Gabe melototkan mata pada layar ponselnya. Ia diam sejenak sebelum menjawab ancaman dari Dena. “Aku sebenarnya tidak peduli kalau kau meninggal sekalipun, tetapi aku tidak mau berurusan dengan pihak berwajib karena kematianmu. Dan juga aku tidak mau dihantui rasa bersalah atas turut meninggalnya bayi yang sedang kau kandung.” Gabe langsung saja mematikan sambungan telepon. Dengan nada suara dingin ia memerintahkan kepada sopir pribadinya untuk putar balik pulang ke rumahnya. ‘Sialan memang Dena ini. Ia tau bagaimana memainkan dramanya. Dan aku dengan terpaksa harus mengikuti permainannya. Aku harus secepatnya menemukan pria yang dituduhkan Dena memperkosannya. Pria itu kunci yang bisa membersihkan nama Trisha untuk selamanya,’ gumam Dena. Beberapa menit berselang mobil yang ditumpangi

