Kenyataan dan pertemuan

1973 Words
Keesokan harinya…. Disudut kamar yang megah nan luas terdapat seorang gadis yang tengah termenung sembari terus memijat pelipisnya.Nasya sang pelaku utama tengah pusing memikirkan hal yang baru saja dialaminya. Ia masuk kedalam novel wah yang benar saja. "Gak mungkin sih gue masuk kedalam Novel. Ishh gak mungkin banget gak pernah ada satu manusia pun yang bisa masuk kedunia novel dan yakali gue masuk gak mungkin banget lah." ucap Nasya pada dirinya sendiri. "gue yakin ini cuma hayalan gue doang!” “ Tapi kalau beneran gimana?! ini masalahnya gue ada di tubuh Antanasya Iriana yang gak lama lagi mati." Monolog Nasya yang kali ini benar-benar hampir stres. Saat tengah bergulat dengan pemikirannya, suara ketukan tiba tiba terdengar dari arah pintu kamarnya. " Ekhm, ada perlu apa kalian disini?" tanya Nasya dengan nada penuh wibawa yang di buat buatnya, ketika kini ia berhadapan langsung dengan seorang pelayan yang tadi mengetuk pintu kamar. Nasya bertanya bukan tanpa alasan, sebelumnya Nasya sudah memerintah para pelayan dan pengawal itu untuk tidak mengganggunya dan membiarkan dirinya didalam kamar sendirian, ia juga sudah memberi perintah tegas agar jangan membiarkan seorangpun masuk keruangannya tanpa ijin darinya tak peduli siapapun itu. "Yang Mulia Baginda Raja ingin menemui anda Nona. Jadi kami di perintahkan untuk menjemput Nona." ucap sang pelayan. Baginda raja? "Hm baiklah, sebentar." ucap Nasya kembali masuk kedalam kamarnya. Nasya kembali menatap ke arah cermin besar yang berada didalam sana, menatap pantulan dirinya Nasya meneguk ludah gugup, ia harus memastikannya sendiri dipikirkan sebanyak apapun masih sangat tidak masuk akal untuknya jika ia memang masuk kedalam novel kesukaannya itu, Pandangan Nasya naik ke kepalanya yang dibalut oleh beberapa helai kain, tanpa berpikir panjang Nasya memukul pelan kepalanya. 'Awwhh s**t, sakit banget gila. Anjim.' Batin Nasya menjerit dengan mulutnya yang tampak ingin mengeluarkan berbagai macam sumpah serapah namun tertahan diujung lidahnya. ‘Tetep aja sakit ini! Aisshhh hidup gue kenapa bisa begini sih?!’ "Permisi nona? Apakah ada yang perlu dibantu." Intrupsi pelayan dari didepan kamarnya. "Tunggu sebentar!" Takut terjadi sesuatu terhadap nonanya si pelayan pun tampak ingin memaksa masuk namun saat ia mulai melangkah Nasya pun keluar secara tiba tiba dari sana. " Ayo. " ucap Nasya sebelum akhirnya melenggang pergi. Nasya berjalan pelan bersama pelayan dan pengawal pribadi yang mengawalnya penuh siaga. "Salam hormat dari hamba untuk anda Yang Mulia." ucap Nasya saat dirinya tiba di kediaman sang Baginda Raja. 'Gue gak salahkan ya, salamnya emang gini kan?Ah udahlah percaya diri aja.' "Hm duduklah." ucap sang Baginda Raja dengan suara berat miliknya. "Aku mendengar kabar burung di Istana ini, bahwa hari ini kau hendak mengakhiri nyawamu. Apa itu benar Putri Antanasya?" ‘Buset cepet amat nyebarnya’ " Sebenarnya bukan seperti itu Yang Mulia, ada beberapa alasan mengapa saya melakukan hal itu." Balas Nasya berusaha sesopan mungkin. "Apa kau tidak bisa mengatakan alasannya padaku, Puteri?” "Hamba mohon maaf Yang Mulia, tidak ingin berniat lancang tapi alasan itu bukanlah alasan yang besar, saya sendiri sadar bahwa saya masih kurang dalam merawat diri saya, karna itu dalam beberapa kesempatan saya sering kehilangan kendali atas diri saya sendiri" ucap Nasya sembari menunduk hormat. ‘Ngeri gue lama-lama, gue kapan bisa bicara seformal ini dah?! Hah, yang penting ngasih alasan ae dulu lah.’ Baginda Raja tampak terkejut mendengar jawaban gadis cantik di hadapannya ini. “ Hm apakah ini terjadi karna Putera Mahkota, Puteri?" Baginda Raja bertanya dengan intonasi penuh penekanan seolah olah pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang sangat penting. 'Putera Mahkota? Apa cowok yang tadi ya? Yang mukanya kayak papan triplek di masukin ke kulkas itu.' "Tidak Yang Mulia, ini benar-benar murni karna kelalaian saya dalam mengurus diri saya sendiri." ucap Nasya pelan tak lupa ia ikut menunduk hormat. "Hm baiklah kalau begitu, tapi ingatlah ini Puteri jika Putera Mahkota menyakitimu kau bisa mengatakannya padaku tanpa sungkan." ucap Baginda Raja sembari tersenyum kecil. Nasya ikut tersenyum namun dengan senyum canggung yang terlihat kentara, berusaha untuk menutupinya Nasya kembali berucap, "Baik Yang Mulia akan saya ingat baik baik dalam ingatan saya." 'Hiyaa boleh juga gue, ckckck ternyata bakat terpendam gue muncul disaat yang tepat' *** Malam hari telah tiba, Nasya yang sedari tadi telah kembali kekamarnya kini tengah berkutat dengan kertas dan kuas pena di tangannya serta tak lupa dengan lentera kecil yang ikut menemani dirinya. Dunia yang ditempatinya sekarang ini begitu berbahaya ia harus menyusun rencana untuk selamat apapun yang terjadi. Mau dunia ini hanya hayalan atau benar benar dunia novel yang sesungguhnya ia tidak mau terfokus ke pertanyaan yang tak ada jawabannya itu. Pertama-tama ia harus fokus menyelamatkan dirinya terlebih dahulu. " No no no, plan A terlalu beresiko gimana kalo si Putera Mahkota gak bisa diajak kerjasama. Bah bisa is dead lebih cepat gue. Ih no no." Nasya berucap pada dirinya sendiri sembari melihat tokoh tokoh utama yang dicantumkannya diatas kertas. Plan A yang di buatnya tidaklah serumit itu, dalam plannya Nasya berencana untuk berdamai dengan Putera Mahkota dan melakukan kesepakatan bahwa jika Putera Mahkota mau menyerah kan sebidang tanah di daerah pesisir pantai maka Nasya berjanji ia akan membantu Putera Mahkota bertemu dengan sang pujaan hati. "Hm gimana kalo plan B, eh tapi gimana caranya gue bisa kabur? belum sampe tujuan palingan udah mati kali gue. Hikss gini banget hidup gue." ratapnya. "Eh bentar nah itu dia, gue harus ngejauh dari pemeran utama dan nikmatin hidup aja selagi bokap gue disini kaya raya kan ya?!. Nah bagus tuh kenapa dri tadi gak gue pikirin. Anji** emang." ucap Nasya sembari menepuk jidatnya dan merutuki kebodohan nya. "Hm berarti gue bakal jadi antagonis berkelas dan kaya dong bhahahahahahaha. Eh Anji**” ‘Toa banget dah suara gue, untung kaga ada orang.’ Nasya langsung membekap mulutnya sendiri saat ia menyadari suara tawanya terlalu nyaring. Namun di sela bekapannya Nasya tersenyum bangga dengan cara berpikirnya. Dua minggu kemudian.... Dinginnya malam kala itu sama sekali tak menganggu aktivitas seorang wanita dalam mengelilingi sebuah pameran pasar yang diadakan di daerahnya. Meninjau dari pakaian yang ia kenakan nampaknya ia tidak ingin menunjukan jati dirinya yang sebenarnya. Ditemani seorang pelayan bernama Marie yang sudah setia bersamanya sedari kecil Antanasya Iriana dengan senang dan riang mengeliling pasar malam itu, memandang takjub pada pemandangan sebuah desa dengan nuansa jaman dulu Antanasya merasa sedikit lega sekarang, setidaknya saat ini pikirannya sudah lebih jernih dari sebelumya. Keluar dari Istana setelah dua minggu lamanya ternyata tidak semudah yang ia bayangkan, sesuai dengan isi novel yang pernah ia baca Antanasya Iriana ini merupakan anak Duke yang disayangi oleh Raja dan Ratu, senang menginap di Istana Antanasya bahkan sempat dianggap sebagai puteri Raja oleh para bangsawan yang mampir disana, selain karna ia senang menginap di Istana faktor tinggal jauh dari orang tuanya juga ikut mendukung hal tersebut. "Nona kita sudah sampai." Antanasya atau yang kerap kali disapa Nasya itu menoleh cepat ketika suara pelayannya mengintrupsi. Melihat ke arah pandangan sang pelayan Nasya seketika tersenyum. ‘Akhirnya makan.’ Keduanya pun masuk kedalam rumah makan itu kemudian segera mengisi perut mereka yang lapar sedari mereka berjalan tak lama tadi. Selesai dengan aktivitas mengisi perut keduanya kembali melanjutkan perjalanan. ‘Gue harus mastiin.’ Batin Nasya ditengah perjalanan mereka. Pemikiran seputar dimana ia sekarang kembali menghampiri Nasya detik itu, mengingat bahwa di pasar malam inilah pemeran utama saling bertemu membuat Nasya penasaran. Ingin memastikan namun sangat tak mungkin bila pelayannya ikut bersama dengannya. Namun kepercayaan dirinya meningkat secara tiba-tiba tepat ketika ia melihat celah untuk kabur, ‘Syukur gue selama disekolah terbiasa terlambat, jadi gue udah biasa menghilang dari pengawasan orang orang. Guru BK gue aja kalah apa lagi yang ini. ‘ ‘Maaf ya, gue harus mastiin ini sendiri.’ Sekali percobaan Nasya merasa bangga karna ia berhasil kabur, kembali ke tujuan awal Nasya kembali menyusuri pasar malam itu. Mencari tempat pertemuan sang pemeran utama Nasya bernafas lega ketika ternyata menemukan tempat itu tak sesusah yang ia bayangkan. Panggung pertunjukan boneka, “Huft , disini dia!” “Tapi kok gak ada tanda-tandanya ya? Apa masih belum waktunya?” lagi lagi Nasya bermonolog. Memutuskan untuk menunggu sembari menikmati pertunjukan itu, tanpa sadar Nasya menikmatinya. Satu pertunjukan selesai dengan dihadiahi tepuk tangan meriah dari penonton, Nasya kembali sadar tepat ketika ia tak sengaja melihat seseorang dengan jubah yang menutupi seluruh badannya dan separuh wajahnya. ‘Eh ,jangan-jangan dia-,’ Mungkin sekarang ini ia akan terlihat seperti penguntit, walaupun demikian ia tetap masa bodo. Ia harus memastikannya sekarang mengikuti dengan diam-diam adalah pilihan terbaik dari antara yang terbaik. Mengernyit bingung Nasya bertanya-tanya untuk apa orang itu masuk ke sebuah jalan kecil yang nampak menyeramkan itu, bukankah seharusnya orang itu bertemu dengan pemeran utama prianya jadi untuk apa dia masuk kedalam sana. Walaupun bingung Nasya tetap melangkahkan kakinya dalam diam kemudian membuntuti orang itu masuk ke jalan kecil itu, baru di persimpangan jalan Nasya sedikit terkejut ketika hanya ada dirinya disana. Maju beberapa langkah kedepan sembari melihat sekeliling, sebuah tangan dengan tiba-tiba datang membekap mulutnya kemudian menyeret ia kesebuah ruangan kecil yang berada tak jauh dari persimpangan jalan. "Arghh---- mmpphh mmmphh" Dengan sekuat tenaga Nasya berusaha memberontak namun tetap saja tidak berhasil. "Siapa kau? Mengapa kau mengikutiku?" Nasya terdiam saat telinganya menangkap suara berat milik orang yang tengah membekapnya dari belakang itu. ‘s**t, cowok!’ Nasya merutuki dirinya yang salah mengikuti orang dan malah berakhir seperti ini, ditambah lagi dirinya sedikit merinding saat orang itu berbisik tepat di telinganya. "Mmphhh mmpphh" Nasya berucap dalam bekapan itu. " Bila kau teriak, aku tak jamin kau bisa keluar dari sini" Pria itu memberi ancaman kepada Nasya yang kini mulai terdiam tak berkutit. Dengan perlahan sang pria melepaskan bekapannya dan membiarkan Nasya bernafas secara normal. " Hufftt maafkan aku, a a aku tidak bermaksud mengikutimu. Aku salah orang" jelas Nasya dengan suara bergetar, ia masih sedikit syok dan takut pada orang ini dan ancaman yang diberikan padanya. Apa ia akan mati ditangan orang ini?atau dia justru akan disiksa lebih dulu?! "Salah orang? Kau pikir aku bodoh ya?" Nasya menelan ludah gugup, pikirannya berkecamuk. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana cara keluar dari ruangan yang minim pencahayaan ini dan yang lebih penting bagaimana kabur dari orang didepannya. Sungguh Nasya benar benar takut sekarang. "Ti ti tidak tuan, sa saya benar benar minta maaf. Sa saya tidak bermaksud apa apa." jawab Nasya sebisa mungkin. Sang pria melangkah pelan mendekati Nasya begitupula Nasya yang ikut melangkah mundur berusaha menciptakan jarak sebanyak mungkin diantara mereka. Mempertahankan langkahnya mata Nasya bergerak tak tenang ,melihat sekeliling dan berusaha mencari alat untuk pertahanan dirinya Nasya mengumpat dalam hati, s**l dia sudah dipojokkan sekarang. "A a apa ya yang anda lakukan?" Suara gagap yang datang dari perasaan gugupnya membuat Nasya benar-benar terlihat seperti kelinci yang tengah ketakutan sekarang. "Apa? Bukankah kau mengikutimu untuk ini.” “ Kau mau menggoda ku bukan?" Nasya melotot, ‘Heh darimana pemikiran sembrono itu datang?!’ Mata Nasya kembali bergerak gelisah,’Gak ada cara lain, gue butuh balok!” Nasya masih berusaha mencari namun lagi-lagi usahanya sia-sia, cahayanya terlalu minim didalam sini ditambah lagi pria ini semakin mendekatkan diri dengannya, bahkan kini ia sudah dapat melihat dengan jelas wajah yang berada dibalik jubah itu. Bertemu pandang tanpa bisa dicegah Nasya menatap lurus tepat di kedua bola mata pria itu,warna biru namun tidak terang terlihat seperti biru laut yang dalam, tenang dan tak tersentuh yang ada di sana seketika membuat memori yang berada diotaknya terputar dengan sendirinya 'Eh warna mata itu, kalo gak salah warna mata.... Hah!! Anji* jangan bilang!' Lagi- lagi ia terkejut, tubuhnya yang mematung tiba tiba saja bergerak dengan sendirinya tanpa bisa dicegah langsung membuka tudung jubah pria itu yang tadinya tinggal menutupi seluruh rambutnya. Rambut hitam gelap yang pertama kali tertangkap oleh pandangan matanya, kembali melihat wajah pria itu Nasya mulai memperhitungkan setiap detailnya tanpa ia sadari, hidung dan bibir yang terpahat indah, warna mata biru laut dalamnya itu. Tidak salah lagi orang ini benar benar dia. Pangeran Kenrich Alexsader Arsedral Pemeran antagonis pria yang paling jahat, pangeran dari kerajaan tetangga ARSEDRAL. Dan kakak tiri dari pemeran utama wanita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD