Mengapa Om Riyan Marah?

1207 Words
"Kok ditutup mukanya?" "Takut Om ketawa." "Om jawab, tapi buka dulu. Jangan ditutupin mukanya, Kay." Perlahan aku membuka tas yang menutupi wajah, sementara Om Riyan masih sibuk menyetir dengan tenang. Apa aku yang kegeeran? Duh, padahal dia biasa aja. "Udah, Om. Sekarang jawab." "Oke, om jawab. Tadi pagi itu ... Om juga bingung, kenapa Om cium kamu? Sekarang pertanyaannya, apa kamu nggak suka?" "Suka kok!" Aih, keceplosan. "Maksud aku biasa aja." "Hahahaha ,Kay Ka ... Kamu ada-ada aja." Om Riyan terus tertawa. Apa ada yang lucu? *** Sampai di rumah aku turun setelah ia membukakan pintu. Kami masuk beriringan menuju teras, kemudian aku membuka pintu dan masuk. "Kay!" panggil Om Riyan. "Iya, Om?" tanyaku sembari menoleh. "Nggak apa-apa." "Ok." Melanjutkan menaiki anak tangga. Sampai di atas aku mandi, lalu melakukan salat Magrib. Mengapa hingga sekarang om Riyan belum naik juga? Selesai salat aku langsung turun ke bawah, penasaran. "Ya ampun, Om!" teriakku saat melihat luka yang mengoyak tepat kaki Om Riyan. Pantas saja dia agak pincang. Aku langsung berlari mendekatinya yang duduk di sofa. Ngeri aku melihat luka itu sampai pada lapisan kulitnya yang putih. "Om, luka di mana ini?" "Di kebun kepala sawit tadi, nggak sengaja nginjek benda tajam." "Om kan pake sepatu boot?" "Pas mau salat, Om nggak pake." "Ya ampun, gimana ini ya Allah." Aku takut, sehingga menangis. "Jadi gimana Om, sakit kan om? Buktinya Om sampe pucet gitu. Ya Allah gimana ini." Aku terus saja menangis. "Kay, jangan nangis. Om nggak apa-apa kok. Besok juga udah baikan." Ia berusaha menenangkan sambil mentutuli lukanya dengan kapas yang sudah diberi antibiotik. "Om mau minum kopi?" tanyaku masih sesenggukan. "Emang kamu bisa?" "Kayla akan usahain, Om. Tapi, om cepet sembuh, ya!" "Iya, Kay." Aku langsung ke dapur. Dengan jarak yang cukup jauh aku mengulurkan tangan menghidupkan kompor. Alhamdulillah kompor bisa menyala. Tiba-tiba tertatih Om Riyan menyusulku ke dapur. Ia duduk di meja makan memperhatikan. Aku merebus air tidak terlalu banyak, hanya untuk segelas kopi membuatkan Om Riyan. Kuambil toples gula dan kopi, lalu mengambil gelas. Kumasukkan gula beberapa sendok yang membuat Om Riyan tertawa. "Kay, gulanya 1 sendok aja." Protesnya. "Nanti nggak manis, Om?" "Manis, kan minumnya sambil liat wajah manis kamu." Aku yang masih menangis tersenyum seketika. "Manis tuh kalau senyum. Dah, jangan nangis lagi. Kopinya 1 sendok setengah, ya!" "Iya, Om." Aku menuruti kata-kata Om Riyan. Memasukkan sesendok gula dan sesendok setengah kopi. Air menguap, aku mendekat. Om Riyan nampak khawatir sehingga mendekat. "Kay, awas panas ya!" "Iya, Om." Aku mengambil lap yang tergantung di dinding, lalu mengangkat teko yang terbuat dari alumunium itu. Dengan sangat pelan memasukkan sedikit demi sedikit air panas ke sana. Setelah selesai om Riyan mengambil sendok dan mengaduknya. "Om, biar aku." "Dahlah, om aja. Kamu sudah bekerja keras merebus airnya. Hebat kamu nggak gosong." Om Riyan terkekeh. Ish! Aku cemberut. Aku tidak bisa membedakan, ia mengejek atau memuji sebenarnya. Aku menemani Om Riyan minum kopi di meja. "Om nggak salat?" "Udah, om salat di ruangan bawah sebelum kamu turun. Mau naik susah Kay. Soalnya kaki Om susah napak." Alisku saling bertaut, sedih. Ini pertama kalinya lihat Om Riyan sakit seperti ini. Sekarang aku bingung kami mau makan apa, karena sungguh aku tidak bisa masak apa-apa. "Om .... " "Iya, Kay?" "Kita ... mau makan apa?" *** Mobil melaju dengan pelan, biasanya pulang kerja om Riyan pasti membeli makanan untuk makan malam kami di rumah. Pernah satu kali ia yang masak. Goreng Ikan dan buat sambal, juga buat rebusan. Aku tahu, pola asuh yang Ayah terapkan padaku adalah salah. Bagaimana bisa sudah sebesar ini aku tak bisa melakukan apapun. Bahkan rebus air saja pernah sampe gosong. Menyapu sekenanya saja, tidak pernah bersih. Mencuci pakaian saja tidak pernah. Padahal aku adalah calon istri dan calon ibu untuk anak-anakku kelak, harusnya Ayah memberikan bekal yang cukup padaku. Aku mulai berpikir untuk belajar melakukan semuanya. Karena Om Riyan tidak mungkin terus melayaniku. Aku akan merasa bersalah kalau itu sampai terjadi. Kami berhenti di sebuah rumah makan. Memesan makanan dan minuman. Saat sedang menunggu, aku ingat Ayah di rumah. Dia makan apa, ya? Mau minta beliin sama om Riyan buat Ayah kok nggak enak. Makanan datang, kami makan dengan khusyuk. "Bungkus satu ya, Pak!" teriak Om Riyan. "Buat siapa, Om?" "Buat Ayah, Kay. Kamu nggak kepikiran mau kasih ayah?" "Kepikiran sih Om. Tapi, nggak enak mau bilang sama Om." "Lain kali ngomong aja, Kay. Ayah kamu kan Ayah aku juga." Seperti ada angin segar yang masuk ke celah-celah hati. Aku memegang pipiku yang menghangat. Aneh sekali dia cuma bilang seperti itu, kenapa aku yang tersipu? "Udah yuk! Pulang." "Iya, Om." Kami menuju kasir dan Om Riyan membayar, setelah itu langsung masuk ke mobil. Kami mampir ke rumah Ayah sebentar mengantarkan makanan, lalu langsung pulang. Sampai di rumah aku naik ke atas, tapi Om Riyan malah duduk di sofa. Menyadari kalau aku hanya naik sendiri, langkah terhenti dan menoleh ke belakang. "Om, kenapa nggak naik?" "Susah, Kay. Kaki Om sakit. Om tidur di bawah aja." "Nggak mandi dulu Om?" "Udah mandi di kebun, Kay." "Oh." Aku melanjutkan menaiki anak tangga. Meskipun ragu, aku mengambilkan selimut dan beberapa bantal untuknya. Sampai di bawah nampak Om Riyan berbaring di sofa yang panjang. "Nih Om!" Aku menyerahkan selimut dan bantal. "Perhatikan banget, makasih loh!" "Sama-sama." Aku tersenyum dan balik naik ke atas. Sampai di atas ada yang berbeda. Biasanya ada Om Riyan yang tidur di bawah, ini tidak ada. Biasanya ada yang membuat kesal, ini tidak ada. Aku mengambil dompet dan mengeluarkan foto adiknya Om Riyan. Rambutnya di kuncir dua. Aku menuju kaca dan menguncir rambutku. Bajunya berwarna pink. Aku membuka lemari dan mencari dress berwarna pink. Tak lupa memaakai kaca mata. Aku membuka laci dan mengambil kaca mata antiradiasi milikku dan memakainya. 'Waw .... Aku benar-benar mirip.' ucapku sendiri sambil memperhatikan diri dalam cermin. Om Riyan pasti sedih sakit seperti ini. Apa ini bisa menghiburnya? Aku ragu untuk turun ke bawah, tapi akhirnya kuberanikan diri. Perlahan aku menuruni anak tangga. Nampak Om Riyan, duduk dengan memegang ponselnya. Ternyata ia sudah berganti pakaian malam, kenapa aku tak melihatnya naik ke atas untuk mengambil pakaian, apa ... Di kamar bawah dia punya lemari pakaian lainnya? "Om!" teriakku yang membuatnya mendongak, lalu terpaku menatapku. Aku tersenyum, sayang gigiku tidak di pagar seperti adiknya. Aku kembali menuruni anak tangga. Sementara ekor mata Om Riyan lekat menatapku. Aku telah sampai di hadapannya. Tangan Om Riyan terangkat mengelus pipiku. Kemudian secepat kilat ia menarikku dan memeluk. "Alana, Abang kangen banget sama kamu." "Om, aku ... Kayla." Langsung saja Om Riyan melepasku. Tanpa kuduga, ia menangis. Om Riyan buru-buru mengusap ujung matanya dan kembali duduk dengan tenang. "Kay, mengapa kamu berdandan seperti ini?" tanyanya dengan wajah datar, tidak seperti biasanya. "Buat hibur Om Riyan, karena Om lagi sakit." "Sama sekali nggak lucu, Kay!” "Maaf, aku pikir, Om bakal suka." Dia hanya diam. Muka memerah. Ini pertama kalinya aku melihatnya marah. "Om marah? Maaf aku nggak tahu kalau dengan berdandan seperti ini akan membuat Om marah." "Naiklah. Om mau tidur." "Iya, Om." Dengan hati sedih aku naik ke atas. Beberapa kali kutoleh wajah Om Riyan, sayangnya wajah itu masih tak bersahabat. Sampai di kamar aku duduk di ujung ranjang, kemudian berpikir. Sebenarnya ada apa? Kejadian ini benar-benar membuatku bingung. Mengapa Om Riyan musti marah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD