Alur yang berbeda

872 Words
Beberapa hari kemudian... Nasya tidak tau sudah berapa lama ia duduk di meja ini bersama dua orang wanita yang tak disangkanya dapat menjadi dekat dengan mudah. Bila tidak salah dua jam yang lalu Nasya yang masih menikmati sarapannya tiba tiba mendapati panggilan dari istana. Mau tidak mau Nasya pun pergi ke istana untuk memenuhi panggilan itu namun Sesampainya disana ia melihat pemandangan yang sukses membuatnya terkejut. 'Oke jalan ceritanya sepenuhnya berubah' "Bagaimana menurutmu putri Nasya?" Ratu bertanya sembari tersenyum tulus kearahnya. Nasya tersentak sebelum akhirnya mulai memikirkan pertanyaan yang dilontarkan Ratu untuk wanita yang tengah duduk disampingnya, puteri Arabela. Untuk kali pertama ia bertemu dengan puteri Arabela tak bisa dipungkiri ia takjub dengan kecantikan dan keanggunan yang dimiliki wanita itu, jika beberapa hari yang lalu ia penasaran setengah mati dengan wajah si pemeran utama wanita kini rasa penasaran itu telah terpenuhi dan justru berganti menjadi rasa was was, bagaimana tidak? Jalan ceritanya sudah berubah sekarang. "Menurut saya, Raja tidak dapat lepas dari kendali para petinggi bila Ia masih berfikir bahwa tidak ada kekuasaan tertinggi selain para petinggi itu sendiri." Ucap Nasya memberi pendapatnya sebaik mungkin, mungkin ia tidak terlalu pintar di bidang akademik lain namun jika ini tentang permainan logika dan cara pikir ia rasa ia tidak terlalu bodoh. "Maaf jika saya menyela Puteri, Namun dilihat dari persentasenya akan sulit bagi Raja melepaskan diri dari posisinya sebagai Raja boneka bila Ia hanya mendapat dukungan dari bangsawan tingkat bawah dan menengah," sahut Arabela " Mm kau benar Puteri, namun aku belum menyelesaikan ucapanku. "balas Nasya sembari tersenyum kecil. Nasya paham betul mengapa Arabela begitu tertarik dengan pembahasan mereka saat ini, tentunya karakter wanita ini dibuat seperti itu dan karakter seperti inilah yang membuat Nasya begitu mengidolakan pemikiran Arabela dalam novel yang selalu pas dengan zamannya. " Apa yang diucapkan puteri Arabela memang benar, namun kekuasaan tertinggi tidak hanya ada ditangan para bangsawan. Jika dilihat dari persentasenya rakyat biasa memiliki jumlah yang lebih banyak daripada bangsawan, dalam posisi yang terdesak seperti itu bukankah seharusnya Raja melihat peluang daripada kekuasaan turun temurun yang bisa saja menjerat rakyat juga Raja itu sendiri" "Ah apakah maksud Puteri memberi kekuasaan tertinggi pada rakyat" sahut Arabela lagi seolah tau ke arah mana penjelasan Nasya. Arabela langsung terperangah kagum mendengar jalan pikiran Puteri yang baru ia kenal beberapa jam yang lalu, hebat ia bahkan tidak berpikir jauh sampai kesana. "Benar, Sudah saatnya Raja memerintah bersama rakyat bukan lagi Raja yang memerintah (perintah yang memuat unsur pemaksaan) rakyat" Final Nasya dengan penuh percaya diri, " Jawaban yang bagus putri Antanasya. " suara berat seorang pria, tiba tiba mengintrupsi ketiga wanita itu. " Salam hormat hamba Yang Mulia. " " Salam hormat hamba Yang Mulia " " Tidak perlu seformal itu para Puteri, duduklah. " titah sang Raja. Kedua wanita itu kembali duduk dan saling terdiam. "Bagaimana keadaanmu Ratuku." ucap Raja ketika dirinya sudah duduk disisi Ratu. " Aku baik, senang rasanya mengobrol dengan mereka. "balas Ratu sembari tersenyum tulus. "Tapi apa yang membawamu kemari Yang Mulia?." tanya Ratu lagi. "Aku hanya tak sengaja lewat bersama dua orang pemuda itu." ucap Raja sembari menunjuk kearah dua orang pria yang kini sedang berdiri tak jauh dari sana. "Oh astaga, pangeran Aldrick pangeran Kenrich mari silahkan bergabung dengan kami." ucap Ratu yang menyadari keberadaan dua orang pria itu. Dengan menunduk hormat kedua pria itu kemudian ikut duduk dibangku yang telah disediakan. "Sudah lama tidak melihatmu pangeran Kenrich, sekarang tidak terasa kau sudah sebesar ini." ucap Ratu dengan senyum yang masih menetap. " Senang melihat anda juga Ratu, salam hormat dari Saya." balas Ken sembari menunduk dan tersenyum ramah. "Tidak perlu sungkan, ah iya kalian belum saling mengenal bukan Puteri Nasya?" tukas Ratu lagi tiba tiba. Mendengar itu sontak Nasya mendongak melihat kearah Ratu kemudian kembali kearah Ken. " Ah ya Yang Mulia." jawab Nasya dengan senyum kikuknya. "Ini pangeran Kenrich Alexsader Arsedral, kakak dari putri Arabela Arsedral." "Salam hormat saya pangeran." ucap Nasya sembari menunduk hormat, sudah sepatutnya ia melakukan itu saat Ratu mengenalkan seorang pangeran untuknya karna seperti itulah etika yang diajarkan di istana ini ya walaupun ia tidak terbiasa dengan etika, untung saja ia belajar dengan cepat Pangeran Kenrich tersenyum ramah kemudian mengangguk singkat tanda bahwa salam Nasya diterima baik olehnya. Tanpa ingin berlama lama Nasya kembali duduk kemudian lebih memilih tidak berbicara lagi. Sebenarnya Nasya sudah mengenal pria dihadapannya itu begitupun sebaliknya, namun lebih baik disituasi ini ia memilih tidak saling mengenal saja dan berpura pura terkejut tentang fakta bahwa pria yang melamarnya mendadak kemaren adalah seorang pangeran. Kini Ratu dan Raja sudah sibuk dengan obrolan keduanya, sedangkan Nasya ya ia sendiri cukup terkejut ketika Arabela justru mengajaknya berbicara dengan topik yang cukup berat bagi orang awam, untung saja jiwanya berasal dari dunia modern jika tidak mungkin sekarang ia sudah cengo sendiri ditempat Terlalu fokus dengan obrolannya bersama Arabela Nasya bahkan tidak sadar jika sedari tadi dua orang pria tampan sedang memperhatikan dirinya dalam diam. Salah satu diantaranya menatap Nasya dengan tatapan yang sulit diartikan, dalam hatinya ia berfikir mengapa bisa anak kecil manja yang dulu ia kenal menjadi sedewasa ini, bahkan rumor yang beredar sampai saat ini masih sama menjelaskan bagaimana manja nan egoisnya Puteri ini, jadi bagaimana hanya dalam waktu yang singkat? Sebenarnya apa yang terjadi pada wanita ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD