Malam ini aku tidur rasanya tidak tenang. masih terbayang wajah Om Riyan yang memerah saat sadar kalau ternyata aku adalah Kayla, bukan Alana adiknya. Apa sikapku yang demikian menyakitinya? Aku menjadi merasa bersalah akan ini semua. Haruskan aku meminta maaf padanya besok? Tapi, bukankah ayah sering bicara, kalau salah ya harus minta maaf, masalah harus segera diselesaikan supaya hidup kita damai. Kupikir, apa yang dikatakan ayah itu benar, buktinya malam ini aku gelisah dan tidak bisa tidur karena punya masalah dan belum menyelesaikannya. Semoga besok hati Om Riyan sudah membaik. Aamiin.
“Om, maaf ya kalau sikap aku semalam membuat Om marah.”
Aku membuka obrolan saat kami sarapan di meja makan. Pagi ini Om Riyan membeli sarapan di luar. Kami bahkan belum saling bertegur sapa satu sama lain. Om Riyan masih fokus pada makanannya. Aku memutuskan tidak melanjutkan kata-kata setelah melihat reaksinya. Barangkali bisa kucoba lagi nanti malam. Selesai sarapan laki-laki itu langsung pergi untuk bekerja. Ia hanya mendekat untuk bersalaman, masih dengan sikap yang sama, diam. Setelah ia melangkah pergi aku memanggilnya.
“Om!” Ia menghentikan langkah. Aku memberanikan diri untuk jalan mendekat, dan kini sudah berdiri di depannya. Kami saling menatap, hingga kuulas senyuman untuk mencairkan suasana. “Hati-hati di jalan.” Aku berjinjit, lalu mencium pipinya, setelah itu langsung meninggalkannya yang masih mematung di sana. Aku langsung menuju kamar, dan menutup pintunya. Tidak berapa lama terdengar suara deru mobil menjauh dari rumah. Aku keluar kamar, memperhatikan mobil Om Riyan yang sudah menjauh dari halaman. Huff, apa sikapku ini salah? Aku hanya ingin menunjukkan padanya, kalau aku merasa bersalah dan siap memperbaiki semuanya. Semoga Om Riyan segera memaafkanku.
***
Di rumah, aku gelisah menunggu Om Riyan pulang. Jujur, rasanya sangat ingin menceritakan hal ini pada ayah, tapi aku takut mengusik pikirannya. Aku ingin yang ayah tahu aku hanya bahagia, dan lelaki yang dipilihkannya adalah pria baik seperti yang ia impikan. Aku melipat mukena setelah salat salat asar, biasanya sebentar lagi Om Riyan pulang. Aku langsung turun ke bawah untuk membuatkannya segelas minuman. Sepertinya tidak terlalu sulit membuat secangkir kopi seperti yang kulihah di youtube sejak pagi. Hanya tinggal mencampur gula dan kopi dalam satu gelas, setelahnya tuangkan air panas. Aku yakin aku bisa. Sampai di bawah aku langsung mengambil gelas, kemudian mempraktekkan apa yang sudah aku pelajari seharian. Meskipun takut untuk menghidupkan kompor, tapi aku nekat memberanikan diri untuk bisa menyalakannya. Awalnya gagal, kompornya tidak mau menyala, tapi bersyukur setelah mencoba berkali-kali, akhirnya apinya hidup juga. Segera aku meletakkan teko yang biasa kami pakai untuk merebus air.
Aku duduk di kuris meja makan, menatap takjub gelas berisi kopi yang baru saja aku buat. Sungguh, aku tidak menyangka jika bisa membuatnya. Teryata aku pintar juga. Aku tertawa sendiri seraya menutup wajah dengan sebelah tangan, lalu mencicip kopi yang barusan aku buat. Dahiku mengerut setelah mencicipinya, kenapa rasanya seperti ini? Aku coba searching di google. Sebab-sebab rasa kopi hambar, padahal sudah diberi gula. Muncul tulisan, coba periksa gulanya, apakah sudah larut atau belum, jika belum kita harus mengaduknya lagi. Ya ampun, aku memang belum mengaduknya, wajar saja kalau tidak ada rasa. Aku memukul kepalaku sendiri, kesal. Setelahnya mengaduk kopinya supaya rasanya enak. Kembali kucicipi rasanya, dan alhamdulillah rasanya enak.
Aku menutup gelas, kemudian menjauh dari sana untuk menonton TV, kubuka channel khusus film anak-anak. Aku suka menonton film kartun. Selain lucu, tingkah hewan-hewan itu juga menggemaskan. Bosan, aku melirik ke arah jam. Di sana menunjukkkan pukul 21.00 malam. Tumben sekali Om Riyan belum pulang, apakah dia tega membiarkan aku sendirian, sehingga memilih tidak pulang? Aku menunduk, mematikan TV, lalu berbaring di sofa ini. Kata ayah Om Riyan sabar dan baik, apa rasa sabar dan sikap baiknya tak ada lagi hanya karena sikapku kemarin? Entah mengapa rasanya tiba-tiba hatiku tiba-tiba sesak, aku merasa bersedih. Kupeluk dengan erat bantal yang ada di sini, lalu menghapus air mata dengan kerah baju yang aku kenakan.
“Kenapa nangis? Udah mandi belum?”
Tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku. Aku langsung beringsut duduk, dan menghapus air mata. Menoleh ke belakang, terlihatlah Om Riyan sudah berdiri di sana. Kapan dia pulang, kenapa secara mendadak ada di sana?
“Masih mau nangis?” Aku menggeleng. Om Riyan mendekat, kemudian mengusap pucuk kepala. “Om mandu dulu, ya. Kopinya udah dingin tuh, buatin lagi ya, satu gelas. Yang itu udah Om abisin dan rasanya .... “ Aku terus memperhatikannya, berharap ia suka. “Mantap!” Akhirnya aku tersenyum mendengar penuturannya.
Om Riyan langsung naik ke atas, sedangkan aku langsung menuju ke dapur untuk membuatkannya lagi segelas kopi panas. Melihatnya sudah kembali ceria membuat hatiku bahagia, terlebih ia suka dengan kopi yang aku sajikan, sehingga membuatku bersemangat kembali membuatkannya. Aku telah selesai, kuletakkan gelas kopi di meja makan. Aku duduk menunggunya datang. Tidak berapa lama Om Riyan turun dengan piyama tidur berwarna abu-abu, rambutnya masih basah dan wajahnya tampak segar. Dari kejauhan ia sudah tersenyum melihatku.
“Diajarin siapa buat kopi?” tanyanya seraya duduk di sampingku.
“Google, Om.”
“Oh, rasanya enak banget loh.”
Aku hanya tersenyum. Om Riyan menceritakan banyak hal perihal pekerjaanya. Ia juga mengatakan kalau ayah baik-baik saja dan menitip salam. Aku tersenyum mendengar ceritanya, lega saat mendengar kalau ayah baik-baik saja.
“Tadi siang makan apa?”
“Pop mie, Om. Seharian ini aku belajar masak pop mie dan bikin kopi.”
“Pinter, besok-besok mau belajar masak apa lagi?”
“Mau belajar masak nasi sama yang lainnya, Om.”
Aku berusaha tersenyum. Om Riyan mengangguk beberapa kali. Malam ini sebenarnya aku lapar. Selain makan pop mie, aku juga hanya ngemil makanan ringan yang ada di rumah ini. Hanya saja, seharian aku belum makan nasi. Ingin mengajaknya keluar untuk makan, tapi aku tidak berani. Akhirnya aku hanya diam, berharap dia mengajak keluar tanpa kuminta.
“Eh, kamu laper nggak?”
“Laper sih, Om!” sahutku cepat yang membuat Om Riyan tercengang. “Duh, kelepasan maaf, Om. Maksudku ya ... laper sih.”
Om Riyan hanya mengulas senyum mendengar klarifikasiku. “Ya udah, siap-siap, ya. Kita cari makan di luar.”
Alhamdulilah ....
***
“Om, maaf untuk yang semalem.”
Mendengar aku mengatakan ini Om Riyan menghentikan laju kendaraanya. Ia menarik napas panjang, lalu menghadap ke arahku.
“Om yang harusnya minta maaf sudah buat kamu sendih.”
“Aku paham kok, Om. Mungkin becandaan aku yang kelewatan.”
Kemudian laki-laki ini kembali menghadap ke depan, lalu mendongak dan menyandarkan punggungnya ke daun kursi.
“Alana, meninggal dengan cara yang mengenaskan. Dia diperkosa, dibunuh dan jasadnya dibuang. Saat ditemukan mayatnya sudah membiru.”
Aku terpaku mendengar penuturannya.
“Ya Allah, maaf Om, aku nggak tahu.”
“Iya, Kay. Kamu nggak tahu apa-apa. Aku memang sedikit sensitif soal Alana, entahlah sulit sekali mengikhlaskan kepergiannya. Melihatmu malam itu membuatku merasa bahwa kamu itu dia, dan saat sadar kenyataanya, luka lama itu kembali menganga.”
Melihat penderitaan Om Riyan membuatku menangis.
"Maaf, Om. Aku janji nggak akan seperti itu lagi. Janji ...,” ucapku lirih seraya mengatupkan dua belah telapak tangan di depan d**a.
Melihat itu Om Riyan mendekat, kemudian mendekap erat. “Udah, nggak apa-apa, Kay. Kamu nggak salah kok.”
Ia menghapus air mata, setelahnya kami melanjutkan perjalanan. Sampai di restoran Om Riyan memesan makanan, hanya saja dompet dan ponselnya diletakkan di meja. Saat Om Riyan tidak ada, ponselnya bergetar, tertera nama seseorang di layarnya.
[Mas, sampai kapan kamu di sana? Kapan kita bertemu?]
Tanpa sengaja aku membaca isi dari chatnya sebelum layar hape itu kembali gelap.