Adrian tersenyum penuh kemenangan, gejolak yang ditahannya beberapa saat lalu saat melihat Viki terbalas sudah. Diraihnya belakang leher Viki dan mengecup keras bibir Viki yang sudah didambakannya. Masih di dalam mobil, mereka bertukar saliva dengan erangan-erangan yang memenuhi ruangan. Adrian tidak bisa lagi menahannya. Supirnya yang sudah meninggalkannya bersama dengan pengawalnya membuatnya semakin nyaman dan berani. Setidaknya tidak akan ada yang menikmati tubuh dan suara manis Viki selain dirinya.
Tangannya sudah aktif menyingkap dress Viki dan memperlihatkan celana dalamnya yang seksi. Dengan kasar dirobeknya celana dalam itu, Viki memekik pelan namun Adrian kembali melumat bibirnya. Viki membantu membuka tuxedonya dan bahkan celana kainnya. Miliknya sudah mengeras dan panas. Adrian membutuhkan milik Viki sekarang juga. Jemarinya memasuki liang panas itu, dimasukkannya dan dikocoknya pelan, cairan pelumas Viki mengalir deras membuat Adrian tersenyum senang.
Inilah yang dicarinya setelah sekian lama. Adrian membuka lebar paha Viki dan mengarahkan kepalanya di sana. Menghisap habis cairan pelumas Viki. Suara desahan Viki memenuhi ruangan limusi tersebut. “Oh god.” Viki menekan kepala Adrian untuk lebih keras memuaskannya. Adrian tersenyum di sela aktivitasnya. Miliknya sudah berteriak ingin melepaskan benihnya. Diraihnya panjang miliknya dan di kocoknya pelan.
Wajah Viki memerah menahan birahinya, melihat Adrian yang sudah bersiap memasukkan senjatanya kedalam miliknya tanpa pengaman, membuatnya panik. “Kondom?”
“Hah?” Adrian yang fokusnya adalah bagaimana caranya melepaskan birahinya menggerutu kaget. “SH*T!!!” Dipandangnya Viki dengan tatapan bingung, “Bukannya kamu menggunakan birth control?”
“Aku tidak pernah memakainya.” Viki bangkit dan duduk memperbaiki dress-nya. “Jika kamu tidak memakai pelindung, aku tidak ingin melakukannya.” Suara Viki seketika terdengar sedih namun dia kembali kepada sosoknya yang dingin.
“DAMN!!!” Adrian menyisir rambutnya frustasi. Tentu saja di limusinnya dia tidak menyimpan kondom. Diraihnya celananya dan memakainya kembali. Kemejanya dikancing dengan asal-asalan. Dibukanya pintu limusin dan menarik Viki keluar dengan tiba-tiba. “Kita lanjutkan di dalam.”
Viki yang tertatih mengikuti langkah Adrian panik tanpa alas kaki. “Heels aku masih di dalam mobil dan celana dalamku.” Bisiknya ke telinga Adrian.
“Tidak akan ada yang menyentuhnya. Aku jamin itu.” Adrian berbalik dan melihat Viki yang berantakan bahkan dia terlihat kesakitan tanpa alas kaki. Tanpa berpikir panjang Adrian menggendongnya bridal style bagai kapas yang ringan.
“Apa yang kamu lakukan!” pekik Viki.
Adrian tidak menjawab pertanyaan Viki. Tanpa membuang waktu Adrian menuju kamarnya, pengawalnya membantu untuk membukakan pintu. Sesampainya di kamarnya di hempaskannya tubuh Viki di atas king bednya. “Lepaskan bajumu, jika aku kembali kamu sudah tidak boleh mengenakan apapun.” Perintah Adrian dengan suara beratnya.
Adrian melangkah menuju pintu, “Jangan menggangguku untuk beberapa jam kedepan dan jangan sentuh apapun yang berada di limusin atau tidak aku akan memotong tangan kalian.”
“Baik, Tuan.” Jawab pengawalnya dan menutup pintu kamar Adrian. Sekembalinya, Viki sudah tidak mengenakan apapun tetapi mengenakan selimut di sekeliling tubuhnya. Matanya menatap langit dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Viki berdiri sangat anggun di depan jendela besarnya, wajahnya tidak terlihat bahagia tetapi tidak terlihat sedih juga.
Adrian perlahan membuka kemejanya kembali beserta celananya, Adrian mendekati Viki dan membalikkan tubuhnya. Mengulum bibirnya dalam. Adrian meremas b****g Viki yang padat. Dengan segera diangkatnya tubuh Viki dengan kedua tangannya bertumpu pada b****g Viki. Sambil tersenyum kecil Viki melingkarkan kedua kakinya dipinggang Adrian, dengan sekali hentakan seluruh milik Adrian memasuki Viki yang sudah terbungkus kondom.
Awalnya Viki mengeryit nyeri, sudah 5 tahun lamanya. Adrian mengeluh nikmat, matanya gelap sudah oleh birahi. Milik Viki begitu nikmat memijat panjang miliknya yang mengeras. Di maju mundurkan tanpa ampun, melampiskan apa yang ditahannya selama ini. Menunggu Viki menghubunginya 5 tahun lamanya, namun ternyata dia menghilang. Semenjak hari itu, dia tidak bisa menemukan wanita yang sempurna seperti Viki. Mereka mungkin bisa memiliki tubuh yang indah tetapi tidak dengan kepribadiannya. Ada sesuatu spesial yang hanya Viki memilikinya.
Hujaman-hujaman itu semakin keras, Adrian menempelkan tubuh Viki di tembok sementara miliknya terus menerus keluar masuk tanpa henti di tubuh Viki. 15 menit kemudian baik Adrian dan Viki mengalami klimaks yang dahsyat. Mereka jatuh kelantai dengan napas terengah-engah. Senyum puas tercetak di wajah Adrian. Viki masih menutup matanya menikmati getaran-getaran itu. Adrian meraih belakang kepala Viki dan mendekatkan wajahnya. Dikulumnya bibir Viki dalam, lidahnya menelusuri seluruh rongga mulutnya dengan lapar. Adrian mengangkat tubuh Viki dan membaringkannya di tempat tidur.
“Thanks.” Kata Viki. Diliriknya Adrian di sebelahnya yang sedang membuka kondom yang melekat, mengikatnya dan membuangnya ke tempat sampah. Adrian membaringkan tubuhnya lelah. Viki tersenyum kecil dan menaiki tubuh Adrian. Adrian membuka matanya dan memandang penuh tanya ke Viki. Wajah Viki sejajar dengan senjatanya. Napas Adrian kembali memburu ketika jemari hangat Viki menggenggam miliknya yang perlahan mulai kembali keras.
“Oh…” leguh Adrian ketika mulut basah Viki mengulum lihai. Telapak tangannya yang besar memegang kepala Viki. Perpaduan hisapan dan gigitan kecil membuat Adrian semakin menggila. 10 menit kemudian dia melepaskan benihnya di dalam mulut Viki, awalnya Adrian berusaha mengangkat wajah Viki namun Viki begitu nikmat menyantap miliknya.
Seluruh cairan putih itu ditelannya tanpa tersisa. Wajah Adrian memerah memandang Viki yang masih membersihkan sisa-sisa puncaknya. Baru kali ini dia melihat wanita yang menggulum miliknya begitu seksi. Setelah selesai, Viki mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil. “Thanks.” Jawab Adrian sambil menatap wajah Viki. Kini Viki sudah duduk di pinggiran king bed-nya dan bangkit. “Kamu mau kemana?”
“Semoga kamu tidak keberatan aku menumpang mandi, aku tidak bisa pulang seperti ini.” Viki menjawab sambil meraih dress-nya. Adrian tertegun atas jawaban Viki. Bahkan wanita ini pun tidak ingin merepotkannya atau memohon untuk tinggal, lebih dari itu Viki memilih tetap pada perjanjian mereka. Viki bahkan tidak mengetahui jika Adrian tidak pernah tidur satu tempat tidur dengan wanita-wanitanya tetapi Viki mengerti.
Inilah wanita yang dicari-carinya selama ini. Adrian tersenyum kecil disaat Viki sudah memasuki kamar mandi. 20 menit kemudian Viki sudah keluar dengan pakaian lengkap. Adrian yang sedang menelepon mematikan handphonenya segera. Didekatinya Viki yang masih memperbaiki sedikit sisi dress-nya. Adrian menelusuri wajah Viki yang tanpa make up, bahkan tanpa riasan pun wajahnya jauh lebih cantik. Adrian masih mengingat wajah Viki ketika masih kecil dan saat ini wajahnya semakin dewasa. Adrian sampai tertegun, tak mampu melepaskan matanya.
“What?” tanya Viki mulai risih ketika Adrian begitu menatapnya intens.
“Nothing.” Jawab Adrian.
“Oh okay.”
“Kemana kamu selama ini?” tanya Adrian tanpa sadar terlontar dari mulutnya.
“Hem?”
“Selama 5 tahun?”
Viki tertegun sejenak dan menatap dalam Adrian, “Dalam peraturan, kita sepakat untuk tidak bercerita yang bersangkutan dengan hal-hal pribadikan?” jawab Viki tangkas.
Tertohok jawaban Viki, raut Adrian menjadi kembali dingin. “Oke.” Adrian mengancing kemejanya. “Supirku akan mengantarmu pulang.”
“Tidak perlu repot, aku akan memakai taxi.”
“Tidak. Supirku yang akan mengantarmu.” Suara berat Adrian mendominasi. Viki mengangguk tanpa ingin berdebat lagi.
Sesampainya di penthousenya, Viki melepaskan pakaiannya dan mengganti dengan lingerie. Tubuhnya lelah namun puas, dia sudah tertidur ketika Demi meneleponnya.
Esok paginya Demi sudah berdiri di depan pintu penthouse-nya dengan wajah penuh tanya. “Are you okay?”
“Yeah. Why?” balas Viki setengah menguap dan berjalan menuju dapur.
“Adrian tidak menyakitimu?”
“Huh? No.” Viki meneguk air mineral.
“Lalu apa yang terjadi?” tanya Demi penasaran.
“Adrian mengajakku menjadi partner seksnya.”
“Lalu?”
Viki menetap menyelidik ke Demi, “Kamu enggak kaget?”
“Aku sudah duga itu. Dari awal dia melihatmu, dia seperti singa yang mendapat mangsa.”
“Yeah… Well… seperti itu.” Viki mulai membuka kotak yang dibawa Demi berisi sandwich untuk sarapannya. “Thanks.” Viki mencomotnya satu dan mulai menguyah, menikmati rasa lezatnya.
“Kamu setuju begitu?” Demi masih bertanya, Viki mengangguk. “Kenapa?”
“Kenapa?” Viki balik bertanya. “Enggak ada salahnya bukan?”
Demi menarik napas panjang, “Kamu ingat 5 tahun lalu?”
“Aku sangat mengingatnya.” Viki menarik napas dalam, “Aku hanya ingin mencoba sampai di mana hatiku bertahan, Dem.” Wajah Viki mengkeruh dengan kenangan masa lalunya. “Aku ingin mencoba, jika pada akhirnya aku harus pergi dan merelakan, setidaknya aku mencoba… aku tidak menyesal.”
Demi terdiam mendengar kalimat itu, “Oke.” Hanya itu jawabnya dan memilih membiarkan Viki dengan keputusan yang dianggapnya baik.
Siang harinya, Viki sedang berada di kantornya menandatangani beberapa berkas ketika handphonenya berdering dari nomor yang tidak diketahuinya. “Hallo.”
“Hey.”
“Siapa?” jawab Viki sambil matanya masih menatap papers-nya.
“Adrian. Suaraku begitu mudah dilupakan yah?” Adrian menjawab sedikit sedih, baru kali ini ada wanita yang terlihat tidak terlalu tertarik dengannya.
“Oh well…” Viki melihat handphonenya. Ini adalah handphone untuk nomor pribadinya. Viki memiliki 2 handphone yang digunakan dengan fungsi berbeda. Satu untuk bisnis dan satu untuk keluarga. Meski sekarang satu handphone memiliki dual sim card tetapi Viki tidak ingin diganggu saat tidak bekerja, dia memilih meninggalkan di ruang kerjanya di rumah. “Ini nomor pribadiku.”
“Itu bisa aku dapat dengan mudah.”
“Oke.” Jawab Viki singkat.
“Aku merindukan milikmu.” Adrian mengatakan spontan.
Viki yang sedang menandatangani sebuah kertas mendadak kaget, tanda tangannya menjadi rusak karena syok. “What?”
Adrian tertawa kecil mendengar respon Viki, “Supirku akan menjemputmu dalam 30 menit.”
“Aku enggak tahu kamu lupa atau apa tapi aku sedang bekerja sekarang.”
“Aku tahu.” Jawab Adrian. Yang tidak diketahui Viki bahwa Adrian menyewa detektifnya untuk mengecek background Viki selama 20 tahun ini dia tidak mengetahui apa-apa. Adrian bahkan salut dengan prestasi yang sudah diraih Viki sejauh ini. Wanita ini bukan wanita biasa. Setelah menyadari apa yang dilakukannya, Adrian tersenyum kecut. Ini kali pertamanya dia bahkan harus mengecek background seorang wanita. Sebelumnya dia merasa tidak harus repot-repot untuk itu.
“Aku sibuk.” Viki membalas.
“Oke.” Dengan itu Adrian menutup teleponnya. Fokusnya kembali kepada pekerjaannya. 30 menit kemudian, Demi masuk membawakan makan siangnya.
“Makan dulu.” Demi meletakkan di meja depan sofa makanannya.
“Hum.” Jawab Viki singkat. Demi duduk di sofa ketika intercom dari sekretaris Viki memberitahu ada tamu yang ingin bertemu dengannya. Demi segera bangkit dan mengecek tamu tersebut karena mereka memaksa untuk masuk. Tak beberapa lama Demi kembali dengan wajah masam. “Siapa?” kacamatanya diturunkan sedikit, saat bekerja Viki memilih mengenakan kacamata meski dia sudah menjalani operasi mata sebelumnya.
“Tuan muda Henderson.” Jawab Demi dingin.
“Ha? Ngapain dia?” Viki bangkit dan duduk di depan mejanya sambil melipat tangan di d**a.
“Aku akan meninggalkan kalian berdua.” Demi keluar digantikan Adrian yang masuk dengan wajah angkuh, dia terlihat tampan dan berbahaya seperti biasanya.
Mata mereka saling terpaku, Adrian menatapnya dalam sambil langkahnya mendekati Viki.
“Ngapain kamu di sini?” kata Viki dingin begitu di hadapannya berdiri Adrian beberapa centimeter. Viki masih dalam posisi duduk di depan mejanya dan Adrian berdiri menjulang di hadapannya. Adrian terlihat sangat menggiurkan. “Kamu mulai berani. Ini kantor milikku. Kamu sadar jika sikapmu terlalu kelihatan?”
Adrian tertawa kecil tanpa membuang waktu diraihnya tubuh Viki untuk berdiri sejajar dengannya. Telapak tangan kanannya yang besar meremas b****g Viki. Di kulumnya bibir Viki dengan cepat, kelaparan bagai tidak mendapatkan makanan berhari-hari padahal faktanya mereka baru saja berpisah tidak lebih dari 10 jam yang lalu.
Viki awalnya terkaget namun dia menggimbangi permainan lidah Adrian. Leguhan nikmat keluar dari bibir Adrian. Dengan tergesa-gesa diangkatnya rok Viki dan mengelus celana dalamnya. Jari tengahnya memasuki liang milik Viki yang mulai basah oleh cairan nikmat itu.
“F*ck! Kamu sudah sangat basah.” Bisik Adrian. Wajah Viki memerah menahan kenikmatan atas jari Adrian yang bermain lincah. Jemari Viki mencengkram kemeja Adrian erat. Tanpa hitungan menit, Adrian melepaskan celana dalam Viki dan menurunkan celana sendiri hingga batas lututnya. Adrian meraih kondom dari kantong celananya dan membungkus miliknya yang sudah mengeras. Dibersihkannya meja Viki dari kertas dan peralatannya lainnya. Dibaringkan tubuh Viki di sana dengan paha terbuka lebar memperlihatkan miliknya yang merekah begitu menggiurkan. Adrian tersenyum dan mengarahkan kepalanya di sana. Menjilat dengan buas hingga Viki hanya bisa berteriak dengan erang-erangannya. 5 menit bermain dengan milik Viki, Adrian mengarahkan miliknya. Sekali hentakan seluruhnya masuk.
Dimaju mundurkan dengan cepat. Gesekannya sangat nikmat. Ruangan dipenuhi erangan mereka berdua, Adrian membalikkan tubuh Viki hingga menungging dan menghujam dari belakang. Viki meleguh, milik Adrian semakin sesak di dalam sana.
10 menit kemudian mereka mencapai klimaks masing-masing. Tubuh Adrian tumbang di atas tubuh Viki. Napas mereka masih tersenggal-senggal. “Adrian… kamu berat.” Kata Viki kemudian. Adrian sadar dan bangkit lalu membantu Viki berdiri. Dilepaskannya kondom tersebut dan dibuang ke tempat sampah. Ketika berbalik, Viki sudah membereskan bajunya tanpa mengenakan celana dalam karena saat melepaskannya Adrian merobeknya. Adrian membenahi dirinya lalu duduk di sofa Viki.
“Kamu belum makan?”
“Yeah.” Viki menuju kamar mandi.
“Aku akan membawa makan siangku kesini.” Jawab Adrian mengambil handphonenya. Viki segera keluar kamar mandi dan merebut handphone Adrian. “What?” tanya Adrian bingung.
“Aku rasa kamu semakin merasa nyaman dan perlahan melanggar peraturan-peraturan kita.”
“Aku belum makan.” Jawab Adrian, mimik wajahnya sedikit sedih.
“Kita tidak sedekat itu untuk makan bersama.” Balas Viki tangkas dan melipat tangannya di depan dadanya membuat dua gunung kembar itu terlihat semakin besar.
“Come on… aku lapar.”
“Lalu kamu bisa temukan restoran di area ini dan makan. Beberapa blok arah utara ada restoran pasta yang enak. Makanlah di sana, tidak di sini.” Mereka terdiam, ada ketegangan di antara keduanya. “Look.” Viki duduk di hadapan Adrian. “Kamu tiba-tiba datang. Kamu sadar keluarga kita bisa mengetahuinya?”
“Aku tidak masalah. Kamu?” tantang Adrian. Viki memilih menghela napas panjang dan tidak menjawab. “Pergilah kerumah sakit ini.” Adrian mengeluarkan kartu dari kantong kemejanya. “Mereka bisa memberikanmu suntikan birth control di sana.”
Viki memandang bingung, “Kenapa?”
“Aku tidak suka memakai kondom saat berhubungan badan denganmu. Itu sangat mengangguku.”
“Kamu terbiasa memakai kondom bukan?”
“Ya. Sejak aku pertama kali berhubungan seks, aku selalu memakai kondom.”
“Lalu?”
“Kamu terlalu banyak ingin tahu, pergi saja ke sana. Lebih aman untukmu dan untukku juga. Aku tidak ingin memiliki anak.” Jawab Adrian mengambil handphonenya dari tangan Viki. Mendengar kata ‘anak’ Viki terdiam, hatinya tiba-tiba menciut sedih. Ditariknya napas panjang, mimiknya berubah seperti semula.
Dia meraih kartu itu, “Aku memiliki dokter pribadi.”
“Tak apa. Pergilah ke sana. Aku sudah membuat reservasi. Mereka dokter-dokter yang hebat.” Balas Adrian.
“Oke.” Viki bangkit dan meletakkan kartu itu di mejanya. “Jika kamu selesai, aku ingin melanjutkan pekerjaanku.” Viki kembali duduk dan mengabaikan Adrian. Mata Adrian melihat Viki yang sudah kembali sibuk mengumpulkan kertas-kertasnya di lantai. Kertas-kertas itu dibersihkan dari meja sebelumnya saat mereka sedang berhubungan badan.
Adrian bangkit dan mendekati Viki yang kini sudah akan duduk. Diraihnya bibir Viki dan kembali dikulumnya dalam. Viki yang terkaget hanya terdiam, kali ini Viki merasakan ada yang berbeda dari ciuman Adrian. Ciuman ini lebih kepada ciuman frustasi. Viki bisa merasakan kegalauan namun dia lebih ingin mengabaikannya. Adrian tidak akan berubah secepat itu. Putra Hades ini selamanya akan merasa berada di awan, tidak sudi menginjakkan kakinya yang agung di tanah yang berlumpur seperti masa lalunya.
“See you later then.” Adrian melepaskan tubuh Viki dan dengan dagu terangkat angkuh berjalan menuju pintu.
Viki menghela napas panjang, disentuhnya dadanya. Ditekannya keras rasa sakitnya. Entah sampai mana, dia akan menunggu batasnya.
Please give LOVE and leave COMMENT.
Thank you.