Ikut ke Kota

1114 Words
Siapa yang mengirim pesan barusan? Apakah itu salah satu dari keluarganya? Aku jadi super penasaran setelah membaca isinya. Apa kutanyakan saja pada Om Riyan, siapa yang chat dia barusan? Tapi ah ... apa aku tidak terlalu mencampuri urusannya jika demikian. Akhirnya, aku memilih diam. Pura-pura tidak tahu masuknya chat barusan. Om Riyan datang, ia langsung memeriksa ponselnya. Sejenak menatapku, lalu seperti mengetik sesuatu. “Kay, kamu mau pesen apa?” “Sama aja, Om.” “Oke.” Om Riyan memanggil pelayan dan menambah pesanan. Selama menunggu Om Riyan nampak asik dengan ponselnya. Apa om Riyan masih berbalas pesan dari orang tadi? Pelayan mengantar makanan. Kami makan dengan ketenangan. Setelah makan, tidak lupa Om Riyan membungkus untuk ayah di rumah. Bibirnya tersenyum, melihat perhatian yang lelaki ini tunjukkan untuk ayah. Dia tidak pernah lupa membungkusnya setiap kali kami makan di luar. Kami langsung menuju ke parkiran untuk pulang setelahnya. “Om, mau ke rumah ayah dulu, ‘kan?” “Iya. kenapa, Kay?” “Nggak apa-apa. Aku cuma mau ngucapin makasih, karena Om Riyan selalu ingat sama ayah.” “Sama-sama. Bukankah kamu sudah jadi istriku, berarti ayahmu juga ayahku.” Senyumku melebar mendengar kalimat itu. Sungguh, untuk pertama kainya, aku bahagia dan bersyukur ayah menikahkan aku dengannya. Aku jadi senyum-senyum sendiri setelah mendengar kalimat darinya. Sampai di rumah ayah, kami langsung turun dan memberikan bungkusan makanan. Kami juga mampir sebentar untuk mengobrol. Selama obrolan berlangsung, mataku fokus menatap Om Riyan. Rasanya, ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam hatiku. Ya ampun, apa aku sudah mulai jatuh cinta dengan om-om tampan satu itu? ** “Om, bisa naik ke atas?” tanyaku setelah kami sampai di rumah, dan hendak naik ke atas. Aku bertanya hal ini karena mengingat kaki Om Riyan kemarin terluka. “Udah bisa kok, Kay.” “Serius?” “Kita coba, ya!” Akhirnya Om Riyan melangkahkan kaki menaiki anak tangga. Syukurlah ternyata sudah bisa. Aku berjalan di belakang tubuh Om Riyan. Berjaga-jaga supaya dia tidak jatuh, tapi baru saja sampai di tengah-tengah kakiku terpeleset dan ... “Aw!” Aku hampir saja jatuh, tapi beruntung Om Riyan langsung menoleh ke belakang dan menangkap tubuhku. Kami bertatapa cukup lama, hingga Om Riyan kembali menegakkan tubuhku, lalu bertanya. “Kamu nggak apa-apa, Kay?” “Nggak apa-apa, Om. Makasih, ya!” “Lain kali lebih hati-hati. Sini, kamu jalan lebih dulu aja, jangan di belakang, supaya Om bisa jagain kamu.” Aku menaiki beberapa anak tangga hingga posisiku tepat berada di depannya. Duh, kok jadi aku yang dijagain sih? Padahal kan aku yang harusnya jaga Om Riyan yang lagi sakit. Aku menepuk kening sendiri. Sampai di kamar, Om Riyan langsung membentang ambal. Kasian, tapi nanti kalau dia khilaf andai aku minta tidur di atas gimana? “Kay, minta selimut sama bantal.” Aku mengambilkannya, lalu memberikannya. Om Riyan berdiri, ia berjalan ke arah lemari. Aku juga berdiri untuk menggantungkan tas ke belakang pintu. Saat aku berbalik aku melihat Om Riyan membuka ikat pinggangnya yang membuat aku terpekik dan menutup muka dengan kedua tangan. “Om, porno banget sih, Om? Kenapa lepas-lepas celana?!” protesku seraya berbalik memunggunyinya. Terdengar Om Riyan tertawa. Bukannya menjauh ia malah mendekat yang membuat detak jantungku seakan berhentin berdetak. “Kay!” Ia menjawil lengan. “Nggak usah pegang-pegang, Om!” Aku menjauh, tapi Om Riyan kembali mendekat. “Kay, hadap sini dulu dong.” “Nggak mau! Dasar, om-om m***m!” Suara tawanya semakin menggelegar. “Astaghfirullah, Kay!” Om Riyan sudah ada di depanku. Ia memegang kedua tanganku dan memaksa membukanya. “Buka mata kamu, ayo buka! Lihat dulu, Kay.” “Nggak mau, Om! Ih males banget!” Aku masih memejamkan mata. “Kalau kamu nggak mau buka mata, Om cium nih!” Mataku langsung terbuka, tapi tatapaku tertuju lurus ke depan di mana sudah ada wajah Om Riyan di sana. “Sudah, aku sudah buka mata, awas ya kalau om berani cium-cium,” kataku gugup. “Oke, sekarang liat ke bawah!” perintah Om Riyan santai. “Apa-apaan? Nggak mau! Jangan maksa ya, Om.” Tanpa aba-aba, Om Riyan langsung menekan kepalaku supaya melihat ke bawah. Aku kaget luar biasa, tapi kemudian jadi malu sendiri saat menyadari ternyata dia memakai celana pendek. “Udah lihat?” Aku mendongak, sambil tersenyum samar. “Duh, maaf, Om. Kirain.” “Mangkanya, jangan asal nuduh, Kayy.” Om Riyan mendorong pelan keningku dengan jari telunjuknya, tapi setelahnya tertawa. “Dah, lain kali liat-liat dulu, ya!” “Iya, Maaf ...,” sahutku lemas. Om Riyan menjauh, lalu langsung berbaring di bawah sana. Aku berjalan ke arah lemari, lalu mengambil baju tidur, setelahnya masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Di kamar mandi, aku juga jadi tertawa sendiri ingat kejadian tadi. “Dasar bodoh kamu, Kay!” rutukku dengan suara tertahan dan memukuli kepalaku sendiri berulang kali. Keluar dari kamar mandi, aku langsung menuju ke pembaringan. Setelahnya tidur dengan menghadap ke arah dinding. Om Riyan masih terlihat berbaring dan memainkan hapenya. ‘Selamat malam, Om. Semoga mimpi indah,’ bisikku dalam hati, baru memejamkan mata ini. ** Paginya, kami sarapan dengan roti dan menuman hangat. Tadi pagi Om Riyan salat di mushola yang baru di bangun tidak jauh dari rumah. Dia pulang hampir pukul 6, karena ngobrol-ngobrol dulu dengan tetangga yang juga salat subuh di sana. Aku merasa pagi ini Om Riyan terlihat lebih pendiam, apa perasaanku saja, ya? “Om.” “Ya?” “Tumben diem aja.” “Kay.” “Ya?” Om Riyan menatap mataku lekat. "Kenapa, Om?” “Minggu depan, kita akan pindah ke kota.” “Jadi? Ayah gimana?” “Kita ajak.” “Kalau ayah nggak mau?” mataku sudah dilapisi kilatan kaca. “Mau gimana lagi, Kay. Om harus bawa kamu, karena sekarang kamu adalah istri Om.” Aku diam, semakin lama rasa sedih itu semakin menyeruak, hingga Om Riyan meletakkan rotinya, lalu memeluk kepala. “Om janji akan cari orang yang akan menjaga ayah di sini.” Kemudian aku menangis. ** Malamnya aku tidak bisa mengatakan apa-apa pada Ayah saat kami datang ke rumahnya. Ayah hanya tersenyum seraya membelai pucuk kepalaku. Katanya, ayah masih ingin menjaga dan menunggu rumah ini. Ayah sudah terbiasa hidup dan mengurus diri sendiri, sehingga menolak saat Om Riyan menawarkan orang lain untuk membantu dan menemaninya di sini. Malam sebelum akhirnya kami pergi, aku dan Om Riyan tidur di rumah ayah. Aku memeluk ayah sepajang malam, rasanya tidak sanggup jika harus jauh darinya, tapi nasihat ayah benar. Sekarang, aku adalah istri dari Om Riyan, sehingga harus ikut ke manapun dia pergi. Om Riyan berjanji setiap bulan kami akan rutin mengunjungi ayah. Toh perjalanan dari desa ke kota hanya enam jam perjalanan saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD