Menenangkan pikiran untuk mendapatkan sifat dewasa adalah salah satu cara paling ampun dan terpercaya, dengan pikiran yang tenang dan terkontrol aliran positif sangat terasa dalam setiap deru sel sel tubuh yang ikut rileks dengan caranya sendiri.
Hal inilah yang Nasya lakukan sekarang, ia tidak tau berapa umurnya sekarang apa di dunianya ia sudah bertambah umur? Ataukah justru tidak karna sumpah demi siapapun Nasya sudah merasa satu bulan terlewat saat dirinya mulai tinggal di novel ini.
Kata orang dewasa itu bukan terlihat dari umurmu melainkan sifatmu, namun kini Nasya membuat mottonya sendiri, dewasa itu bukan terlihat dari umur melainkan terlihat dari pengalamanmu mengatasi masalah.
Nasya sudah benar benar akan berteriak histeris pada pengawal pengawal nya yang mengizinkan tamu tidak diundang ini masuk kedalam kediamannya tepat saat sang ayah tidak sedang berada di sana, namun suaranya seolah tertelan begitu saja.
Tamu tak diundang itu kini terlihat tengah duduk saling berhadapan dengan Nasya tak lupa ditemani dengan dua cangkir teh yang sudah tersedia di atas meja yang tak jauh dihadapkan mereka.
Mata biru laut kelamnya masih sama dengan mata yang terakhir kali dilihat Nasya, ah ia malah mengingat hal lain.
"Maaf bila saya kurang sopan tuan, tetapi saya hendak bertanya ada apa gerangan anda berkunjung ke kediaman ini?" Nasya mulai membuka suara dengan sebuah pertanyaan.
sebenarnya ia malas sekali basa basi dengan pria kurang ajar seperti pria ini contohnya, tapi yah dari pada kehilangan nyawa hanya karna bersikap tidak sopan pada keluarga kerajaan lebih baik ia bersabar sajalah, sistem keadilan di dunia ini sangat jauh berbeda dengan dunia modern.
"Aku ingin melamarmu." Ucap pria langsung pada intinya.
Mendengar itu seisi ruang tampak terkejut kecuali Nasya. Ia benar benar sudah memikirkan banyak hal sejak semalam termasuk kemungkinan kemungkinan seperti ini, jadi ia sudah tidak kaget lagi.
'Ga normal udah tingkat ke PD an ni orang, dikira gua bakal nerima terus loncat loncat senang kayak dapat permen gitu' Batin Nasya yang hampir saja membuat ekspresi jijik didepan tamunya itu.
"Maaf, bisa kita berbicara secara pribadi tuan?" ucap Nasya dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan
Ken nampak mengangguk ketika pertanyaan itu keluar dari bibir Nasya, beberapa pelayan yang sebelumnya berada diruangan itu mau tak mau undur diri bersamaan dengan jhon asisten kepercayaan Ken yang sebelumnya juga berada disana.
Kini tinggallah kedua insan itu, saling menatap seolah olah dapat berbicara melalui tatapan.
"Soal ucapan anda tadi..."
"Saya menolaknya." sambung Nasya dengan nada sesopan mungkin.
Ken tidak bergeming ia hanya menatap bosan pada wanita dihadapannya itu. Walaupun sebenarnya Ken sedikit penasaran, bagi Ken ciuman yang ia beri pada wanita ini sudah pasti akan membuat wanita itu tergila gila padanya, oh jangan salahkan ia berpikir begitu semua wanita yang pernah diciumnya selalu merasakan itu.
"Apa itu karna kau mencintai putera mahkota?" sebuah pertanyaan keluar begitu saja dari bibir Ken.
Nasya yang sebelumnya menunduk hormat mendongak menatap Ken dengan tatapan seolah olah berkata 'Apa anda serius dengan perkataan anda?'
Nasya menghela nafas," Bukan seperti itu tuan, saya hanya sudah tidak mau menikah"
"Benarkah? Lalu apa maksud dari rumor yang sering kudengar tentang kau yang memaksa bertunangan dengan putera mahkota. Bukankah hal itu jelas menunjukan kau ingin menikah." untuk pertama kalinya Ken berbicara sepanjang itu, namun dengan ekspresi yang tetap datar.
" Itu hanyalah rumor, Lagi pula saya juga sudah mendengar beberapa rumor lainnya yang mengatakan bahwa putera mahkota telah jatuh cinta dengan puteri dari kerajaan tetangga. " balas Nasya sembari tersenyum.
'Mamam tuh, panas kaga lu hah?! Dikate gue kaga tau lu suka sama siape.'
Ken tidak lagi menjawab, tatapannya yang semula datar kini mulai menajam tak hanya itu rahangnya pun ikut mengeras. Segalanya terlihat sangat kentara dalam pandangan Nasya.
"Tuan, saya juga sebenarnya tidak paham mengapa banyak sekali rumor tidak menyenangkan tentang saya di kota ini namun ya saya melihat normal bagi bangsawan punya satu dua rumor yang tidak menyenangkan"
"Yang saya makin tidak pahamnya adalah, anda yang datang dengan niat mulia namun didasari sebuah rumor. saya memang tipe wanita yang mudah sekali jatuh hati namun bukan berarti saya tidak mudah melupakan orang yang saya sukai. sebenarnya saya sedikit tidak nyaman dengan tindakan anda saat pesta dansa di Istana,"
'Kalo aja ini di zaman modern, mampus anu lu gua tendang' lanjut Nasya dalam hati, untung saja ia masih bisa mengendalikan emosinya
Nasya juga cukup terkejut dengan ucapan panjang kali lebar yang keluar dari mulutnya ditambah lagi ucapan itu bukan makian, hebat sekali dia ini
"Saya meminta maaf dengan tulus pada anda Puteri, untuk kejadian kurang menyenangkan di pesta dansa beberapa hari lalu." tak ada wajah datar disana ketika Ken mengatakan kalimat itu,terlihat tulus bagi mata orang awam yang tidak tau bagaimana karakter asli orang ini
'wah ngeri gue, hampir aja ketipu sama ni orang'
"Sebenarnya niat saya melamar anda bukanlah karena didasari rumor Puteri, ini murni karna ketertarikan saya pada anda, tapi saya minta maaf jika hal itu membuat anda tidak nyaman"
'ngeri ngeri, Casanova dirimu kah ini?'
"Ah seperti itukah, jika begitu saya juga minta maaf karna berpikir berlebihan tetang anda"
Ken tersenyum tipis, menembarkan aura yang wanita manapun tak akan bisa menolaknya termasuk Nasya, ia langsung terpesona melihat senyuman yang cocok sekali di wajah tampan orang ini.
'emang ya, pemeran inti mukanya ga pernah gagal'
"saya menikmati teh nya dan obrolan kita sangat menyenangkan,saya harap semoga kita bisa menikmati teh yang sama lagi." ucap Ken sebelum berlalu pergi.
Nasya bernafas lega ketika melihat gerak gerik pria tampan ini yang nampaknya hendak beranjak dari sana, dan benar saja selang beberapa menit Ken berdiri dari duduknya dan memberi salam sebelum akhirnya pergi.
Walaupun Nasya nampak tidak mengerti dengan perkataan Ken sebelumnya, ia memilih tidak ambil pusing toh ia sudah tidak punya urusan lagi dengan psikopat itu jadi tidak ada gunanya.