Ketemu Playboy Teri

1147 Words
"Sahira, ikut saya. Kita mau lihat kemajuan persiapan pembukaan Resto baru kita di Mall B," tutur Agatha seketika saat keluar ruangan. "Baiklah Pak," seketika Sahira membereskan meja, sigap berdiri di samping Agatha. "Kamu tahu kan tugas kamu apa?" tanya Agatha sembari mereka berjalan menuju ke luar. Sebagai Sekretaris baru Agatha ingin mengetes seberapa cekatan Sahira dalam pekerjaannya. "Saya sudah membaca laporan persiapan dari Pak Eduard, dan saya akan mencocokan laporan dengan kondisi di lokasi Pak. Setelah itu saya akan membuat laporan kepada Bapak kembali untuk versi saya Pak," sahut Sahira cepat. "Baiklah," Agatha tersenyum, tapi senyumnya tak bisa di lihat oleh Sahira yang berbeda di belakangnya. # Mobil melaju dengan kecepatan sedang, di dalamnya hanya ada kejeningan. Ingin sekali Sahira mengajukan banyak pertanyaan tentang apa saja yang terjadi selama sepuluh tahun belakangan yang tidak di ketahui Sahira. 'Saya ini siapanya? ah, saya bahkan tidak berhak mengetahui apapun,' benak Sahira. "Ra' tadi kamu udah makan siang?" suara Agatha memecah hening. Sahira terpana, sudah sepuluh tahun ia tidak mendengar Agatha memanggilnya dengan sebutan itu. Betapa rasanya menusuk mengingat masa lalu yang bahagia namun harus diakhiri dengan luka. "Sahira?" Agatha mengayun-ayun tangannya di depan wajah Sahira. "Iya Pak, udah kok," Sahira berucap cepat. "Ra' saya belum pernah minta maaf sama kamu, sekarang karna kita sudah ketemu lagi sama kamu, so ya... sekalian. Sahira Amalia saya mohon maaf karna dulu pernah menyakiti kamu. Kita sama-sama tahu Ra' kita dulu hanya ABG labil yang gampang sekali melakukan kesalahan," lagi Agatha mengatakan itu dengan pesonanya. Bagaimana bisa Sahira untuk tidak terpesona. Sahira hanya bisa terdiam mendengar perkataan Agatha, pikirannya melanglang buana mengingat masa lalu yang tak bisa ia ulang kembali. 'Bang, apa perkataan janjimu dulu hanya keluar dari mulut begitu saja sebagai ABG labil, tidakkah Abang tahu aku sangat mengingat dengan detail kenangan kita sebagai sebagai kenangan berharga,' benak Sahira. "Ra, saya dimaafin ngak nih?" ulang Agatha, sialnya dia malah mendekatkan wajahnya pada Sahira. Sukses itu membuat jantung Sahira berlompatan. "Hmm, kita tidak perlu membahasnya Pak. Saya sudah lama memaafkan dan melupakan hal itu," hampir saja Sahira jadi terbata-bata, beruntung ia bisa menenangkan diri. "Syukurlah," Agatha kembali menjauh. "Huh," Sahira bernafas lega. Suasana kembali hening, ada Agatha di sisi kanan mobil yang berselancar di dunia maya. Ada Sahira duduk di sisi kiri mobil termangu mengumpulkan puing-puing ingatan masa lalu yang mulai kembali utuh. Agatha dengan posisi duduk di sofa mobil, jika orang lain melihat maka akan terlihat sempurna, tidak akan ada yang berpikir tentang sebuah kursi roda. Wajah tampan, tubuh jenjang, kulit putih dan mudah tersenyum. Namun akankah perempuan terpikat jika ia keluar mobil dan kembali menaiki kursi rodanya. Mungkin banyak, jika mereka tahu bahwa Agatha adalah seorang CEO. # Mobil Mercedes Benz terbaru memasuki kawasan Mall Ibu Kota, ia terparkir mentereng di antara rentetan mobil di area parkir gedung Mall. Resto yang sedang di persiapkan untuk di buka berada di dalam Mall Ibu Kota. Perusahaan yang di kelola keluarga Agatha 'Imanuel Cooperation Group' bergerak di bidang kuliner, Produksi makanan ringan dan cepat saji di kota Jakarta. Sedangkan perusahaan cabang di Kalimantan yang di kelola oleh Kakaknya Haru Imanuel bergerak di bidang tanaman kayu, tanaman buah-buahan, sayur mayur dan sandang pangan. Imanuel Group juga ada perusahaan cabang di daerah Bandung yang di kelola oleh adiknya Agatha yaitu, Amara Imanuel yang bergerak di bidang produksi pakaian khas Bandung, Makanan oleh-oleh Bandung, beberapa Cafe dan Resto dan juga tempat wisata. Amara berada di semester akhir di Universitas Bandung, ia bukan di serahi tanggung jawab secara menyeluru. Agatha sering hadir untuk meninjau keadaan di sana dan Ayahnya Hideyhosi Imanuel juga sering ke Bandung untuk menjenguk putri satu-satunya. Amara memang sengaja di suruh Ayahnya kuliah di Bandung supaya bisa sekalian terjun ke dunia bisnis, karna tidak mungkin bagi ayahnya untuk menempatkan putrinya di Kalimantan, itu akan menyulitkan ayahnya untuk memantau keadaan putrinya. Beban berat Amara dalam mengelola bisnis dan kuliah memang sering ia keluhkan pada Agatha, namun Agatha selalu memberi suport untuknya agar terus melangkah maju. Berdeda sikap saat ia di luar, Amara terlihat manja jika bersama Agatha. # "Pak, saya sudah menyocokkan laporan dari Pak Edu, menurut saya semuanya sesuai Pak," Ucap Sahira yang kini ada pada sebuah Resto yang sedang di desain klasik. "Mmm, saya juga berpikir begitu, bisa juga tuh anak diandaalkan," gumam Agatha. "Besok kamu siapkan rapat. Kita bahas soal pembukaan Reato baru kita ini!" tegas Agatha sambil melihat-lihat seisi Resto. "Baiklah Pak," Sahira menganggut. "Oh iya, Pak Eduard dimana? Bukankah seharusnya dia sudah hadir?" Sahira bingung harus berbicara apa. Bagaimana mungkin seorang yang akan di angkat menjadi meneger Resto kelaknya malah telat dan bahkan tidak hadir. "Saya hubungi dulu ya Pak," ucap Sahira membuka tas untuk meraih ponselnya. "Tidak perlu, biar saya saja," Agatha memgeluarkan ponselnya dari saku. Sahira kembali menutup tasnya dan menatap Agatha yang memutar kursi roda membuntutinya. 'Bisa habis riwayat Pak Eduard' batin Sahira. Tak lama ada sosok lelaki bertubuh jenjang yang juga tampan, namun wajahnya sangat Indonesia sekali mengahampiri mereka. "Apa kabar bro?" ucap laki-laki itu. "Sok basa-basi, udah tahu telat," jawab Agatha "Hahaha," Eduard malah tergelak. Agatha langsung menaruh ponsel pada pahanya dan mereka bersalaman layaknya dua sahabat, ada sedikit improvisasi dalam bersalaman mereka. "Bukannya itu Pak Eduard?" hanya Sahira yang bisa mendengar suaranya sendiri. Sahira pernah melihat Eduard ketika keluar dari ruangan Agatha setelah jam makan siang. Ia tahu itu Eduard dari Desi. "Udah lama Nyampe?" ucap Edu. "Lumayan sih, kebiasan lu telt lu. Kalau udah masuk kerja lu masih begini aja, gwa gantiin lu pake yang laen." Baru pertama kali Sahira mendengar kata Lu gwa dalam bahasa Agatha, dari masih SMA Sahira selalu mendengar Agatha berkata dengan sopan santun dan terkenal dengan keramahannya. Dia adalah Ketua Osis panutan. "Hahaha," Eduard bukan takut dengan ancaman Agatha tapi malah tertawa. "Jangan marah-marah Bro, nanti cepet tua," ucap Eduard yang berada di hadapan Agatha. "Heh, kebiasaan buruk itu jangan dibawa sampe tua. Walat lu, bisa ngak dapet bini seumur hidup," ucap Agatha yang tidak sadar jika Eduard sudah memandangi Sahira lekat. "Sekretaris kamu yang baru itu ya?" Eduard mengalihkan pembicaraan. "Ampun, baru juga dibilangin. Dasar mata keranjang," nada suara Agatha nampak ada sedikit kekesalan. "Bro,... mata itu butuh yang fress kayak gini, biar ngak jenuh. Lu tahu kan cewek-cewek Ibu Kota dengan pakaian minim dan cantik itu banyak. Tapi yang fress kayak gini sedikit Bro, gwa suka," ucap Edu yang masih saja curi-curi pandang sementara Sahira menunduk. "Bukannya setiap ketemu cewek bening dikit lu selalu bilang seperti itu. Itu mah dasar lunya aja yang ngak bisa lihat cewek. Jangan-jangan semua perempuan lu sikat." Agatha makin di buat kesal oleh tingkahnya Eduard "Beda Bro, biasanya ngak begini ekspresi gwa. Serius dia itu berbeda," ucap Edu yang kini sudah berlutut menyeimbangkan posisinya dengan Agatha. "Edu, Edu,....orang lain bisa ketipu sama omongan busyit lu, tapi gwa ngak. Sekali mata keranjang, tetep aja mata keranjang," Agatha memutar ke arah Sahira. Sementara Sahira sudah menandai Edu mata playboy kelas teri dari awal pwrtemuan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD