Sang Player

1019 Words
Eduard Aruan, laki-laki berambut pirang, bermata coklat dengan wajah kebarat-baratan, postur tubuh yang tinggi dan pastinya berasal dari keluarga terpandang. Eduard Aruan, wanita mana yang akan menolaknya? Dia di juluki Agatha 'Si Pembual' karna sering menggombal dengan gadis-gadis yang berharap lebih padanya tapi akhirnya ia tinggalkan tanpa kepastiaan. Itulah Eduard Aruan, si pemberi harapan palsu. Seperti marganya Aruan, pria bermata coklat ini adalah keturunan Batak. Ayahnya bermarga Aruan dan ibunya keturunan Australia. Ayahnya salah satu investor di perusahaan Imanuel Cooperation Group, dan Ibunya punya beberapa Resto di daerah Ibu Kota. Eduard bersahabat dengan Agatha dari masih duduk di bangku kuliah, lalu Agatha menunjuk Eduard untuk menjadi manager di Resto baru yang sedang ia rancang. Itulah sebabnya Eduard tidak perlu kaku menghadapi Agatha yang seorang CEO. "Hai girls, Sekretaris baru ya?" Edu mendekati Sahira yang berada di samping Agatha. Sahira hanya diam, membalas sapaan dengan sebuah senyuman. "Girls, kamu Ayu, Keturunan Sunda ya?" Edu beralih ke samping Sahira. Agatha melototi sahabatnya yang mulai tengil. Sahira meraih ponselnya dari tas, berpura-pura tidak mendengar celotehan Si Pembual di sampingnya. Entah mengapa Sahira merasa tidak perlu menanggapi ocehan Edu. "Sahira, kita langsung pulang saja" Agatha memotong pembicaraan Edu yang sepertinya akan panjang. Bisa jadi malam ini Edu akan mengajak Sahira berkencan seperti ia mendekati wanita-wanita lain. "HELLO,... Gwa bru nyampe Bro. Masak pulang, yang bener aja?" Edu sengaja mengeraskan suara untuk protes. "Salah sendiri telat" Agatha menggerakkan kursi rodanya mengarah ke Lif Mall untuk menuju parkiran. "Hey Bro, setidaknya kita berbincang-bincang dulu, gimana?" Edu menghadang Agatha dan sekarang ia sudah tepat di hadapan Agatha. Sahira hanya jadi penonton dan pengikut Agatha. Jika Agatha bilang 'ayo' maka ia bejalan dan jika Agatha berhenti maka ia juga berhenti. "Udah males gwa, paling lu mau ngegombalin Sahira" "Kenapa emang, lu cemburu?" ucap Edu menaikkan alisnya sebelah. "Cemburu atau ngak itu bukan urusan lu, yang jelas gwa ngak suka lu selalu mempermainkan cewek kayak gini. Depat balasan tau rasa lu" Agatha kembali menggerakkan kursi rodanya hendak menabrak Edu yang akhirnya Edu menyingkir untuk mengalah. "Eh, tunggu. Setidaknya kita bisa pulang barengkan?" ucap Edu yang sudah tertinggal di belakang. "Pulang sendiri sono!" Agatha melambaikan tangan. "Set dah" Edu hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, melihat Sahira dan Agatha yang makin jauh. # "Sahira kamu mau langsung pulang, atau balik ke kantor dulu?" tanya Agatha. "Saya langsung pulang aja Pak" Sahira tersenyum, mengubah ekspresinya yang tadinya sedikit manyun sebab ulah Edu. "Oh, ya sudah. Mau di antar atau,..." "Saya udah pesen Taxi online Pak" potong Sahira, ia tidak merasa nyaman jika Agatha mengantarnya kembali. Bukan karena ia tidak suka, tapi ia tidak ingin memperdalam rasa yang belum tentu akan ada balasannya. "Baiklah, Kebetulan saya ada urusan jadi memang ngak bisa buat antar kamu pulang Sahira." "Ya Pak, ngak papa" Sahira pamit sedikit menundukkan kepala ketika Agatha hendak masuk lif yang sudah terbuka, Agatha tersenyum menatap Sahira. Pintu lif sudah tertutup rapat, Sahira berbalik untuk menuju pintu keluar Mall. "Astaghfirullah" Tepat ketika Sahira berbalik ternyata Edu sudah ada di hadapannya. Edu mengedip-ngedipkan mata menggoda Sahira. Sahira bukan tergoda atau geli, ia malah merasa takut dengan laki-laki yang di kelaskan tampan itu. "Hahaha" Edu terbahak, melihat ekspresi kaget Sahira. Sahira mempercepat langkah menuju eskalator agar bisa segera keluar dari Mall. "Eh, Nona kita belum kenalan" Edu tak mau kalah membuntuti Sahira. "Saya sudah tahu nama Bapak dan Bapak sudah tahu nama Saya, kita sudah saling kenal bukan" Sahira terus berjalan membelakangi Edu. "Bapak?" Edu menunjuk dirinya yang di panggil Sahira dengan sebutan Bapak. Apakah ia terlihat tua sehingga Sahira harus mengucapkan kata-kata itu untuknya. "Bapak,..Come on. Seganteng ini di panggil Bapak" ulang Edu yang tidak yakin dengan sebutan Sahira barusan. "Ya, Bapak. Sangat tidak sopan jika saya panggil nama bukan?" Sahira berbalik menghadap Edu. Edu tersenyum, setidaknya Sahira sudah meresponnya. "Ayolah girls, kita tidak perlu seformal itu. Ini Mall bukan kantor" Edu mendekati Sahira. "Saya menghormati Bapak sebagai rekan bisnis Bos saya, tidak lebih" Sahira kembali berbalik dan berjalan menuju eskalator yang sudah di depan mata. "Haah, Bapak lagi. Bener-bener berasa tua saya" Edu menggelengkan kepala, tidak percaya jika Sahira menolak menyukainya. Tidak seperti gadis lain yang ia dekati langsung nempel kayak perangko. "Sahira...Tunggu!" Edu mengejar Sahira yang sudah berada di eskalator. "Sahira kamu pulang naik apa?" Edu sudah berada di sisi Sahira dengan menyalip penumpang eskalator yang lain. "Saya sudah pesan taxi online" Sahira baru ingat jika ia belum memesan taxi, ia sengaja berbohong agar tidak di antar oleh Agatha tadi. Sahira mengeluarkan ponselnya sembunyi-sembunyi dari Edu untuk memesan taxi online. "Bareng ya naik taxinya, nanti saya yang bayarin" ucap Edu ngasal. Karena jika dia mengajak Sahira pulang bareng dengan mobilnya sudah ketebak apa jawaban Sahira. Sahira menganga dengan ucapan Edu barusan, mana ada naik taxi bareng sementara ia dan Edu tentunya dengan arah yang berbeda. "Ngak jadi, di cancel aja. Biar saya naik angkutan umum saja" Sahira berkelit agar Edu tidak mengajaknya bareng. "Ngak papa, naik angkutan umum malah lebih seru," Edu cekikikan, sebab tahu jika Sahira sebenarnya ingin menghindar. Sahira melototi Edu, yang membuat Edu makin terbahak. "Melotot aja kamu cantik, hehe" Setiap ucapan Edu malah membuat Sahira makin kesal dan ingin segera kabur darinya. "Dulu belajar Bahasa Indonesia nilainya berapa?" tanya Sahira kesal. "Lima, hehe" Edu tetap cengengesan. "Oh pantes, ngak ngerti bahasa halusnya di tolak" Sahira dengan kekesalan yang sudah di ubun-ubun. "Kan kamu bilang mau naik angkutan umum, bukannya kamu pinter Bahasa Indonesia. Kata umum berarti bisa siapa saja, termasuk saya. Atau Bahasa Indonesianya nilainya jelek kayak saya ya?" Edu tak mungkin kalah dalam bersilat lidah. Tampa, humoris, kaya dan baik adalah andalan mengapa Edu menjadi favorite di kalangan kaum hawa yang mengenalnya. "Aduh,... terserahlah.. Capek ngomong sama orang kayak kamu" Sahira sudah lelah harus menjawab apa, sebab rasa kesalnya juga membuatnya lelah dan males berpikir lagi. "Kalo terserah, ayok naik mobil aku aja!" Edu tersenyum dengan PDnya, sementara Sahira menganga dengan ucapan Edu barusan. Sahira juga tahu jika Edu dari awal ingin mengajaknya pulang dengan mobilnya yang Sahira yakin pasti terlihat mewah yang membuat satu komplek nantinya akan menatap kepulangannya dengan laki-laki kaya dan akan membuat mereka berpikir beragam. "NGAK" ucap Sahira tegas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD