Karena Keyra sedikit terlambat menuntaskan pekerjaannya, ia jadi sedikit telat pulang disaat semua teman-temannya sudah pulang duluan, termasuk Lola, ia hanya sendirian disana sekarang.
Walaupun begitu, Keyra tetap senang, setidaknya hari ini akan berakhir dan esok ia akan memulai hari yang ia coba untuk lebih baik dari hari ini, dan juga kesenangannya didominasi oleh pekerjaannya ini, ia sudah mendapat bayangan didepan mata tentang menabung, membangun rumahnya sendiri, dan mungkin suatu saat nanti, ketika tabungannya sudah banyak, ia akan memulai usahanya sendiri. Memikirkan itu, senyum Keyra mengembang.
Namun, senyumnya tak bertahan lama, senyum itu surut saat pikirannya kembali terlempar pada keluarga yang ia tinggalkan, ia tahu ia salah, namun rasa kesal dan ingin keluar sudah hampir mendekati 100 persen, ia mungkin akan ikutan gila jika berada dalam rumah itu sedikit lebih lama lagi.
Keyra lalu menghela nafas dalam dan mengeluarkannya melalui mulut, ia lakukan berkali-kali hingga rasa sesak di dadanya sedikit berkurang. Ia harus meyakini satu hal didalam hati kecilnya, ia adalah ia, kehidupannya miliknya, semua hak dalam hidupnya ada pada genggaman tangannya.
Tak lama kemudian, Keyra mematikan komputer karena semua sudah selesai, ia lalu berdiri dan bergumam kesal karena harus menurunkan kembali roknya yang terangkat ke atas, entah sudah berapa puluh kali ia melakukan hal tersebut dalam satu hari ini.
Keyra berjalan keluar dari ruangan tersebut dan berjalan ke lift, selama berada di lorong, ia beberapa kali berpapasan dengan beberapa lelaki, dan semuanya melempar senyum, senyum yang Keyra tentu tahu apa artinya, ia sering heran kenapa kebanyakan lelaki langsung menjatuhkan perasaannya hanya karena fisik seorang perempuan tanpa tahu sedikitpun bagaimana sikap dan isi hatinya.
"Moga aja jodoh gue gak kayak gitu amin," gumam Keyra sembari menekan angka satu dan hanya ia sendiri didalam lift itu.
Keyra melirik jam tangannya, jarum jam sudah hampir menunjuk angka enam yang artinya langit akan mulai gelap, bulan sudah siap menggantikan posisi matahari yang terbenam di ufuk barat. Keyra menghela nafas dan tersenyum kecil, nanti setelah sampai apartemennya, ia akan memasak mie kesukaannya dan memakannya sambil menonton film yang juga sudah menumpuk di daftar favoritnya.
"Aah gak sabar gue," gumam Keyra menggesekkan kedua telapak tangannya, gemas sendiri dengan lift yang turunnya terasa lambat.
Ketika lift berdenting dan Keyra hendak keluar, tiba-tiba tubuhnya tertabrak begitu keras, membuat tasnya jatuh dan isinya berserakan di lantai, untung saja dirinya tidak ikut terjatuh, kalau sampai itu terjadi, Keyra tak tahu mau berbuat apa karena yang pasti ia akan amat sangat malu, apalagi dengan keadaan roknya yang sangat pendek!
"Eh maaf, Key, aku gak sengaja," ucap seseorang sembari berjongkok memunguti barang-barang Keyra yang tercecer.
Keyra mengerjapkan matanya dan menunduk, Valen? Jadi Valen yang menabraknya, dengan tidak sengaja? Melihat Valen yang langsung meminta maaf dan mengambil satu persatu barang-barangnya sampai satu koin pun tak terlewatkan membuat nilai plus Valen di mata Keyra bertambah.
"Gak papa, Len," sahut Keyra merendahkan tubuhnya menumpukan kedua lututnya pada lantai, satu-satunya cara duduk yang roknya tidak terangkat. "Bukannya udah pulang dari tadi ya?" Tanyanya cepat-cepat memunguti barang-barangnya yang berserakan.
"Iya ada urusan sebentar, Key," jawab Valen sembari memberikan tas Keyra pada sang empu. "Bisa berdiri?" Tanyanya melihat raut Keyra yang bingung mau berdiri tapi jangan sampai roknya tersingkap.
"Bi-bisa kok," ujar Keyra tersenyum memamerkan deretan giginya. Ia memegangi roknya sambil bangkit dengan kedua kaki langsung tegak berdiri, tapi caranya itu membuat betisnya sedikit nyeri.
"Yauda aku duluan ya," pamit Keyra berjalan menjauhi Valen, ia juga mempercepat langkahnya saat dirinya mulai menjadi pusat perhatian disana.
Valen memperhatikan langkah Keyra sampai perempuan itu keluar dari pintu utama lobi, ia kemudian tersenyum miring sembari menekan tombol disamping lift, ia hendak masuk namun kakinya seperti menginjak sesuatu, membuatnya menunduk dan mengambil sesuatu itu yang ternyata sebuah kunci.
"Eh?" Valen menoleh ke belakang tapi memang Keyra sudah pergi dari tadi dan ia yakin ini kunci milik perempuan itu.
Valen lalu masuk dan menekan tombol B1 ke basement, namun belum juga pintu tertutup rapat, tiba-tiba pintu kembali terbuka dan memunculkan sosok Kenan dengan tangan menengadah ke arah Valen.
"Kemarikan kuncinya," ujar Kenan, matanya beradu dengan mata Valen. "Biar saya yang kembalikan ke dia," sambungnya.
Setiap berhadapan dengan Kenan, Valen merasa amarahnya selalu menggelegak, memorinya kembali mengenang sosok Mika yang menemani hari-harinya waktu itu, tapi sekarang perempuan itu sudah pergi, untuk selamanya.
Valen dan Kenan masih saling menatap ketika Valen menyerahkan begitu saja kunci itu bersamaan dengan menutupnya pintu lift. Masih terlihat oleh Valen bagaimana seorang perempuan modis berlari kecil ke arah Kenan, perempuan yang sudah ia coba sakiti namun tak berdampak banyak pada Kenan.
Saat lift tertutup sepenuhnya, tangan Valen mengepal geram sembari tersenyum menyeringai. "Mungkin bukan Gesya, tapi Keyra."
****
Keyra mengipasi wajahnya yang keringatan dengan tangannya, lelah karena ia harus berjalan cukup jauh dari halte bus ke gedung dimana apartemennya berada.
Keinginan Keyra sudah sangat tinggi untuk mandi agar badannya kembali segar dan memasak mie dalam cuaca mendung seperti ini pastilah akan sangat nikmat. Namun, semuanya hangus seketika saat tangan Keyra yang merogoh tasnya tidak menemukan kunci itu!
"Loh? Kemana?" Gumam Keyra khawatir sembari melepas tasnya dari tangannya dan mengecek kembali dengan lebih teliti, tapi hasilnya sama saja.
"Gosh, kenapa harus sekarang?!" Keyra memegang kepalanya yang terasa pening seketika, sudah dikatakan dari awal kalau kunci cadangan untuk apartemen disana itu tidak ada, dan Keyra belum membuat kunci duplikatnya.
"Oh! Jangan-jangan di lift tadi," gumam Keyra melebarkan matanya, ia lantas berlari membawa tasnya turun ke lantai satu.
"Mbak, titip ya." Tanpa basa-basi Keyra menaruh tasnya di atas meja resepsionis dan langsung berlari pergi tanpa menghiraukan panggilan si resepsionis.
Keyra berdiri di tepi jalan dengan tampang khawatir yang sangat kentara, ia berharap sekiranya ada taksi lewat agar ia bisa segera sampai ke perusahaan itu dan mencari kunci apartemennya, tak apalah ia akan kembali menjadi pusat perhatian asal apartemennya bisa dibuka.
Geez, kunci itu amat sangat berharga sekarang!
Sebuah mobil sedan berwarna silver berhenti tepat didepan Keyra. Jelas saja perempuan itu heran dan bingung, ia hendak melangkah menjauhi mobil itu kalau saja seseorang yang dikenalnya tidak memanggilnya.
"Keyra," ujar Valen sembari keluar dari mobilnya dengan tangan melepas kacamatanya.
Gerakan itu terasa slow motion di mata Keyra, membuat ia menelan ludahnya tak sanggup menahan pesona mematikan dari Valen, lelaki itu memang segitu tampannya sampai mampu membuat Keyra terdiam mengagumi sejenak ciptaan Tuhan itu.
"Key?" Tangan Valen melambai didepan wajah Keyra. "Ngapain di luar gini?" Tanyanya dengan kening berkerut.
"O-oh itu." Keyra segera tersadar dari lamunannya. "Kunci apartemen aku hilang!"
Valen mengernyit lebih dalam, ia pikir Kenan sudah mengembalikannya pada Keyra. "Kalau gitu ikut aku," ajak Valen, ia tahu dimana harus menemui Kenan sekarang.
"Hah? Kemana?" Tanya Keyra yang masih berdiri di tempat.
"Udah ikut aja, mau cari kunci kamu, kan?" Keyra mengangguk. "Yauda kalau gitu ikut," kata Valen membuat Keyra akhirnya mengangguk dan duduk di kursi penumpang.
*****
Mobil Kenan melaju kencang membelah jalan yang sepi pengendara, ia duduk di belakang dengan tatapan yang tak lepas dari kunci diatas tangannya. Ia kemudian mengeluarkan ponsel dan juga satu kertas yang sudah ia potong menyisakan kertas kecil bertuliskan sederetan angka yang akan ia tambahkan ke kontaknya.
Dengan nama, Keyra Amor.
Kenan akui ia playboy, tapi hatinya tak sembarangan berdetak kencang, hanya perempuan-perempuan tertentu yang mampu melakukan itu, termasuk Keyra.
Ia kemudian menoleh ke seorang perempuan yang masih bertahta di hatinya, ia adalah Gesya. Gesya tertidur dengan kepala yang menyandar di bahu Kenan, mereka sedang menuju ke satu restoran Korea, namun Gesya mengantuk dan Kenan mempersilakannya tidur lalu ia akan membangunkannya jika sudah sampai di tujuan.
Perhatian Kenan kembali ke kunci, ia menelepon Keyra dengan senyum kecil di bibirnya, namun sambungan teleponnya tidak bisa dan malah suara operator yang terdengar. Kenan mencoba sekali dua kali lagi namun hasilnya sama saja. Ia sampai heran apakah daya ponsel Keyra habis?
"Pak, kita sudah sampai," lapor supir melirik ke spion tengah, menatap Kenan melalui kaca itu.
"Oh oke," ujar Kenan mematikan ponselnya, ia kemudian membangunkan Gesya dengan pelan.
"Udah sampai ya?" Gumam Gesya serak, tangannya memeluk tubuh Kenan dengan manja.
"Udah, ayo turun," ajak Kenan dengan tangan membelai kepala Gesya sebentar.
Di sisi lain, Valen dan Keyra terlihat diam dan canggung didalam mobil itu. Keyra yang biasanya banyak bicara juga kehilangan kata-kata saat berdekatan dengan lelaki yang disukainya.
"Nah, sampai, ayo turun, Key," ajak Valen sembari mematikan mesin mobil.
"Tunggu, kenapa kesini, Len?"
Valen menoleh dan tersenyum kecil. "Kunci kamu ada di Kenan, dan aku yakin dia ada didalam sana sekarang," jawab Valen yang membuat Keyra melotot kaget, namun ia tak sempat bersuara lagi karena Valen sudah keluar dari mobil.
"Geez, kenapa bisa sama dia?!" Gumam Keyra kesal, ia ikut turun dan mengikuti langkah Valen.
Sementara Keyra sibuk menurunkan roknya, Valen menanyakan dimana ruang yang di sewa Kenan pada resepsionis, ia yang mengatur semuanya sedangkan Keyra hanya mengikuti dari belakang, sampai Valen menggeser sebuah pintu dan memperlihatkan Kenan dan Gesya yang berada didalam menatap mereka berdua heran.
Valen menoleh ke belakang, mengedikkan kepalanya ke Keyra, mengkode perempuan itu untuk masuk ke dalam dan meminta sendiri kunci apartemennya pada Kenan.
"Yakin sama dia?" Bisik Keyra yang diangguki mantap oleh Valen.
Dengan memikirkan semangkuk mie hangat di kepalanya, Keyra mencoba memberanikan diri dan menghampiri meja Kenan dan satu perempuan cantik yang ia duga adalah kekasih dari bosnya itu.
"Ma-malam, pak Kenan," sapa Keyra kaku. "Ta-tapi bener bapak yang pegang kunci apartemen saya?" Tanya Keyra sedikit menunduk, ini sangat memalukan.
Kenan melirik ke arah Valen yang tidak menatap ke arah mereka. Kadang kala, ia merasa Valen tidak sopan padanya selaku atasan, sesekali ada keinginan untuk mendepak lelaki itu dari perusahaannya, namun prestasi-prestasinya yang selalu di pertimbangkan Kenan membuatnya harus mengurungkan niatnya tersebut.
"Iya, ini," ujar Kenan mengeluarkan sebuah kunci dari kantong kemejanya dan menaruhnya diatas meja.
Gesya menatap itu tak suka, bagaimana Kenan bisa menyimpan sebuah kunci apartemen seorang wanita asing?!
"Gak papa, sayang, itu cuma kebetulan," ucap Kenan langsung saat menyadari tatapan tak enak dari Gesya padanya, tangannya juga memegang tangan Gesya meyakinkan perempuan itu.
Keyra mengambil kunci dengan tangan kaku. "Makasih, pak, maaf ganggu, kami permisi," ujar Keyra hendak berbalik namun tiba-tiba Gesya memanggilnya.
"Eh tunggu," ucap Gesya. "Ikat rambut itu kan, punyaku!" Sambungnya kembali menatap Kenan dengan pandangan menuduh.
Belum juga Kenan bersuara, Keyra sudah melepaskan ikat rambut itu dari rambutnya yang bergelombang indah dan menaruhnya diatas meja didekat Gesya.
"Ma-maaf, ini ikat rambutnya, saya pinjem bentar aja kok," ujar Keyra dengan tak pikir panjang, membuat Kenan menatapnya geli dan Valen masih setia dengan flat expressionnya.
"Kenapa bisa?!" Gesya menatap Kenan penuh tuntutan akan jawaban, ia lalu kembali menatap Keyra. "Saya gak mau, kamu bawa balik."
Keyra mengangguk saja. "Iya, nanti saya cuci terus-"
"Kenapa di cuci?! Buang," ujar Gesya tampak geram.
Melihat Keyra yang kaget mendengar suara Gesya yang cukup menggelegar, membuat Kenan menipiskan bibirnya menahan tawa, ekspresi kaget Keyra sangat lucu di matanya. Momen itu juga tak dilewatkan oleh Valen, ia bertambah yakin kalau ada sesuatu yang dirasakan Kenan pada Keyra. Bagus, dengan itu ada subjek lain yang akan ia gunakan sebagai alat balas dendam.
"O-oke, mbak," jawab Keyra yang kembali mendapat bentakan Gesya.
"Mbak?!"
Keyra jadi bingung sendiri apa maunya perempuan itu? Lalu, tak bisakah ia berbicara pelan sana tanpa harus menonjolkan urat-urat lehernya, percuma cantik tapi harimau, kalau Keyra seorang lelaki, mungkin ia akan ilfeel dengan perempuan tipe seperti itu.
"Udah-udah," Kenan menengahi. "Keyra, kamu boleh pulang sekarang," ujarnya pelan.
"Baik, pak, permisi."
"Tunggu, kamu bareng Valen?" Tanyanya yang diangguki Keyra, membuat Kenan melempar tatapan aneh pada Valen. "Oh oke."
Keyra membungkuk sedikit tanda hormat sebelum membawa Valen keluar dari sana dan menutup pintunya kembali.
"Itu perempuan siapa sih, Len? Pacarnya pak Kenan ya? Kok gitu banget, marah-marah mulu, toh aku cuma pinjem ikat rambutnya dan sekarang ia nyuruh aku buat buang seolah ikat rambutnya jadi jelek setelah aku pakai," omel Keyra dengan cepat, membuat Valen harus menajamkan telinganya agar mendengar semua kata yang keluar dari mulut Keyra.
"Iya, pacarnya. Emang gitu, Key, itu dia cemburu," jawab Valen menoleh menatap Keyra.
"Cemburu apanya coba," gumam Keyra masih sebal. "Btw kenapa kunci aku ada di dia ya?"
Valen menghela nafas, ia berjalan diikuti Keyra disampingnya. "Sebenernya tadi ada di aku, cuma diminta Kenan dan katanya dia sendiri yang bakal kasih ke kamu, eh ternyata belum."
Tunggu-tunggu, pikiran Keyra tiba-tiba tersumbat, mungkinkah Kenan sebenarnya mau mengembalikan kunci itu namun tak tahu alamat Keyra? Lalu ia mencoba menelepon ke nomor yang Keyra beri tadi? Tapi kan nomor itu sudah tidak aktif, malah kartunya sudah ia buang! Tapi lagi, bukannya nomor itu untuk OB?
"Ah gak tau deh gue!" Keyra tak sadar menyuarakan teriakan kekesalannya, membuat Valen mengerjapkan matanya heran menatap Keyra.
"Kenapa, Key?"
Keyra meringis. "Eh, enggak, gak papa kok," ujarnya tertawa hambar.
Valen mengangguk mengiyakan, ia kemudian menatap Keyra serius. "Key, gimana jadinya kalau Kenan suka sama kamu?"
Keyra kali ini tertawa lepas. "Jokes kamu lucu, Len, mana mungkin lah, kamu gak liat tadi pacar dia perfect gitu, mana mungkin ngelirik yang lain, apalagi orangan sawah kayak aku."
Valen tersenyum miring menahan tawanya. "Kamu terlalu ngerendahin diri," ujarnya. "Siapa yang gak tau playboynya Kenan, Key, memang Gesya yang selama ini bertahan, cuma bisa aja kan si Kenan cari perempuan lain."
Keyra mengernyit. "Tapi kenapa bisa kamu mikirnya ke aku?"
"Ya feeling aja."
Keyra masih mengernyit. "Terus kamu manggil pak Kenan gak pake embel-embel pak emang kalian aslinya temenan ya?"
Valen tersenyum kecil. "Enggak, cuma ngerasa males aja, sopannya di kantor aja, di luar kantor gak perlu," jawabnya yang diangguki oleh Keyra.
Valen lalu tersenyum miring, Keyra belum sadar kalau Kenan menyukainya, ia juga yakin Gesya sudah menyadari ini karena memang perempuan itu cukup paham bagaimana gelagat Kenan dan Gesya harus lapang d**a karena Valen yakin, sebentar lagi Kenan akan mengklaim Keyra sebagai miliknya.
Valen sendiri akan membiarkan itu terjadi, sampai semua di titik yang ia harapkan, maka disitulah ia akan bertindak.
*****