Gabe menggeram marah. “Kenapa kau begitu tidak suka kepada Trisha? Apa kesalahanya kepadamu? Kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan bukti perselingkuhan antara Trisha dengan sahabatnya. Karena aku percaya ia tidak akan mungkin melakukannya!”
Wajah Dena terlihat tidak suka mendengar jawaban Gabe. “Aku tidak menyangka pria sehebat dirimu begitu naif. Pecaya begitu saja kebohongan yang dibuat Trisha. Ia sengaja mengatakan janin yang dikandungnya adalah anakmu. Itu semua dilakukannya agar kau merasa bersalah dan kembali kepadanya.”
Dena mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas, ia membuka-buka layar galeri ponsel. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya ia pun menyodorkan ponselnya kepada Gabe.
“DI situ ada rekaman video, serta potret Trisha tidur bersama dengan sahabatnya itu. Kau begitu lemah, kalau masih saja percaya anak yang dikandung Trisha adalah anakmu,” sindir Dena.
Gabe mengambil ponsel tersebut diliatnya potret Trisha yang sedang berbaring bersama dengan seorang pria. Hanya pundak keduanya yang terlihat terbuka, selebihnya bagian tubuh keduanya tertutup oleh selimut.
“Sungguh mengagumkan kau bisa berada tepat waktu untuk mengambil video, serta foto dari adegan tersebut. Apakah merupakan suatu kebetulan ataukah ada sesuatu yang coba kau sembunyikan?” selidik Gabe.
Dena menelan ludah dengan sukar, nadi di lehernya bergerak naik turun dengan cepat. Ia menundukan wajah tidak berani balas menatap Gabe.
“Kenapa kau selalu saja mencurigaiku? Tidakkah kau sadar telah melukai hatiku sebagai istrimu, karena kau begitu peduli dengan mantan kekasihmu itu? Tidakkah kau teringat sudah terikat perjanjian denganku? Apakah kau hendak mengingkarinya?” lirih Dena.
Gabe mendengus kasar, ia membalikan badan berjalan menuju pintu. Dirinya tidak tahan berada lebih lama lagi bersama dengan Dena.
Dena dengan cepat menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Ia berlari ke arah Gabe dan memeluk pinggang pria itu dengan begitu erat.
Punggung Gabe terasa basah karena air mata Dena. Dalam hatinya Gabe mengutuk Dena yang menggunakan air mata sebagai senjata.
“Kumohon jangan pergi, Gabe! Aku dan bayiku membutuhkan kehadiranmu. Kau juga sudah berjanji kepadaku. Kau tidak akan mengingkari janjimu dengan kembali kepada Trisha, bukan? Kalau kau melakukannya aku akan membuat Trisha kembali masuk penjara. Dan kali ini aku tidak akan membiarkan ia bebas dengan selamat!” ancam Dena.
Gabe memutar badan Dena, hingga keduanya berdiri berhadapan. Tangan Gabe terulur mencekau dagu Dena mendongak menatap tepat matanya. Tatapan tajam Gabe meneliti wajah istrinya itu.
“Apakah kau yang membuat Trisha mendapat luka tusuk pada saat berada di dalam penjara?” desis Gabe.
Ia menahan dirinya untuk tidak mengguncang kasar badan wanita itu. Mengingat Dena yang saat ini sedang hamil.
Gabe mendorong pelan Dena menjauh darinya. Wajah pria itu menyiratkan rasa kecewa, karena ia telah terjebak dalam pernikahan dengan wanita yang begitu jahat dan penuh manipulasi.
“Mengapa kau berkata seperti itu, Gabe? Aku sama sekali tidak ada urusannya dengan apa yang terjadi pada Trisha selama ia berada dalam penjara. Bisa saja itu semua karena ulah Trisha sendiri yang membuat ia tidak disukai,” sahut Dena.
Gabe melangkah ke arah jendela kaca dan berdiri di sana memunggungi Dena. “Aku akan menceraikanmu secepatnya. Karena pada saat aku membuat perjanjian untuk setuju menikahimu, aku tidak pernah berjanji akan menikahimu untuk selamanya.”
Mata Dena membelalak tidak percaya mulutnya terbuka lebar. Bergegas ia berlari mendekati Gabe dan melayangkan pukulan pada punggung pria itu menggunakan kepalan tangannya.
Tiba-tiba saja Gabe tidak merasakan lagi pukulan pada punggungnya. Akan tetapi, ia mendengar bunyi suara benda yang jatuh. Membuat Gabe dengan cepat membalikkan badan.
Dilihatnya Dena yang terbaring dengan keadaan tidak sadar di lantai. Wajahnya terlihat pucat pasi dengan keringat sebesar biji jagung memenuhi wajahnya.
Gabe membungkukan badan dibopongnya Dena untuk ia baringkan di atas tempat tidur. Setelahnya Gabe menghubungi dokter priadinya untuk datang memeriksa kondisi Dena.
“Aku tidak tau apakah kau hanya bersandiwara saja pura-pura pingsan. Kau melakukannya hanya untuk menghindari menjawab banyak pertanyaan dariku.” Gabe menegakan badan dari samping ranjanbg. Ia berjalan menuju lemari kaca di mana tersimpan beraneka macam jenis minuman.
Diambilnya botol anggur kemudian ia tuang ke dalam gelas. Dalam satu tegukan besar anggur tersebut telah tandas. Ia kembali menuang ke dalam gelasnya yang telah kosong.
Suara ketukan di pintu membuat Gabe mengalihkan perhatiannya. Dengan suara sedikit sengau akibat mabuknya Gabe mempersilakan untuk masuk orang yang mengetuk piintu kamar.
“Halo, dok! Tolong kau periksa dia, ia tiba-tiba saja pingsan. Aku akan meninggalkan kalian berdua saja.” Gabe beranjak dari sofa tempatnya duduk.
“Hei, Gabe! Mengapa kau tidak berada di sini saja menemaniku memeriksa kondisi istrimu,” tegur dokter pribadi itu.
Gabe melayangkan tatapan mengejek ke arah dokter tersebut. “Sejak kapan kau berubah menjadi pengecut sampai-sampai memintaku untuk menemanimu melakukan pemeriksaan. Aku harus pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi Trisha. Ia jauh lebih memerlukan perhatianku.”
Dena yang berpura-pura pingsan dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Gabe kepada dokternya. Dengan cepat ia membuka matanya dengan air mata yang meleleh membasahi wajah. “Tolong, jangan pergi! Demi aku dan calon anak kita.”
Dena memegangi perutnya yang terasa sakit. Ia berlari menuju kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya di sana.
Dokter pribadi Gabe menatap Gabe dengan sorot mata mata mencela. Yang dibalas Gabe dengan mengangkat pundaknya. Ia dan Dena sudah membuat kesepatakan, kalau di depan masyarakat ia akan mengakui anak yang dikandung Dena adalah anaknya.
“Aku tidak tau Gabe, kalau kau sejahat itu. Kau mengkhianati Trisha dan sekarang kau bersikap kasar kepada wanita yang sedang mengandung anakmu. Kau harus tau, Gabe kondisi emosi wanita yang sedang hamil itu dapat menjadi tidak stabil. Kau harus menjaganya demi keselamatan ibu dan bayinya,” tegur dokter itu.
Gabe menghela nafas kasar dengan langkah santai ia berjalan menuju kamar mandi. Dilihatnya Dena menempelkan wajah pada cermin wastafel. Tatapan keduanya bertemu, melalui cermin tersebut.
“Kenapa kau tidak jadi pergi? Jangan biarkan aku dan anakku menghalangimu. Kami bukanlah bagian istimewa yang kau pedulikan. Kami hanya beban dan penghalang kau bersama dengan kekasihmu. Kasian anakku dia tidak akan memiliki seorang ayah dan aku juga tidak akan bisa melupakan pria jahat yang telah dibayar Trisha untuk memperkosaku,” lirih Dena.
Gabe memejamkan mata ia berhitung dalam hati mencegah dirinya membentak Dena. Karena kembali wanita itu menyalahkan Trisha atas kesalahan yang tidak dilakukannya. Dan sayangnya ia masih belum bisa membuktikan hal tersebut.
“Jawab pertanyaanku dengan jujur, bagaimana kau mengetahui Trisha memerintahkan seseorang untuk memperkosamu? Apakah pria itu sendiri yang mengatakannya? Apakah ada bukti lain yang bisa menguatkan tuduhanmu itu, selain dari pria yang identitasnya belum kuketahui, begitu juga dengan keberadaan pria itu yang secara misterius hilang tanpa jejak. Aku akan mencari pria itu dan memaksanya untuk menadpat kebenarann,” tandas Gabe.