Dua bulan yang lalu,
ARSEDRAL, Penjara bawah tanah Istana bagian barat.
”JAUHKAN TANGAN KOTORMU ITU DARI HADAPANKU!” teriak seorang wanita berparas cantik itu sembari memandang jijik lawannya.
Wanita yang kini terpojok didalam penjara bawah tanah setelah diseret beberapa waktu yang lalu, tampak tak menyerah dengan harga dirinya. Segala macam sumpah serapah sudah diberikannya pada pelayan pria itu, pria yang seharusnya jatuh kedalam pesonanya.
“PANGGIL TUANMU ITU!! IA HARUS MENANGGUNG PERBUATANNYA!” lagi-lagi wanita itu berteriak namun kini dengan nada frustasi.
Bertepatan dengan itu sebuah langkah kaki terdengar diseluruh ruangan itu , langkah kaki yang melangkah dengan santai tanpa beban.
“Salam hormat Yang Mulia” Para penjaga penjara bawah tanah yang merupakan kepercayaannya menunduk memberikan penghormatan.
“Salam hormat,Tuan.” Sebuah penghormatan terakhir datang dari pria dengan tampang datar yang sudah lama menjadi orang kepercayaan pria itu.
Menatap wanita itu dengan tatapan dingin, Pria yang dikenal sebagai pangeran baik hati Arsedral itu tanpa sadar membuat lawan bicaranya tertekan begitu saja sampai sulit untuk berkata-kata.
“K KAU , Mengapa kau lakukan ini padaku?!” wanita itu tetap tak berhenti berceloteh bahkan ketika pria yang menjadi lawan one night standnya itu memandang malas.
“Mengapa? MENGAPA? MENGAPA KAU MECAMPAKKAN AKU SETELAH APA YANG SUDAH KITA LEWATI, HAH ?!” Lagi- lagi wanita itu berteriak histeris.
“KAU MEMBUANGKU KARNA PUTERI BODOHMU ITU BUKAN?! PUTERI p*****r ITU, AKU AKAN MEMBUNUHNYA!”
“AKU AKAN MEMBUNUHNYA!!”
PLAK
“Jaga mulutmu.”
Wanita itu terkejut ketika sebuah tamparan keras mendarat di pipinya , ditambah lagi nada dingin nan datar yang diberikan oleh pria itu terasa seperti belati yang menghujaminya.
“Aku hanya ingin,”
Wanita itu mendongak lagi ketika mendengar suara dari orang yang sama,
“Jika kau ingin jawaban, itulah jawabanku.”
“A a a apa? Tidak T I TI TIDAK! LEPASKAN AKU! ARGH LEPASKAN. “
Wanita itu kembali memberontak dengan tegas ketika para pengawal disana mulai menyeretnya lagi menuju alat pacung, sembari berteriak wanita itu terus menerus memohon pengampunan namun yang ia dapatkan justru ekspresi datar dan jijik.
“AKU MENGUTUKMU! AKU MENGUTUKMU PANGERAN KENRICH ALEXSADER ARSEDAL!! KAU AKAN MENDERITA SEPANJANG HIDUPMU , KAU AKAN MENCINTAI WANITA YANG TIDAK AKAN PERNAH KAU MILIKI ! “
“MENDERITALAHH KAU SAMPAI MAT-,”
CRAK
Seketika suara menggelar yang tadinya memenuhi seisi ruangan itu hilang dalam sekejap, “ Mau mengutukku? Lucu sekali.”
“Yang Mulia.”
“Bakar saja sisa tubuhnya, dan berikan kepalanya pada anjing.”
“Baik Yang Mulia.”
***
Sekarang, Pasar malam Norwera.
"Kau? Cukup agresif juga" Ucap Ken dengan seringai diwajahnya.
Nasya masih diam dengan tangannya yang masih membekap mulutnya, telinganya seolah-olah menuli dalam situasi itu. Bayang-bayang cerita novel tentang pria didepannya mulai merajalela di otaknya.
Pria licik yang pura pura baik namun ternyata iblis ini tidak akan segan segan membunuh orang, baik itu perempuan, pria dewasa, orang tua, maupun anak kecil sekalipun. Pria ini benar benar penjahat dari antara penjahat, tak lupa juga Nasya ingat betul bagaimana tragisnya wanita wanita yang menggoda pria itu, diawal memang pria itu menerima dengan tangan terbuka para wanita yang menyerahkan dirinya kepadanya namun diakhir para wanita itu tidak akan hidup lagi.
"K k kau--, " Suara Nasya tercekat, gurat ketakutan terpampang jelas diwajahnya.
'Wah bener bener nih, kenapa gue s**l muluuu sihh. Anjim emang anjimmm!'
Ken tersenyum pongah tanpa bisa dicegah ketika melihat Nasya yang nampak ketakutan dihadapannya itu. Dengan seringai yang tak luput dari wajahnya Ken mendekatkan wajahnya. Wangi semerbak bunga lavender tercium jelas melalui indra penciumannya, tanpa sadar Ken menutup matanya wangi ini entah mengapa sangat menenangkan baginya.
Nasya semakin kelabakan melihat Ken yang mulai memajukan wajahnya dengan kekuatan yang ia punya tepat saat Ken menutup mata Nasya mengambil ancang-ancang untuk langsung menendang tulang kering pria itu.
Dan berhasil, pria itu nampak mengaduh tak lupa disertai u*****n-u*****n. Memanfaatkan kesempatan itu dengan cepat Nasya melepaskan diri kemudian berlari keluar dari ruangan kecil ini.
'Syukur puji Tuhan, ini pintu kaga kekunci. Bye bye psikopat gue harap kita gak usah ketemu lagi. Anjim ngeri gue.' Batin Nasya sebelum akhirnya berlari menjauh dari ruangan itu.
"Hufft.. Huftt Huftt ca capek anjir." Nasya berucap pelan sembari melihat kearah belakang dan di sekelilingnya.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan pria itu disana membuat Nasya akhirnya dapat bernafas lega,”Syukur kaga dikejar.” Menetralkan deru nafasnya yang memburu Nasya kembali hendak melanjutkan perjalanannya ketika dirasanya ia sudah cukup baik, Namun tiba tiba seseorang berucap tepat di hadapannya.
"Nona, astaga apa yang terjadi padamu?" Pelayannya yang bernama Marie berdiri dihadapannya sembari menatap khawatir ke arahnya.
"Aku tidak apa-apa, Marie"
"Apanya yang tidak apa-apa nona?! Lihat ini, mengapa nona menghilang seperti ini. Apa yang akan terjadi jika nona dalam bahaya?!"Marie berucap galak tanpa sadar.
.
Nasya terhenyak sebentar sebelum akhirnya tersenyum kecil kemudian tiba tiba meringis. "Baiklah baiklah, maafkan aku." ucap Nasya yang tentu saja sangat mengejutkan, bahkan saking mengejutkannya Marie langsung tersadar dengan ucapannya yang sangat tidak sopan.
“Ma Maafkan saya nona!”
Nasya mengernyit heran,”Hah? Untuk apa Marie?”
“Saya sudah tidak sopan pada nona. tolong ampuni saya nona, hukumlah saya atas perbuatan tidak terpuji ini.”
Nasya menghela nafas panjang,”Sudahlah Marie, kau tidak melakukan kesalahan apapun. Sekarang berdirilah, aku ingin pulang dan cepat-cepat beristirahat.”
“Tapi-, B b ba baik nona.” Balas Marie pada akhirnya dengan takut-takut.
Para pelayan dan pengawal yang bekerja dengan Nasya sudah sangat mengerti seperti apa nona yang mereka layani. Dibalik wajah cantik, anggun dan polos itu puteri Antanasya bisa lebih kejam dari siapapun, karna itulah setiap pelayan dan pengawal sang puteri pasti akan selalu berusaha untuk tidak membuat kesalahan didepan sang nona atau bertindak tidak sopan dihadapannya.
Namun entah mengapa akhir-akhir ini sikap nona mereka mulai berubah, awalnya terasa aneh lalu lama-lama terasa asing. Namun lagi-lagi bukannya menolak atau merasa takut akan perubahan itu jauh dilubuk hati para pelayan yang ditugaskan untuk melayani sang nona, mereka bersyukur atas perubahan yang walaupun hanya secuil saja pada nona mereka.
Dalam hati mereka merapal doa agar setidaknya nona mereka juga bisa menjadi nona yang menerima banyak cinta tulus dari sekelilingnya dan bukan menerima cinta atau hubungan persahabatan yang palsu.
‘Nona, semoga anda terus bahagia’
“Apa yang kalian tunggu? Ayo hari sudah semakin malam”
“Baik nona!”