Tatapan mata Trisha tertuju kepada pemandangan yang ada di hadapannya. Matanya nanar dengan binar air mata yang menggenang di pelupuk mata. Lututnya terasa lemas, bagai agar-agar. Akan tetapi, ia mencoba untuk tetap tegar, walau terasa berat.
“A-ada apa ini?’ gagap Trisha.
Gabe yang berdiri membelakangi Trisha punggungnya terasa panas. Ia membalikan badan dan matanya langsung bertemu dengan tatapan sendu wanita yang masih ia cintai. Dapat dirasakannya kesedihan wanita itu, tetapi ia tidak dapat menghibur kekasihnya.
Dena yang sedari awal melihat kedatangan Trisha melayangkan senyum mengejek. Ia menarik lengan Gabe yang terpaku menatap Trisha.
“Ingat, Gabe! Kita sudah menikah. Kau harus menepati janjimu,” bisik Dena.
Gabe melepas tangan Dena yang mencekal lengannya. Dengan suara mendesis menahan umpatan, “Kita berdua juga tau alasan aku menikahimu! Jadi jangan berharap lebih,”
Gabe berjalan mendekati Trisha yang berdiri terpaku di depan pintu. Begitu jarak di antara mereka sudah dekat. Gabe memberikan senyuman kecil kepada Trisha.
Gabe memasukan tangan ke saku celana. Mencegah dirinya menarik Trisha kepelukannya. Untuk memberikan kekuatan kepada wanita itu, serta mengatakan kepadanya jika semua akan baik-baik saja dan mereka akan kembali bersama,
“Hai! Kau datang sedikit terlambat, bukan? Kami baru saja melangsungkan pemberkatan pernikahan,” sarkas Gabe.
Trisha memejamkan mata sejenak memberikan waktu kepada dirinya. Kedua tangannya mengepal di samping badan. Diulasnya senyum tipis dia tidak akan membiarkan Gabe dan Dena yang datang mendekat, kemudian bergelayut manja di lengan Gabe.
“Kalian hanya membuatku sedikit terkejut, tetapi aku tidak harus mengharapkan yang lain, bukan?” Trisha mengulurkan tangannya kepada Dena. “Aku ingin mengucapkan selamat untuk pernikahan kalian berdua.”
Tangan Dena mengusap lembut pipi Gabe agar wajahnya hanya menatap dirinya. Ia dengan sengaja melakukan hal itu mengabaikan uluran tangan Trisha untuk mempermalukan wanita itu.
“Kami berdua tidak memerlukan ucapan selamat dari mantan napi sepertimu! Kehadiranmu hanya membuat pesta pernikahan kami yang sacral menjadi bencana saja. Kehadiranmu sama sekali tidak diharapkan,” ejek Dena.
Trisha menarik nafas dalam-dalam, ia berhitung dalam hati untuk menyabarkan dirinya. Dengan senyum yang dipakskan terbit di wajahnya. “Mengapa aku tidak boleh berada di sini? Ini adalah rumahku! Rumah tempat aku dilahirkan dan dibesarkan, sementara kau dan ibumu hanyalah pendatang saja di rumah ini.”
Jemari lentik Dena mengusap lembut d**a bidang Gabe yang tertutup tuxedo yang dipakainya. “Sayang kau mendengar apa yang dikatakan oleh napi ini, bukan? Ia telah menghinaku, kau tidak akan diam saja bukan, Sayang?”
Trisha memutar bola matanya, ia merasa muak melihat drama pertunjukan kemesraan yang diperlihatkan pasangan pengantin baru tersebut.
“Permisi! Saya lelah dan ingin beristirahat. Silakan, kalian nikmati pestanya, karena saya sama sekali tidak menarik perhatian saya,” tandas Trisha.
Ia berjalan melewati pasangan pengantin tersebut dengan langkah yang bagaikan melayang. Ia sadar dirinya menjadi pusat perhatian dan gosip dari tamu undangan yang hadir di pesta tersebut. Rasanya ia ia ingin berlari dan cepat sampai ke kamarnya.
Menyembunyikan diri dari tatapan kasihan, mengejek, serta mulut-mulut usil yang lamat-lamat dapat didengarnya mengejek.
“Tunggu!” terdengar nada suara berat ayahnya. Suara yang ia harap memberikan pembelaan dan kata-kata manis memberikan sambutan kepulangannya.
Trisha berhenti melangkah, ia berhenti di tengah anak tangga menunggu ayahnya mendekat. Ada rasa rindu dan keinginan yang kuat untuk berlari kepelukan ayahnya. Satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki.
“Mengapa kau datang ke rumah ini? Apakah belum cukup peringatan dariku yang mengatakan kau bukan lagi putriku? Kau tidak boleh menginjakkan kakimu di rumah ini lagi!” tegas ayah Trisha.
Deg! Jantung Trisha terasa berhenti berdetak. Ia menatap tidak percaya ayahnya tega berkata seperti itu. Matanya mengembun dengan bulir-bulir air mata yang siap tumpah.
“Ta-tapi, aku putrimu! Aku darah dagingmu mengapa kau tega berkata seperti itu?” gagap Trisha.
“Pergilah dari sini dan jangan mempersulit keadaan! Kau hanya membuat tamu undangan menjadi tidak nyaman. Kemasi barang-barangmu, kemudian jangan pernah injakkan lagi kakimu di sini!” perintah ayah Trisha.
Trisha menggigit bibirnya mencegah isak tangis terlontar dari bibirnya. Namun, ia tidak dapat mecegah air matanya tumpah. Ia menelan ludah dengan sukar mendadak tenggorokannya menjadi kering.
“Baiklah! Aku akan pergi, agar kalian tidak merasa terganggu dengan kehadiranku,” lirih Trisha.
Dengan pandangan yang buram, karena air mata yang membasahi wajahnya. Trisha setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Sesampai di kamarnya, Trisha mengempaskan pintu kamar dengan kasar, hingga menimbulkan bunyi berdebum yang nyaring.
Dihempaskannya tubuh dengan kasar ke atas tempat tidur. Ia membiarkan isakan yang sedari tadi ditahannya terlontar dari bibirnya.
‘Mengapa harus menjadi begini? Ayah, apakah ia masih pantas kupanggil ayah? Apakah aku bisa melepaskan ikatan darah di antara kami?’ batin Trisha.
Diusapnya dengan kasar air matanya menggunkan lengan kemeja yang dipakainya. Dipaksakannya diri untuk bangkit dari ranjang. Ia tidak akan membiarkan ayahnya, serta Dena, atau Gabe mengira dirinya ingin berlama-lama di tempat tersebut.
Ia tidak akan membiarkan dirinya dipermalukan dengan diseret paksa keluar. Dari rumah yang sekarang bukan menjadi rumahnya lagi.
‘Aku tidak perlu membawa banyak barang yang hanya akan membuatku kesusahan saja. Kemana aku akan pergi? Akh! Aku tidak mempunyai tempat tujuan yang pasti. Mengapa hidupku yang damai dan tenang berubah menjadi begitu menyedihkan?’ batin Trisha.
Dimasukannya beberapa potong pakaian ke dalam koper. Setelah dirasanya cukup ia menutup koper tersebut. Namun, gerakan tangannya menutup koper terhenti pada saat ia mendengar suara pintu kamarnya yang di buka, kemudian di tutup.
“Mengapa kau datang ke kamarku? Jangan sampai istrimu mengetahuinya dan menjadi marah kepadaku! Aku tidak mau mendapatkan hinaan atau pun ejekan lagi,” ucap Trisha.
Ia memilih untuk mengabaikan pria itu dengan memusatkan perhatiannya pada berkemas. Dengan harapan Gabe segera meninggalkan kamarnya. Ia merasa dirinya sudah cukup mendapatkan hinaan untuk hari ini.
Dirinya tidak hanya merasa lelah secara fisik, tetapi juga secara batin. Ia hanya ingin cepat-cepat pergi ke tempat di mana dirinya bisa menenangkan diri. Agar mentalnya tidak terganggu dengan guncangan yang secara beruntun diterimanya.
Gabe melangkah mendekat, kemudian berhenti tepat di belakang punggung Trisha. Dipeluknya dengan erat Trisha mengabaikan penolakan wanita itu. Diputarnya tubuh Trisha, hingga mereka berdua berhadapan.
Satu tangan Gabe terulur mencekau dagu Trisha dengan lembut. Ditundukkannya kepala, lalu memberikan ciuman pada bibir Trisha dengan lembut.
Keduanya tidak menyadari, kalau ada yang membuka pintu kamar Trisha dan menatap ke arah mereka berdua dengan tatapan benci. Orang tersebut, kemudian menutup kembali pintu kamar tersebut dengan pelan, agar kehadirannya tidak diketahui.
Trisha mendorong dengan kasar Gabe. Matanya menyala dipenuhi amarah. “Apa maksudmu dengan melakukan hal ini, hah! Belum cukup puaskan kau dan istrimu menyakitiku? Apakah kau mau semua orang membenci dan merendahkanku? Belum puaskah kau melihat penderitaanku, hingga kau merasa perlu menambahnya!”