Aku duduk di meja yang berbeda dengan Om Riyan. Ia membelikanku es cream, chiken, dan minuman bersoda di sini. Sementara Om Riyan duduk di ujung sana dengan wanita tadi. Aku jadi penasaran siapa wanita itu, apakah itu temannya Om Riyan? Sambil makan sesekali aku memperhatikan mimik wajah mereka berdua. Entah mengapa aku merasa wajah wanita itu terlihat bersedih, sedangkan Om Riyan nampak tegang. Apa mereka memiliki masalah yang serius? Aku mengunyah ayam dan nasi yang dihidangkan, tapi sorot mataku tak lepas dari mereka berdua.
Saat sedang fokus menatap mereka, tiba-tiba Om Riyan menoleh, yang membuat aku kaget. Tanpa kuduga ia mengulas senyum sambil melambaikan tangan. Om Riyan juga meminta aku sabar menunggu dengan isyarat tangan. Aku mengangguk mengerti, kembali memakan makananku. Setelah cukup lama, Om Riyan berdiri dari sana, lalu mendekatiku. Ia duduk di hadapanku.
“Gimana makananya, enak?”
“Enak. Om sama Tante itu nggak makan?”
“Kami minum aja. Biasa, itu teman lama.”
Aku mengangguk mengerti mendengar penjelasannya. Selesai makan chicken, aku lanjut menghabiskan es cream, pun minuman bersoda.
“Jangan nggak gendut ya makan sebanyak ini.”
Om Riyan mengacak pucuk kepalaku. Aku tersenyum mendengarnya.
“Om, sebenarnya aku makannya memang banyak, tapi nggak tahu kenapa nggak bisa gendut.”
“Masa’?”
“Serius, Om.”
Selesai makan, kami pergi dari sana. Aku masih melihat wanita itu masih duduk di sana seraya menatap kepergian kami berdua. Om Riyan menggandeng tanganku saat kami keluar dari tempat makan. Sesekali aku menoleh ke belakang untuk melihat wanita itu. Ia melihat kami dengan tatapan tak suka menurutku, entah karena apa. Kami langsung menuju ke parkiran untuk pulang. Sampai di parkiran pria yang usianya jauh diatasku itu langsung membukakan pintu. Aku mengucapkan terimakasih, lalu masuk.
“Om.”
“Ya?”
“Nama tante tadi siapa?” tanyaku di dalam mobil saat perjalanan pulang.
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa sih Om, nanya aja. Siapa tahu nanti ketemu di jalan.” Om Riyan langsung menoleh ke arahku, dan aku hanya tersenyum. “Kenapa, Om?”
“Nggak, nggak apa-apa. Namanya Tiara.”
“Oh, jadi namanya tante Tia.”
Om Riyan hanya diam. Dia sudah fokus menatap jalanan di depan sana. selanjutnya hening hingga kami sampai di rumah. Mama langsung memintaku mandi ketika kami sampai. Beliau juga membuatkanku segelas s**u dan diantarkan ke kamar.
“Udah makan belum?” tanya Mama saat datang ke kamar.
“Udah makan banyak dia, Ma,” sahut Om Riyan.
“Iya, Ma. Tadi udah diajak makan.”
“Wah, sayang sekali. Padahal mama udah masak loh.”
“Tapi Riyan belum makan kok, Ma. Nanti biar aku temenin makan malamnya.”
“Rey juga ikut turun, ya. Cicipin aja masakan Mama.”
Aku dan Om Riyan saling bertatapan. Om Riyan mengangguk perlahan, memintaku menyetujui permintaan Mama. Aku mengerti dan langsung mengiyakan ajakan mama.
“Oh, harus itu. Rey harus icipin masakan mama. Pasti enak!”
Mama tersenyum mendengar penuturanku.
“Alhamdulillah, mama tunggu di bawah setelah salat Isya ya.”
“Oke mama.”
Aku menunjukkan dua jempol tangan dengan ceria yang membuat mama mengulas senyuman. Setelah salat isya berjamaah dengan Om Riyan, kami berdua turun untuk memenuhi permintaan mama. Sampai di bawah ternyata mama sudah menunggu dan menyiapkan semuanya. Aku jadi merasa tidak enak, karena sudah beberapa hari di sini, tapi belum pernah membantu mama melakukan apa-apa.
“Yuk, makan! Ini punya kamu sudah mama siapin.”
Mama memberiksan semangkuk sup hangat padaku. Aku menerimanya dan tidak lupa mengucapkan terimakasih. Kami makan bertiga. Om Riyan sangat lahap makan malam ini. Mungkin dia lapar, karena tadi saat kami jalan-jalan memang aku sendirian yang makan, mengingat dia ada urusan dengan Tante Tia. Selesai makan Om Riyan membantu mama mencuci piring, sedangkan aku mengelap meja, karena belum sempat belajar untuk mencuci piring kotor, jadi takut pecah.
Aku duduk menonton film kartun di depan televisi, sedangkan Om Riyan terdengar asik mengobrol dengan mama di sofa.
“Jadi kamu besok udah mulai kerja?” tanya mama.
“Iya, Ma. Kebetulan besok orang-orang udah mulai kerja. Untung proyeknya dekat sini, jadi aku nggak perlu nginep.”
“Syukurlah. Kasihan sama Rey kalau kamu pergi jauh soalnya.”
Aku pura-pura tidak mendengar, tapi jauh di dalam lubuk hati ini bahagia, karena mama sangat memperhatikan kebahagiaanku di sini.
“Riyan tahu kok, Ma. Kalau pun suatu saat terpaksa harus pergi-pergi jauh, Riyan pasti bakal ajak mama dan Kayla untuk ikut dengan Riyan.”
Mama tersenyum, lalu mereka berpelukan. Sadar aku ada di sana, Mama dan Om Riyan turun dari sofa, lalu melakukan hal yang sama. Kami, berpelukan betiga.
“Udah bisa tidur belum malam ini?” tanya Om Riyan saat kami sudah ada di kamar siap akan tidur.
“Kayanya bisa, Om.”
“Syukurlah. Ya udah Om tidur, ya. Capek soalnya.”
“Oke, Om.”
Laki-laki itu tersenyum, kemudian merebahkan tubuhke ke sofa. Ia juga menarik selimut sampai ke bahunya. Setelahnya memejamkan mata untuk tidur. Aku melepas sandal, lalu menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil, setelahnya sikap gigi dan cuci muka, baru kembali ke pembaringan. Aku mencoba memejamkan mata, sialnya masih tidak bisa tidur hingga pukul 12 malam. Aku terbangun, lalu duduk. Tanpa kuduga, lagi-lagi Om Riyan terbangun. Mendekat, lalu langsung menarik tubuhku untuk berbaring di ranjang. Setelah berbaring di ranjang seperti biasa ia menyembunyikan wajahnya dalam dadanya.
“Tidurlah,” katanya kemudian.
Aku diam saja, menahan letupan dalam d**a yang rasanya tidak karuan.
‘Good Night, Om Riyan,’ ucapku selanjutnya. Sayang hanya berani kuucapkan dari dalam hati saja.
**
Pagi. Setelah salat subuh aku memberanikan diri turun ke bawah. Aku bertekad mulai hari ini, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Om Riyan. Aku akan belajar masak, belajar melayaninya dan belajar menjadi pasangan yang baik untuknya. Terlihat mama sedang menggoreng sesuatu.
“Pagi, Ma,” sapaku setelah posisiku sudah dekat dengannya.
“Hay, pagi, Sayang. Gimana tidurnya, nyenyak?”
“Nyenyak, Ma. Oh iya ada yang bisa aku bantu, Ma?”
“Nggak usah, nanti kamu capek. Biar mama aja, ya.”
“Tapi, Ma .... “
“Udah, kamu duduk aja.”
Mama memegang bahuku, dan mendudukkanku di salah satu kursi meja makan.
“Ma, aku biasa buatin kopi Om Riyan loh.”
“Oh, ya?” aku mengangguk. “ya udah, nggak apa-apa deh kalau mau buatin kopi suamimu, tapi janji Cuma buat kopi, ya?”
“Janji, Ma.”
Aku berdiri, kemudian berjalan ke arah lemari piring. Sampai di sana kuambil gelas untuk membuat kopi. Mama memberitahu ambil air panas di dispenser saja, karena khawatir jika aku merebus air. Aku meracik segelas kopi dan dua gelas teh untuk kami. Memasukkan air panas, lalu mengaduknya di meja.
“Ma.”
“Iya, Nak?”
“Kemarin waktu kami ke mall, kami bertemu dengan temannya Om Riyan.”
“Oh ya? Siapa?”
“Namanya Tante Tia.”
Mama mengentikan aktifitasnya. Ia mengangkat gorengan, lalu meniriskannya.
“Tia? Siapa, ya? Kok mama baru dengar Riyan punya teman yang namanya Tia?”
“Nama lengkapnya Tiara, Ma.”
Sontak Mama langsung menoleh ke arahku seolah terkejut akan sesuatu. Kenapa, ya? Apa aku salah bicara?