Kami menaiki bis untuk ke rumah ayah. Menunggu beberapa saat di terminal dengan suasana yang panas. Om Riyan yang tidak terbiasa terlihat begitu gerah dan kepanasan.Wajahnya sampai penuh keringat dan memerah. Aku kasihan melihatnya. Sesekali lelaki ini mengelap peluh dengan punggung tangannya, kemudian meringis kepanasan, karena kami naik bis biasa yang tidak menggunakan AC. “Om buka aja jendelanya, biar nggap panas.” Aku mengingatkan. “Oh iya.” Segera ia membuka jendela, karena ia yang duduk di dekat jendela. Om Riyan memperhatikanku beberapa saat. “Kay, kamu aja yang di sini.” “Om, nggak apa-apa, aku di sini aja.” “Nanti banyak orang melintas, bagaimana kalau mengenai kamu. Sudah kita pindah posisi saja.” Aku menurut, karena ia sedikit memaksa. Akhirnya aku yang duduk di dekat jen

