Keyra berjalan dengan begitu percaya dirinya di lobi perusahaan, penampilannya kini lebih baik ketimbang kemarin dengan rambut yang ia tata dengan serapi mungkin, juga satu pita mungil yang bertengger manis di rambutnya.
Lola menyambutnya heboh saat Keyra masuk ke ruang divisi sedangkan Keyra tampak calm menanggapi antusiasme tinggi dari Lola. Mata Keyra tak sengaja bertubrukan dengan mata Valen dan ia langsung melempar senyum manis pada lelaki itu.
"Eh rok baru ya? Dari merk ternama lagi," ujar Lola menggoda Keyra.
"Apaan, enggak kok, ini palsunya," sergah Keyra, ia tak mau di cap sebagai orang berada karena memakai barang dari brand mahal, padahal kan ini hanya pemberian orang.
"Alah bohong, gue tau ini ori, jangan ngeles deh," ucap Lola yang entah kenapa membuat Keyra malah merasa malu.
"Eh, gue denger tadi ada pergantian CEO ya? Loh kenapa gitu?" Tanya Keyra cepat yang sebenarnya mengalihkan topik pembahasan.
"Oh itu, lo sih lama banget datengnya, jadi ketinggalan info deh," ujar Lola yang termakan ucapan Keyra.
"Ya gue pengen on time aja," jawab Keyra mengangkat kedua bahunya. "Jadi, kenapa?"
"Iya CEO baru, pak Kenan sekarang bukan cuma owner, tapi juga CEO," kata Lola yang membuat Keyra cukup kaget. "CEO sebelumnya diturunkan jabatan jadi dirut, dirut jadi wakil dirut keempat, gitu sih setau gue," tuturnya sembari mencomot makanan yang ada diatas meja mereka.
"O-oh gitu, jadi ruangan dirut sekarang ditempati pak Kenan ya?" Tanyanya yang mendapat gelengan dari Lola.
"Enggak, ruangan semuanya masih kayak awal, pak Kenan ya masih di lantai paling atas," ujar Lola mengunyah makanannya. "Btw gue belum pernah loh ya masuk ke sana walaupun gue udah satu tahun kerja disini, dan lo pertama kali masuk kerja langsung bisa lihat mewahnya ruangan pak ganteng, beruntung banget sih," sambungnya memanyunkan bibir.
"Enggak, b aja kok," ujar Keyra tertawa pelan, tidak ada yang perlu di agungkan dari ruangan Kenan, mewah sih iya, tapi tidak perlu berlebihan juga memujinya.
"Yauda deh kerja kerja," seru Lola semakin kencang membuat yang lain menggeram dan menyuruhnya diam.
Keyra hanya menggeleng melihat sifat extrovert Lola, ia lalu mengintip ke dalam tasnya dimana ada sebuah kotak kecil berisi pin, satu-satunya barang berharga miliknya yang akan ia beri pada Kenan, entah berapa puluh juta yang dihabiskan Kenan hanya dengan membeli dua buah rok untuk seseorang yang masih dikategorikan asing baginya.
Jam makan siang tiba, Lola merenggangkan tubuhnya sambil menggeram pelan lalu bangkit berjalan ke meja Keyra.
"Key, kantin yuk," ujarnya dengan dua tangan menumpu pada meja Keyra, ia melirik sebentar ke teman-teman sedivisinya yang sudah pada keluar dari sana.
"Bentar, La," kata Keyra pelan sambil membereskan barang-barangnya, ia juga mengambil kotak pin dan menyembunyikannya ke dalam saku roknya.
"Eh guys, gue ikut kalian ya," ujar seorang perempuan berambut ikal, ia datang menghampiri meja Keyra. "Sebelumnya, kenalin gue Yafa, Key," lanjutnya mengulurkan tangannya yang begitu putih.
"Oh gue Keyra," sahut Keyra menjabat tangan Yafa. "Yauda ayo lah, keburu abis jam istirahatnya," sambungnya berdiri dan mengajak dua temannya itu keluar dari sana.
Kantin berada di lantai dua, yang artinya mereka harus melewati dua lantai dibawah mereka agar sampai disana, namun saat Lola dan Yafa keluar dari lift, Keyra masih bertahan dan malah menekan tombol 12, lantai teratas dimana ruangan Kenan berada.
"Loh Key?" Heran Lola ketika pintu lift mulai tertutup.
"Gue ada urusan bentar, kalian duluan aja ntar gue nyusul," seru Keyra di detik-detik pintu lift tertutup sepenuhnya.
Didalam lift, Keyra sebenarnya merasa deg-deg-an, pasalnya ia akan bertemu bosnya itu, orang yang sudah memberikan dua buah rok mahal padanya. Keyra memang sudah berjanji akan merahasiakan ucapan orang asing itu, namun saat tahu Kenan orangnya, tentu Keyra menarik kembali ucapannya karena jelas ia akan memberikan sesuatu sebagai imbalan, dan juga, ia bertanya-tanya tentang hal apa yang membuat Kenan membelikannya rok padahal ia bukan siapa-siapanya lelaki itu.
Pintu lift terbuka, Keyra berjalan ke kiri dan ia harus permisi dahulu ke asisten Kenan, ia tahu ini juga tak mudah karena kata Lola asistennya ini punya banyak pertanyaan pada orang asing yang ingin masuk dan berjumpa dengan Kenan.
"Kenapa? Mau ketemu pak Kenan?" Tanya perempuan jutek itu sambil mendongak menatap Keyra. "Keyra, kan? Dari pemasaran?" Keyra mengangguk kaku, kenapa bisa tahu namanya?
Perempuan itu menelepon seseorang yang Keyra yakini adalah Kenan karena ia tiba-tiba berkata sopan dan ramah dan juga menanyakan apakah Kenan sibuk atau tidak.
"Oke masuklah," ujar si asisten seraya meletakkan gagang telepon ke tempatnya.
"Oke, mbak, makasih."
"Mbak?" Si asisten menyolot. "Nama saya Dara, plis panggil Dara aja," katanya sangat tidak bersahabat.
"Iya, Dara, makasih," ujar Keyra sama tidak bersahabatnya, ia kemudian masuk dan menggerutu kesal, ia mana tahu nama asisten Kenan siapa karena dia saja masih sangat baru disini.
"Kenapa, Keyra?"
Suara dalam itu membuat Keyra berhenti menggerutu didalam hatinya, ia mendongak menatap Kenan yang tampak gagah duduk di kursinya dengan kedua siku bertumpu pada meja dan mata menatapnya intens.
"Em itu, pak, saya mau bilang makasih," ujar Keyra tak berani membalas tatapan Kenan. "Atas rok yang bapak kasih, ja-jadi saya mau kasih ini sebagai balasannya," sambung Keyra sambil berjalan mendekati meja Kenan dan meletakkan kotak mungil itu disana.
Kenan mengambilnya dan membukanya, ia tersenyum kecil melihat sebuah pin sederhana yang terlihat mewah dengan ujung yang berbentuk bunga yang terlihat sparkling, begitu cantik.
"Em maaf saya cuma punya itu, pak, kalau bapak kurang suka boleh kok dikasih ke pacar bapak," ujar Keyra yang setelahnya merutuki mulut tanpa saringannya ini.
"Oh aku suka kok," ujar Kenan menyimpan kotak itu ke laci mejanya, kemudian bangkit berdiri dari duduknya. "Aku sama Gesya udah putus," lanjutnya singkat namun mampu mengejutkan Keyra.
"Kenapa bisa, pak?" Keyra menutup mulutnya. "Eh maaf pak, saya tarik kembali ucapan saya, em kalau gitu saya permisi, pak."
Keyra hendak pergi namun Kenan menggenggam tangannya, lalu menarik Keyra sampai tubuhnya dengan tubuh Keyra berdekatan, ia kemudian menyelipkan anak rambut Keyra ke belakang telinga perempuan itu sambil berucap pelan.
"Gak perlu formal kalau cuma ada kita berdua, Key, paham?" Keyra hanya mengangguk kaku. "Kenapa jadi kaku gitu muka kamu?" Sambung Kenan memegang dagu mungil Keyra dan tertawa.
"Oh eng-enggak kok, Ken," ujar Keyra mengusap pipinya yang terasa panas sembari memundurkan langkahnya agar tak terlalu dekat dengan Kenan.
"Kamu tau dari mana kalau aku yang kasih rok itu? Dari orang itu yah?" Tanyanya diangguki Keyra. "Damn it, padahal udah aku suruh tutup mulut," lanjut Kenan kesal.
"Plis jangan apa-apain dia, aku yang maksa dia buat kasih tau," ujar Keyra sedikit memohon. "Lagian kenapa bap- kamu kasih rok ini ke aku? Secara kan aku bukan siapa-siapa kamu, cuma atasan dan bawahan," tambahnya mengernyitkan dahi.
Kenan mendekat, ia tersenyum miring. "Kalau aku mau jadi siapa-siapanya kamu gimana?"
******
Di kantin, Keyra terdiam mengaduk-aduk makanannya, perkataan Kenan tadi terngiang-ngiang di kepalanya, untungnya saja lelaki itu langsung tertawa dan mempersilahkannya untuk keluar karena memang sedang jam istirahatnya para karyawan. Tapi entah kenapa, setiap mengingat ekspresi serius Kenan, jantung Keyra berdegup kencang.
"Kenapa, Key? Gak selera ya?" Tanya Yafa yang mendapat gelengan dari Keyra. "Terus?"
"Gak nafsu," jawab Keyra langsung, membuat Lola memukul pelan punggung tangannya yang berada di atas meja.
"Heh sama aja kali gak selera sama gak nafsu," seru Lola kesal, Keyra cuma menyengir kuda.
Meja itu hanya ditempati mereka bertiga padahal kursi panjang disana masih banyak tersisa, tapi orang-orang tak mau duduk disana atau bergabung dengan mereka karena satu alasan, yakni Yafa. Yafa adalah salah satu perempuan primadona di perusahaan itu, banyak yang suka padanya namun tak sedikit juga dari mereka segan pada perempuan itu.
"Giliran ada Yafa sama lo, Key, orang-orang pada gak mau gabung sama gue, coba aja gak ada lo berdua, abis gue dipepet saking sempitnya gak ada tempat duduk lain," curhat Lola dengan ekspresi sebal. "Maunya ada kotak saran gitu kek, kalau ada nih, saran terbesar gue itu ya buat kantin ini lebih luas lagi, masa perusahaan sebesar ini kantinnya kecil," sambungnya masih jengkel.
"Nanti saya sediakan kotak saran, dan kantin akan saya luaskan."
Gumaman dekat telinga Lola itu membuatnya terlonjak kaget, namun ia langsung bisa menebak siapa orang yang memiliki suara khas yang dalam seperti itu, ia sampai tersedak karena tak menyangka seorang Kenan bisa bergumam didekatnya!
"Makan, pak," sapa Yafa tersenyum manis dan menyelipkan rambutnya dibelakang telinganya, ia memang suka dengan bos nya itu.
Keyra sendiri hanya menunduk tak mau menatap Kenan, ia juga malu karena semua orang menatap ke arah mereka sekarang, ia bertanya-tanya apa memang seorang bos besar mau datang ke kantin khusus karyawan seperti ini?
"Saya boleh duduk disini?" Tanya Kenan yang jelas diangguki Lola, apalagi Kenan akan duduk disampingnya, perempuan itu bahkan membersihkan tempat duduk yang akan di duduki Kenan.
Kenan lalu duduk dengan mata mengawas ke arah Keyra, ia tertawa dalam hati karena ekspresi Keyra itu, mungkin penyebab utamanya adalah ucapannya tadi yang sebenarnya memang serius karena ia merasa nyaman saat berdekatan dengan Keyra.
Valen juga ada disana, ia tersenyum miring kemudian berjalan mendekati meja itu dan langsung duduk di samping Keyra tanpa permisi dulu ke perempuan itu.
"Boleh duduk disini kan, Key? Soalnya tempat lain penuh," ijin Valen tersenyum menatap Keyra dan ia mengangguk mengiyakan.
Lola menatap Valen dengan ekspresi bingung, pasalnya Valen bukan orang yang suka bersosialisasi, dia tertutup dan dingin kepada banyak orang, khususnya setelah kematian Mika, tapi sekarang? Ia terlihat ramah, walau hanya pada Keyra, tapi itu yang membuat Lola heran dan bertanya-tanya didalam hati.
Kenan tersenyum kecut, ia yakin Valen ingin membalas dendam padanya dengan cara mendekati Keyra karena ia tahu Kenan tertarik pada perempuan itu. Nice! Padahal sedari awal yang salah adalah Mika, bukan dirinya, tapi Valen yang buta penjelasan selalu menuduh Kenan menjadi penyebab utama kematian Mika.
Kenan lalu menghela nafas dari mulut, nafsu makannya lenyap karena rasa cemburu yang tiba-tiba datang. Ya, baru beberapa waktu saja Keyra sudah mampu merebut kecemburuannya, tidak tahu kalau sudah berminggu-minggu kemudian, mungkin Kenan akan mencak-mencak kebakaran jenggot kalau Keyra dekat dengan pria lain.
"Keyra, kamu ikut saya, sekarang," perintah Kenan berdiri dan berjalan pergi dari sana.