Nikmati saja

1265 Words
Matahari menjulang tinggi diatas sana ketika Nasya baru saja menaiki sebuah kereta kuda dari Istana, baru semalam ia menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan ia tidak pernah menyangkan rencana waktu yang ingin ia pakai untuk beristirahat akan terpakai untuk memenuhi panggilan resmi dari Istana secara langsung. Mencoba beristirahat sejenak di dalam kereta kuda sepertinya bukan ide yang bagus, tetap saja ia tidak bisa tidur meski sudah mencoba berbagai posisi. Memilih untuk melihat pemandangan saja Nasya merasa sejuk dengan hanya memperhatikan tumbuhan hijau dan menghirup udara segar yang masih alami sebanyak-banyaknya. “Nona, kita sudah sampai di Istana.” Nasya mengangguk pelan sebagai jawaban, turun dari kereta kuda Nasya berserta para pelayan kembali melanjutkan perjalanan menuju Istana bagian timur dimana disana merupakan kediaman khusus seorang Ratu. “Salam hormat hamba, Yang Mulia Ratu.” Ucap Nasya sembari memberi penghormatan. “Duduklah kemari, puteri.” Balas sang Ratu lembut. “Aku merasa berat membiarkanmu tinggal sendiri diluar Istana,puteri. Terutama setelah apa yang kau alami, maafkan aku karna aku terlalu fokus sembayang hingga mengacuhkanmu seperti ini” Nasya yang baru saja duduk di kursinya langsung tersentak ketika mendengar ucapan penuh rasa bersalah itu , “Ah itu, itu bukan salah anda Yang Mulia. Itu murni kesalahan hamba sendiri, tolong jangan berbicara begitu.” “Kau bahkan menggunakan bahasa formal padaku sekarang, oh puteri aku benar-benar sekejam itu padamu ya.” ‘Apa lagi ini astaga?! Serba salah mulu gue, emang the power of emak-emak nih’ “Tidak Yang Mulia, sebenarnya saya masih belum terbiasa. Kepala saya sepertinya terbentur cukup keras karna itu saya jadi tidak terbiasa dalam menghadapi situasi seperti ini.” “Benarkah? Apa kau sudah memeriksakan diri ke dokter nak?” Tanya Ratu dengan ekspresi khawatir yang tak ia sembunyikan sama sekali. Nasya semakin merasa canggung, perhatian seperti ini terasa mencekat tenggorokkannya. Tapi tunggu, mengapa tubuhnya merasakan reaksi seperti itu? Jangan-jangan?! “Nak?” “Ah maafkan saya Yang Mulia, saya tidak bermaksud” “ Tidak. Tidak apa-apa mungkin aku sudah salah mengundangmu kemari pada kondisi seperti ini. Maafkan aku ya nak” “Tidak Yang Mulia, tolong jangan berkata begitu, saya yang salah karna tidak memperhatikan dan untuk keadaan saya anda tidak perlu khawatir. Saat saya sadar dokter sudah beberapa kali ke kamar saya untuk memeriksa setiap perkembangan keadaan saya,” “Lalu apa yang dokter katakan padamu?” “Dokter berkata ingatan saya akan datang seiring masa pemulihan saya”Balas Nasya cepat tanpa sadar karna sudah terlanjur panik, mendongak dengan pelan untuk melihat reaksi Ratu yang mungkin saja memandangnya dengan aneh karna cara ia menjawab Nasya justru terkejut ketika ia malah melihat Ratu sedang tersenyum hangat kearahnya. “Syukurlah jika keadaanmu semakin membaik nak,” “Karna ingatanmu akan kembali seiring dengan pasca pemulihanmu aku akan membantu sebisaku, setidaknya kau harus mengingat bahwa denganku kau tidak perlu bersikap terlalu berhati-hati, bagiku kau adalah anak perempuanku” Ucap Ratu tulus sembari tersenyum kembali dengan hangat layaknya mentari Nasya hanya bisa tersenyum canggung membalas ucapan itu namun kemudian obrolan keduanya mengalir dengan sendirinya,perlahan rasa canggung yang sebelumnya ia rasakan kini perlahan memudar tergantikan dengan rasa semangat menanggapi setiap topik yang keduanya angkat dalam obrolan itu. *** “Kau bertemu dengan Antanasya?” Ruangan dengan corak emas disekelilingnya dan meja besar yang memuat berbagai berkas disana menampakan keberadaan beberapa orang disana, salah satunya ialah sang pemilik ruangan yaitu Baginda Raja Norwera yang kini tengah berbicara pada istri tercintanya, Yang Mulia Ratu Rosetta Aquwila. “Ya , keadaanya sangat jauh dari perkiraanku. Dia seperti orang yang berbeda.” Ucap sang Ratu dengan raut wajah sedihnya. “Biarkan dia istirahat dulu, Ratuku. Kurasa akan sangat tidak tepat jika kita memberi tahunya sekarang.” Sang Ratu mengangguk setuju, mengingat kembali pertemuannya dengan Puteri Antanasya yang ia anggap seperti Puterinya sendiri membuatnya murung seketika , berbagai spekulasi datang menghampirinya . ‘Apa yang akan terjadi jika dia tau?’ ‘Akankah ia bisa menerimanya?' Disisi lain diwaktu yang sama ,Kediaman Puteri Antanasya . ‘Oke , sekarang ayo kita ingat- ingat alur ceritanya.’ Berbaring diatas kasurnya di tengah hari yang mulai gelap ternyata tak membuat Nasya merasa terganggu , sebaliknya wanita itu justru berbaring dengan nyaman sembari bermain dengan pikirannya. Kembali mengingat alur novel yang pernah dibacanya , kini Nasya mulai menerima kenyataan yang terpampang jelas. Berusaha bertahan hidup adalah satu dari kesekian cara yang patut ia sematkan dalam ingatannya selama ia berada disini. ‘Klasik dan juga Romantis , Huh gue masih gak nyangka bisa ada disni.’ ‘Oke ,pertama-tama kita mulai dulu ceritanya dari awal.’ Mengisahkan seorang gadis kecil bernama Arabela yang kehilangan ibunya dan harus menelan fakta bulat-bulat bahwa ia adalah seorang putri raja. Diusia yang sangat muda Arabela harus mempelajari segala tata ayin sebagaimana seorang putri Raja ,dikarenakan sang Puteri yang sudah terlalu lama tinggal diluar Istana bersama mendiang ibunya ia harus mempelajari semua itu dengan cepat, bahkan dikarenakan jadwal belajarnya yang diperketat ia sekalipun tidak memiliki waktu dan kesempatan untuk sekedar menangisi mendiang ibunya. Selama ia di Istana ini yang ditunjukkan oleh ayahnya kepadanya hanya ada pelajaran pelajaran dalam aktivitas hariannya seperti it uterus hingga usianya beranjak 15 tahun. Tepat hari itu ayahnya menikahi seorang wanita bangsawan, wanita dengan nama Isabela Aziza yang memiliki anak laki laki bernama Kenrich Alexsader itu nampak bahagia ketika ayahnya mengucapkan janji suci pernikahan. Setelah mereka menjadi sebuah keluarga, Arabela tidak pernah menyangka bahwa ia akan menerima kasih sayang sebesar ini dari ibu tirinya. Sudah lama ia tidak merasakan kasih sayang ini, bertahun-tahun berlalu namun Arabela masih tetap merindukan hal itu. Semuanya berjalan cukup baik bagi Arabela, ia mendapat kasih sayang seorang ibu dan seorang kakak namun tidak dengan kasih sayang seorang ayah. Awalnya ia pikir semua berjalan normal ,namun saat kenyataan bahwa ayahnya ingin ia menikah dengan pangeran dari kerajaan Norwera diketahuinya, tak bisa dipungkiri hatinya sakit. Ia terluka karna ayahnya seolah olah ingin ia cepat pergi dari kerajaan ini. Namun lagi lagi Arabela tidak bisa membantah, pertemuan tidak sengaja Arabela dengan sang pangeran membuat sudut pandangannya sedikit berubah. Ia mulai menyukai sang pangeran dan begitupun sebaliknya. Gangguan gangguan kecil pada hubungan keduanya membuat keduanya semakin terikat. Namun gangguan itu bukan hal yang besar untuk keduanya hadapi hal yang lebih besar dari itu adalah fakta bahwa kakak tiri Arabela menyatakan cinta kepadanya, bukan cinta seorang kakak melainkan cinta seorang pria kepada wanita. Disinilah letak inti permasalahannya dan bukan terletak pada puteri manja yang tak lama lagi meninggal itu, puteri itu hanya akan berperan sebagai gangguan kecil yang muncul diawal cerita. “k*****t , kenapa peran gue bentar doang sih! Masa gara-gara gangguin pemeran utama doang gue mati , kalau dipikir-pikir lagi ini gak masuk akal sama sekali.” “ Ya emang sih cara dia gangguin pemeran utama itu guoblok banget, sampe ngerugiin Istana sebesar itu lagi .Huft , gak habis pikir gue sama ni orang.” “Gak papa, karna sekarang gue yang ada disini. Gue gak perlu ngelakuin hal g****k yang sama, hm oke Antanasya lu pasti bisa, cukup ngehidar aja gue pasti selamat , kalau kaga ya tinggal lari aja bawa uang sebanyak mungkin.” Ucap Nasya sembari tersenyum kecil pada dirinya sendiri . “Cukup nikmatin aja harta kekayaan ini, kapan lagi duit lu sebanyak ini.” Sambung Nasya dengan mata yang mulai tertutup rapat. Dengkuran halus terdengar disela-sela tidur wanita itu, Pria yang baru saja menginjakkan kaki di kamar ini nampak menatap datar sang wanita. Mendekat kearah tempat tidur sang wanita pria itu menunduk mensejajarkan dirinya dengan wajah sang wanita. Menghirup aroma lavender yang meruak diseluruh ruangan itu sang pria tersenyum tipis. “Mimpi indah , Antanasya.” Ucap sang pria sembari mengusap lembut rambut sang pemilik nama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD