Bertemu Mama Mertua

1101 Words
Aku hanya duduk menunduk saat tiba di rumah Om Riyan. Sementara berseberangan meja denganku. Mamanya Om Riyan menatap terpaku. Ia tidak bisa berkata-kata melihat keberadaanku. Apakah, mamanya Om Riyan tidak suka dengan kehadiranku? Perlahan ia berdiri, lalu mendekati tubuh ini. Mama duduk di dekatku, lalu membelai pucuk kepala. “Riyan, gadis cantik ini siapa, Nak?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca. “Ma, kenalin, saya Kayla. Istrinya Om Riyan.” “MashaAllah .... “ Aku mengambil punggung tangannya, lalu menciumnya dengan takzim. Tanpa kuduga, Mama memeluk kepala ini sambil menangis. Aku tidak mengerti, sehingga hanya bisa diam, sambil menatap Om Riyan, yang juga sedang menangis. “Mama merasa anak mama kembali lagi. Ya Allah .... “ Aku baru sadar, kalau memang aku mirip dengan adiknya Om Riyan yang sudah meninggal. Mama menangis tersedu-sedu, hingga aku juga jadi ikut terharu. Puas menangis, mama mengajakku ke meja makan. Beliau memasakkan berbagai jenis makanan dan meminta aku mencicipinya. ** Di kamar, saat kami istirahat. Om Riyan terus saja berdiri di dekat pintu, untuk menatapku. Aku yang sedang duduk di ujung kasur, menjadi salah tingkah dibuatnya. “Om, kenapa sih liatin aku gitu?” tanyaku dengan bibir mengerucut. Om Riyan hanya tersenyum, lalu berkata. “Kay, makasih, ya!” “Buat apa, Om?” “Sudah membuat mama bahagia. Sebelum ini, mama tidak mau keluar dari kamar. bahkan, beliau selalu minta pindah rumah, tapi sepertinya setelah bertemu kamu, mama akan kembali betah di rumah ini.” “Iya, kah?” Om Riyan mengangguk, setelahnya mendekat ke arahku, lalu memeluk. Aku hanya bisa diam, lalu tersenyum. Usai memeluk, Om Riyan memintaku tidur. Ia berbaring di kursi sofa yang ada di sudut kamar. Ya Tuhan, apa ini yang disebut bahagia dan jatuh cinta. Ternyata rasanya indah banget, ya. Aku tidak bisa tidur, terus terbayang tatapan mata Om Riyan saat tadi berterimakasih padaku. Sudah jam 12 malam, tapi mataku masih enggan terpejam. Barangkali aku kesulitan tidur karena suasana baru. Padahal saat pertama kali pindah ke kontrakan Om Riyan dulu aku bisa tidur meskipun sering terbangun. Aku beringsut duduk dan melihat Om Riyan yang sudah tidur terlelap. Sepertinya ia sangat kelelahan. “Kenapa nggak tidur?” tanyanya sembari membuka mata. Aku pikir dia sudah tidur. Jujur saja, aku jadi malu karena ketahuan sedang memandangi wajahnya. “Om, belum tidur?” “Tadinya udah, tapi karena denger suara, jadi kebangun.” Om Riyan duduk. “Kenapa nggak tidur?” “Kepikiran ayah, Om.” “InshaAllah ayah baik-baik aja. Besok kita telepon kalau udah pagi. Soalnya ini dah larut malam.” “Iya, Om.” Aku masih saja duduk menunduk. Melihat aku, Om Riyan menyibakkan selimut yang menutupi bagian kakinya, lalu berdiri dan berbaring di sebelahku. Aku terkesiap, dan bengong memandangnya. “Om, kenapa di sini?” Ia tersenyum, menarik tanganku begitu saja hingga aku terjatuh ke dalam pelukannya. “Mau ngelonin bayi! Udah, tidurlah. Om temenin kamu malam ini. Besok-besok kalau udah terbiasa, baru Om tidurnya di sana,” katanya seraya memeluk tubuh ini dan menyembunyikan kepalaku dalam dadanya. Aku pura-pura memberontak tidak mau, meskipun pada akhirnya, diam-diam tersenyum juga karena bahagia. *** “Kamu mau makan apa, Nak?” tanya mama saat pagi itu kami duduk di kursi meja makan. “Apa aja, Ma.” “Jangan apa aja, biasanya si bungsu suka makan ini. Kamu mau coba?” “Boleh, Ma.” Sahutku dan dengan mata berbinar Mama menyuapkan lontong sayur ke dalam mulut ini. “Gimana, enak?” “Enak banget, Ma.” “Alhamdulillah, kamu makan yang banyak ya.” “Makasih, Ma.” Mama mengusap kepalaku, lalu mencium kening ini cukup lama, yang membuat aku terdiam. Apa begini rasanya dikasih oleh seorang Ibu? Aku bahkan lupa rasanya disayangi oleh ibu kandungku sendiri. Setelah Mama mencium, mataku berkaca-kaca. Aku tidak bisa menggambarkan rasa bahagia ini dipertemukan dengannya. Setelah makan meminta Om Riyan menemaniku menonton televisi. Saat duduk di sofa ruang tengah, Om Riyan menelepon ayah. Aku sangat bahagia, sehingga menceritakan segala sesuatu dengan ayah. Cinta pertamaku berpesan, jika aku sudah bisa mencintai Om Riyan, maka belajarlah menjadi istri yang baik untuknya. Ayah meminta aku belajar masak dan beres-beres rumah, supaya bisa mengurus suami dengan baik. Karena aku memang merasa rasa itu sudah ada di hatiku, sehingga aku berjanji pasti akan menjadi istri yang baik di sini. “Orangtuanya Pak Riyan gimana di sana? Baik sama kamu?” “Baik banget Ayah, malahan karena mama di sini, Kay bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang selama ini tidak Kay rasakan,” sahutku dengan setetes air mata. “Alhamdulillah. Belajar sama mamamu di sana untuk banyak hal. Jadilah istri yang baik untuk suamimu.” “Iya, Ayah.” “Janji sama ayah?” “Janji! Tapi ayah juga harus berjanji.” “Janji apa?” “Ayah harus selalu sehat, jangan telat makan, jangan terlalu lelah dan harus sehat dan panjang umur.” “Aamiin. InshaAllah, ayah akan ingat itu. Ya sudah, aku kerja dulu ya. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam, Ayah.” Sambungan telepon terputus, aku mengembalikan ponsel Om Riyan, lalu duduk di sampingnya. Herannya setelah mendengar suara ayah, rindu ini bukannya mereda, tapi malah semakin membuncah.” “Kok malah nangis?” Om Riyan sedikit menunduk memperhatikan wajahku. “Masih kangen sama ayah, Om,” sahutku seraya beberapa kali menghapus air mata di pipi. Laki-laki itu berdiri, lalu ke belakang. Tidak berapa lama datang mama dari arah belakang. Melihat aku menangis, Mama langsung memeluk dan menenangkan. “Sayang, kan ada Mama, ada suami kamu juga Riyan. Jangan sedih, ya. Nanti kita telepon ayah kamu setiap hari, supaya tahu keadaanya, Oke?” Aku mengangguk. “Iya, Ma.” Setelah keadaanku sedikit lebih tenang, Mama meminta Om Riyan untuk membawaku jalan-jalan keliling kota. Di jalan aku hanya membuang pandangan ke luar jendela. Bayang-bayang kebersamaanku dan ayah masih berkelebat di pelupuk mata. Selama ini kami tidak pernah hidup terpisah, kalaupun saat aku menikah dengan Om Riyan pisah rumah, tapi jaraknya dekat. “Kay, kita mall, mau?” “Kay nurut aja, Om,” jawabku tak bersemangat. “Jangan nurut aja, dong. Kita main di mall, ya. Mau?” Aku menoleh, tersenyum, lalu mengangguk setuju. Akhirnya kami mampir ke sebuah mall. Suasana mall cukup ramai hari ini. setelah memarkir kendaraan, kami masuk beriringan. Kami langsung menuju ke atas untuk bermain berbagai permainan. Membeli koin untuk memainkan banyak hal. Hati yang tadinya sedih, cukup terhibur seketika. Kami tertawa, dan mencoba berbagai permainan yang ada. Hingga saat kami hendak menuju ke lantai bawah untuk makan, tanpa sengaja kami bertemu seseorang yang membuat Om Riyan menghentikan langkahnya. “Mas, kamu sudah pulang?” Aku terdiam, melihat wajah Om Riyan dan wanita itu secara bergantian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD