Pertemuan dan Pertengkaran

1131 Words
Gabe meremas pelan pundak Trisha. “Aku mau kau menempati apartemen milikku. Apertemen itu menjadi milikmu tidak ada yang mengetahui apartemen itu termasuk Dena.” Trisha menepis kasar tangan Gabe dari pundaknya. Matanya menatap pria itu dengan emosi yang tidak dapat ia sembunyikan. Ia berjalan mundur menjauhi dari pria itu. “Sungguh dermawan sekali Anda, tuan. Sayangnya saya tidak tertarik. Berikan saja apartemen itu untuk istri anda tercinta atau kekasih gelap Anda, tetapi tidak untukku!” seru Trisha. Gabe menghela nafas dengan berat, ia terlihat kecewa Trisha menolak pemberiannya. “Aku hanya ingin membantumu saja. Aku tau kau tidak memiliki tempat tujuan dan aku juga mengetahui, jika ayahmu telah memblokir rekeningmu.” Trisha tertawa sarkas, ia mencibirkan bibirnya. Dengan penuh penekanan ia mengatakan ia dapat mengurus dirinya sendiri. Ia tidak memerlukan perhatian basa-basi dari Gabe. Suasana di kamar itu menjadi hening tidak ada yang membuka suara. Keduanya saling pandang dengan rasa kerinduan, serta keinginan yang kuat untuk saling menyentuh. Namun, keduanya menahan diri mereka. Yang membuat halnya menjadi menyakitkan bagi keduanya. Gabe membersihkan tenggorokan, setelah beberapa saat yang hening. Gabelah yang memecah kebisuan itu. “Aku tidak mencintai Dena dan kau tahu itu. Jangan pernah berfikir, kalau diriku akan mencintainya.” Trisha mendengus mendengarnya. DIlipatnya kedua tangan di depan d**a, seraya melayangkan tatapan sinis. “Katakan kepadaku, kalau kau tidak akan tidur dengan Dena? Kau tidak akan bisa menjawabnya, bukan?” Trisha mengangkat dagunya dengan mata tepat menatap mata Gabe. Menantang pria iitu untuk menyangkal apa yang dikatakannya. Namun, setelah beberapa menit yang terasa menegangkan baginya. Pria itu hanya terdiam, bahkan ia membalikan badan menghindari tatapannya. Suara tawa sinis lolos dari bibir Trisha. “Kau tidak bisa atau tidak mau menjawabnya, bukan? Tentu saja kau tidur dengannya, bahkan ia sekarang sedang mengandung anakmu. Naifnya diriku berfikir kau tidak akan menyentuh Dena. Trisha meraih gagang kopernya, kemudian ia menyeretnya keluar dari kamar. Sudah cukup kesalahannya dengan membiarkan Gabe berada di kamarnya. Berbicara dengan pria itu hanya menambah lukanya yang belum kering saja. Gabe dapat mendengar suara langkah kaki, serta roda koper yang diseret, tetapi ia menahan diri untuk tidak mencegah Trisha. Ia hanya bisa membiarkan wanita yang dicintainya pergi. Menahan Trisha lebih lama hanya akan membuat mereka berdua semakin terluka. Trisha terus berjalan dengan langkah kaki pelan. Satu sisi hatinya yang naif berharap Gabe meraihnya ke dalam pelukan. Mencegah dirinya mencegah dirinya untuk pergi. “Dasar penggoda! Kau mencoba merayu suamiku untuk pergi bersama denganmu, bukan! Sungguh kasiannya dirimu diusir dari rumah, kehilangan tunangan. Kuharap kau mati saja dan tidak mengganggu kehidupan kami yang bahagia,” ejek Dena. Satu tangan Trisha yang bebas mengepal dengan erat. Dibalikannya badan, sembari melayangkan tatapan mata yang dingin. “Seorang maling tentu saja akan menjadi ketakutan apa yang dicurinya diambil kembali. Tenang saja aku tidak akan mengambil Gabe kembali darimu! Kalian berdua pasangan yang serasi. Pengkhianat dan maling. Nikmatilah kemenanganmu sekarang ini karena aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!” tegas Trisha. Dengan penuh penekanan ia juga menambahkan Gabriel bukan termasuk yang akan diambilnya kembali. Trisha membalikan badan punggungnya terasa panas, karena merasa ada seseorang yang menatapnya dengan tajam. Dan benar saja tatapannya bersirobok dengan mata Gabe yang menyiratkan kekecewaan. Trisha melayangkan senyum sinis kepada Gabe. Dibalikkannya badan berjalan menuruni tangga. Sudah cukup waktunya terbuang percuma berbicara dengan pasangan suami istri yang merupakan pengkhianat. Mereka memang pasangan yang serasi. Dena yang tidak terima dihina oleh Trisha menarik kasar lengannya. Hingga membuat Trisha menjadi kehilangan keseimbangan. “Aw!” seru Trisha. Ia jatuh terguling dari tengah tangga. Membuat Dena berdiri tertegun dengan wajah terkejut, tetapi hanya sekejap saja. Wanita itu memasang ekspresi jahat, tetapi di hadapan Gabe ia memasang wajah memelas. “Gabe! Kamu percaya, ‘kan kalau aku tidak sengaja? Aku sama sekali tidak sengaja dan tidak bermaksud untuk membuat ia terjatuh.” Dena mengguncang lengan Gabe. Gabe menepis tangan Dena, ia setengah berlari menuruni anak tangga. Sesampai di bawah matanya menatap ngeri pada kedua kaki Trisha mengalir darah. Dikeluarkannya ponsel dari saku kemeja, sementara tangannya yang satu meraih kepala Trisha untuk ia letakan di atas pahanya. Gabe menghubungi 911 untuk segera datang memberikan pertolongan kepada Trisha. Gabe menutup sambungan telepon, ia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jas yang dipakainya. Ditundukkannya kepala hingga bibirnya berada dekat telinga Trisha. “Hai! Bangunlah! Jangan buatku takut melihatmu diam tidak bergerak. Aku tau kamu wanita yang kuat kamu pasti bertahan dan tidak ada yang akan bisa membuatmu menjadi hancur,” bisik Gabe. Gabe mengusap lembut kening Trisha dan berpindah ke tangan wanita itu. Diremasnya dengan lembut tangan Trisha, seakan ingin memberikan kekuatan kepada mantan kekasihnya itu. “Kenapa lama sekali petugas medis sialan itu datang?” umpat Gabe. Ia khawatir melihat wajah Trisha yang begitu pucat dan matanya yang setia terpejam. Sementara darah di antara kedua kakinya juga tidak berhenti mengalir. Membuat Gabe semkin merasa bersalah, karena tidak dapat melindungi Trisha. Beberapa menit berselang Trisha sudah berada di rumah sakit untuk menjalani perawatan. Gabe berdiri gelisah di depan pintu ruang perawatan Trisha. Ia menatap pintu yang menghalanginya untuk melihat kondisi Trisha dengan wajah muram. Rasanya ia hendak mendobrak saja pintu tersebut agar dirinya dapat melihat kondisi Trisha. Waktu berjalan begitu lambat bagi Gabe. Ia berada dalam ketidak pastian tentang apa yang terjadi. Mengapa Trisha begitu lama berada dalam ruangan tersebut. Akhirnya pintu tempat Trisha menjalani perawatan terbuka juga. Dokter yang keluar dari ruang tersebut melihat tepat ke arah Gabe. Dokter itu menepuk pelan lengan Gabe. “Kami turut menyesal untuk menyampaikan kabar duka ini. Kami tidak bisa menyelamatkan janin yang sedang dikandung istri Anda.” Ucap dokter itu. Gabe membelalak menatap tidak percaya apa yang dikatakan oleh dokter tersebut. Ia mengabaikan kesalahan dokter yang mengira Trisha adalah istrinya. “Apa maksud Anda Trisha hamil dan sekarang ia sudah kehilangan janinnya?” tanya Gabe dengan ekspresi terkejut. Dokter itu menganggukan kepala. “Anda dapat masuk untuk melihat kondisi Trisha. Ia baik-baik saja hanya saja kondisinya pada saat ini masih lemah.” Gabe terdiam dalam hatinya rasa bersalah itu semakin menggunung. Ia tidak dapat melindungi calon buah hatinya. Dan sekarang ia harus kehilangan calon buah hatinya demi melindungi bayi yang sedang dikandung Dena. Dengan langkah kaki yang goyah Gabe memasuki ruang rawat Trisha. Pandangannya dengan pandangan Trisha bertemu. Gabe merasa takut melihat tatapan kosong di mata Trisha. “Untuk apa kau datang ke sini, Gabe? Kau dan istrimu hanyalah merupakan masalah untukku. Tidak cukupkah kau dengan meninggalkanku demi saudari tiriku? Aku telah kehilangan satu-satunya keluarga yang kumiliki dan sekarang aku juga harus kehilangan calon buah hatiku,” lirih Trisha. Dalam satu gerakan cepat Gabe sudah berada di dekat Trisha. Ia membungkukan badan, sambil meremas lembut tangan wanita itu. Dengan kasar Trisha menepis tangan Gabe yang menggenggam jemarinya. “Apakah aku harus berteriak agar kau mendengar? Aku tidak mengharapkan kehadiranmu! Pergilah! Aku tidak mau kita bertemu lagi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD