Terpaksa Berbohong

1214 Words

Pagi, setelah sarapan Om Riyan pamit untuk ke kantor polisi dan ke Bank. Suamiku itu harus membuat surat laporan kehilangan, baru membuat atm baru di Bank. Aku memasak nasi goreng untuk sarapan. Kami sudah jarang membeli roti semenjak Om Riyan tidak bekerja. Kemi lebih sering makan-makanan yang sederhana, yang bisa dimasak sendiri di rumah. “Om berangkat dulu ya, Sayang.” Aku mencium punggung tangannya, sementara Om Riyan mencium keningku dengan hangat. “Hati-hati, Om. Kalau siang hari belum selesai pulang dulu, makan dan shalat dulu, baru lanjutkan setelahnya.” “Iya bawel!” Om Riyan menarik hidungku. “Kamu jangan capek-capek. Tadi malam, Om sudah mencuci dan menjemur pakaian. Hitung-hitung untuk meringankan beban kerjaan kamu di rumah.” “Oh ya? Jam berapa?” “Jam dua malam, Om ter

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD