Pagi harinya, Viki bangun dengan desahan pelan, tubuhnya mulai memanas. Sentuhan-sentuhan Adrian membuatnya bangun dengan seketika. Saat viki perlahan membuka matanya, Adrian sedang mengemut puncak gunung kirinya dan miliknya bagian kanan di mainkan dengan jemari tangan kirinya. Lidah lihai Adrian membuat Viki mengerang. “Good morning, Sayang.” Suara serak Adrian membuatnya membuka mata. Adrian tersenyum dan mengecup bibirnya. “Morning.” Viki masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. “Jam berapa sekarang?” “Masih jam 6.” “Ha?” Viki berusaha bangkit, “sudah sesiang ini?” namun usahanya sia-sia, tubuh telanjang Adrian menindih tubuhnya yang juga dalam keadaan sama. Hangat tubuh Adrian membuatnya nyaman. “Kenapa terburu-buru?” bibir Adrian menyerang area sensitivenya di sekitar tengkuk le

