Keguguran

1068 Words
Gabe bergerak mundur gurat penyesalan tampak di wajah tampannya. “Kapan kau mengetahui dirimu hamil? Kau sengaja merahasiakannya dari, bukan? Kenapa kau sejahat itu dengan merahasiakan kehamilanmu dariku?” Mata Trisha melotot menatap Gabe. “Bisa-bisanya kau menuduhku seperti itu. Keluarlah, Gabe! Mungkin dengan kehilangan calon buah hati kita merupakan hal yang terbaik, karena ia tidak perlu mengetahui permusuhan dari kedua orang tuanya.” Gabe menyisir rambutnya menggunakan jari, hingga membuat penampilannya menjadi berantakan. Namun, hal itu tidak mengurangi ketampanannya. Trisha memilih untuk memejamkan mata dengan harapan, begitu ia membuka mata Gabe sudah tidak berada di dekatnya lagi. Gabe memperhatikan Trisha yang sedang berbaring. Ada keinginan kuat untuk duduk di samping Trisha, sambil menggenggam erat jemarinya. Akan tetapi, Trisha tentu saja tidak akan menyukai ide tersebut. Dengan tangan dalam saku celana Gabe berjalan pelan keluar dari ruang istirahat Trisha. Ia akan membiarkan wanita itu beristirahat. Mereka akan bicara lagi nanti setelah kondisi Trisha jauh lebih baik. Begitu mendengar langkah kaki Gabe menjauh dan bunyi pintu kamarnya yang di buka, kemudian di tutup. Trisha membuka matanya. Tangannya meraih ponselnya yang terletak di atas meja samping ranjangnya. Dihubunginya salah seorang pelayan yang bekerja di rumah ayahnya. ‘Halo! Tolong bawakan koper saya ke rumah sakit, ya.’ ‘Baik, Nona Trisha. Saya akan membawakannya untuk Anda,’ sahut pelayan itu. Trisha mematikan ponselnya. Begitu barang-barangnya sudah ada ia akan keluar dari rumah sakit tersebut. Dirinya tidak akan berlama-lama di tempat ini. Ia sudah tidak ingin berurusan atau bertemu lagi dengan mereka yang sudah menyakiti hatinya. Sambil menunggu pelayan di rumah ayahnya datang Trisha memilih untuk mengistirahatkan dirinya. Ia perlu tenaga untuk bisa pergi ke tempat di mana tidak ada orang-orang yang akan mengganggu dirinya. Sementara itu, Gabe memasuki mobil mewah miliknya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan satu tujan yang ada di kepalanya. Tangannya menggenggam dengan erat kemudi, seakan itu adalah leher seseorang. Bunyi decit rem mobil Gabe terdengar nyaring, tetapi ia tidak peduli. Bergegas turun dari mobilnya Gabe berjalan dengan langkah panjang menuju rumah orang tua Dena. “Di mana Dena?” tanya Gabe dingin kepada ibu Dena. “Kenapa kau mencarinya? Apa kau mau memarahi putriku? Setelah kau tadi memperlihatkan pertunjukan kasih sayang kepada wanita yang bukan istrimu. Di depan tamu undangan yang hadir kau telah menyakiti dan mempermalukan Dena!” bentak ibu Dena. Rahang Gabe mengetat ia mengepalkan kedua tangan di samping badannya. Ia menghembuskan nafas dengan kasar. “Dena sudah melakukan kejahatan! Ia mendorong Trisha dari atas tangga. Yang menyebabkan Trisha keguguran. Karena kesalahan Dena aku kehilangan calon anakku!” Mata ibu Dena membulat terkejut dengan mulut terbuka lebar. Ia tidak mengetahui, kalau Trisha sedang hamil. Namun, ia tidak suka Gabe menimpakan kesalahan kepada putrinya. Setelah pulih dari rasa terkejutnya ia dengan dinginnya berkata, “Itu adalah kesalahan Trisha sendiri yang membuat Dena marah. Bagus untuk anak itu tidak lahir ke dunia, karena ia tidak perlu mengetahui ibunya seorang penjahat yang pernah mendekam di penjara.” Gabe menggeram marah mendengarnya. Ia memukulkan kepalan tangannya ke dinding yang berada di belakang ibu Dena berdiri. “Anda sama jahatnya dengan Dena!” Ayah Trisha berdiri diam mematung tidak jauh dari tempat tersebut. Ia merasakan kesedihan yang mendalam tadi tidak dapat menolong Trisha yang terluka. Dan sekarang mendengar Trisha yang harus kehilangan bayinya tanpa ada orang-orang yang mencintainya berada di samping. Ayah Trisha bergerak maju mendekati Gabe. “Di rumah sakit mana Trisha dirawat?” Gabe menatap lekat ayah Trisha. Ia merasa senang pada akhirnya ayah Trisha memiliki sedikit kepedulian kepada putrinya itu. Memang terlambat, tetapi itu jauh lebih baik. Gabe pun menyebutkan tempat rumah sakit di mana Trisha dirawat. “Dia masih marah dan membenciku. Namun, sepertinya memang sebaiknya begitu. Di antara kami sudah tidak ada hubungan lagi, tetapi Anda berbeda. Anda adalah ayahnya.” Ayah Trisha menganggukan kepala. Ia berjalan hendak keluar dari rumah, tetapi lengannya ditarik dengan kasar oleh istrinya. “Mau kemana, kau? Kau tidak boleh menjenguk Trisha, karena hal itu hanya akan menyakiti hati Dena!” peringat ibu Dena. Ayah Trisha menepis pelan lengan istrinya. Dengan tatapan sedingin es ia berkata, “Kau tidak dapat melarangku! Sudah cukup aku diam saja dengan semua yang kalian lakukan kepada Trisha. Aku akan menjenguknya dan kau tidak bisa melarangku.” Ayah Trisha berjalan melewati istrinya keluar dari rumah dengan diikuti oleh asistennya. Sementara Gabe berlalu dari hadapan mertuanya. Ia menaiki tangga menuju kamar di mana ia duga Dena berada. Dan benar saja dilihatnya Dena sedang berbaring dengan selimut menutupi seluruh badannya, kecuali wajah dan kepala. “Kau pikir aku percaya dengan sandiwaaramu yang berpura-pura sedang sakit?” sindir Gabe. “Tapi, aku memang sedang sakit, Gabe! Aku demam, kalau kau tidak percaya kau bisa mengukur suhu tubuhku. Aku juga mual-mual, sepertinya karena kehamilanku ini,” sahut Dena dengan suara lemah. Gabe mendengus ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu. Sekalipun ia memang melihat wajah pucat Dena atau suhu tubuhnya yang panas. Tetap saja ia tidak percaya lagi. “Apakah kau tau, kalau Trisha keguguran? Ia sedang mengandung anakku! Sungguh ironis bukan? Aku membantumu dan berjanji akan merawat anakmu, seperti anakku sendiri, kalau ia lahir nanti. Sementara, itu aku justru harus kehilangan calon buah hatiku,” ucap Gabe dengan nada suara getir. Dena menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Ia bergegas menghampiri Gabe dan memeluk pinggang pria itu. “Aku turut berduka, Gabe! Aku turut bersedih untuk kehilangan yang kau rasakan. Namun, kau harus percaya kalau aku sama sekali tidak mengetahui tentang kehamilan Trisha.” Tangan halus Dena mengusap lembut pipi Gabe, lalu menelusuri bibirnya. “Trisha sangat jahat, Gabe! Ia menyembunyikan kehamilannya darimu. Apakah kau yakin anak yang dikandung Trisha adalah anakmu, bukan anak dari pria yang selalu bersama dengan Trisha?” Dena mendongak menatap Gabe, ia coba menanamkan keraguan di benak pria itu. Agar Gabe semakin membenci Trisha dan tidak sudi bertemu dengannya lagi. Gabe mendorong kasar Dena, hingga wanita itu jatuh ke tempat tidur. Matanya menatap tajam Dena yang balik menatap dengan sorot takut. “Bagaimana bisa kau begitu kejam seperti itu? Trisha adalah saudari tirimu dan ia begitu baik kepadamu. Akan tetapi, kau begitu kejam menuduhnya seperti itu.” Dena menelan ludahnya dengan sukar, ia harus bisa memainkan perasaan Gabe dengan baik. Ini kesempatannya. “Ayolah, Gabe! Kau tentu sering melihat Trisha hanya berduaan saja dengan pria yang sering ia sebut sahabat. Aku selama ini menyembunyikan bukti perselingkuhan Trisha dengan pria yang ia sebut sahabat itu. Aku akan memperlihatkannya kepadamu,” ucap Dena.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD