12 Tahun lalu,Provinsi Isladesia
Wilayah bagian Timur Norwera, daerah pemerintahan Duke Frenstein.
“Antanasya.”
Gadis kecil dengan senyuman secerah mentarinya menoleh cepat ketika seseorang yang ia tunggu memanggil namanya. Berlari riang kearah orang itu Antanasya sang gadis kecil berteriak senang,
“Kakak!”
Ditemani dengan daun pepohonan yang menguning dan berjatuhan secara bersamaan, kedua insan itu menghabiskan waktunya bersama, bocah laki-laki dan bocah perempuan yang tidak tau hal-hal jahat didunia ini saling melempar senyum dan tawa bersama.
“Jadilah milikku.”
“Oke, aku akan jadi milik kakak.”
Setelah hari itu, tak ada lagi kesempatan kedua bertemu untuk saling menyapapun bahkan terasa mustahil.
Namun takdir berkata lain, bertemu ditempat yang tak terduga dengan keadaan yang sudah jauh berbeda. Bocah laki-laki yang kini tumbuh menjadi seorang pria tampan dengan sejuta pesona yang mematikan, meskipun ia kini berada pada jalannya sendiri tetap tak ada yang dapat melawan takdir, bahkan sihir sekalipun akan selalu tunduk dibawah perkataan takdir.
Karna itu, apakah ikrar yang dibuat kedua insan itu dapat terwujud sejalan dengan kata takdir? Atau haruskah mereka membayar ikrar itu dengan sebuah pertumpahan darah?
“Tuan?”
Hati manusia selalu unik,
“Pergilah lebih dulu.”
Bahkan semakin unik ketika hati itu saling terikat,
“Baik Tuan.”
Sorak-sorai tepuk tangan yang menghiasi malam dengan pertunjukan boneka ditengah-tengah pertemuan keduanya mejadi saksi bisu dimana sang Pria tersenyum kecil tanpa sadar.
Sekarang, Norwera
Siang hari, Kediaman Puteri Antanasya
“Salam hormat untukmu, Ayahanda.” Hormat Nasya pada sang Duke yang baru saja tiba saat itu.
“Puteriku, astaga kau tau betapa ayah sangat khawatir padamu? Kau ini benar- benar hampir membuat ayah jantungan.”
Nasya cukup terkejut ketika ayah dari wanita yang ia perankan ini memeluknya secara tiba-tiba, Jujur saja Nasya merasa canggung berada di dalam posisi ini selain karna ia bukan Antanasya yang asli ia merasa sangat sungkan diperlakukan seperti ini ketika ia saja merasa kurang pantas menerima perlakuan penuh sayang dari sang ayah.
“S saya tidak apa-apa, Ayahanda.”
“Puteriku, jangan berbicara begitu formal. Apa kau harus sampai sebegininya pada ayahmu?”
Nasya meremat gaunnya gugup,’Duh, iya ya ngapain juga lu bicara formal sama bokap sendiri coba?kan kalau kek gini makin jelas lu bukan si Puteri yang asli.’
“Maaf ayah, karna benturan yang cukup keras aku jadi kebingungan sendiri”
“ Lalu bagaimana keadaanmu sekarang? Astaga maafkan ayah , ayah hanya bisa mengomeli tanpa tau keadaanmu. Tidak bisa begini kau harus diperiksa sekarang, Pelayan panggilkan tabib kemari dia harus segera menyembuhkan Puteriku.”
“A ayah tidak, aku sudah tidak apa-apa. Aku hanya sedikit bingung dan bukannya kesakitan jadi tolong jangan khawatir ayah. Aku baru bertemu denganmu setelah sekian lama, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu saja ayah, tolonglah.”Pinta Nasya sembari memelas, ia hampir saja membuat sesuatu yang seharusnya sederhana menjadi rumit.
Ya sekarang ia ada didalam tubuh Antanasya Iriana yang mempunyai ayah sebaik dan seperhatian ini, sangat tidak tau diri sekali ia bila ia menolak atau bahkan merasa malu menerima semua perhatian ini. Baiklah , dirinya sudah membuat keputusan sekarang dan untuk kedepannya jika ia masih diberi kesempatan untuk hidup didunia ini, ia akan menjadi Puteri yang berbakti kepada orang tua dan selalu membuat orang tua satu-satunya bahagia . Ia tidak akan mengecewakan sang ayah seperti yang dilakukan Antanasya Iriana didalam novel ini, ia akan pastikan masa depan Antanasya yang sekarang akan lebih indah daripada yang dulu.
‘Oke , mari kita selamatkan semuanya.’
Dua minggu kemudian…
Malam hari, Aula Istana Norwera.
" Duke Frenstein Aristof bersama Puteri Antanasya Iriana dari kediaman Duke Frenstein memasuki istana."
Kedua ayah dan anak itu nampak menunduk memberi hormat ketika nama mereka dengan lantang disebut, memberi salam hormat umum selayaknya para bangsawan Duke beserta sang Puteri membungkuk hormat ketika mereka hendak memasuki aula,
Selesai dengan salam hormat umum yang patut dilakukan semua tamu undangan, terkhusus Duke berserta Puterinya kembali menghampiri tempat dimana Raja dan Ratu duduk bersama. Memberi hormat sekali lagi Nasya ikut tersenyum ketika Ratu menerima salamnya sembari melempar senyum tulus.Setelah memberi salam, Duke sang ayah pun duduk tak jauh dari Raja dan Ratu lain hal dengan Nasya yang harus duduk di bangku khusus untuk para Puteri bangsawan.
Tempat duduk disekitar Nasya sudah terisi oleh para Puteri bangsawan lainnya namun di antara para Puteri tak ada satupun yang ingin berbicara dengannya, Ya untuk hal yang satu itu tak perlu ditanya alasannya Nasya sendiripun tau. Namun jika seperti ini terus jangan salahkan dia bila ia merasa sangat bosan disana.
Acara pesta terus berlanjut hingga akhirnya tibalah saat dimana para undangan dipersiapkan untuk berdansa, namun tentunya diawali terlebih dahulu oleh sang Raja dan Ratu setelahnya barulah para tamu undangan.
Banyak Puteri- Puteri bangsawan yang sudah di ajak berdansa disana kecuali Nasya. Kini tinggal dirinya saja yang tidak berdansa sama sekali.
Nasya tidak ambil pusing dengan hal itu, ia juga tidak begitu pandai berdansa jadi daripada memaksakan diri Nasya memilih untuk berdiam diri saja. Namun saat sedang bersantai sebuah tangan pria terulur dihadapannya.
"Berdansalah denganku." ucap pria yang kini berdiri didepan Nasya.
Awalnya Nasya bingung siapa pria ini? mengapa pria ini berkata dengan nada yang tidak sopan kepadanya? Namun ternyata setelah melihat lebih teliti Nasya pun mengenali pria dihadapannya ini.Putera mahkota Aldrick Gemerald
Nasya berdecak singkat sebelum akhirnya menerima uluran tangan itu.
Kedua insan itu berdansa mengikuti iringan lagu, kali ini dansa yang di mainkan berbeda dengan sebelumnya, dansa ini dapat merubah pasangan dansa yang satu dengan yang lain entahlah apa namanya intinya Nasya hanya mengikuti alur saja.
"Jangan salah paham,tadinya aku tidak mau berdansa denganmu, namun ayah yang menyuruhku." ucap Aldrick datar.
"Hm" balas Nasya enggan
'Dih siapa juga yang kegeeran, santai ae kali gue gak suka juga tuh sama elu.'
"Apa kau harus melakukan hal yang berlebihan seperti itu untuk menarik perhatianku?" Aldrick berucap lagi.
"Hm, Terserah padamu ingin berpikir seperti apa pangeran." Nasya masih membalas dengan enggan.
Aldrick membuang nafas lelah dalam menghadapi reaksi yang diberikan oleh Nasya itu, semuanya terasa menyebalkan namun lagi dan lagi ia harus meredam semua pertanyaan, tidak ada yang tau wanita menyebalkan ini akan melakukan hal apalagi kedepannya jika ia merasa diberi perhatian.
Lagu iringan dansa masih terputar dengan baik hingga akhirnya pada ketukan ketiga para pedansa langsung menukar pasangan mereka.Hal itu berlaku juga kepada Aldrick dan Nasya, kini Aldrick tak lagi berdansa bersama Nasya namun kini berdansa bersama seorang wanita bangsawan lain begitu pula dengan Nasya.
Nasya masih sama seperti sebelumnya dalam hal berdansa, jika sebelumnya ia dan Aldrick berdansa dengan enggan sama juga dengan saat ini, Nasya masih berdansa dengan enggan dan tidak peduli pada pria yang menjadi pasangannya itu.Pria yang kini tengah memegang pinggang Nasya nampak memandang Nasya dengan tatapan tajam seolah olah ingin menguburnya.
Aroma bunga lavender masih melekat di indra penciuman Ken saat dirinya bertukar pasangan. Gadis didepannya ini terlihat enggan berdansa dan menatap dirinya membuat Ken merasa kesal sekali, seumur hidupnya tak pernah ada seorang wanita yang mengabaikannya seperti ini.
Mengikuti iringan lagu Ken pun tanpa ragu menarik pinggang Nasya agar lebih dekat kepadanya hingga membuat Nasya terlonjak kaget.
" Apa yang --" ucapan Nasya terhenti saat matanya dan mata pria didepannya ini bertemu.
'Eh bentar mata itu kan, anjir jangan jangan ini orang si psikopat lagi. Eh karpet kok gue s**l mulu si.'
Bola mata Nasya membulat seutuhnya, seluruh tubuhnya menegang dan Ken menyadari hal itu.
'Kita bertemu lagi nona. " ucap Ken dengan nada yang terdengar santai.
Nasya meneguk ludahnya kasar, oke s**l dia ketakutan sekarang.
'Yang benar aja ayolah Nasya, masa lu takut. kalo lu takut kek gini ya ada malah ni psikopat senang kan kayak dipilem pilem tuh, lu harus berani oke harus berani, nah sekarang tarik nafas dulu dah.'
Nasya menarik nafasnya dalam dalam kemudian menghembuskannya kembali begitu terus selama beberapa menit hingga akhirnya tubuhnya rileks kembali.Dengan keberaniannya yang sudah terkumpul Nasya memandang Ken tanpa takut dan balas menggenggam erat pundak serta tangan Ken yang menggenggam tangan kirinya.
"Oh hai, aku minta maaf sebelumnya tapi sepertinya kau salah orang" ucap Nasya sembari tersenyum kecil.
"Salah orang?"
“ Iya, haha aku tidak merasa pernah bertemu denganmu sebelumnya. Mungkin saja orang yang kau temui itu mirip denganku , ya aku menyadari bahwa wajahku ini memang sedikit pasaran.” Ucap Nasya lagi sembari tertawa kecil, menghilangkan rasa takut yang hendak datang menghampirinya lagi.
"Wajah pasaran ya? Lalu bisa kau jelaskan ini?"
‘Mampus! Dia lihat kalung gue?! Wah gila, emang s**l banget idup gue’
“Ah haha itu ya, maaf maaf aku ini memang orang yang pelupa. Sepertinya kita pernah bertemu tapi aku saja yang tidak mengingatnya, tolong maklumi sifatku yang satu itu ya Tuan aku tidak ada niatan sama sekali untuk menyinggungmu,” Jelas Nasya gugup,Oh demi apapun yang ada dibawah laut tempat tinggalnya sponsbob kenapa gue harus ada di situasi kayak gini sih?! Fiks gak lama lagi mati ni gue.
Ken tak lagi berbicara,dengan wajah datarnya ia menatap lurus kearah mata Nasya seolah olah tengah mencari sesuatu didalam sana dan hal itu sukses membuat Nasya bergerak gelisah. Ia harus kabur sekarang sebelum Harimau buas ini menangkapnya dan mencabik cabik dirinya.
“Puteri Antanasya Iriana dengan ini resmi diberi hukuman gantung atas tidakannya yang tidak sopan pada Pangeran Kenrich Alexsader Arsedal.”
“Eh woy woy masa gara-gara gue lupa doang sampe harus digantung, woy tolong woy ini gak adil. Ya Tuhan demi apapun woyy gue minta maap oke, please hiks jangan bunuh gue.”
“GUE MASIH MAU HIDUP!”
BRAK
‘IHH NO NO, pikiran! Lu kenapa mikir yang enggak enggak dah.’ Batin Nasya merutuki pikiran berlebihannya itu.
Kembali fokus pada situasi yang sekarang, Nasya bernafas lega ketika ketukan musik di mana menandakan para pedansa harus mengganti pasangannya tak lama pun terdengar.
Nasya sudah bersiap mengganti pasangannya namun terhenti ketika tiba tiba tangannya tertarik begitu saja.
Tak sampai disitu bola matanya membulat sempurna saat dirasanya bibirnya kini dikecup pelan oleh seseorang yang sangat dikenalnya.
“Aku harap kau tidak lupa lagi setelah ini” Ucap Ken sembari tersenyum tipis.
Nasya cengo, nyawanya menghilang entah kemana ,untuk keseperkian detik Nasya benar-benar tidak sadar bahwa pria itu kembali menciumnya, namun kini ciuman itu tidak berbentukan kecupan saja melainkan juga lumatan pelan dengan sedikit gigitan kecil disana.
Ken tidak mengerti dapat dorongan dari mana ia sehingga tubuhnya bergerak sendiri untuk mengecup bibir wanita itu bahkan sampai menciumnya seperti ini, jujur saja untuk melakukan hal seperti ini ia tidak pernah memulai lebih dulu sudah dipastikan pasangannyalah yang memulai.
Lalu mengapa?
Ken sangat mengerti bahwa ia menyukai aroma lavender yang melekat pada wanita di depannya ini. Selain menenangkan aroma ini juga bukanlah aroma yang ia benci. Namun lagi-lagi pertanyaannya apa yang membuatnya merasa panas sekarang, aroma ini? Atau bibir mungil dan manis yang tengah ia cicipi saat ini?
Dengan sangat disayangkan ciuman itu terhenti tepat ketika Ken sendiri hampir kehilangan kendali, jika tidak melihat tempat sudah dipastikan wanita ini tidak akan diberi kesempatan untuk kabur.
Nasya yang dapat dibilang korban dalam situasi ini memilih untuk pergi dari lantai dansa yang dipenuhi oleh kerumunan para tamu undangan yang juga berdansa tadi.
Para tamu nampak tidak terganggu dan tidak sadar sama sekali dengan kejadian yang baru dialami Nasya, ketika Nasya berlari membelah kerumunan barulah para tamu merasa terusik dengannya. Nasya masih menyempatkan diri mencari keberadaan pangeran Aldrick ketika ia mulai berlari namun keberadaan pria itu sama sekali tidak terjangkau oleh pandangannya.
'kemana sih itu setan kurang ajar, gue diciam cium tu cunguk malah ngilang. Aish anjim.'
Melihat wanita itu berlari Ken nampak tak bergerak dari tempat berdirinya tadi, ia hanya melihat sembari mengusap bibirnya pelan, membuang nafas berat pria itu tersenyum tipis sebelum akhirnya seorang wanita bangsawan mengintrupsi dirinya dan mengajaknya berdansa.
Dengan senyum ramah Ken menerima ajakan itu kemudian melanjutkan dansanya yang sempat tertunda,
'Lain kali, kupastikan kau tidak akan bisa kabur’