“Memproduksi baby?” Aku berpikir keras soal ini, lalu otakku travelling ke arah sana. “Astaghfirullah, maksud Om yang itu, ya?!” “Itu apa sih, Kay?” Om Riyan nampak menahan tawa. “Ish! Om suka gitu deh!” Aku menghentakkan kaki kesal, kemudian langsung keluar dari kamar tanpa menghiraukan Om Riyan. Aku malu jika harus berhadapan dengannya sekarang. Akhirnya aku memilih duduk di depan televisi sambil menghidupkan tv-nya. Sesekali aku menoleh ke arah kamar mama, sepertinya beliau sudah terlelap, hingga kuputuskan untuk berbaring di sofa ini. Aku menonton sinetron yang membosankan. Selama ini aku tidak biasa menonton, karena memang di rumah ayah tidak punya alat elektronik lainnya selain radio tua. Lama kelamaan aku menguap, ingin naik ke atas, tapi takut Om Riyan belum terlelap. Setiap k

