu ia hembuskan dengan kasar. “Aku ucapkan selamat kepada kalian berdua. Dan jangan khawatir aku tidak akan menjadi hancur, karenamu.” Trisha berjalan keluar dari ruang kunjung kembali ke ruangan di mana dirinya ditahan.
Begitu sudah berada di ruangannya Trisha langsung membaringkan badan di atas kasur. Air matanya tumpah tak terbendung. Bagaimana ia tidak merasakan sakit di hatinya orang yang ia cintai telah mengkhianatinya.
“Hei! Kenapa kau menangis? Suara tangisanmu memekakkan telinga,” tegur teman satu kamar Trisha galak.
Trisha membalikkan badan menghadap teman satu selnya yang telah berdiri di dekatnya. “Kalau kau tidak ingin mendengarnya, mengapa tidak kau tutup saja telingamu? Ini juga kamarku jadi aku berhak untuk menangis atau melakukan apa pun yang kuinginkan!”
“Wanita manja sialan! Kau menantangku,” bentak teman satu kamar Trisha.
“Aw! Aduh, apa yang kau lakukan kepadaku?” tanya Trisha, sambil merintih kesakitan.