6. Putus Hubungan

1428 Words
Keyra sampai di apartemennya dengan kondisi tubuh yang lemas, ia sudah sangat lelah dan ingin cepat-cepat tidur saja sekarang. Namun, memikirkan perutnya yang belum diisi apapun, tubuhnya yang masih bau keringat, membuatnya terpaksa menyingkirkan sebentar nafsu tidurnya. Saat Keyra sudah segar dan sedang menunggu air mendidih, matanya tak sengaja melihat coretan huruf di dinding yang sedikit kotor. Tangannya yang basah mengusap goresan tinta berbentuk huruf E itu namun sama seperti sebelumnya, tak bisa hilang. "Biarin ajalah," gumamnya sambil membuka bungkusan mie dan merendam mie yang kaku ke dalam panci yang airnya sudah mendidih. Setelah menyantap mie yang enaknya seperti makanan dari restoran bintang lima saat ia kelaparan, Keyra masuk ke kamarnya dan membanting tubuhnya disana, ia menatap langit-langit kamarnya dengan mata yang mulai menutup sampai ia benar-benar jatuh tertidur. Jam sudah menunjukkan angka sebelas ketika pintu apartemen Keyra diketuk beberapa kali, awalnya pelan, namun lama-kelamaan kuat hingga Keyra terbangun kaget dari tidur nyenyaknya. "Siapa?!" Teriaknya kesal karena dibangunkan dari tidur yang benar-benar nikmat sekali. Tak ada jawaban, namun pintu masih diketuk kuat. Keyra bangun, ia menguncir rambutnya asal-asalan didepan cermin, kemudian berjalan lesu keluar dari kamar tidurnya, tangannya mengambil kunci apartemen diatas meja, memasukkannya ke lubang di handle pintu, memutar dua kali dan akhirnya membuka pintu. Mata Keyra melebar, tak ada siapapun didepannya sekarang! Ia melirik ke kanan dan kiri, benar tidak ada seorangpun. Keyra lalu melirik ke bawah ketika kakinya terasa menendang sesuatu, sebuah paper bag cokelat dengan ukuran cukup besar! Keyra kemudian mengambilnya, membuka kasar dan heran ketika isinya adalah sebuah rok hitam. "Rok gue!" Keyra tiba-tiba teringat akan roknya yang basah tadi pagi, ia kemudian menaruh paper bag tadi kembali ke lantai dan sedikit menjauhkannya dari pintu apartemennya, ia harus ingat kalau itu bukan miliknya walaupun berada tepat di pintunya. Keyra kembali mengunci pintu dan berlari ke arah balkon dimana roknya ia gantung sedangkan gerimis masih turun. Keyra dengan cepat meraih rok yang sudah basah itu dan membawanya ke dalam apartemen. "Yah kan basah lagi," gumam Keyra lesu dan mendudukkan bokongnya di sofa yang sedikit usang. Keyra yakin tadi siang roknya sudah kering karena memang panas matahari sangat menyengat, namun ia lupa, sampai hujan turun membuat roknya kembali basah. Kalau sudah seperti ini, Keyra harus menyetrika roknya agar keringnya instan, mau bagaimana lagi jika duitnya tak cukup untuk membeli rok baru. Kadang, kalau seperti ini, Keyra ingin kembali ke pelukan hangat orang tuanya, ya walaupun kakaknya tetap menjadi prioritas utama, setidaknya ia masih di perhatikan, namun semuanya lenyap sejak sepuluh tahun yang lalu. "Ah, udahlah, kenapa mikirin itu coba," gumam Keyra menghela nafas panjang, matanya mengerjap pelan menghalau air mata yang hendak keluar. Keyra kemudian bangkit, ingin mengambil setrika dari dalam kamar saat ketukan kembali terdengar. Keyra tersenyum miring, ia meletakkan roknya pelan lalu berjalan mengendap ke arah pintu, ketika ketukan masih terdengar, ia memutar kunci sepelan mungkin lalu membuka cepat pintu itu! Orang yang berpakaian hitam-hitam tampak kaget bahkan suara terkesiapnya kedengaran melihat Keyra muncul, ia lalu cepat-cepat berlari dari sana saat Keyra hendak menahannya. "Hey, siapa kamu?!" Teriak Keyra kencang, tak peduli penghuni lain akan terganggu dengan suaranya. "Aku gak mau terima ini sebelum- argh!" Orang tadi sudah benar-benar menghilang dari tikungan, membuat Keyra kesal karena semakin penasaran siapa orang itu. Ia kemudian melirik ke bawah, masih paper bag yang sama, namun letaknya berpindah lagi jadi didepan pintunya, sepertinya orang tadi juga yang memindahkannya. Keyra tetap tak mau mengambil barang itu, biarkan saja sampai ia tahu itu dari siapa dan kenapa ada didepan apartemennya. Ia menutup pintu lagi, kini tak menguncinya dan ia berdiri disamping pintu, menunggu orang itu mengetuk pintunya kembali. Bermenit-menit kemudian, ketukan tak kunjung muncul, Keyra sampai lelah dan akhirnya duduk disana, tapi kemudian ia mendengar suara langkah kaki, membuatnya bangkit berdiri dan menunggu ketukan itu kembali berbunyi. Dan saat satu ketukan menerpa pintu apartemennya, secepat kilat Keyra membuka pintu itu dan menggenggam erat jaket orang tadi yang jelas sudah tertangkap basah. Sebenarnya, orang itu juga tak mau melarikan diri lagi, dari pada Keyra tidak mau memakai rok itu dan berakhir ia yang akan kena damprat, lebih baik ia membicarakan hal ini baik-baik pada Keyra. "Jadi, kamu siapa?" Tanya Keyra, tangannya masih setia memegang jaket itu. Orang bermasker dan berkacamata itu menunduk mengambil paper bag lalu menyerahkannya ke Keyra. "Ambil, harus dipakai," ujarnya dengan suara berat. "Wait, ini dari siapa? Terus untuk aku gitu?" Tanyanya sensi, dan orang itu mengangguk mantap. "Dari siapa dulu? Aku gak mau pake kalau gitu," sewotnya, Keyra memang patut diacungi jempol kalau soal keberanian. Orang itu tampak menghela nafas, mungkin dia lelah menghadapi sifat Keyra. "Tolong rahasiakan ini, bisa?" Tanyanya sembari membuka masker dan kacamatanya. "Ini menyangkut pekerjaan saya juga." Keyra terdiam dan genggamannya pada jaket itu terlepas saat melihat satu laki-laki yang usianya ia perkirakan sudah memasuki umur 30-an dengan wajah yang memiliki bekas sayatan di pipi kirinya. "O-oke, janji, emang dari siapa?" Tanyanya heran. "Nanti salah orang, gak?" Sambungnya mengangkat paper bag yang berada di tangannya. "Enggak, gak salah orang, ini untuk Keyra karyawan baru KK corporation, kan?" Kata orang itu yang diangguki Keyra. "Eh tapi tunggu, tapi tau dari mana? Maksudnya aku tinggal disini? Kok bingungin sih," ujar Keyra mendesah sebal. "Saya diperintahkan atasan saya, lalu saya mengikuti anda, sampai anda masuk ke kamar ini," jawabnya tegas. Mata Keyra melebar saat otaknya menebak satu orang yang menjadi otak dari paper bag ini. "Tu-tunggu, jangan-jangan..." Orang itu tersenyum dan mengangguk, membenarkan tebakan Keyra. "Iya, benar, dia orangnya, yang kasih paper bag ini ke anda." ***** Malam itu Kenan duduk di ruang tamunya, sendirian dengan tv yang menyala, ia terdiam namun pikirannya tidak karena sedari sibuk memikirkan Keyra, Keyra dan Keyra. Saking fokusnya dengan perempuan itu, ia sampai tidak sadar Papanya berdiri disana, tepat disebelah sofa yang di dudukinya. "Mikirin apa kamu?" Kenan sedikit terlonjak kaget sambil menoleh menatap Papanya kesal. "Papa kapan datengnya?" Namun bukannya menjawab, Papanya malah menunduk menatap Kenan serius. "Kenapa kamu? Kok senyum-senyum dari tadi?" Tandasnya. "Suka perempuan lain lagi?" Kenan menghela nafas jengkel, tapi kepalanya tetap mengangguk mengiyakan. "Ada karyawan aku, Pa, gak tau kenapa pas ketemu dia itu yang disini selalu jedag-jedug," jelas Kenan memegang jantungnya. "Lebay," ejek si Papa. "Kamu udah punya Gesya, inget! Terus Keyra, yang mau dijodohin sama kamu, sekarang ada lagi? Mau berapa banyak, Ken?! Kamu harus konsisten ke satu perempuan aja, perempuan yang bener-bener kamu cintai setulus hati, perem-" "Pa, plis, aku pusing," seru Kenan memijit pangkal hidungnya. "Aku sayang sama Gesya, tapi aku juga tertarik sama Keyra," lanjutnya. "Keyra?" "Iya, Keyra namanya, Papa pikir cuma perempuan jodoh Papa itu yang punya nama Keyra?" Kenan bangkit berdiri. "Aku tau, Pa, apa yang mesti aku pilih, tapi gak sekarang, aku masih harus pikirin semuanya." "Tapi kapan, Kenzie?!" Kenan berdecak sebal, kalau Papanya sudah mengeluarkan suara kerasnya, ujung-ujungnya mereka akan bertengkar cukup hebat dengan topik yang selalu sama, kapan Kenan nikah?! "Udah ya, Pa, aku ada janji sama Gesya," ujar Kenan melenggang pergi meninggalkan Papanya yang berteriak kesal. Selepas kepergian Kenan, dahi Papa mengernyit mengingat sesuatu dan bergumam pelan. "Bukannya kata Gery, anak bungsunya pergi dari rumah?" ***** Kenan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, membelah jalanan dengan begitu s***s membuat orang-orang menggerutu kesal bahkan memakinya. Tiba-tiba Kenan merasa haus, ia membeli minuman di toko kecil di pinggir jalan yang posisinya bersebelahan dengan sebuah cafe. Kenan belum menstart mobilnya ketika dengan kedua matanya ia melihat Gesya keluar dari cafe dengan seorang pria asing, mereka tampak tertawa lepas bersama dengan tangan bertaut, membuat emosi Kenan menggelegak. Ia kemudian mengambil ponselnya, hendak menelepon Gesya namun ternyata perempuan itu meneleponnya duluan, pas sekali! "Kenan, kamu dimana? Mm cancel aja ya ketemuannya, soalnya aku lagi di luar," ujar Gesya dari telepon. "Dimana? Biar aku yang hampirin kamu," sahut Kenan dengan tangan mengepal geram. "Lagi di cafe sih, tapi ini mau pergi lagi, besok aja ya ketemuannya, biar aku yang dateng ke kantor kamu." "Sama siapa?" "Mm sendirian," jawab Gesya yang membuat Kenan terkekeh, jadi sudah berani bohong, ya? Kenan benci sekali kebohongan. "Oh ya? Coba kamu lihat mobil silver didepan," perintah Kenam dan dituruti Gesya. Jelas, perempuan itu kaget, terlihat dari matanya yang membesar dan suaranya yang terbata-bata saat berbicara. "Kenan, a-aku bisa jelasin," ujar Gesya cepat sambil berjalan ke arah mobil Kenan. Namun, Kenan segera mematikan sambungan dan melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan Gesya yang mengejar dan berteriak memangil namanya. Kenan melirik arlojinya yang menunjukkan angka sepuluh, Gesya memang memintanya untuk menemani perempuan itu karena ia sedang sendirian di rumah, namun kenyataannya?! Kenan juga bukan lelaki bodoh, sekali di bohongi atau di selingkuhi, mau sesayang apapun ia dengan seorang perempuan, tetap saja ia akan memutuskan hubungan mereka. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD