Sore itu, aku benar-benar bahagia. Mama menyisir rambutku di taman belakang rumah. Sambil bercerita, Mama mengisahkan jalan hidupnya dari beliau muda sampai sekarang. Mama juga menceritakan betapa miripnya aku dan Alana. Bukan hanya dari fisik saja, tapi juga sikap dan sifat. Masih kata Mama, katanya Alana itu anak yang sangat manja. Ia bahkan tidak bisa melakukan apapun dengan benar, hingga semua keperluannya Mama yang atur dan menentukan. Mama benar-benar hancur saat kehilangan Alana, bahkan nyaris gila karena tidak sanggup menampung derita. Aku menemani mama menangis, sampai tertawa lagi sore itu. Aku paham, bagaimana hancurnya perasaan seorang ibu kehilangan anak kesayangannya dengan cara yang tragis. “Duh, semenjak kamu di sini, Mama terlihat sering nangis. Maaf ya, Kay.” “Nggak ap

