4. Degupan Kencang

1578 Words
Kenan masuk kembali ke ruangannya, asistennya juga hendak ikut masuk dan menutup pintu, namun tiba-tiba Kenan menyuruhnya untuk menunggu diluar dan pintunya dibuka saja agar Keyra tak perlu mengetuknya nanti. Kenan kemudian duduk di kursinya, tak dapat dipungkiri bibirnya tertarik ke dua sisi mengingat bagaimana ekspresi gugup Keyra tadi, terlihat lucu sebenarnya, maka dari itu ia dengan tiba-tiba membuat sebuah peraturan baru agar ada alasan buat dirinya sedikit hukuman untuk perempuan itu. Suara ketukan pintu membuat Kenan menoleh dan mendapati Keyra berdiri kaku di ambang pintu, ia berdeham sembari membaguskan letak jasnya agar semakin pas di tubuhnya. "Masuk, tutup pintunya," perintah Kenan terdengar keras. Keyra mengangguk, ia masuk dan menutup pintu, berjalan mendekati meja Kenan dengan gugup yang semakin-makin, ia bahkan harus berkali-kali menghembuskan nafas lewat mulutnya berharap rasa gugupnya hilang sedikit saja. Kenan duduk memperhatikan Keyra dari atas ke bawah, perempuan itu mempunyai kecantikan yang natural, rok pendeknya itu sebenarnya merugikannya karena memperlihatkan kaki jenjangnya secara gratis kepada semua lelaki yang ditemuinya. Melihat Kenan yang diam saja tidak berbicara apa-apa, membuat Keyra merasa pegal pada kakinya, ia melirik ke arah sofa disebelahnya, mendekati dan hendak duduk disana sampai Kenan berbicara yang membuatnya malu setengah mati. "Siapa yang suruh kamu duduk disana?" Keyra kelabakan, ia bangkit berdiri sambil menurunkan roknya lagi. "Maaf, pak," ujar Keyra pelan dan menundukkan kepalanya. Sebelah sudut bibir Kenan tertarik membentuk senyuman miring, ia sebenarnya juga risih melihat rambut Keyra yang digerai karena perempuan itu terlihat lebih dewasa dan mengagumkan. "Jadi, Keyra ya?" Keyra mengangguk. "Iya, pak, em saya jangan dipecat ya pak, soalnya ini pekerjaan yang saya impikan dari dulu," pintanya membuang sementara urat malunya. "Saya minta maaf banget buat kelakuan gak sopan tadi-" "Sekarang aja kamu gak sopan," sela Kenan yang membuat Keyra tertohok dan bibirnya langsung terkatup terkunci rapat. "Pertama, kamu kuncir dulu rambut kamu itu, risih ngeliatnya, berantakan," sambungnya kejam. "Ta-tapi saya gak bawa ikat rambut, pak." Kenan membuka laci mejanya kasar, ia mengobrak-abrik isinya sebelum menemukan satu ikat rambut berwarna hitam punya Gesya yang ketinggalan. Setelahnya, ia berdiri, memutari meja dan mengahampiri Keyra lalu memberi ikat rambut itu padanya. Keyra menerima dengan cepat. "Terimakasih, pak, nanti saya cuci dan kembalikan, atau saya ganti yang baru," ujarnya cepat dengan tangan yang menguncir rambut sama cepatnya. Kenan sendiri diam melihat Keyra yang begitu asal menguncir rambutnya, namun karena asal-asal itu lah, membuat sebagian rambutnya tidak terikut dalam ikatan dan jatuh di sisi wajahnya, membuat Keyra tampak manis sekarang. "Pak? Jadi apa hukuman saya?" Tanya Keyra pelan, bukannya ia ingin segera mendapatkan hukumannya, namun agar ia segera keluar dari ruangan ini! Kenan membuka simpul dasinya, masih dengan tatapan yang menatap intens manik Keyra, ia melepaskan dasi itu dari kerah kemejanya, kemudian memberikannya ke Keyra. "Ha? Em haha, maksudnya, pak?" Tanya Keyra tertawa hambar, namun meskipun begitu, ia tetap mengambil dasi Kenan dengan tangan yang kaku. "Pasangkan dasi saya," perintah Kenan yang seketika membuat Keyra mempertanyakan kesehatan telinganya juga otaknya. Lelaki ini, sengaja melepas dasinya untuk menyuruhnya memasangkan lagi? "Kenapa diam? Ayo pasangkan, ini hukuman kamu." Mata Keyra membesar. "Hukuman?!" Dahi Kenan mengerut tak suka memdengar suara Keyra yang cukup kuat tadi sampai telinganya berdenging. "Oh okey, pak," sahut Keyra terburu-buru, ia mendekati Kenan dengan senyum yang mengembang, kalau memasang dasi saja, itu sangat mudah baginya! Tapi, kenapa hanya ini? Memasangkan dasi tentu tidak sulit, apa memang hukumannya selalu ringan? Keyra mendongak ingin bertanya, namun ia kaget saat melihat Kenan menatapnya intens, ia pun jadi mengurungkan pertanyaannya dan mencoba kembali fokus pada dasi itu. "Apa yang mau kamu tanya?" Keyra menggeleng kuat sambil terkekeh hambar. "Enggak ada kok, pak." Kenan diam tidak membalas, ia kembali sibuk memperhatikan wajah Keyra. Dari atas, wajah perempuan itu nampak cantik, hidungnya yang mungil mancung, bulu mata lentik dan pipinya, pipi Keyra terlihat mulus sampai Kenan tak sadar menggerakkan tangannya untuk menyentuh kelembutan pipi itu, namun dengan cepat ia sadar diri dan menurunkan tangannya. Geez, ini hari pertamanya bertemu dengan Keyra, namun rasa aneh di dadanya sudah bermunculan saja, rasa ingin memiliki itu ada namun belum terlalu kuat. Memang, ia menyukai perempuan tipe seperti Keyra, yang terlihat mandiri dan pemberani. Dulunya, Gesya sama seperti Keyra makanya perempuan itu bisa menjadi kesayangannya, namun lama-kelamaan, Gesya semakin berubah, malah ia menjadi perempuan yang centil sekarang. "Sudah, pak," ujar Keyra tiba-tiba yang membuyarkan lamunan Kenan. Lelaki itu kemudian berjalan ke arah cermin cukup besar yang memang disediakan di ruangannya, melihat hasil dari pekerjaan jari-jemari lentik milik Keyra dan ia kurang puas. Keyra menatap Kenan harap-harap cemas, ia sudah tak tahan berada di ruangan besar ini bersama Kenan karena rasa gugupnya semakin meningkat. Biasanya, kalau rasa gugupnya melonjak, ia akan sering melakukan kesalahan, contohnya saja dasi itu, tidak rapi karena gugupnya, tapi memang memasangkan dasi pada orang lain itu lebih sulit ketimbang memasang dasi pada diri sendiri. "Pasang ulang," ucap Kenan berbalik dengan tangan melepas kembali dasinya. "Kamu tau saya menempati posisi tertinggi perusahaan ini, kalau saya tidak rapi, bagaimana saya bisa menjadi contoh untuk karyawan saya?" Keyra menunduk, ia pikir hukuman memasangkan dasi itu mudah, ternyata tidak sama sekali! Ia lebih baik menyapu dan mengepel lantai saja daripada melakukan hal mudah namun hasil kerjanya ditentukan oleh orang lain, bisa saja orang lain itu mengatakan hasil kerjanya belum baik padahal sudah bagus. Keyra menarik nafas pelan, ia menerima dasi itu dan mendekati Kenan, ia harus fokus agar dasinya terlihat rapi nanti, ia tak mau kalau harus disuruh mengulang lagi. Kenan tersenyum tipis melihat keseriusan Keyra, ia tahu kalau perempuan itu tadinya gugup dan berakhir dengan dasinya yang tidak rapi. Melihat keseriusan Keyra, entah kenapa Kenan merasa gemas, bahkan tangannya saat ini sudah berada di pipi Keyra, ibu jarinya mengelus pipi yang memang sangat lembut itu. "Mmm pak, udah selesai," ucap Keyra sambil memundurkan langkahnya hingga tangan Kenan terlepas dari pipinya. Kenan lalu berbalik melihat ke cermin, dasinya kini jauh lebih rapi, ia kemudian berbalik lagi menatap Keyra dan melirik ke bawah, ke arah roknya yang menjadi biang masalah. "Jangan pakai rok seperti itu lagi, atau kamu akan mendapat hukuman yang lebih berat," ujar Kenan yang diangguki beberapa kali oleh Keyra, padahal didalam hati ia bertanya-tanya, hukuman lebih berat apa yang akan diberi Kenan padanya? "Oke kamu boleh keluar." Keyra mengangguk lagi, hendak berbalik namun Kenan kembali memanggilnya membuatnya menipiskan bibir menahan kesal, tidak tahukah ia kalau Keyra sangat ingin keluar dari sana? "Tuliskan nomor hp kamu di kertas itu, OB saya tadi yang minta," ujar Kenan menunjuk sebuah kertas dan pena yang sudah tersedia diatas mejanya. OB? Kenapa ada OB yang minta nomor teleponnya kalau dari pagi sampai sekarang ia belum ada ketemu dengan satupun office boy di kantor ini? Jadi, dari mereka tahu wajah Keyra? Terus, masa OB bisa dengan begitu mudahnya berbicara dengan seorang owner? Kalau tadi Kenan seseorang yang friendly, Keyra tak heran, tapi sepertinya Kenan bukan tipe seperti itu. "Keyra? Kenapa? Kalau enggak mau juga gak papa," ujar Kenan dengan tubuh menyandar pada meja kerjanya, melihat Keyra yang menatapnya, membuatnya mengedikkan bahu mengarah ke kertas dan pena yang menganggur. "O-oh gak papa kok, pak," sahut Keyra tertawa hambar mendekati meja. Keyra mengambil kertas dan pena lalu bingung ingin menulis apa, saat ini ia tak ingin diganggu apapun apalagi seorang lelaki, ia memang tertarik dengan Valen dan mungkin akan menganggu lelaki itu, tapi tak apa, ia lebih baik mengganggu daripada diganggu. Satu bohlam kasat mata muncul dan menderang disamping kepala Keyra saat perempuan itu mendapat satu pemikiran yang cemerlang, ia tersenyum miring dengan tangan yang menulis cepat dua belas angka berjejer yang tak lain ialah nomor teleponnya, lebih tepatnya nomor teleponnya yang sudah tidak aktif. "Oke udah, pak, kalau gitu saya permisi keluar," ujar Keyra yang mendapat anggukan dari Kenan sebelum berjalan cepat keluar dari ruangan itu. Setelah keluar dari sana, Keyra merasa lega, Kenan nyatanya tak seseram yang ia perkirakan di awal, bosnya itu menurutnya bisa dingin dan hangat di waktu yang berbeda, saat di ruang divisi, Kenan terlihat dingin penuh tuntutan, semua karyawannya seperti harus mentaati seluruh peraturannya, namun di ruangannya tadi, Kenan terlihat lebih hangat, bahkan Keyra tak segan mengucapkan bahasa yang sebagian informal. "Mm mungkin aja ada OB yang deket sama dia, secara dia juga bisa hangat orangnya," gumam Keyra memegangi dagunya. "Mm gue salah gak ya kasih nomor yang udah gak aktif?" Keyra entah kenapa merasa bersalah sekarang, tangannya beralih memegang pipinya yang tiba-tiba mengingatkannya akan sentuhan Kenan tadi dan langsung menggosok pipinya itu dengan kuat. "Kenapa juga tadi pipi gue disentuh segala, jangan-jangan dia bos m***m," gumam Keyra dengan mata melotot sebelum kembali menggosok pipinya dengan ringisan kentara di wajahnya. Di sisi lain, Kenan memegang secarik kertas yang terdapat tulisan tangan Keyra tentang sederet angka nomor teleponnya, Kenan lalu mengeluarkan ponselnya dari sakunya, ia menambahkan kontak Keyra dengan nama 'Key' Kenan tak bisa menyangkal kalau ia memang tertarik dengan Keyra, walau mereka baru bertemu sehari sekalipun, sama seperti Gesya waktu itu. Ah, dua perempuan yang mampu menggetarkan hati Kenan dalam rentang waktu yang cukup pendek, ralat! Sangat pendek. Pintu ruangan Kenan diketuk lagi, ia menyuruh masuk dan ternyata asistennya dengan beberapa perempuan yang memakai rok pendek atau baju yang sangat ketat. s**t, ini pasti dikarenakan Kenan yang tadinya mengucapkan kalau ia sendiri yang menghandle pelanggaran ini dan sekarang banyak perempuan yang memakai pakaian ketat padahal sebelumnya tidak, seperti perempuan yang memakai rok merah, tadi pagi Kenan melihatnya di lobi dan roknya masih lebar dan panjang sampai lutut, namun sekarang?! Oh s**l. "Bagaimana, pak?" Tanya asisten dengan raut geli melihat Kenan mengusap wajahnya kasar. "Sapu dan pel semua lantai di ruangan divisi masing-masing!" *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD