“Mbak udah sholat belum?” Ajak Sahira pada Desi yang masih duduk di meja kerjanya.
“Makan dulu Ra, abis itu baru sholat,” ucap Desi yang masih memegang kursor notebooknya.
“Sholat dulu Mbak, abis itu baru makan siang,” Sahira kekeh.
“Gimana kalau kamu sholat dulu dan saya makan dulu,” Desi juga tak mau mengalah.
“Ngak bareng dong ceritanya,” Sahira manyun.
“Barenglah, kamu arah musholah dan saya arah kantin,” ucap Desi acuh.
“Ayok Sholat dulu,” Sahira menarik tangan Desi yang masih duduk.
“Terpaksa yang tua harus mengalah,” Desi mengikuti keinginan Sahira menuju musholah kantor.
Sahira dan Desi menyusuri lorong kantor menuju musholah. Saat tiba di musholah mata Sahira melotot.
Sahira tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, orang yang selama ini ia do’akan agar mau sholat dan berdo’a sekarang sedang mengadahkan tangannya di hadapan Sahira. Agatha Imanuel telah selesai sholat dan sedang berdo’a. Apa saja yang telah terjadi sehingga Bang Imannya yang dulu sudah sangat berbeda sekarang. Banyak perubahan pada diri Iman yang Sahira tidak tahu, mulai dari bahwa dia adalah anak konglomerat, mengagetkan Sahira dengan kursi rodanya yang canggih, terbiasa makan di kantin karyawan dan sekarang sudah sholat dan berdo’a sangat khusuk. Besok-besok kejutan kejutan apa lagi yang akan di terima oleh Sahira. Asalkan bukan undangan yang di sebarkan Iman Sahira mungkin akan selalu senang dengan kejutan itu.
“WOIII…” Desi mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Sahira yang melongo dengan mulut terbuka.
Agatha menoleh dan tersenyum, wajah basah karena wudhu dan senyum yang manis. Sahira seperti sedang melihat malaikat yang turun ke bumi, di bayangan Sahira Agatha menghampirinya dengan seberkas cahaya.
“SAHIRA AMALIA,” suara Desi semakin tinggi.
“Ya Mbak,” Sahira terkejut.
“Ekspresi kamu berlebihan Ra’. Dia hanya sholat, biasa aja. Emang ngak pernah lihat orang kaya sholat?" Desi sangat tahu siapa yang dari tadi membuat Sahira bengong.
“Bukan itu Mbak, anu," Sahira dengan kebiasaan garuk-garuk kerudung.
“Anu, itu. Apa? Pak Agatha setiap hari juga sholat di sini? tidak ada yang melihatnya seperti ekspresi kamu tadi. Kalau Pak Agatha tahu nanti dia mikir yang ngak-ngak lo tentang kamu.”
“Ya mbak maaf, emang tadi terlihat berlebihan ya," Sahira menunduk.
"Iya lah. Orang sedeket ini panggil kamu ngak denger saking fokusnya lihat Pak Agatha sholat.
“Ngak papa, saya sudah terbiasa di tatap olehnya dengan tatapan seperti tadi,” ucap Agatha yang ternyata mendengar percakapan Sahira dan Desi.
Sahira langsung berbalik badan dan masuk ke tempat duduk.
“Aissttt,... mau di tarok dimana muka ku ini,” gerutu Sahira sambil berjalan menunduk.
“Hehe, maaf Pak. Udah disini aja Bapak. Tadi kan di sono,” ucap Desi menunjuk tempat Agatha sholat tadi.
“Kalau begitu saya permisi dulu Pak. Mau sholat dulu,” Desi segera pergi dari hadapan Agatha.
Agatha tertawa kecil seperti biasa barisan gigi atas Agatha yang rapi terlihat mempesona.
Sahira dan Desi berwudhu dan kemudian sholat Zduhur.
#
“Mbak, Boleh saya tanya sesuatu?” Sahira sedikit ragu.
“Asal jangan tanya kenapa saya masih jomblo, saya ngak bakal jawab,” celetuk Desi sambil makan.
“Hahaha.” Sahira terkekeh.
“Mbak, saya mau Tanya soal Pak Direktur,” lanjut Sahira.
“Apa lagi yang kamu pengen tahu tentang Bapak Direktur. Saya hanya bisa menjelaskan yang saya tahu,” Desi masih mengunyah.
“Mmmm,… Pak Agatha kenapa bisa duduk di kursi roda?” ucap Sahira masih ragu, ia takut jika pertanyaannya membuat Desi berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
“Bukannya Pak Agatha sudah duduk di kursi roda dari dulu?” Desi menjawab santai.
“Maksud mbak, mbak ngak tahu alasannya kenapa?” Sahira mengulang pertanyaannya mana tahu Desi belum paham maksudnya.
“Sahira Amalia,Pak Direktur alias Agatha Imanuel sudah duduk di kursi roda semenjak beliau pertama kali menginjakkan kakinya di kantor ini. Kami sebagai Staf lama yang dulu bekerja dengan Bapak Presiden Direktur yaitu Bapaknya Agatha mengira jikalau Pak Agatha sudah duduk di kursi roda sedari kecil. Begitu, kamu paham?” Jelas Desi dengan panjang lebar.
Sahira kaget ternyata Desi yang sudah lama bekerja di sini pun tidak tahu alasannya.
“Pak Agatha sudah berapa lama bekerja di kantor ini?” Sahira semakin penasaran.
“Sekitar lima sampai enam tahun yang lalu, tapi dulu beliau bukan CEO. Baliau dan Kakaknya di Uji coba oleh Pak Presdir sebagai Staf biasa, bertahap hingga akhirnya di pilih Pak Agatha sebagai CEO di perusahaan utama dan Kakaknya di perusahaan cabang di daerah Kalimantan,” jelas Desi
Sepertinya rasa penasaran Sahira akan lama mendapat jawaban. Jika Staf lama saja tidak tahu jawabannya bagaimana dengan baru mana mungkin mereka bisa tahu.
“Woi, bengong lagi,” Desi mengageti sahira.
“Ngak lagi mikir aja, kalo Mbak aja yang udah lama ngak tahu apalagi yang baru," ucap Sahira lemah.
"Emang penting banget tahu ya, Mbak sih malah takut mencari tahu. Kalo misalkan Pak Agatha tahu bahwa kita mencari tahu tentang kehidupannya terus dia marah gimana coba?"
"Ngak mungkin marah lah mbak, aku yakin."
"Jangan ke PD an deh Ra' kamu baru disini. Memang Pak Agatha sangat ramah dan juga baik, tapi kita ngak tahukan kalau dia udah marah kayak gimana. Ngak usah sok tahu Ra'."
"Ya bukan gitu Mbak, tapi..." Sahira ragu untuk menjelaskan. Jika ia menjelaskan bahwa dia kenal dengan Agatha dan bahkan pernah pacaran pasti Desi akan mengajukan banyak pertanyaan. Maka percakapan tentang masa lalu mereka tidak akan selesai hingga jam istirahat kantor selesai, dan tentunya akan berlanjut hingga besok, besoknya lagi dan seterusnya.
Itupun kalau Desi percaya, kalau Desi tidak percaya maka Sahira akan di anggap Sekretaris yang halu yang berkhayal punya masa lalu dengan Bosnya.
"Tapi apa Ra'. Udah makan ah. Ingat Ra' kamu baru dua hari di sini, jangan cari masalah. Mbak akan tutupi hal ini, bahwa kamu mencari tahu tentang kehidupan pribadi Pak Agatha karna Mbak orangnya baik. Tapi Ra' stop di sini aja. Kami semua ngak ada yang berani ke arah sana, sebab kami sangat membutuhkan pekerjaan. Ra' kalau ada yang usil sama kamu terus bilang ke Pak Agatha bisa gawat lo, makanya stop di sini aja!" Desi menasehati Sahira dengan serius, tiba-tiba saja ia menyayangi Sahira layaknya seorang adik.
"Ya deh." Sahira mengakhiri dari pada nantinya Desi malah ngomel-ngomel dan bilang bahwa dia terlalu kepo.
"Nah gitu nurut. Ra' Mbak suka sama kamu sebab kayaknya kamu jujur dan polos, jadi jangan kecewain Mbak dengan kabar bahwa kamu dapat ultimatum atau amit-amit di pecat," ucap Desi tulus.
"Ya, Mbak. Aku bakal turuti sarannya Mbak."