Jarum jam dinding sudah menunjukkan hampir tengah mala, namun Carrie tidak bisa tidur. Dia hanya bergulung-gulung di ranjang tanpa bisa memejamkan mata sedikitpun.
Suasana kamarnya sudah agak redup, hanya penerangan lampu meja yang masih menyala. Kamar ini sudah lebih baik dan bersih ketimbang pada awalnya. Tidak ada baju kotor atau sampah berserahkan. Aroma wangi bunga juga sudah memenuhi ruangan.
Carrie berbaring di atas ranjang dengan memakai kemeja biru kedodoran pemberian James dipadu dengan celana pendek. Dia memang mengantuk, tapi entah mengapa pikirannya masih memikirkan tentang apa yang akan dilakukan sang ayah. Dia khawatir kalau tindakannya akan gegabah hingga menbuatnya mati bersama James. Ya, dia sudah bisa mengira bahwa kematiannya mungkin lebih menguntungkan bagi sang ayah. Dia masih tidak menginginkan kematian, ada banyak hal yang ingin dia lakukan- mana mungkin menyerahkan nyawa pada pria itu?
Ketika keluar rumah tadi, dia sempat melihat di kejauhan terdapat toko-toko yang lumayan ramai. Mrs. Fenroy dan warga pedesaan tinggal disana. Di antara mereka pasti bisa menolongnya lepas dari tempat ini sebelum sang ayah menemukan mereka.
"Benar," ucap Carrie langsung bangkit dan turun dari ranjang, kemudian berjalan mengendap-endap keluar kamar.
Sekarang satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah mencuri kunci pintu depan, lalu kabur ke arah pertokoan itu. Semangatnya berkobar kembali. Obrolan singkat tadi dengan James menyadarkan dirinya betapa berbahaya sang ayah itu.
Bunyi 'klek'pintu terdengar ketika dia memutar kenop. Dia meringis takut jika James mendengar itu.
Namun, nyatanya James masih terbaring di atas sofa dengan kondisi televisi masih menyala. Suaranya memang telah dikecilkan, tapi ada yang menarik perhatian Carrie- berita lokal tengah malam sedang membahas tentang sang mantan tunangan, Carlos Goldstein. Dia mual melihat wajah pria itu lagi, semua orang memujanya dan membencinya.
Perlahan-lahan, Carrie berjalan mendekat, lalu mengambil remote di atas meja dan mematikan televisi. Dia melakukan itu hanya demi menyingkirkan wajah orang yabg dia benci. Lagipula, dia tidak bisa berkonsentrasi jika mendengar suara pria itu, sekalipun hanya rekaman.
Matanya kemudian mengamati sosok James yang tidur dengan kedua kaki terentang, satu di sofa, satunya jatuh ke lantai, sementara itu selimut hanya menutupi perutnya saja. Wajahnya ketika tidur sangatlah damai. Aura tampan yang dia miliki seolah bersinar terang ketika seperti ini. Selain itu, d**a bidangnya nampak tercetak jelas dari kaos tipis hitam yang dia kenakan. Sangat menggiurkan bagi seorang wanita tulen seperti Carrie.
Bahu lebar nan kokoh, d**a keras yang gagah, postur tubuh James seolah memang dibuat sebagai sandaran oara wanita. Dia menarik hati- kalau saja sopan, begitulah yang dipikirkan Carrie.
Dia perlahan menyingkap sebagian selimutnya, lalu mencari kunci yang menggantung di sekitar pinggang. Tangan lentik wanita ini meraba lembut celana James, mencari kemungkinan kunci yang terselip atau malah masuk ke dalam kantong.
Akan tetapi satu menit berlalu, tidak ada apapun terselip di pinggang James. Bahkan, wajah Carrie sampai kemerahan karena malu sedang meraba tubuh pria lain.
Tiba-tiba James bangun, dan menyambar lengan Carrie. Dia jelas merasakan kalau dirinya sendang 'dimainkan'. "Apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku-" Detak jantung Carrie berdebar-debar. Suara James memang tak terdengar marah, tapi tetap saja dia adalah penculik.
James mengeluarkan kunci yang terselip di antara sela sofa yang dia tiduri, lalu menunjukkannya pada Carrie seraya bertanya, "mencari ini, Sayang?"
Carrie berusaha meraihnya, tapi tangan James jauh lebih cepat. Pria itu menyimpan kembali kunci rumah, kemudian menarik Carrie sampai jatuh ke atas d**a kerasnya. Dengan mata berair karena mengantuk, dia memandangi wajah Carrie yang panik.
"Kau berani sekali sampai meraba tubuhku?" bisik James bernada sindiran, dia memeluk punggung Carrie agar mereka tetap berdekatan. Sudah lama sekali baginya tidak merasakann kehangatan seorang wanita. Hanya dengan dekapan semacam ini, dia sudah b*******h.
"Lepaskan aku, Sialan." Carrie menahan tubuhnya dengan kedua lengan agar tak terlalu dekat dengan James. Dia memberontak tak. Namun, semakin dia bergerak, semakin erat pelukan tangan pria itu..
James tersenyum tipis, lalu menggoda, "kau harus tanggung jawab setelah membuatku bangun di tengah malam begini."
"Aku yakin kau memang sudah bangun dari tadi dan menunggu waktu untuk mengerjaiku 'kan?" sindir Carrie terus menerus berusaha bangun, tapi tidak bisa. Anehnya, dia merasa terancam, malaham merasa nyaman dalam pelukan tersebut. Ia mengutuk diri sendiri karena merasakan hal semacam ini. Perasaan hangat yang tak pernah dia rasakan.
Pelukan tangan dari James memang terlalu erat, tapi dia melajukan itu dengan cinta, dan tubuh Carrie memahaminya. Untuk beberapa detik, mereka bertahan dengan saling berpandangan dalam.
"Mengerjai? Kau bilang aku ini kriminal 'kan, bagaimana mungkin kau pikir ini hanya 'mengerjai'?" sindir James dengan suara lirih dan terkesan menakuti, "jika kau berdekatan dengan kriminal sampai seperti ini, jangan menangis kalau hal yang terjadi selanjutnya akan- di luar pemikiranmu."
Carrie mulai panik. Benak yang tadinya ditumbuhi bunga-bunga bermekaran mulai layu karena panas tubuh pria ini. "James, tolong lepaskan aku."
"Kau punya pisau, harusnya kau mengancamku saat hendak mengambil kunci itu, kenapa kau ini polos sekali? Kau pikir bisa keluar hanya dengan mencari kunci tanpa perlu mengancamku?"
"Sudah kubilang aku ini bukan kriminal, kau yang bertindak kriminal."
"Hati-hati, Sayang, kalau kau terus mengatakan itu, aku bisa sangat berbahaya." James meraba pinggang Carrie dengan satu tangannya, sedang tangan lain mempertahankan agar tubuh wanita ini tetap berada di atas dadanya. "Kau terlalu meremehkanku."
"James-" Sentuhan itu membuat Carrie gemetaran. Dia tidak pernah diraba oleh pria lain selain mantan tunangannya-itupun dengan paksa. Namun, tangan James begitu berbeda- semua sentuhannya meskipun dilandasi paksaan, seolah ada cinta di dalamnya.
"Iya, Sayang?" sahut James semakin menyelinap ke balik kemeja kedodoran dari Carrie, kemudian mencubit kulit lembutnya. "Kau sangat nakal, membangunkan pria asing di malam hari. Kau pikir bisa lolos dari ini."
"Aku tak membangunkanmu, kau jelas sudah bangun!"
"Kau tak sadar sudah membangunkanku?"
"Aku tidak-" Carrie terhenti ketika sadar sedari tadi yang dibicarakan oleh James adalah hal yang berbeda. Ya, dia baru tahu ketika pahanya merasakan ada yang keras di antara kaki pria itu.
James menyeringai ketika mata Carrie terbelalak kaget. "Sudah paham?"
"Kau suka melakukan ini 'kan?"
"Melakukan apa?" James menyeringai, menikmati kejengkelan yang terlukis di wajah Carrie.
Carrie bertambah gugup tak karuhan. Detak jantungnya semakin berdebar keras. Dqlam benaknya, seluruh jenis u*****n terucap. "Kau menggodaku."
"Aku tidak menggodamu," bantah James merambah ke kulit perut Carrie, "aku hanya memberimu peringatan."
"James, singkirkan tanganmu, kau bilang kau tak sudi menyentuhku, bukan?" sindir Carrie mendorong tubuh James jauh-jauh sampai berhasil lepas dari cengkraman tangan James.
James bangun sembari meregangkan otot bahunya. "Aduh, kau ini menyebalkan sekali, tengah malam berusaha kabur? Yang benar saja." Suaranya terdengar parau dan malas sekali. Namun, di telinga Carrie malah begitu seksi.
Carrie membenarkan posisi kemejanya, lalu duduk di salah satu sofa. Wajahnya masih kemerahan karena teramat malu.
James tampak tak marah sama sekali. Dia membiarkan rambut dan kaosnya berantakan. Berulang kali dia menguap, sudah beberapa hari dia tidak mendapatkan cukup tidur.
Mata mereka kemudian saling bertemu dan terkunci. Perasaan aneh menguasai diri mereka, perasaan yang menghangatkan di tengah dinginnya malam. Akan tetapi, keduanya menolak untuk takluk satu sama lain.
***