“Ke-kenapa kau melakukan ini padaku?” lirih Trisha, sebelum ia pada akhirnya ambruk ke lantai yang dingin dan keras.
Suara terjatuhnya Trisha terdengar petugas penjara yang kebetulan sedang melakukan pemeriksaan rutin.
“Hei! Apa yang terjadi di dalam sana?” tanya petugas penjara dengan suara dingin.
“Tidak ada! Hanya temanku saja yang ceroboh ia terjatuh dari atas ranjang, sepertinya ia massih belum terbiasa dengan keadaannya sekarang ini,” sahut teman satu kamar Trisha.
Petugas keamanan melihat ke dalam kamar tahanan yang ditempati Trisha. Ia hendak memastikan apa yang dikatakan oleh rekan satu kamar Trisha memang benar adanya.
Trisha hanya bisa diam, sambil meringis kesakitan. Ia tidak berani membuka suara di bawah ancaman teman satu kamarnya. Yang memberikan isyarat kepadanya untuk tutup mulut.
Dengan jantung berdebar kencang Trisha menunggu. Apa yang akan dilakukan oleh penjaga penjara itu. Hatinya mengharap penjaga penjara itu masuk, agar ia bisa mendapatkan perawatan. Namun, satu sisi dirinya menginginkan penjaga penjara itu untuk segera pergi. Ia takut dengan ancaman tanpa kata dari teman satu kamarnya.
Melihat kode yang diberikan teman satu kamarnya. Membuat Trisha membuka suara, “Saya baik-baik saja. Hanya sedikit sakit karena terjatuh. Akan tetapi, selebihnya tidak apa-apa.”
Setelah mendengar penuturan dari Trisha, penjaga penjara itu pun berlalu pergi dari depan pintu besi kamar penjara tersebut.
“Lukamu tidak parah! Kau tidak akan meninggal karenanya. Jadi jangan memasang tampang memelas seperti itu!” tegur teman satu kamar Trisha.
Trisha menarik nafas dalam-dalam, ia berhitung dalam hati. Ditahannya keinginan untuk berteriak, serta memaki teman satu kamarnya di penjara tersebut. Namun, ia sadar hal itu hanya akan membahayakan dirinya saja.
“Kau bisa berkata seperti itu dengan mudahnya! Apakah kau tidak bisa melihat darah yang mengalir begitu banyak,” desis Trisha.
Trisha merasakan sebuah kain dilemparkan ke wajahnya. Diikuti suara bernada dingin dari teman satu kamarnya itu.
“Ikat lukamu dengan kain itu! Jangan bersikap manja kau harus sadar, kalau di sini tidak ada waktu untuk mengeluh atau merengek. Penjara itu keras dan kau harus mulai membiasakan dirimu untuk menerimanya!” tandas teman satu kamar Trisha.
Trisha mengabaikan kain yang dilemparkan ke arahnya. Ia tidak dapat memastikan kebersihan dari kain itu. Yang nantinya bisa saja membuat lukanya menjadi lebih parah.
Dirobeknya pakaian penjara yang ia pakai, kemudian di bebatkannya pada bagian atas pinggangnya. Untuk mencegah darah mengalir lebih deras.
‘Seandainya saja aku bisa menghubungi pengacaraku. Ah! Aku lupa, kalau hari ini jadwal persidanganku akan dimulai. Aku bisa meminta perawatan pada saat itu. Untuk saat ini aku pasti bisa bertahan, walaupun hanya dibebat saja.’ Batin Trisha.
Trisha sedang berbaring di ranjangnya dengan wajah pucat. Pada saat ia mendengar namanya dipanggil dengan nyaring.
Dipaksakannya diri untuk bangun, lalu berjalan menuju pintu di mana berdiri penjaga penjara. “Kenapa denganmu? Astaga, kau terluka! Kenapa kau tidak memberitahukan kepada petugas yang tadi berpatroli?”
Petugas itu membunyikan peluit untuk memberitahukan kepada petugas lainnya. Sementara Trisha tidak dapat menahan kesadarannya lebih lama lagi. Untuk kedua kalinya dalam satu hari itu ia jatuh pingsan.
Beberapa menit kemudian.
Trisha membuka mata dilihatnya dinding ruangan yang di cat warna putih. Ia dapat menerka dirinya tidak berada di ruang tahanannya yang sempit. Dugaannya ia sedang berada di ruang perawatan.
“Ha-us!” lirih Trisha.
Tangannya berusaha meraih botol berisi air mineral yang ada di atas nakas. Namun, ia justru menyenggol sebuah wadah dari besi. Hingga jatuh ke lantai dan menimbulkan bunyi nyaring. Hingga menarik perhatian dari orang yang berada di ruangan tersebut.
“Biar aku yang mengambilkan air untukmu!” seru suara yang tidak Trisha sangka kehadirannya.
“Ini minumlah!” Gabe menyodorkan gelas berisi air putih ke tangan Trisha.
Trisha mengambil gelas itu dengan sengaja ia membuang muka tidak mau melihat wajah Gabe.
“Mengapa kau sebegitu putus asanya sampai berniat untuk bunuh diri? Hanya demi mendapatkan perhatian dariku. Aku datang ke sini menemuimu untuk terakhir kali demi menegaskan kepadamu, jika aku sudah tidak peduli dengan apa pun yang terjadi kepadamu!” tandas Gabe dingin.
Trisha tertegun mendengar apa yang diucapkan Gabe. Ditolehkannya kepala, sambil mengangkat dagunya tinggi. Ia tidak akan membiarkan Gabe menghancurkan harga dirinya yang tersisa.
“Aku tidak akan pernah memohon untuk kembali kepadamu! Sepertinya kau harus memeriksa informasi yang kau terima. Aku tidak pernah akan menyakiti diriku sendiri untuk menarik perhatianmu. Sekarang, silakan kau pergi aku sudah muak melihat wajah, serta mendengar suaramu!” desis Trisha dengan gigi digemeretakan.
Gabe memandangi wajah cantik Trisha yang terlihat pucat. Mata wanita itu menyorot dipenuhi amarah kepadanya. Ia sendiri menjadi marah, karena Trisha mengatakan membenci, serta sudah bisa melupakan dirinya.
Gabe melangkah mendekati Trisha sampai hampir tidak ada jarak di antara mereka berdua. Tanganya terulur mencekau dagu Trisha dengan lembut.
Trisha tidak sempat mencegah Gabe mencium bibirnya. Kali ini ciuman Gabe kasar, ia menggigit bibir Trisha hingga terluka. Sebelum Trisha sempat mendorong Gabe menjauh, pria itu mengubah ciumannya menjadi lembut. Membuat Trisha melupakan niatnya mendorong Gabriel menjauh.
Gabe yang memulai ia juga yang mengakhiri ciuman tersebut. Didorongnya dengan sedikit kasar. Sampai wanita itu terbaring kembali di ranjang. Gabe merendahka bdan mencakung tepat depan wajah Trisha.
“Berhenti menatapku dengan mata besarmu itu! Aku tidak akan merasa bersalah atau menyesal karena sudah mendorongmu. Karena kau memang pantas mendapatkannya. Semua sandiwaramu tidak akan berlaku kepadaku!” sindir Gabe.
Sambil menahan rasa sakit Trisha menggunakan sisa tenaganya yang ada mendorong d**a Gabe menjauh. “Dan aku tidak membutuhkan belas kasihan apa lagi simpati darimu! Pergilah kepada kekasihmu aku sama sekali tidak mengharapkan melihat wajahmu lagi!”
Trisha memiringkan badan dengan sisi bagian pinggangnya yang tidak terluka. Dipunggunginya Gabe dengan jantung yang berdebar kencang. Mengharapkan pria itu segera pergi.
Begitu didengarnya suara langkah kaki Gabe menjauh. Trisha bisa bernafas lega dibalikannya badan kembali menghadap pintu. Bertepatan dengan itu pengacaranya melangkah masuk.
“Hai! Bagaimana keadaanmu sekarang? Kau bisa menceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi sebelumnya aku akan memberikan kabar bahagia kepadamu. Kau pasti tidak akan menyangkanya sama sekali. Begitu pula dengan diriku,” ucap pengacara Trisha.
Trisha menatap pengacaranya dengan kening yang dikerutkan. “Aku lebih tertarik mendengar apa yang akan kau ceritakan. Apa yang terjadi kepadaku akan kuceritakan setelah kau selesai bercerita.”
Pengacara itu menarik kursi mendekat ranjang Trisha, kemudian duduk di sana. “Tadi secara mendadak pengacara dari saudari tirimu mendatangiku. Ia mengatakan, kalau Dena membatalkan tuntutannya kepadamu, hingga kau bisa terbebas dari penjara.”
Mata Trisha membelalak menatap tidak percaya kepada pengacaranya. “Bagaimana mungkin ia berubah fikiran secepat ini? Sementara ia begitu senang melihatku berada di penjara?”
“Saya juga tidak mengetahui alasan dari perubahan sikapnya. Yang terpenting sekarang ini adalah kau bisa bebas. Aku akan segera mengurus berkas-berkas pembebasanmu. Kau tidak perlu lagi kembali ke kamarmu yang sempit dan dingin itu.” Pengacara Trisha meremas lembut jemari wanita itu memberikan kekuatan.
Air mata bahagia menetes di wajah Trisha. Di saat hatinya masih terluka karena mendengar rencana pernikahan antara Gabe dan Dena. Ia mendapatkan kebar yang membuatnya bahagia.
Pengacara Trisha mengingatkan kepadanya untuk bercerita tentang apa yang terjadi. Mengapa sampai ia mendapatkan luka tusuk.
Trisha memejamkan mata ditariknya nafas dalam-dalam. “Bukan masalah besar hanya saja aku sudah membuat teman satu kamarku menjadi marah. Namun, aku tidak akan mempermasalahkannya, aku sebentar lagi akan bebas, kan?”
Pengacara itu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak setuju! Kau harus melaporkan tindakan dari teman satu kamarmu itu. Biar bagaimanapun juga ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.”
Setelah mendapatkan desakan dan penjelasan dari pengacaranya. Trisha pun mengalah. Ia bersedia melaporkan teman satu kamarnya. Yang sudah membuatnya menjadi celaka.
***
Perlu beberapa hari bagi Trisha bebas dari penjara. Sepertinya Dena dengan sengaja sedikit memperlambat proses administrasi pembebasan Trisha.
Trisha merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Dengan wajah ia dongakkan ke arah langit. ‘Terima kasih, Tuhan! Hari ini aku bebas. Apakah ayah akan senang melihat kebebasanku?’
Diambilnya tas ransel miliknya yang tergeletak di tanah. Dimasukinya taksi yang sudah ia sewa. Duduk di kursi penumpang Trisha tidak sabar unuk segera berada di kamarnya yang nyaman lagi.
Pada saat memasuki dekat rumah mewah milik ayahnya. Trisha merasa heran karena ada banyak mobil yang terparkir di sepanjang jalan menuju rumah mewah keluarganya. Mata Trisha berbinar-binar dengan jantung yang berdebar kencang.
‘Ya, Tuhan! Apakah ayah bermaksud mengadakan pesta kejutan untuk menyambut kepulangku dari penjara? Itukah sebabnya ayah tidak datang menjemput, walau sebenarnya ia telah mengetahui kebebasanku?’ gumam Trisha, sambil tersenyum.
Dilangkahkannya kaki turun dari taksi yang ia tumpangi. Setelah membayar ongkos taksinya Trisha berjalan menuju pintu rumah. Begitu membuka pintu ransel yang ada di tangannya terjatuh ke lantai. Hingga menarik perhatian dari orang-orang yang berada di ruang tamu keluarganya.