BAB 6

3295 Words
Sudah satu bulan partner ranjang ini berjalan. Jika bukan di penthouse Adrian, maka mereka akan melakukannya di hotel berbintang milik Adrian. Malam ini Viki mengadakan makan malam di penthouse Grace. Mereka bertiga, Viki, Grace dan Demi memutuskan memasak hidangan dengan cara barbeque. Setelah selesai menyantap hidangan utama, mereka duduk sambil menikmati red wine. Demi memilih istirahat di kamar setelah beberapa saat. Grace duduk berhadapan dengan Viki yang sedang menikmati langit malam. “Viki…” “Hum?” Viki berbalik. “Tentang Adrian…” Grace menyelidiki ekspresi wajah adiknya. Semenjak 5 tahun lalu, Viki memilih untuk merubah penampilannya dan membuang penampilan kutu bukunya namun selama kurun itu Viki tidak pernah bergaul dengan pria. “Ya?” “Aku hanya diam selama ini tetapi kamu sadar dia sosok seperti apa bukan?” “Aku tahu.” “Dia bukan orang yang baik.” “Aku enggak butuh orang baik Grace.” Grace menatap lama, “Kamu mencintainya?” Viki menatap langit dan menarik napas, dia tidak ingin menjawab. “Lalu hubungan itu?” “Kami tidak memiliki hubungan.” Jawab Viki singkat. Grace menatap Viki tak percaya, “JADI DIA HANYA MENIDURIMU?” Viki tersenyum kecil menjawab pertanyaan Grace. “NO! Kamu enggak bisa begini Vik. Ini terlalu keterlaluan.” “Apa maksudmu? Baik aku dan dia mendapat kepuasan.” Grace menarik napas, “Jika itu aku, itu tak apa karena aku sudah bergaul dengan banyak pria sebelumnya. Tidak ada perasaan di dalamnya tapi kasusmu berbeda. Kamu mencintai dia tetapi dia TIDAK!” Diakhir kalimatnya suara Grace semakin meninggi. Viki menatap kakak kembarnya ini dan menarik napas, “Aku tahu. Aku hanya ingin mengukur sampai mana batasnya supaya cintaku benar-benar selesai. Selama 5 tahun ini aku hidup dalam belenggu. Ada yang masih mengganjal, ada yang belum tersampaikan. Jika memang pada akhirnya harus terpisah, tidak ada masalah. Asalkan ini sudah selesai. Aku bisa melanjutkan hidup dengan tenang.” Jawab Viki tersenyum kecil. Kesedihan tercetak di sana. Grace menatap adiknya penuh kasih, dia mengerti perjuangan Viki. Bagaimana gadis kecil ini tumbuh dewasa terpaksa oleh keadaan. Dipaksa menjadi dewasa lebih tepatnya. Minggu ini Viki begitu sibuk, Adrian menghubunginya tetapi dia memilih mengabaikannya. Pegawainya melakukan beberapa kesalahan dan berdampak pada salah satu perusahaannya. Sesampai di penthousenya pun sudah satu botol wine dihabiskan untuk meredakan panas hatinya tetapi tidak juga kunjung tenang. Kembali di bukanya laptop dan memulai bekerja. Handphonenya tidak kunjung berhenti berkedip, Viki melirik sebentar dan nama Adrian kembali tercetak di sana. 31 missed call sejak siang. Viki merasa terganggu dan mematikan handphonenya. 30 menit kemudian bel pintu penthouse-nya berdering berulang kali. Viki bangkit, siapa yang bertamu malam begini? Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Viki mengambil piyama yang menutup lingerienya. Bel itu semakin nyaring. Viki mulai terganggu, dia mengintip sebentar dan Adrian sudah berdiri di sana dengan wajah kecut. Ini pertama kalinya Adrian ke penthouse-nya. Viki membuka pintu dengan tampang dingin, Adrian segera masuk melewati Viki dengan cepat, dia terlihat marah. Viki menutup pintu dan mengikuti Adrian menuju ruang tamu. Tangan Viki terlipat di dadanya tegas. “Jawab telepon kamu!” bentak Adrian kemudian. “D*MMIT!” tangan besar mencengkram lengan Viki. Matanya yang tajam menghujam mata dingin Viki, ekspresi Viki masih datar. “Aku menghubungimu berulang kali!” “Aku sibuk.” Viki melepaskan tangan Adrian. “Sebaiknya kamu pulang, masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan.” “NO!” jawab Adrian sengit. “Aku belum selesai.” “Kamu aneh. Kamu mulai bersikap seperti ini. Mendatangi penthouse-ku malam-malam. Kamu sadar resikonya?” “Persetan dengan resiko! Kamu tidak menjawab teleponku!” “Aku sedang tidak mood meladenimu.” Viki beranjak dari ruang tamunya ingin meninggalkan Adrian. Dengan cepat Adrian meraih lengan Viki dan membalikkan tubuh Viki. Dikulumnya cepat bibir Viki dengan keras. Melampiskan kekesalannya sejak siang. Viki yang awalnya tidak ingin meladenin memilih diam namun terpancing ketika lidah Adrian mulai menelusuri rongga mulutnya. Pertarungan lidah itu membuat Adrian mengeluh nikmat. Tangannya yang besar membuka piyama Viki dan mempelihatkan tubuh Viki yang dibalut lingerie. Mata Adrian semakin gelap. Di bukanya lingerie itu dengan tidak melepas ciumannya. Kemudian dia membuka bajunya sendiri dibantu Viki. Tanpa sadar mereka hanya mengenakan celana dalam. Adrian merebahkan tubuh Viki di sofa, tangannya melepas celana dalam Viki dan jemarinya bermain di area sensitif Viki tidak sabaran. Viki mengeluh nikmat, tangannya mencengkram lengan berotot Adrian, bahkan tanpa sadar kukunya sudah menembus kulit Adrian saat klimaks pertamanya tiba. Tubuhnya bergetar hebat, napasnya tersenggal-senggal. Adrian mengarahkan jemarinya yang penuh dengan cairan cinta Viki kemulutnya dan menghisapnya habis. Adrian tersenyum lebar, dia menyukai cairan itu. Belum puas di sana, diarahkannya kepalanya menuju milik Viki dan menghabiskan cairan itu, Viki kembali melenguh. Adrian mengocok miliknya naik turun dan mengarahkan ke milik Viki yang merekah merona. Cairan pre-c*m sudah mengaliri miliknya. Viki menatapnya dangan wajah memerah menahan birahi, menunggu kapan senjata perkasa lezat itu memenuhinya. Sekali dorongan seluruhnya masuk, Viki meleguh nikmat. Penatnya siang ini terlepas sudah, yang ada dipikirannya adalah bagaimana caranya dia melampiaskan semuanya. Otot miliknya semakin kencang memijat milik Adrian. Sementara Adrian sudah dipenuhi keringat, kepalanya fokus melepaskan seluruh kekesalannya sejak siang ini. Adrian membutuhkan pelampiasan tetapi Viki tidak bisa dihubungi dan di sinilah dia, membalaskan dendam itu. Erangan Viki memenuhi ruangan dan mereka berganti posisi. Adrian menghujam miliknya dari belakang dengan cepat, b****g Viki yang sintal dan padat berbunyi saat bertemu dengan pinggangnya yang keras oleh otot. Adrian bahkan mencengkram rambut Viki untuk mendongak dan mengkulum bibir Viki keras. Sementara tangan kanannya meremas kencang salah satu gunung ranum Viki yang menjadi favoritenya. 20 menit kemudian, Viki mengerang melepaskan puncaknya yang kesekian kali di ikuti oleh Adrian kemudian. Mereka rebah di sofa dengan napas memburu. Viki bangkit duduk, kakinya terasa seperti jelly. Adrian menguras energinya hingga tak tersisa. Viki sudah akan bangkit ketika lengan besar Adrian memeluknya erat dari belakang dan membuat mereka dalam posisi tertidur saling berdampingan. Adrian mengecup pundaknya lembut lalu memeluknya erat seakan Viki akan menghilang. Napas beratnya mengenai tengkuk Viki hangat. Viki mengerutkan kening, perlakuan Adrian begitu berbeda dari dia pertama masuk penthouse-nya. Kini Adrian berlaku sangat romantis. Mereka terdiam satu sama lain, menikmati kesunyian. “Aku kuatir.” Kata Adrian kemudian. “Untuk?” “Kamu tidak menjawab teleponku. Aku pikir kamu… 5 tahun lalu.” Dada Viki berdetak keras, “Maksudmu?” tanya Viki hati-hati. “Menghilang. Aku takut kamu menghilang begitu saja.” Adrian kembali mencium pundaknya bahkan lebih mempererat pelukannya. Viki terdiam, dia tidak tahu harus membalas apa. Adrian takut dirinya menghilang? Mulai timbul harapan bahwa Adrian akan menyukainya. “Kamu takut?” “Tentu saja. Sangat sulit mendapatkan wanita sepertimu. Yang bisa bersamaku tanpa ada status dan kejelasan.” Jawab Adrian. Bukan jawaban itu yang diinginkan Viki, semangatnya kembali ciut. Ditekannya kembali rasa sakit itu. Masih… Adrian hanya memandangnya sebagai pelampiasan napsu belakang. Merasakan Viki kembali diam, Adrian mengalihkan topik, “Jadi kenapa kamu kesal hari ini?” “Urusan kantor.” “Tentang?” Adrian mengerutkan kening, “Ayolah, ceritakan.” Bujuk Adrian agar Viki bercerita. “Salah satu pegawai membuat kesalahan, bahkan mencoreng nama perusahaan. Semua sudah kembali normal hanya memang butuh waktu untuk mengembalikan kerugian.” “Aku akan mengirimkan dana yang diperlukan.” Balas Adrian tiba-tiba. Badan Viki menegang, “Dana?” “Iya. Aku akan mentransfernya setelah ini ke account bank perusahaanmu.” Viki melepaskan diri dengan kuat membuat Adrian terkaget, “PERGI! KELUAR DARI SINI!” Teriak Viki kemudian. “What?! Kamu kenapa sih?” Adrian balas dengan wajah keras. “KELUAR!!! BR*NGSEK!” Viki tidak peduli dia masih telanjang bulat begitu juga Adrian. Viki meraih baju dan celana Adrian yang berada di lantai lalu membuang ke wajah Adrian. “You!” Adrian bangkit dan mencengkram lengan Viki kuat. “Kamu kenapa? Dan jangan pernah memanggilku ‘br*ngsek’!” “Aku bukan p*****r! Seenaknya kamu ingin membayarku! Aku tegaskan aku bukan wanita bayaran.” “Oke… oke…” Adrian kini menggenggam dua lengan Viki, dipandangnya wajah Viki yang memerah menahan marah. “I am sorry. Aku enggak tahu itu menyakitimu. Aku hanya ingin membantu perusahaanmu.” Air mata Viki mengalir tanpa disadarinya, Adrian terkaget dan segera dipeluknya tubuh Viki yang bergetar. “Sorry… I am so sorry… please…” entah sejak kapan Adrian meminta maaf seperti ini terutama kepada wanita selain ibunya. Air mata Viki tidak berhenti mengalir, hatinya sesak jika mengingat Adrian ingin membayarnya. Setidaknya tidak sampai level serendah itu Adrian memandang dirinya. Adrian semakin erat memeluknya, tangan hangat Adrian mengelus rambut dan punggungnya namun hatinya terlanjut terluka. Dilepaskan pelukan Adrian, ditatapnya wajah Adrian yang panik. “Aku butuh jarak. Aku tidak ingin bertemu denganmu untuk beberapa hari kedepan.” Viki melangkah mundur. “WHAT?!” wajah Adrian semakin panik dan mendekati Viki namun Viki semakin memundurkan langkahnya. “Come on, aku minta maaf karena itu. Oke?” bujuk Adrian. Baru kali ini dilihatnya wajah panik Adrian. Viki menggeleng pelan, “Kamu tahu jalan keluar.” Kemudian Viki membuka pintu kamarnya dan menutupnya cepat sebelum Adrian meraih tubuhnya. “VICTORIA! Buka pintunya.” Adrian mengedor dengan keras. “VICTORIA!” Viki duduk meringkuk di tempat tidurnya berusaha melupakan yang terjadi. Suara Adrian tidak juga berhenti setelah beberapa saat namun dia tak peduli, dia butuh ruang. Tidak bertemu Adrian adalah pilihan tepat sebelum dia semakin jatuh dalam kepedihan. 1 minggu berlalu, Viki mengabaikan telepon Adrian. Adrian mendatanginya di kantor tetapi Viki tidak ingin menemuinya, bahkan pengawalnya berjaga ketat. Penthouse Viki kosong selama 1 minggu sejak itu. Adrian mengetahui di mana mansion Viki namun dia mengurunkan niatnya semenjak mansion itu juga dijaga ketat oleh pengawal Viki. Adrian tahu dia berada di sana. Adrian bersiap menuju sebuah klub, kepenatannya sudah diambang batas. Sejak 3 hari lalu dia sudah meniduri beberapa wanita tetapi bukan itu yang dicarinya. Ada sesuatu di diri Viki yang tidak dimiliki wanita-wanita itu. Wajahnya mengeras, di kantor pun hanya marah-marah yang bisa dilakukan Adrian, sudah sekitar 30 pegawai yang di pecatnya dalam kurun 1 minggu itu hanya karena kesalahan kecil. “Bos kenapa sih?” tanya sekretaris Adrian kepada Lewis. “Aku takut banget dipecat.” Lewis menghela napas. “Aku juga terancam dipecat.” Jawab Lewis cuek.                                                  “Aku serius nih. Bos serem banget sekarang. Sudah satu minggu, bulan lalu dia banyak senyum sekarang malah kembali ke dirinya yang dulu bahkan lebih mengerikan.” Sekretaris Adrian, Terry bergidik. Lewis memijat keningnya, departemennya saat ini sedang panik juga. Adrian mengancam akan memecat semua pegawai yang berjumlah sekitar 70 orang jika tidak menghasilkan keuntungan di atas 40%. Tentu saja target itu mustahil meski selama ini mereka mendapat keuntungan rata-rata 30%. Lewis sudah mencoba mendekati Adrian 4 hari lalu tetapi respon Adrian sungguh di luar dugaan, mereka bertengkar hebat bahkan Adrian nyaris memukul wajahnya. Emosi dan tabiat Adrian semakin buruk. Lewis tahu jelas alasannya, dia tahu bagaimana kehidupan Adrian. Viki adalah alasan utamanya. Lewis ingin membantu Adrian tetapi pria keras kepala itu tidak pernah memberinya celah. Lewis pernah bertemu Viki sekali saat perusahaan mereka menyewa jasa perusahaan Viki untuk merancang perusahaan baru Adrian. Disitulah pertama kalinya dia melihat sosok seorang Victoria Abigail Vinc. Seperti permata di antara kubangan lumpur, tersembunyi sangat private dan tidak banyak mengikuti alur pergaulan. Begitulah kesannya pertama kali. Jangan ditanya, saudari kembarnya, Grace sudah sangat termasyur karena dia adalah super model brand-brand terkenal tetapi berbeda dengan Viki. Wanita ini sangat bertolak belakang. Viki lebih tenang dan dewasa, pembawaanya elegan. Masih dalam benaknya kenapa Viki ingin menerima tawaran Adrian untuk menjadi partner ranjangnya. Sementara Adrian masih berada di dalam kantornya. Entah sudah berapa botol vodka habis diteguknya. Paper-nya di meja berhamburan. Adrian melihat tampangnya di kaca, jenggot tipis mulai bertumbuh perlahan. Selama 1 minggu ini bagai neraka baginya. Ini bukan Adrian yang agung dan berkuasa, pantulan dicermin itu lebih menggambarkan seorang pria kehilangan arah dan tujuan. Kembali diteguknya segelas vodka. Tidak juga meredakan kemarahan hatinya. Dengan kesal di lemparkannya gelas itu kearah kaca kantornya hingga terbelah berkeping-keping. Bunyinya sangat keras. “ADRIAN!” suara Lewis tiba-tiba masuk dengan kesal. “OH COME ON, MAN!” Lewis melihat kaca di hadapan Adrian yang sudah pecah berkeping-keping. Ditatapnya sosok Adrian yang semberawut. Matanya merah, kemejanya berantakan dan rambutnya berantakan. Adrian sudah 2 hari ini menginap di kantornya, entah apa yang dilakukannya. “Harga kaca itu 10.000 dollar.” Keluh Lewis. Adrian duduk di kursi mejanya dan kembali mengambil gelas baru dan menuangkan vodkanya, “STOP!” Lewis merebut gelas itu dari tangan Adrian. “Kembalikan.” Suara baritone Adrian mendesis. “No.” Lewis duduk di hadapan Adrian. “Lihat diri kamu.” Adrian mengambil botol vodka dan meneguknya langsung tanpa memperdulikan perkataan Lewis. Lagi-lagi Lewis merebutnya. Dengan marah Adrian bangkit. Kemarahannya memuncak sudah. Lewis menganggunya. Tubuhnya yang besar menghampiri Lewis dan memukul wajah Lewis bertubi-tubi. Tubuh Lewis yang notabene juga besar memilih pasrah, dia tahu Adrian butuh melepaskan kemarahannya. Lewis mengenal Adrian dari kecil, bagaimana pria ini tumbuh hingga saat ini. Adrian sangat sulit mengungkapkan perasaannya. Setelah beberapa saat, Adrian duduk di samping tubuh Lewis yang babak belur, napasnya terengah-engah. Memukul Lewis juga membutuhkan tenaga. Lewis berusaha duduk dengan terbatuk-batuk. “SH*T!” umpat Adrian dan memilih berbaring di samping tubuh Lewis. Ditutupnya matanya dengan salah satu lengannya. Lewis tertawa kecil, “Sudah lega?” Adrian tertawa kecil tanpa menjawab. Lewis berbaring di samping Adrian. “Kalau ada apa-apa bilang, jangan diam dan melampiaskan semuanya tanpa arah. Anak buah yang kamu pecat, mereka punya keluarga. Mereka butuh pekerjaan itu.” Adrian hanya terdiam. “Aku ada di sini, emang sulit buat membuka diri tapi cobalah. Apalagi kita keluarga.” Adrian menatap langit-langit kantornya, mereka terdiam. Hanya suara kendaraan yang terdengar dari luar meski kantor mereka sangat tinggi tetapi suara bising masih bisa terdengar. “Victoria.” Kata Adrian pada akhirnya, Lewis menunggu kelanjutannya. Adrian terlihat sulit meluapkannya, berkali-kali jakunnya naik turun ingin berbicara tetapi terhenti. Lewis menunggunya dengan sabar. Ini pertama kalinya Adrian akan jujur. “Ada yang sakit di sini.” Adrian memegang dadanya, wajahnya sangat sedih. “1 minggu ini paling menyiksa. Aku tidak tahu harus bagaimana. Ini pertama kalinya.” Lewis menghela napas, dadanya sakit karena pukulan Adrian, “Victoria mengkonfirmasi akan menghadiri acara enterprenur sedunia di Chelsea. Aku pikir ini saat yang tepat untuk bertemu dengannya semenjak dari awal dia tidak pernah mengikuti acara apapun.” Adrian menatap Lewis kaget, “Ho… how?” Lewis tersenyum kecil, “Aku melakukan riset kecil. Aku sudah mendapatkan undanganmu. Acaranya minggu depan, jika memang kamu ingin pergi.” Adrian kembali menatap langit-langit. Masih tenggelam dalam pikirannya, bahkan dia harus mengejar seorang wanita, biasanya merekalah yang mengejarnya dan memohon untuk tidur dengannya. Adrian tertawa kecil kemudian. “Thanks.” Lewis melihat kearah Adrian tak percaya, “Seriusan nih? Pertama kalinya kamu bilang terima kasih seumur-umur kita bersama.” Adrian membersihkan tenggorokannya dan bangkit, “Rawat lukamu.” Kemudian dia menuju kamar mandi meninggalkan Lewis dengan tersenyum lebar. Ada celah sosok Viki bisa merubah karakter Adrian. Mungkin inilah waktunya. Akhirnya ada cahaya harapan. Esok harinya, Adrian kembali seperti biasanya. Berpenampilan bersih dan rapi dari biasanya. Ada semangat baru. Menunggu hingga hari itu, Lewis sudah mengatur schedulenya ke Chelsea. Saat dia sedang mengerjakan beberapa dokumen, Terry menginformasikan bahwa ayahnya ingin bertemu. Sudah 2 bulan dia tidak pulang menemui orangtuanya. Di tutupnya semua berkas dan menginstruksikan untuk mempersilahkan ayahnya masuk. Paul, dengan setelan jas rapi masuk. Auranya mengintimidasi seperti biasa, Adrian menghampiri dan memeluk ayahnya. Meski sudah tua, ayahnya masih sehat. Ayahnya adalah sosok yang paling Adrian hormati. Ayahnya duduk di sofa, kenapa tiba-tiba ayahnya datang? Paul memperhatikan wajah Adrian dengan seksama membuat Adrian tidak nyaman. Teh dan kopi hangat terhidang di hadapan mereka. Sudah lama Paul berhenti minum kopi dengan alasan kesehatan.  “Ibumu merindukanmu.” Suara baritone Paul memecah keheningan. “Adrian masih sibuk, Pi.” Paul menyesap tehnya. “Benarkah?” Paul menatapnya menyelidik, “Kamu terlihat kurus.” “Pi…” keluh Adrian, “Stop pretending kayak mami. Adrian bukan lagi anak kecil.” “Bagi kami, kamu masih anak kecil.” “Ha… come on.” Adrian memilih bersandar di sofanya, inilah alasan kenapa dia jarang mengunjungi orangtuanya. Sampai saat ini jika dia pulang, ibunya akan memperlakukannya seperti anak umur 5 tahun. “Adrian sudah bisa mandiri.” “Oke.” Paul pun melihat sekeliling kantor Adrian, Paul mengakui jika Adrian membuat perusahaan mereka semakin besar. Adrian adalah sosok yang sangat cerdas. Sejak lulus S1, Paul tidak kuatir melepaskan Adrian. Adrian bisa jauh melebihi ekspektasinya. “Apa tujuan Papi kemari? Mami sehat-sehat aja?” tanya Adrian kemudian. “Mami sehat.” Paul menjawab singkat. “Anyway… soal anak dari Leo. Kamu dekat dengannya?” “Papi datang kemari hanya untuk itu? Kami tidak dekat.” “Tapi kalian intens bertemu.” Adrian mulai tak nyaman, ayahnya memang selalu begitu. Ingin tahu dengan siapa dia dekat, oleh sebab itu dia memilih tidak ingin dekat dengan siapapun dan lebih nyaman tanpa hubungan. Ayahnya pasti mematai-matai dirinya. “Stop spy Adrian, Pi.” “Papi cuma ingin memastikan kamu enggak main-main Adrian. Wanita itu anak dari teman baik Papi. Jika memang kamu tidak serius lebih baik lepaskan.” “Kami tidak memiliki hubungan apapun. Papi tak usah kuatir.” Paul terdiam dan menatap Adrian lama, wajahnya tiba-tiba sedih. “Bahkan Victoria tidak cukup baik untukmu?” Paul kemudian berkata dengan suara baritonnya yang sedih. Adrian mengerutkan kening bingung. “Kami tidak memiliki hubungan apapun.” Adrian sekali lagi menegaskan. “Tapi kamu selalu menghampirinya. Kamu mendatangi kantornya, penthouse-nya.” Paul berkata seakan protes. Adrian semakin bingung, “Apa sih maksud papi? Kami tidak memiliki hubungan apapun. Jangan kuatir. Victoria dan Adrian tidak punya hubungan spesial.” Adrian kembali dengan lugas menegaskan. Tangan Paul terkepal keras, terlihat jelas dia menahan amarahnya. Paul berusaha tenang tetapi dia gagal dan terpancing oleh jawaban Adrian. Paul bangkit menjulang, dilihatnya anak satu-satunya itu. Kekecewaan memenuhi hatinya, dia menghela napas panjang. “Demi Papi dan Mami, jangan pernah mendekati Victoria lagi.” Adrian kini bangkit, permintaan ayahnya tiba-tiba menyakiti hatinya. “Adrian tidak bisa, Pi.” “Kenapa tidak bisa? Kamu bilang tidak ada hubungan, lalu ini apa? Kamu selalu melihatnya dan sekarang kamu menolak permintaan Papi Mami?” “Aku tidak bisa. Aku membutuhkan Victoria.” Jawab Adrian pada akhirnya. Paul menggeleng pelan, untuk pertama kalinya Paul kecewa terhadap Adrian. “Untuk pertama kalinya, Papi kecewa sama kamu, Nak.” Paul menatap Adrian sedih. “Melihatmu seperti ini, Victoria tidak cocok untukmu. Bukan karena dia yang tak pantas untukmu tetapi justru kamu yang tak pantas untuknya.” Paul terhenti sejenak. “Victoria sangat berharga hanya untuk menjadi teman tidurmu. Dia tak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini, Adrian.” Adrian marah atas pernyataan ayahnya, “Aku tak pantas untuknya?” tawa remeh Adrian. “Sejak awal kami tidak pernah punya hubungan apapun, Pi! Victoria yang setuju untuk melakukan ini. Sebagai lelaki normal, aku dengan senang hati menerimanya.” PLAKKKKK! Tangan besar Paul menampar Adrian. “Pria bodoh!!!” suara Paul menggelegar di dalam ruangannya yang luas. Adrian terkaget dan terpaku, ini pertama kalinya ayahnya menamparnya. Sebandel apapun dulu, ayahnya tidak pernah menamparnya, dia selalu menjadi pangeran mahkota. Apapun yang diinginkannya dituruti, semua cacatan kriminalnya, ayahnya dengan senang hati akan menutupinya dan menyongok semua pihak. Semua di dunia dimilikinya dengan dukungan kedua orangtuanya tanpa kata tidak. Suasana menegang. Mereka berdua terdiam, Adrian menatap ayahnya tak percaya, oleh karena Victoria… oleh karena seorang wanita, ayahnya memukulnya untuk pertama kali. “Papi tidak menyangka kamu tumbuh sebrengsek ini.” Paul merapikan jasnya. “Papi kecewa sama kamu.” Paul beranjak pergi. “Jangan pulang ke rumah sebelum kamu menyadari kesalahanmu dan meninggalkan Victoria, dia terlalu berharga untukmu.” Paul meninggalkan ruangannya cepat. Adrian terpaku. Disentuhnya pipinya. Panas tamparan ayahnya masih terasa di sana. Mengapa ayahnya menamparnya? Apa yang sebenarnya terjadi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD